Teddy Bear

Imgp2326

Pernah ingin menjadi sempurna? Aku pernah, dulu.

Hari jadiku yang ke-5

“Selamat ulang tahun,” Aku membalikkan tubuhku dan langsung tersenyum ketika ayahku membawa sebuah kado yang sangat besar, aku bisa menebaknya, hadiah yang sudah lama aku tunggu, Teddy Bear.

Hari jadiku yang ke-7

Dua tahun berselang dari hari ulang tahunku yang sangat bahagia. Keluargaku berantakan, di umurku yang belum beranjak remaja pun ayahku meninggalkanku, ibuku menjadi seorang pemabuk yang egois, yang lupa kalau dia masih punya seorang anak. Hari-hariku di sekolah pun suram. Kemarin ada seorang anak cowok yang ingin merebut boneka kesayangannku, boneka peninggalan ayahku, si Teddy Bear. Aku melawannya, mencakar kulitnya yang putih pucat, menjambak rambutnya yang hitam lurus, rasakan!

Hari jadiku yang ke 10

Aku sendirian di rumah, ibuku entah kemana. untung ada boneka Teddy Bear yang selalu menemaniku, sedikit kebahagiaan yang tersisa dari ayahku. Aku merindukannya.

Hari jadiku yang ke-17 (sweet seventeen katanya)

Aku kesetanan. Aku terobsesi agar bisa masuk menjadi salah satu genk cewek yang paling populer di sekolah. Mereka mengharuskan ukuran pingangmu jauh dari normal, tentu saja yang paling kecil, berapa sih ukuran normalnyanya??? Aku mencoba berbagai cara agar baju anak SD bisa muat ditubuhku, melakukan diet gila-gilaan bahkan aku selalu memuntahkan makanan yang aku makan. Aku ingin kurus, titik.

Setiap hari aku menimbang, tidak boleh lebih dari 40 kg dengan tinggiku yang mencapai 170 cm ini. Mereka, genk cantik itu, mengharuskan aku memakai baju dari desainer yang terkenal, baju tanah abang? tinggalkan saja. Aku seperti kacung buat mereka, kenapa aku mau? Aku ingin sempurna, aku ingin diakui, aku ingin mereka tahu bahwa aku ADA, apakah salah dengan menjadi sempurna aku akan mendapatkan… APA???

Sampai kejadian memalukan itu menimpaku. Mereka menyuruhku membeli baju yang sangat mahal, baru aku akan diakui. Uang dari mana? ibuku pergi entah kemana dan biaya hidupku pun dari tabungan yang entah siapa dengan bodohnya tiap bulan mengisinya, hanya cukup untuk makan dan sekolah. Dengan nekat, aku mencurinya, aku memasukkan gaun berwarna biru laut itu ke dalam tasku ketika aku pura-pura mencobanya. Bodoh memang, tentu saja ketahuan, aku belum profesional. Sejak saat itu namaku terkenal, bukan masuk ke anggota genk cantik itu, tapi terkenal sebagai penguntit, pencuri.

Duniaku bertambah hancur.

Dimana ibuku? ayahku? aku tidak punya orang yang mendukungku, menopangku dari belakang agar aku tidak jatuh. Aku putus asa, apa gunanya hidup untuk saan ini. Aku mengambil silet yang biasa aku gunakan untuk mencukur bulu kakiku. menyayat-nyayat pergelangan tanganku sebelah kiri, menulisinya dengan kata p-e-r-f-e-c-t menuju ke urat nadiku.

Aku melihat untuk terakhir kalinya kamar mandi yang akan menjadi tempat penuh darah, aku melihat kesekeliling, melirik dan pandanganku berhenti pada satu objek, aku terpaku.

Teddy Bear.

Dia menyelamatkanku. Aku berdiri dari genangan darah kemudian mengambilnya, benda yang selalu menemaniku, boneka kesayanganku, kenang-kenangan terakhir dari ayahku. Satu-satunya yang menemani ketika aku senang dan susah.

Sejak saat itu aku sadar, tidak perlu menjadi sempurna untuk mencapai keinginan kita.

Hanya perlu menjadi diri sendiri.

Aku suka melukis, aku melukiskan kekecewaanku ke sebuah kanvas, aku perlu wadah untuk melepaskannya.

Beberapa tahun kemudian, di hari jadiku yang ke-23 tahun, aku mempunyai galeri lukisan yang sukses, ditempat itu juga aku menemukan kembali kebahagianku.

 

inspired: pink – f**king perfect

picture from photobucket By CoffeeTheWayYouLike

 

Iklan

Bioskop

Sekre2

Weekend ini tidak ada bedanya seperti yang sebelumnya, mempersiapkan diri untuk ke satu tempat tujuan, bioskop.

Aku berdandan ala kadarnya, jeans, kaos, tanpa riasan yang mencolok, mengkuncir kuda rambutku yang panjangnya sebahu, dan tas mini yang berisi dompet serta hp yang aku silence. Menuju ke mobil miniku yang sudah menanti, aku mengendarai pelan ke jalanan yang lenggang.

Aku tiba di tempat itu, membeli satu karcis untuk film yang sekiranya bisa menemaniku, memilih tempat yang paling depan, jauh dari riuhnya orang. Aku membeli popcorn karamel dan minuman ringan, masing-masing satu, sesuai dengan porsiku.

Aku mendengar kalau film yang aku tonton akan dimulai, aku bangkit dari lantai dimana tempat yang tersisa karena malam minggu ini sangat ramai, seperti biasanya. Aku menempati tempat dudukku, kursi nomer H10, tanpa ada orang disekitar singgasana baruku.

Aku menatap kosong film yang tak kutau apa isinya sambil mengunyah popcorn dan mendorongnya dengan minuman, terus menerus sampai film itu habis.

Aku mempersiapkan diri untuk pulang ke rumah pada tengah malam ini di sabtu malam ini.

Aku hanya perlu sendirian, hanya ingin ditemani bioskop yang bicara namun tidak mempedulikanku.

Sendiri.

picture from photobucket by nofie77

tawa

perempuan itu selalu disana, dekat halte bis yang selalu aku kunjungi kalau mau berangkat ke kantor. Kadang aku iri sama dia, tidak punya beban, masak bodoh dengan sekitar dan yang terpenting adalah dia selalu tertawa. Yah, kegiatan yang sangat jarang bisa aku lakukan.

Bagaimana aku bisa tertawa kalau aku melihat suamiku berselingkuh, mertua yang membenciku, pekerjaan yang menuntut waktuku, aku tidak punya celah untuk merasakan apa itu tawa. Aku menghembuskan napas, beginilah hidup, kadang kita bisa memilih tapi pilihan kita belum tentu benar.

Bis yang aku tunggu sudah datang, aku beranjak yang diikuti oleh beberapa orang yang mempunyai tujuan yang sama denganku. Aku melirik yang terakhir kali kepada perempuan itu, dia masih tertawa. Dengan rambut gimbal yang entah kapan terakhir kali dicuci, baju compang-camping, badan yang tidak pernah tersentuh air dan sabun, dia masih tetap tertawa seakan menantang dunia. Kadang aku iri dengannya.

:)

Dia tetanggaku.

Aku anak baru di komplek perumahan ini, pindah karena ayah ditugaskan di kota ini. Waktu aku turun dari mobil aku melihatnya, dia sedang asik dengan kubiknya. Aku terus memandangnya, mencoba mencari perhatiannya sampai ibuku menyuruh aku masuk ke dalam rumah dan bilang kalau ingin berkenalan nanti saja, sekalian memperkenalkan diri sekeluarga. Sampai tibalah waktunya, kami sekeluarga, aku, ayah, dan ibu memperkenalkan diri pada tetangga kami dengan membawa kue brownis buatan ibu tadi sore. Dan aku melihatnya lagi, masih asik dengan kubiknya, aku sudah gatel ingin berkenalah tapi ibu masih juga cerewet agar aku menjaga sikap, “sabaran sedikit Jani, kita berkenalan sama orangtuanya dulu.” Aku mencoba diam tapi tanpa berhenti meliriknya. Sampai orang tuanya menyadari lirikan mataku yang tak beranjak dari anaknya, dia memperkenalkan kami. Tante Dinda, ibunya, mengulurkan tangan anaknya tapi matanya tak beranjak dari kubik yang entah sudah berapa kali dibolak-baliknya, namanya Dimas, aku mengulurkan tanganku dan mengenggam tangannya, memperkenalkan diri, “Hallo, namaku Anjani tapi boleh dipanggil Jani kok, salamkenal ya,” dia masih diam membisu, aku tetap tersenyum. Tante bilang Dimas memang anak yang pendiam dan pemalu. Aku memakluminya, biasanya kalu pertama kali berkenalan dengan teman baru selalu aku yang mengawali pembicaraan, sampai-sampai ibu bilang kalu aku ini terlalu cerewer dan hiperaktif.

Waktu itu aku berumur 8 tahun, dan sekarang aku beranjak 17 tahun, dia masih tetap sama, pendiam dan pemalu. Sejak perkenalan canggung itu aku selalu bermain ke rumahnya, sepulang sekolah aku pasti langsung meluncur kesana, bahkan aku kadang makan siang di rumahnya. Aku mengajaknya bermain, menggambar, bernyanyi tapi hanya aku yang ikut serta, dia tetap sibuk dengan kubiknya, bahkan kadang-kadang kalau dia merasa terganggu atau kenapa-kanapa dia berteriak seperti orang gila, kadang aku jadi takut padanya, makannya juga tidak boleh sembarangan, Tante Dinda sangat berhati-hati dalam masalah ini. Waktu aku tanya ke ibu kenapa Dimas selalu seperti itu, tidak pernah bicara dan matanya selalu tertuju ke kubik ibu bilang dia sakit, sudah seperti itu dari kecil. Lalu aku pikir kalau sakit kan harusnya beristirahat di tempat tidur, minum obat dan kalau parah dibawa ke rumah sakit tapi kata ibu bukan semacam penyakit seperti itu tapi sakit gangguan perkembangan, komunikasi, dia tidak bisa berinteraksi sama seperti anak lainnya, dia punya dunia sendiri. Ah aku binggung, di usiaku dulu aku tidak mengerti apa yang dijelaskan oleh ibuku, tapi sekarang aku sudah mulai mengerti, dia pengidap Autis. Hanya aku teman satu-satunya. Aku terus dan terus menemuiannya setiap hari, aku mengganggap dia adalah sahabat terbaikku, aku sering bercerita tentang kehidupanku di sekolah, teman-temanku yang selalu pamer akan sepatunya, tasnya kadang aku pusing mereka mau sekolah atau mau ngadain ajang pameran? Aku juga sering curhat padanya, waktu MOS pertamaku, waktu aku dihukum membuat kokat 5 buah gara-gara aku salah membuatnya, sampai aku ditaksir kakak kelasku. Dia juga sekolah, kata tante Dinda dia bersekolah khusus penyandang autis, katanya disana diajarkan banyak hal, mulai cara berkomunikasi, menulis maupun menggambar. Itu memberikanku ide untuk berkomunikasi padanya, aku hobi mengambar, kadang aku menggambar pegununggan, makanan, boneka lalu kutunjukkan padanya, dan tak sia-sia, dia meliriknya. Walaupun hanya sekedar melirik aku tak pantang menyerah, aku sudah menemukan cara berkomunikasi dengannya. Kadang dia juga berteriak-teriak dengan kata “Ni, Ni” dan aku anggap dia memanggil namaku, membutuhkanku. Dia memang mengalami gangguan perkembangan berbicara, berinteraksi tapi dia tidak mengalami gangguan pertumbuhan yang artianya dia tinggi, walau tidak tinggi sekali tapi dia lebih tinggi dari aku, dan dia juga tampan, dengan caranya sendiri. Dan satu lagi yang lagi aku usahakan, melihat dia tersenyum. Dia pernah tersenyum, tapi luput dari pandanganku. waktu itu aku sedang menggambar kami berdua, berjalan ditaman di komplek kami sambil bergandengan tangan, aku bilang padanya, “kita akan seperti ini terus kan? aku berharap kau akan selalu mengandeng tanganku.” Dia tersenyum tapi kemudian menundukkan wajahnya, aku mengambil kesimpulan kalau dia setuju, lalu gambarku ditempelkan di kamarnya.

Aku benci jika ada orang yang menghina Dimas. Pernah suatu ketika aku mengajak teman sebangkuku kelas 5 SD, Nina. Awalnya aku ingin menambah teman untuk Dimas, kata Tante Dinda itu bukan ide yang buruk, siapa tahu komunikasi Dimas mengalami kemajuan. Tapi Nina malah mengejek Dimas, dia bilang Dimas cowok penakut, ga asik diajak ngobrol, dia gila karena selalu bermain dengan kubiknya, lalu Dimas menjerit-jerit, aku pertandakan kalau dia marah. Sejak saat itu aku memutuskan pertemanan dengan Nina dan aku agak trauma kalau mengajak temanku berkenalan dengan Dimas, hanya keluargaku dan keluarganya lah menjadi orang terdekatnya.

“Jan, lo ikut gak?”

“Hah, kemana?” lamunanku terusik, aku selalu lupa waktu jika memikirkan Dimas.

“Ke GM, kita kan mau cari hadiah buat ultahnya Aldo.”

“Nggak deh, gw buru-buru pulang ini, ada urusan mendesak.” Aku ada janji sama Tante Dinda membuat kue brownies, favoritnya Dimas.

“Halah, paling ngecengin tetangga lo yang autis itu kan, lama-lama ikut ketularan loh, sekarang aja lo udah banyak melamun gini, kurangi waktu buat dia dan coba lo bales sms dari Aldo, dia ngarep banget tuh.” Aku hanya menggankat bahu, segera pergi. Aku muak jika mereka menghina Dimas, mereka tidak tahu bagaimana rasanya mendapatkan perhadian Dimas barang sedikit pun, bertahun-tahun aku mencoba dan sekarang sudah membuahkan hasil, aku tidak akan menyia-yiakannya. Mereka berkata seperti itu karena mereka tidak tahu bagaimana susahnya dan sabarnya menghadapi Dimas. Aku jadi tidak sabar bertemu Dimas. Jika dia mempunyai dunia sendiri, aku ingin ikut bersamanya, berdua, masa bodoh dengan dunia ini. Aku berlari, bukan rumah orang tuaku yang ku tuju tapi tepat disebelahnya, yah aku jatuh cinta pada Dimas, ketika aku melihatnya dan dia tersenyum melirikku, aku beranggapan dia mempunyai perasaan yang sama.

 

wishes

“kalau kamu punya satu permintaan atau keinginan, apa itu?”

“pintaku tidak banyak, aku hanya ingin jari kelingking kita bertaut, merasakan sedikit sentuhan darimu, bagian dirimu, apakah itu berat?”

“kita sudah mencobanya berkali-kali, kau tahu hasilnya, kan?”

mereka mencoba lagi, tapi tetap saja kelingking si cowok menembus kelingking si cewek.

pilih gelap atau terang?

Hari ini adalah hari dimana Earth Hours dikumandangkan oleh penjuru dunia, guna menyelematkan lingkungan kita dengan cara mematikan lampu dan alat listrik selama satu jam. Dengan waktu yang bersamaan terjadi 2 perbincangan yang alot oleh 2 pasangan yang membahas ikut meramaikan gerakan “setelah satu jam, jadikan gaya hidup” ini atau tidak.

“Nanti pukul 20.30-21.30 kita harus hemat listrik.” Tegas si pemilik suara sopran ini dengan penuh semangat.

“Maksutnya?” Si empunya suara alto menangapi dengan binggung.

“Heloooo, inikan hari Earth Hours sayang, kita harus hemat listrik selama satu jam.” jelas si cewek dengan mencubit hidung si cowok.

“Ya sama aja boong kan, tiap malam kalo tidur kita juga matiin lampu, la ini cuman sejam, ga ngepek, ga usah ikut-ikut lah, malam ini aku banyak kerjaan.” Tolak si cowok sambil gantian mencubit pipi si cewek.

“Menurut sumber yang aku baca, dengan 10% saja dari penduduk Jakarta yang ikut berpartisipasi dalam Earth Hour dengan mematikan listrik secara serempak diyakini akan menghemat biaya konsumsi listrik hingga Rp 216,6 juta. Juga akan mengurangi 267.3 ton CO2 dan menyelamatkan 267 pohon yang akan menghasilkan oksigen untuk 534 manusia selama 20 tahun. Nah, apalagi kalu dilakukan serempak seluruh dunia, bisa mengurangi global warming kan?” Sambil membaca koran, si cewek berambut panjang berponi ini masih tetap kukuh memberi penjelasan kepada cowok beramput cepat yang duduk disampingnya itu.

“Oke, itu bisa menjadi salah satu manfaat tapi kalu setelah itu kita masih menggunakan listrik terus menerus, penjualan mobil bertambah, masih banyak pembalakan pohon secara liar, lingkungan yang kotor dan banjir dimana-mana, trus kalo kamu kalau belanja masih aja pakai plastik itu sama aja membodohi diri sendiri.” tanpa mengalihkan pandangan matanya dari televisi, si cowok berbadan kekar itu menanggapi khotbah si cewek bertubuh kecil disampingnya sambil memakan kripik tela.

“Makannya, kita perlu melakukan Earth Hours ini, guna mengurangi dampak-dampak yang udah kamu jelasin-dengan-sangat-jelas itu.” Tandas si cewek yang berkostum tank top dan mini short.

“Satu jam vs 23 jam dalam sehari bisa menang satu jam gitu? padahal ini dilakukan sekali dalam setahun loh, lucu.” cemooh si cowok yang memakai kaos oblong dan celana batik selutut itu yang tangannya tak lepas dari cemilan di tangan.

“Ya makanya kita biasakan dong, ini kan juga bertujuan agar kita melakukannya tidak hari ini saja, mengenalkan kita akan kebiasaan, sekarang kan slogannya setelah satu jam, jadikan gaya hidup.”

“Hahahaha, kamu kalo ngambek lucu deh, pengen nyubit hidung kamu sampai mancung” Karena si cewek berkemauan keras dan mulai ngambek, maka si cowok dengan gentle mengalah demi kelangsungan malam mereka.

“Ngegombal apa menghina tuh?” Cibir si hidung pesek itu sambil mengelus-elus hidungnya yang tidak kunjung panjang juga.

“Oke, aku pilih gelap, kita matiin lampunya, tapi sampai nanti pagi ya?’ Tanpa woro-woro bibir yang masih cemberut itu sudah tengelam di lautan entah apa namanya, tebak saja sendiri.

untuk apa?

Aku mempunyainya, semua orang juga mempunyainya, hampir.

Kita menggunakannya setiap hari, salah satu organ terpenting di tubuh kita. pertanyaan terbesar adalah, apa yang akan kita lakukan padanya? untuk apa?

Kita makan, menulis, menyisir rambut bahkan ngupil pun kita membutuhkannya. hal – hal sepele pun bergantung padanya.

Bahkan, ada semboyan khusus atau award saking berjasanya dia buat kita, “Lebih baik tangan diatas daripada tangan dibawah”. Tuhan pun mengutus Roqib dan Atit untuk mencatat apa yang telah kita perbuat dengan pemberiannya itu.

Aku termasuk orang yang beruntung, karena aku diberi kepercayaan untuk memilikinya, dan tugasku adalah untuk apa aku menggunakannya?

Seringkali ketika aku di jalan, naik kendaraan umum, makan di warteg, kaki lima ada utusan Tuhan untuk menguji pemberiannya itu padaku.

Sering kali mereka memaksa, ada juga yang dengan ikhlas menerima penolakan ku. aku hanya berpikir, “Kenapa tidak berusaha dulu sebelum menyerah pada jalanan, apakah puas dengan hanya mengatungkan tangan?”.

Biasanya, aku melihat dulu siapa yang mengatungkan tangan itu, apakah dia pemuda yang tampilannya norak dengan mencontoh artis jaman sekarang menyanyikan lagu dengan suara sumbang yang paling – paling hasil uluran tanganku itu untuk membeli rokok bahkan kadang untuk membeli “minuman”? orang tua yang dengan tega membawa anak mereka dengan alasan supaya aku mengulurkan tanganku? atau musisi jalanan yang dengan jeniusnya memaparkan hasil karya mereka yang tidak diterima di panggung hiburan layar kaca?

Aku sangat pemilih dalam menggunakan tanganku ini.

Tidak semua orang dapat merasakan uluran tanganku.

Aku jahat? biar Tuhan yang menilai.