Les Miserables 2

17993486Les Miserables 2

Penulis: Victor Hugo

Penerjemah: Fahmy Yamani

Penerbit: Visimedia

ISBN: 979-065-170-8

Cetakan pertama, 2013

442 halaman

Buntelan dari @buku_visimedia

Sinopsis:

Setelah kehilangan kekayaan dan jabatan di Kota M. Sur M, Jean Valjean terpaksa kembali menjalani hukuman kerja paksa seumur hidup di Toulon. Saat bekerja di Kapal Orion, Valjean menyelamatkan nyawa seorang kelasi yang nyaris tewas terjatuh dari tiang kapal. Apa daya, Valjean harus membayarnya dengan kenyataan bahwa dirinyalah yang malah terjatuh ke dalam lautan. Valjean dinyatakan tewas secara resmi.

Tak lama setelah itu, seorang laki-laki paruh baya terlihat di Kota Montfermeil, tempat Cosette kecil menjalani kehidupan yang menyedihkan di rumah keluarga Thenardier setelah ditinggalkan ibunya, Fantine, sejak berusia balita. Valjean datang untuk menunaikan janjinya kepada mendiang Fantine. Janji untuk menyelamatkan Cosette dari cengkeraman pasangan Thenardier yang tamak.

Ternyata, tanpa disadarinya, Inspektur Javert yang sebelumnya sukses membongkar jati diri Valjean, menolak percaya begitu saja bahwa Valjean tewas ditelan lautan. Diam-diam, dia melakukan penyelidikan, mengendus Valjean hingga nyaris membuatnya kembali mengenakan rantai berbola besi di kaki.

My Review

Buku ini adalah sebuah drama, dengan tokoh terkemuka adalah Yang Mahakuasa. Manusia adalah tokoh kedua.

Sebenarnya mau saya ikutkan dalam posting bareng BBI bulan ini yang kategori sastra Eropa tapi karena akhir bulan bakalan sibuk banget dan udah lama banget dapat buntelan ini saya merasa bersalah kalau tidak cepat-cepat direview :p. Belum tahu pasti apakah visimedia akan menerjemahkan versi aslinya yaitu ada lima buku, yang jelas seri ketiga akan segera terbit. Nah seri kedua ini adalah lanjutan dari buku sebelumnya Les Miserables, di mana Jean Valjean tertangkap lagi oleh Javert, padahal dia udah berjanji kepada Fantine untuk menolong anaknya, Cosette.

Saya selalu suka dengan pengantar yang ditulis oleh Penghuni Rumah 57, memberikan gambaran tentang isi buku ini. Di seri kedua lebih banyak bercerita tentang Perang Waterloo, bahkan mengisi seperempat halaman dan ada sisipan tentang biara, maknanya, tentang iman dan hukum. Selain bercerita tentang sejarah Prancis, kali ini Victor Hugo menyentil aspek agama, juga diceritakan sedikit tentang asal usul Thenardier, kau-tahu-siapa.

Tapi saya tidak akan membahasnya, nanti reviewnya jadi sangat panjang XD. Langsung saja kita ke nasip Jean Valjean, bagian yang paling saya nanti-nantikan.

Jean Valjean ditangkap lagi dan dia dinyatakan mati ketika jatuh dari kapal Orion pada 17 November 1823, mayatnya tidak pernah ditemukan. Kemudian cerita beralih ke Montfermeil, ke Cosette dan keluarga Thenardier, di mana dia tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari orang-orang yang ditugaskan menjaganya, dia dijadikan budak, tidak ada tempat tidur yang layak, tidak ada pakaian yang pantas, selalu mendapatkan hukuman, dia hanya bisa iri ketika anak-anak dari pasangan Thenardier itu bermain boneka dan mendapatkan kemewahan yang seharusnya miliknya. Lalu pada suatu malam ketika dia disuruh mengambil air datang seorang laki-laki kumuh yang menolongnya, bisa ditebak siapa dia.

Anak-anak menerima kegembiraan dan kebahagiaan dengan spontan dan akrab, karena sifat asli mereka memang gembira dan bahagia.

Bagian saat Jean Valjean menjadi dewa penolong Cosette adalah bagian yang paling favorit di buku ini, terharu sekali. Jean Valjean selalu memberikan berapapun jika pasangan Thenaidier memerasnya, dia juga memberikan boneka yang awalnya hanya bisa dilihat Cosette di etalase sebuah toko. Dia berusaha memenuhi janjinya pada Fantine, dia tidak ingin kehilangan Cosette. Seumur hidupnya dia tidak pernah merasakan yang namanya kasih sayang, seumur hidupnya dia hanya merasakan kekosongan, dan ketika dia melihat Cosette, dia berjanji tidak akan pernah melepaskannya.

Apakah Jean Valjean akan lepas dari kejaran Javert? Lelaki yang terobsesi terhadap hukum itu tidak langsung percaya kalau Jean Valjean mati, dengan sembunyi-sembunyi dia menyusuri jejak Jean Valjean. Kejaran-kejaran mereka cukup menegangkan juga.

Walau lumayan sedikit kisah tentang Jean Valjean, buku ini tetap tidak bisa dilewatkan. Buku ini membawa kita kebagian di mana Jean Valjean menemukan sedikit kebahagiaan yang tidak pernah dia dapatkan sebelumnya, buku ini membawa pengejaran Javert tidak kenal lelah, dan buku ini membawa kehidupan baru untuk Cosette. Tidak sabar membaca buku ketiga di mana kalau tidak salah tebak, kita akan mendapatkan cerita baru tentang Cosette yang beranjak dewasa, can’t wait!

Saya cukup puas dengan cover kedua ini, tidak banyak tulisan yang berceceran di cover depan, lebih suka lagi kalau kutipan dari Victor Hugo ditiadakan *banyak maunya* hehehe. Sekarang bisa memahami kenapa di buku pertama ada tulisan Jean Valjean dan Fantine, ya karena di buku pertama yang menjadi sorotan utama adalah mereka berdua, sedangkan di buku kedua ini sudah jelas dengan nama Cosette. Penasaran sama buku ketiga apakah covernya Javert? Kita tunggu saja :D. Seperti biasa, walau ada sedikit typo tapi tidak terlalu mengganggu, terjemahannya tidak perlu diragukan lagi :D.

4 sayap untuk si kecil Cosette.

 

Les Miserables

A91rjeccmaazhlj

Penulis: Victor Hugo
Penerjemah: Rayvita Mutiara Ansriany
Penerbit: Visimedia
ISBN: 979-065-135-X
Cetakan pertama, Desember 2012
482 halaman

Sinopsis:
Tanggal 15 Mei 1862, merumunan orang memadati jalanan di sekitar Pagnerre’s Book Shop, Belgia. Tak satu orang pun melepaskan pendangan pada tumpukan buku yang menjulang hingga langit-langit toko. Beberapa jam setelah toko buku itu dibuka, ribuan eksemplar Les Miserables ludes diborong massa.

Novel yang proses penyimpan dan penulisannya memakan waktu hampir 20 tahun ini bercerita tentang Jean Valjean, mantan narapidana yang dipenjara di atas kapal kerja paksa selama 19 tahun, dari masa revolusi sampai restorasi Bourbon, karena mencuri sepotong roti demi keluarganya yang kelaparan. Ketidakadilan yang dialaminya, mengubahlaki-laki desa itu menjadi sosok yang dingin dan penuh curiga.

Di tengah perjalanan hidupnya, Valjean bertemu Monsieur Welcome yang menyadarkan bahwa dalam ketidak-percayaannya terhadap otoritas gereja dan kerajaan, masih ada pihak yang menjadi panutannya. Veljean pun berjumpa dengan Fantine, perempuan muda jelita yang turut menjadi korban ketimpangan sosial yang melanda Prancis. Perjumpaan yang berpengaruh besar dalam kehidupan mereka selanjutnya. Ketidakstabilan politik Prancis dan pengaruhnya yang luar biasa pada masyarakat kelas bawah, terekam jelas dalam salah satu novel terpenting sepanjang masa ini.

***

Sebenernya selain menulis review buku ini saya juga ingin mencantumkan review filmnya, yang sangat disayangkan gagal saya tonton beberapa waktu yang lalu, dengan kisah yang pahit sekali *nggak usah dibahas lagi*. Padahal film yang dibintangi salah satu aktris favorit saya itu memicu saya agar cepat-cepat menyelesaikan buku ini, yah mungkin belum jodoh saja, lain kali cari bajakannya #loh.

“Les Miserables mengambil latar waktu kondisi Prancis antara tahun 1815 dan 1832, tahun-tahun ketika Hugo muda mulai berkenalan dan bersingunggan dengan dunia politik, masa setelah tahun 1793. Tahun 1815 sendiri adalah tahun yang menandai kekalahan tentara Napoleon di Waterloo, melawan aliansi tentara Inggris dan beberapa negara Eropa lainnya. Kekalahan Napoleon mengakhiri era “first republik” (1792-1804), dan kembalinya era kerajaan di bawah Louis XVIII. Era ini disebut dengan Restorasi Bourbon. Pada masa restorasi, gereja kembali berperan besar dalam perpolitikan Prancis, meskipun tidak seabsolut sebelumnya. Inilah masa ketika para pejuang revolusi dan kaum republik tersingkir sementara, yang pada akhirnya mengobarkan gejolak sosial tahun 1830-1832 melawan monarki.”

Bercerita tentang Jean Valjean yang bebas setelah dipenjara 19 tahun hanya karena mencuri roti untuk menolong keluarganya yang kelaparan. Dia singgah di kota D untuk beristirahat dan mencari makan, tapi apa yang ia dapatkan di sana? Para penduduk mengucilkannya, tidak ada penginapan yang mau menampungnya karena dia memiliki paspor kuning (paspor para mantan narapidana) bahkan dia digigit dan dikejar anjing karena tidak sengaja merampas singgasananya, tidak ada tempat baginya. Lalu ketika dia tidur di atas batu di alun-alun ada seorang wanita baik hati yang menyarankan agar ia mengetuk sebuah rumah. Rumah tersebut milik Monsieur Bienvenu, seorang uskup baik hati yang tanpa pamrih memberiakannya tempat tinggal dan makanan enak, satu-satunya orang yang tanpa memandang status sosial Jen Valjean. 19 tahun dipenjara menajamkan sisi jahat Jean Valjean, ada perlawanan batin ketika dia melihat peralatan makan dan tempat lilin dari perak milik uskup, dia hanya memiliki sedikit uang dan barang tersebut pasti berharga tinggi, perjalanannya masih panjang dan dia butuh uang. Ketika dia sudah memutuskan apa yang dia inginkan, tidak butuh lama dia langsung pergi meninggalkan rumah uskup dengan barang tersebut, tidak lama kemudian dia kembali bersama polisi. Uskup berbohong kalau barang-barang tersebut memang diberikan kepada Jean Valjean, peristiwa itulah yang merubah hidup Jean Valjean selanjutnya.

“Dosa yang paling kecil adalah hukum yang dibuat oleh manusia. Tidak mempunyai dosa sama sekali adalah mimpi. Karena semua pasti memiliki dosa, hal ini manusiawi. Dosa itu bagaikan sebuah gravitasi.”

“Jangan pernah kita takut terhadap perampok atau pembunuh. Itu semua adalah bahaya dari luar, bahaya kecil. Yang perlu kita takuti adalah diri kita sendiri. Prasangka adalah perampok yang sesungguhnya, sifat buruk adalah pembunuh yang sebenarnya. Bahaya terbesar ada dalam diri kita sendiri. Tidak masalah apa yang mengancam kepala atau dompet kita! Mari kita berpikir tentang apa yang dapat mengancam jiwa kita.”

Fantine adalah gadis yang cantik jelita dan yatim piatu, ia mempunyai pacar yang tampan dan kaya raya, Fantine jatuh cinta padanya dan rela memberikan apa pun yang dia miliki.Lalu kejutan Tholomyes meremukkan hati Fantine, laki-laki itu meninggalkan Fantine dalam kondisi berbadan dua karena takut masa depannya hancur kalau bersama wanita dari kelas sosial kebawah. ‘lelucon’ tersebut merubah diri Fantine, dia lebih sering murung dan kecantikannya pun mulai pudar. Dia berencana kembali ke kota asalnya, Kota M. Sur M. tapi tidak bisa kalau membawa anaknya, pekerjaannya tidak memperbolehkannya. Di Montfermeil Fantine melihat seorang ibu dengan anak-anaknya terurus dengan baik, kemudian tebersit keinginan Fantine agar orang tersebut menjaga anaknya. Wanita itu adalah Thenardier dengan syarat Fantine harus mengirimkan tujuh francs setiap bulan. Fantine tidak tahu betapa liciknya keluarga tersebut, Corsette, anak Fantine diperlakukan layaknya seorang pembantu, uang yang selalu dikirim ibunya tidak pernah dinikmati Corsette, pakaiannya pun dijual sehingga dia seperti memakai baju rombeng.

Kota M. Sur M. sangat berkembang pesat, menjadi sebuah kota industri yang makmur, terlebih setelah Tuan Madeleine menjadi Walikota. Ia adalah laki-laki berusia sekitar lima puluh tahun yang sangat perhatian dan baik. Negara berhutang banyak padanya, dia sangat sopan kepada semua orang dan mengasihi siapa pun terlebih rakyat miskin, dia adalah pahlawan. Tuan Madeleine bagaikan seorang uskup, dia melerai perselisihan, dia mencegah terjadinya perkara hukum, dia mendamaikan orang-orang yang bermusuhan. Semua kebaikannya itu tidak berpengaruh pada Javert, orang dari kepolisian. Dia seperti pernah melihat Tuan Madelaine di masa lalu, dia tidak asing baginya. Javert sering sekali mengamati tindak tanduk Tuan Madeleine, penuh kecurigaan dan dugaan. Dia adalah laki-laki yang terobsesi dengan hukum, bahkan mencapai tahap fanatik. Dia tidak akan segan-segan menangkap ayahnya kalau melarikan diri dari penjara atau dia akan melaporkan ibunya kalau melakukan kejahatan, dia tidak pandang bulu.

Fantine bekerja di pabrik milik Tuan Madeleine dan tiap bulan dia tidak pernah absen mengirim uang untuk keluarga Thenardier. lalu kabar masa lalu Fantine tercium oleh sesorang yang iri terhadap kecantikannya, Nyonya Victurnien. Dia berkata kalau Tuan Madeleine tidak membutuhkannya lagi, dan atas nama Walikota, wanita itu meminta Fantine meninggalkan wilayah itu, padahal Tuan Madeline tidak pernah tahu akan masalah tersebut. Fantine dianjurkan untuk menemui Walikota tapi tidak berani, dia masih berhutang apalagi keluarga Thernardier meminta Fantine menaikkan ‘uang bulanan’. Dia rela menjual rambutnya, rela menjual giginya, dia rela menjadi pelacur agar anaknya hidup nyama
n, hangat dan sehat. Dia juga sangat membenci Tuan Madelaine.

Fantine sering dihina dan dia sering mengacuhkannya, tapi ketika ada seorang pemabuk yang selain melontarkan penghinaan dia juga melempar tubuh Fantine dengan segenggam salju kemarahan Fantine tidak bisa dibendung lagi, dia langsung menerkam laki-laki tersebut, mencakar wajahnya dengan kata-kata paling mengerikan. Apa yang dia dapat? Javert melihat kejaidian itu dan Fantine dihukum enam bulan penjara! Kejadian itu juga didengar Walikota, dia meminta Javert untuk membebaskannya, sebelumnya Fantine menumpahkan semua kemarahannya karena semua kejadian ini tidak akan pernah terjadi kalau Tuan Walikota mengusir dia dari pabriknya dan dia langsung meludahi wajah Walikota. Dengan kemarahannya yang mendidih dia menceritakan semua yang terjadi dalam hidupnya. Tuan Walikota tetap kekueh agar Fantine dibebaskan, usahanya selalu berhasil.

“Hukum tertinggi adalah nurani. Saya telah mendengar perempuan ini, saya tahu apa yang saya lakukan.”

Tuan Madelaine membawa Fantine ke kliniknya karena kondisi kesehatannya yang menurun, dia ingin sekali bertemu dengan Corsette, luka luarnya mungkin bisa diobati tapi tidak dengan luka batinnya. Hanya Corsette lah yang dapat menyembuhkannya. Tuan Madelaine pun meminta Corsette dibawa pulang ke ibunya, dia berharap Fantine bisa bertahan sebelum Corsette pulang.

Suatu pagi Jevert menemui Tuan Madelaine dan meminta maaf karena tuduhan selama ini yang dia lontarkan kepada Tuan Madelaine. Dia mengganggap Tuan Madelaine adalah Jean Valjean, seorang narapidana yang setelah bebas pun dia masih mencuri dan melakaukan tindak kekerasan pada seorang anak kecil. Javert sudah gatal ingin menjebloskan dia ke penjara lagi. Lalu ada kabar kalau Jean Valjean sudah ditemukan, dengan nama Champmathieu. Di sinilah sifar jahat dan baik Tuam Madelaine diuji kembali, membiarkan Champmathiaeu dihukum karena kejahatan yang tidak pernah dia lakukan atau mengaku dirinya sebagai Jean Valjean?

“Dia dapat memperbaiki sendiri pada hal yang tidak lain lebih berat, lebih rumit, lebih misterius, dan lebih tak terhingga. Ada pemandangan yang lebih megah daripada lautan, yaitu langit. Ada pemandangan yang lebih megah daripada langit, yaitu lubuk hati yang paling dalam dan tersembunyi pada manusia.”

“Berlian hanya ditemukan di tempat-tempat gelap di dalam bumi, kebenaran hanya ditemukan dikedalaman pikiran.”

“Kejujuran, ketulusan, keterusterangan, keyakinan, rasa tanggung jawab, adalah hal-hal yang dapat menjadi sesuatu yang mengerikan jika diarahkan dengan keliru. Namun, bahkan walaupun mengerikan, tetap hebat. Keagungannya, keagungan yang istimewa dalam hati nurani manusia, melekat pada mereka di tengah kengerian. Kegembiraan yang tulus dan tak kenal ampun dari seorang fanatik dalam luapan yang penuh atas kekejamannya menyimpan suatu sinar mulia yang menyedihkan. Tanpa menyadari kenyataannya, Javert dalam kebahagiaan yang luar biasa patut untuk dikasihani, sebagaimana setiap manusia bodoh yang memperoleh kemenangan. tidak ada sesuatu yang begitu memilukan dan begitu mengerikan dibandingkan dengan wajah ini, tempat tergambar semua yang mungkin menunjukkan sifat buruk orang-orang baik.”

Membaca buku ini awalnya sangat bosan, terlalu berbelit-belit, memasuki kisah Jean Valjean saya tidak bisa berhenti membacanya. Buku ini menggambarkan bagaimana keadilan sungguh-sungguh ditegakkan sangat sangat berlebihan tanpa memandang kesalahan apa yang dilakukan, tidak ada pembelaan untuk sebuah kejahatan, walau kejahatan itu dilakukan untuk menolong keluarganya yang kelaparan. Hukum yang kebalabasan. Buku ini menggambarkan betapa status seorang narapidana sangat memalukan, mereka dikucilkan oleh masyarakat, tanpa pernah memberi kesempatan untuk memperbaiki diri dan membangun kehidupan yang baru. Buku ini menggambarkan bagaimana seorang ibu bisa melakukan apa pun demi anaknya, menjual setiap bagian tubuhnya, semua tubuhnya agar anaknya bisa hidup enak. Buku ini menggambarkan bagaimana seseorang yang terobsesi dengan hukum, siap menegakkan kebenaran kalau dia melihat ada yang salah tanpa menelusuri terlebih dahulu apa yang sebenarnya terjadi. Buku ini menggambarkan sebaik-baiknya seseorang di masa sekarang, kalau masa lalunya sangat tercoreng maka kebaikan yang selama ini dilakukannya tidak ada artinya.

Miris, itulah perasaan saya ketika membaca buku ini. Hukum lebih berpihak kepada golongan atas, ketika golongan bawah melakukan kesalahan yang sepele hukumnya bisa sampai bertahun-tahun, tidak ada pembelaan bagi mereka. Victor Hugo memaparkan potret dan kritik sosial di masa lampau dengan begitu detailnya. Sosok Jean Valjean yang menjelma menjadi Tuan Madelaine sangat dibutuhkan di dunia ini, kasih sayang Fantine sangat diharapkan oleh semua anak, dan ketegasan yang walaupun kebablasan yang diterapkan Javert sebenarnya sangat dibutuhkan saat ini, di mana hukum sangat sangat dipertanyakan keadilannya, seperti tidak ada perubahan antara masa lalu dan masa sekarang.

“Pembaca tidak hanya akan diajak bijak menjadi bijak dengan nilai-nilai ketuhanan yang ada, tetapi juga patriotisme, kasih sayang seorang ibu, kepedulian terhadap sesama, cinta tanpa pamrih, juga intrik politik yang menggerus keadilan.”

Terjemahannya tidak ada masalah, kalau melihat edisi aslinya yang beribu halaman saya yakin sekali banyak bagian yang di potong di buku ini tapi saya rasa pemotongannya sesuai, tidak mengurangi inti ceritanya, bahkan bagi saya yang tidak suka membaca cerita yang berbelit-belit sangat bersyukur, bagian yang terpenting seperti kisah tiga sosok utama menurut saya: Jean Valjean, Fantine dan Javert tergambar jelas, sehingga saya bisa  mengenali karakter mereka. Soal covernya, sebenarnya saya tidak terlalu bermasalah, seandainya saja tulisannya dihilangkan, menyisakan judul dan penulisnya akan lebih simple, dengan berbagai tulisan yang sepertinya diambil dari tagline film terlalu memenuhi covernya. Dan kenapa covernya mimilih sosok Fantine? mungkin pihak penerbit lebih ingin menonjolkan pengorbanan Fantine. Kalau membaca di bagian pengantar, buku ini sebenarnya ada lima volume yang masing-masing berdiri sendiri. Dan buku ini adalah volume pertama. Dari beberapa review yang saya baca ceritanya masih panjang dan sebal sekali dengan pihak penerbit karena ceritanya tidak disuguhkan sampai akhir, padahal katanya bagian akhir sangat mengaharukan, membuat saya kecewa sekali. Buku ini bagus sekali, kaya akan pesan moral dan sayang kalau tidak disuguhkan secara penuh. Empat atau lima sayap bisa saya berikan untuk buku ini, saya berharap akan ada lanjutannya, sangat-sangat disayangkan kalau cerita hanya berhenti di sana. Saya masih menunggu perjuangan Jean Valjean selanjutnya, saya ingin melihat Corsette yang tumbuh besar, dan saya ingin tahu apakah Javert sadar akan hukum yang keterlaluan yang diterapkannya.

2 sayap untuk cerita yang nanggung.

*UPDATE*

Setelah saya bertanya ke pihak penerbit ternyata buku ini ada lanjutannya, sedang dalam proses penerjemahan dan rencana April bakalan rilis seri keduanya. Sesuai yang sudah saya tuliskan sebelumnya, buku ini sebenarnya bisa mendapatkan empat atau  lima sayap, karena saya sangat menyukai kisah perjuangan Jean Valjean dan karena bakal ada lanjutannya maka penilaian saya pun berubah. Semoga saya dapet buntelan lagi untuk seri kedua :p.

4 sayap untuk sang pembela kebenaran kita, Jean Valjean

*review ini saya ikutkan untuk baca bareng BBI dalam rangka membaca buku nominasi OSCAR*

NB: Tentang filmnya

Mv5bmtq4ndi3ndg4m15bml5banbnxkftztcwmjy5oti1oaLes_miserables_ver11_xlgLes-miserables-jean-valjean-movie-posterLes-mis-javert-crow-4ImagesAmanda-seyfried-les-miserables

Sutradara film King’s Speech, Tom Hooper membuat buku ini menjadi sebuah film musikal yang amat indah. Pemeran utamanya adalah Hugh Jackman (Jean Valjean), Russel Crowe (Javert), Anna Hattaway (Fantine), Amanda Seyfried (Cosette). Les Miserables diganjar tiga penghargaan Golden Globe 2013 untuk kategori Film Terbaik, Aktor Terbaik (Hugh Jackman), dan Aktris Pendukung Terbaik (Anne Hathaway). Sedangkan dalam Academy Award 2013, Les Miserables juga berhasil memboyong 3 piala OSCAR untuk kategori Aktris Pendukung Terbaik (Anne Hataway), Tata Rias dan Rambut (Lisa Wescott dan Julie Dartnell) dan Sound Mixing (Andy Nelson, Mark Paterson dan Simon Hayes), cukup membanggakan, terlebih melihat pengorbanan Anne Hathaway demi memerankan Fantine dia harus menurunkan berat badannya sebanyak 13 kilo *resepnya apa, Non*. Pengen banget nonton filmnya, hauhauhau

Trailernya:

The Notting Hill Mystery

The_notting_hill_mystery

Penulis: Charles Felix

Penerjemah: Lulu Fitri Rahman

Cover: Aminudin Hadinugroho

Penerbit: Visi Media

ISBN: 979-065-122-8

Cetakan pertama, Juli 2012

245 halaman

 

Tadinya girang lihat teh cangkir lainnya, wah sapa tau tehnya lebih enak, tapi ternyata… baru mulai minum aja udah tersedak, coba diminum lagi eh malah tenggorokan gatel, apa belum dicuci ya cangkirnya? tapi enggak loh, cangkirnya bersih, mulus. Apa yang salah tehnya? kodisinya bagus kok, sebelumnya aja minum teh yang sama. Jadi kesimpulannya emang bukan teh cangkir saya, belum terbiasa sama rasa yang saya inginkan sama ketika saya memakai cangkir teh kesayangan saya.

Seperti itulah saya menuangkannya, saya kurang nyaman aja dengan buku ini, bukan salah covernya yang menurut saya lumayan, bukan salah terjemahannya yang menurut saya tidak ada masalah dan lumayan ‘bersih’, mungkin karna bukan genre favorit saya jadi saya kurang bisa menikmatinya. Bisa dibilang ini buku dektektif yang pertama saya baca, sama halnya yang tertera di sampul buku, buku ini adalah novel detektif pertama di dunia (diterbitkan pertama kali di Inggris pada tahun 1865), Sherlock Holmes yang kondang itu aja belum lahir. Biasanya kalu genre yang banyak mikir kayak gini saya lebih menyukai nonton filmnya, lebih mudah mencerna dan menebak siapa dalang semua kejadiannya. Sebenernya nggak asing juga, biasanya saya membaca cerita berbau pembunuhan di genre Romance Suspense, setidaknya ada penyemangat buat saya untuk terus menamatkannya :p. Tapi terima kasih sekali kepada @gila_buku yang berkenan mengirimi saya buku ini, untuk pertama kalinya mencoba membaca kisah detektif, benar-benar tantangan buat saya.

Karena saya bingung mau menceritakan bagaimana isi buku ini, saya akan mengutip salah satu paragrap di awal buku karena menurut saya sudah menjelaskan sebagian besar isi buku tanpa menebarkan spoiler, yaitu Charles Felix: 150 Tahun Misteri.

Novel ini mengambil gaya bercerita korespondensi antara seorang detektif swasta bernama Ralph Henderson yang disewa oleh pihak asuransi untuk menyelidiki misteri dibalik polis asuransi berharga ribuan poundsterling. Hal yang menarik, di dalam novel juga dimasukkan bukti-bukti pelengkap kasus, seperti denah TKP, buku harian korban, kumpulan surat pengakuan saksi, sertifikat pernikahan, catatan medis, laporan analisis kimia, hingga robekan dokumen penting. Hal-hal yang saat ii biasa kita tonton dari serial TV kabel semacam NCIS atau CSI. Metode penulisan fiksi detektif semacam ini baru populer digunakan tahun 1920. Selain memasukkan berbagai analisis medis dan kimia, Charles Felix juga memasukkan polemik tentang ilmu hipnotis yang saat itu masih diangap hal aneh, bahkan tabu.

Menjelaskan semuanya bukan?

Ketika membaca bab pembuka yang di tulis oleh Penjaga Rumah 57 di atas saya sedikit paham dan cukup bersemangat, sayangnya ketika memasuki tiap bab yang berisi surat para saksi saya melemas, saya kurang suka gaya bercerita seperti ini (padahal kalau nulis suka banget yang kayak gini) entah kenapa beberapa kali membaca cerita yang berwujud surat saya kehilangan nyawanya, padahal seharusnya lebih memperjelas makna, lebih personal, tidak adanya dialog dan banyaknya saksi tidak bisa membuat saya menebak siapa pelaku penipuan malah menambah kebingungan ceritanya, dugaan pembunuhan, belum lagi soal hipnotis yang membuat saya mengernyit ini maksudnya apaan sih? Walaupun terseret-seret saya pun memaksakan untuk mengentaskan buku ini, sekali membuka mari kita akhiri juga :D.

Mungkin buat pemanasan aja, siapa tahu nanti kalau membaca buku pure detektif tidak kaget lagi, yang penting jangan sampai kapok, hehe. Walaupun saya kurang menikmatinya buat para pecinta kisah detektif saya recommendedkan buku ini, jangan ngaku freak serial detektif kalau belum baca kisah detektif pertama di dunia.

2 sayap untuk Madame R**