Katarsis

17786536Katarsis
Penulis: Anastasia Aemilia
Editor: Hetih Rusli
Desain dan ilustrasi cover: Staven Andersen
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-979-22-9466-8
Cetakan pertama, April 2013
264 halaman
Pinjem @ndarow

Sinopsis:

Tara Johandi, gadis berusia delapan belas tahun, menjadi satu-satunya saksi dalam perampokan tragis di rumah pamannya di Bandung. Ketika ditemukan dia disekap di dalam kotak perkakas kayu dalam kondisi syok berat. Polisi menduga pelakunya sepasang perampok yang sudah lama menjadi buronan. Tapi selama penyelidikan, satu demi satu petunjuk mulai menunjukkan keganjilan.

Sebagai psikiater, Alfons berusaha membantu Tara lepas dari traumanya. Meski dia tahu itu tidak mudah. Ada sesuatu dalam masa lalu Tara yang disembunyikan gadis itu dengan sangat rapat. Namun, sebelum hal itu terpecahkan, muncul Ello, pria teman masa kecil Tara yang mengusik usaha Alfons.

Dan bersamaan dengan kemunculan Ello, polisi dihadapkan dengan kasus pembunuhan berantai yang melibatkan kotak perkakas kayu seperti yang dipakai untuk menyekap Tara. Apakah Tara sesungguhnya hanya korban atau dia menyembunyikan jejak masa lalu yang kelam?

My Review:

Sinting. Sinting. Sinting.
Itulah yang saya rasakan ketika memahami hampir semua karakter tokoh yang ada di buku ini. Jujur saja, saya bukan pecinta thriller terlebih buku ini masuk kedalam ketegori genre psychology thriller, di mana masih agak asing ditelinga saya karena saya tidak bisa menginggat apakah ada buku dari penulis Indonesia yang pernah mengambil tema yang sama. Biasanya saya lebih suka menikmati versi visualnya, lebih mudah bagi saya untuk menebak siapa dalang semua kejadian. Tapi, melihat cover buku ini yang simple memudahkan saya mengetahui siapa pelaku sebenarnya dari awal saya membaca.

Seorang pemuda ditemukan tubuhnya termutilasi dan potongan tubuhnya berceceran di sekitar rumahnya, ibunya Sasi Johandi dan pamannya Bara Johandi tewas dengan banyak luka tusukan di tubuh mereka. Suami Sasi, Arif Johandi masih dalam keadaan kritis. Hanya satu orang yang ditemukan hidup walau dalam keadaan dehidrasi dan syok berat karena ditemukan di dalam kotak perkakas, dia adalah keponakan dari Sasi dan Arif, sepupu Moses, anak Bara, dia gadis berumur 18 tahun yang sekarang tinggal di Rumah Sakit Jiwa, dia bernama Tara Johandi.

Cerita tidak berhenti akan misteri pembunuhan keluarga Johandi dan siapa yang menaruh Tara di kotak perkakas selama dua hari sampai ditemukan pihak berwajib, muncul kembali psikopat yang menaruh korbannya di kotak perkakas beserta koin lima rupiah setalah bertahun-tahun absen.

Awalnya saya mengira kalau pelakunya hanya ‘dia’ ternyata semakin kebelakang semakin tak terduga, cerita mleber kemana- mana, tapi, karena penulis mengambil sudut pandang orang pertama dan ada dua orang yang menceritakannya secara langsung, cerita di buku ini mudah sekali diprediksi ditambah dengan adanya alur flashback yang sangat memperjelas. Mungkin tujuan utama penulis bukanlah memberi kejutan siapa pelakunya tapi lebih menampilkan sisi psikologis para tokohnya. Tara hidup dengan keluarga yang broken home, sejak kecil dia sudah melihat perlakuan keji ayahnya yang sering memukul ibunya dan selingkuh dengan orang lain, menyebabkan dari kecil Tara tidak mau dipanggil dengan namanya dan tidak mau memanggil kedua orang tuanya dengan ayah dan ibu, membenci kedua orang tuanya.

Kekurangan buku ini atau yang disayangkan dari buku ini adalah minimnya kisah cinta, hahahaha tetep ya. Sebenarnya saya berharap banyak dengan Alfons -dokter jiwa yang merawat Tara- hanya saja sejak kemunculan Ello, teman masa kecil Tara tiba-tiba datang kembali dan membuat saya bingung akan perasaan Tara. Di satu sisi, Alfons adalah satu-satunya orang yang bisa dipercaya Tara, yang bisa membuatnya tenang, di sisi lain, dengan kemisteriusan Ello, Tara dibuat klepek-klepek, inginnya sih Tara lebih konsisten siapa yang dia suka, yasudahlah, namanya juga buka novel romance, Lis.

Saya baru kali pertama ini membaca novel dari Anastasia Aemilia, sebelumnya saya pernah membaca cerpennya di buku antologi Autumn Once More, ternyata selain piawai menulis kisah cinta, buku pertamanya yang bergenre psycology thriller ini sama sekali tidak mengecewakan, ide pembunuhan yang meletakkan para korban di kotak perkakas itu jenius dan sinting sinting sinting!

Buat kamu yang ingin mencoba membaca genre pcycology thriller dalam negeri, coba di mulai dari buku ini, kalau selanjutnya ketagihan, bukan tanggung jawab saya loh dan yang ngaku thriller freak, buku ini pantes kok untuk nambah koleksi buku bergenre thrillermu 😀

4 sayap untuk daun mint.

Cerita Misteri yang Bukan Misteri

15777123Insiden Anjing di Tengah Malam Yang Bikin Penasaran

Judul Asli: The Curious Insident of the Dog in the Nigh-time

Penulis: Mark Haddon

Penerjemah: Hendarto Setiadi

Perancang sampul: Boy Bayu Anggara

Penerbit: Penerbit KPG

ISBN: 978-979-91-0477-9

Cetakan keempat, Juli 2012

336 halaman

Pinjem @dion_yulianto

Sinopsis:

Insiden Anjing di Tengah Malam yang Bikin Penasaran merupakan novel misteri pembunuhan yang lain daripada yang lain.

Sang detektif, sekaligus pencerita, bernama Christopher Boone. Christopher berusia limabelas tahun dan dia menyandang Sindrom Asperges sejenis autisme. Dia mahir bermain komputer dan memecahkan soal-soal matematika, tapi kikuk berhubungan dengan orang lain. Dia senang segala sesuatu berjalan teratur terpola, dan masuk akal, tapi benci warna kuning dan cokelat. Dia belum pernah berpergian seorang diri lebih jauh daripada ke ujung jalan rumahnya, tapi ketika menemukan anjing tetangganya mati terbunuh, dia pun menempuh perjalanan menakutkan yang akan menjungkirbalikkan seluruh dunianya.

Christopher adalah tokoh rekaan yang cemerlang, dan Mark Haddon menngambarkan dunianya dengan cara yang sangat menyentuh, sangat lucu, dan sangat meyakinkan. Tak heran jika novel ini dianugerahi berbagai penghargaan sastra, antara lain Whitbread Novel Award 2003, hadiah sastra bergengsi di Inggris.

My Review

Saya belum kuat iman untuk melanjutkan Seratus Tahun Kesunyian, dan kebetulan buku ini ada daftar diantrian baca, judul dan warna covernya sangat memikat saya. Sebelum memulai membaca ceritanya, saya membaca catatan penerjemah di bagian belakang dan review mengenai buku ini terlebih dahulu. Saya mendapatkan dua kunci atau dua buku yang agak mirip dengan buku yang masuk list 1001 books you must read before you die ini. Forrest Gump dan Extremely Loud and Incredibly Close, saya membaca ketiga buku ini (saya memang mudah sekali dibujuk) untuk mendapatkan kesamaan dan memudahkan memahami cerita. Kesamaannya dengan Forrest Gump adalah kedua tokoh utama di buku ini menyandang salah satu jenis sindrom Autisme, kalau Christopher dengan sindrom asperges (salah satu gejala autisme di mana para penderitanya memiliki kesulitan dalam berkomunikasi dengan lingkungannya, sehingga kurang begitu diterima.) yang rata-rata memiliki IQ tinggi, kebalikannya dengan Forrest Gump, IQ-nya dibawah 70, dia seorang idiot savant, seseorang yang tidak mampu mengikat dasi, hanya dengan susah payah bisa mengikat tali sepatu, memiliki mental seperti anak berusia enam sampai sepuluh tahun. Walau sepertinya sangat bertolak belakang, kedua tokoh ini sangat cemerlang dibidang matematika, fisika, mampu menangkap tema-tema musik yang sangat rumit, sama-sama bercita-cita menjadi astronot. Sedangkan kesamaannya dengan Extremely Loud and Incredibly Close, tokoh utamanya yang belum dewasa, Christopher berumur 15 tahun sedangkan Oscar Scell berumur 9 tahun, dengan kecerdasan yang mereka miliki, mereka berusaha menyingkap misteri yang mereka hadapi. Christopher yang terispirasi akan detektif favoritnya, Sherlock Holmes, berusaha menyingkap siapa pembunuh anjing tetangganya sedangkan Oscar mencari lubang kunci yang tepat, mencari lubang kunci yang pas dengan kunci yang ditemukan setelah ayahnya meninggal, mencari satu dari 16 juta lubang kunci yang tepat di seluruh New York yang kemudian terkuak misteri keluarga mereka yang kelam. Walau saya belum selesai membaca Extremely Loud and Incredibly Close (di mana tipografinya yang sangat aneh membuat kepala saya migrain), saya sangat menikmati cerita tentang anak-anak dan satu orang dewasa seperti anak-anak yang pemikirannya luar biasa.

Kenapa saya bilang cerita misteri yang bukan misteri? Karena kita tidak perlu susah payah mengetahui siapa pelaku sebenarnya, pelakunya ngomong sendiri kok. Justru menurut saya, buku ini lebih bercerita tentang orang tua dan anaknya yang memiliki kebutuhan khusus, bagaimana cara mereka menghadapi anak yang tidak biasa, bagaimana susahnya. Bahkan Chris pernah berpikir kalau orangtuanya bercerai maka dialah penyebabnya. Kesabaran kunci utamanya, hal yang tidak dimiliki ibu Chris sehingga dia kadang lelah dan ingin menyerah menghadapi anaknya, berbeda dengan ayah Chris yang lebih sabar, lebih mengetahui apa kesukaan dan ketidaksukaan anaknya. Contohnya ketika ayah Chris ingin memeluknya dia harus mengangkat tangan kanan dan merentangkan jari seperti kipas, kemudian Chris akan membalas dengan menggangkat tangan kiri dan merentangkan jari seperti kipas, begitulah cara mereka berpelukan. Orangtua yang memiliki anak ‘special’ harus tahu kebiasaan anaknya, harus bisa memahami, itulah yang saya dapatkan ketika membaca buku ini. Chris sangat menyukai angka dan keteraturan, sangat suka berada di penjara karena bentuknya nyaris seperti kubus sempurna, dengan panjang 2 meter, lebar 2 meter, dan tinggi 2 meter, bila dia stress dia akan mengitung angka, seperti berhitung sampai 2^45 (baca: dua pangkat 45),  di mana cara tersebut bisa membuatnya tenang. Tidak suka orang asing karena mereka sulit dipahami, bahkan membutuhkan waktu lama sampai terbiasa dengan orang-orang yang baru dikenal. Membenci warna kuning dan cokelat, tidak mau makan makanan yang memiliki warna tersebut, tidak mau memakai baju dengan warna tersebut, pokoknya tidak mau bergubungan dengan warna tersebut. Dia juga menandakan hari baik dan buruk berdasarkan warna mobil. Untuk empat mobil merah berturut-turut yang dilihatnya di jalanan menandakan Hari Baik, tiga mobil merah berturut-turut menandakan Hari Lumayan Baik, lima mobil merah berturut-turut menandakan Hari Sangat Baik, dan empat mobil kuning berturut-turut menandakan Hari Kelabu, hari ketika Chris tidak berbicara dengan siapapun dan duduk sendirian membaca buku dan tidak menyantap makan siangnya dan Tidak Mengambil Risiko. Langsung bisa membuat peta ketika dia baru sekali datang ke tempat itu, misalnya peta kebun binatang yang dikunjunginya dan ayahnya. Dan kalau dia marah, dia bisa berhari-bahari tidak mau makan dan tidak mau berbicara. Itulah sedikit tentang seorang anak yang bernama Christopher John Francis Boone, berusia limabelas tahun, tahu semua negara di dunia beserta ibukotanya dan semua bilangan prima sampai 7.507.

Berbohong adalah kalau kau mengatakan sesuatu telah terjadi padahal sebetulnya tidak. Tapi selalu hanya ada satu hal yang terjadi pada saat tertentu dan tepat tertentu. Dan tak terhingga banyaknya hal yang tidak terjadi pada saat itu dan di tempat itu. Dan kalau aku membayangkan sesuatu yang tidak terjadi maka aku juga langsung mulai membayangkan semua hal lain yang tidak terjadi.

Inilah satu alasan lain lagi kenapa aku tidak suka novel biasa, karena novel seperti itu penuh kebohongan tentang hal-hal yang tidak pernah terjadi dan segala macam kebohongan itu membuatku merasa gamang dan ngeri.

Sangat menarik membaca buku ini, saya acungin jempol kepada penerjemahnya, membaca tentang catatan terjemahannya, membuktikan kalau dia benar-benar serius, awalnya dia menggunakan pendekatan pada Forrest Gump untuk menghadirkan sosok Christopher Boone tetapi dugaannya meleset, kemudian merombak terjemahan awal yang dia buat karena tidak sepadan dengan versi aslinya. Dia terkecoh, mungkin berlaku juga bagi orang yang pertamakali melihat buku ini, judul dan covernya saja sangat tidak biasa, dan ketika selesai membacanya kita akan mendapatkan cerita yang luar biasa. Saya acungin jempol juga buat sang penulis, saya tahu pasti dia melakukan riset, bagaimana dia bisa menjelma menjadi sosok anak kecil yang memiliki kebutuhan khusus dengan sudut pandang orang pertama, seperti nyata adanya. Saya seperti masuk ke isi kepala anak dengan sindrom asperges, mengetahui apa yang dipikirkannya, ciri mereka yang kalau berbicara cenderung kaku, tanpa emosi dan sering melompat-lompat, misalnya di bab pertama bercerita tentang kejadian sekarang maka di bab selanjutkan Chris akan bercerita tentang hal-hal yang disukai atau tidak disukainya, tentang dirinya. Chris sebenarnya tahu apa yang dibicarakan orang yang sedang mengajaknya bicara, hanya saja dia selalu berpikir logis, mendetail dan mereka tidak menyukai orang asing, membutuhkan waktu untuk bisa berinteraksi, sehingga orang-orang kerab mengira mereka punya dunia sendiri padahal si special sebenarnya tahu apa yang mereka bicarakan. Hal ini juga saya temukan ketika membaca buku Forrest Gump, dia tahu apa yang orang bicarakan tapi ketika dia ingin berkata sesuatu yang muncul malah “aku kebelet”.

Bilangan prima adalah apa yang tersisa setelah semua pola kau buang. Kupikir bilangan prima seperti kehidupan. Bilangan prima serba logis tapi kau takkan bisa mencari aturan mainnya, sekalipun kau menghabiskan seluruh waktumu untuk memikirkan bilangan itu.

Bagian yang paling saya sukai adalah ketika Chris pergi menemui ibunya di London, sendirian. Bagaimana dia berusaha menerobos batasan-batasan yang selama ini dia ciptakan; tidak menyukai orang asing dan tidak menyukai ketidakteraturan.

Kemudian apakah buku ini pantas masuk ke dalam 1001 books you must read before you die? Kalau penghargaan seperti; Man Booker Prize Nominee for Longlist (2003), Whitbread Award for Novel and Book of the Year (2003), Commonwealth Writers’ Prize for Best First Book Overall (2004), McKitterick Prize (2004), Los Angeles Times Book Prize (2003) Exclusive Books Boeke Prize (2004), ALA Alex Award (2004), Zilveren Zoen (2004), ALA’s Top Ten Best Books for Young Adults (2004), Abraham Lincoln Award Nominee (2006) tidak cukup, ada satu point yang mungkin tidak pernah kamu temukan di buku lain pernahkah kamu membaca seorang detektif cilik yang berusaha mengungkap pembunuhan seekor anjing? Maka saya katakan, buku ini sangat pantas.

Sekarang waktunya giveaway terselubung :p

Tentu tahu dong kalau Christopher ini sangat menyukai bilangan prima, bahkan bab di buku ini tidak ditulis 1,2,3 dsb tetapi berdasarkan urutan bilangan prima. Bab di mulai dengan bilangan prima yang pertama, yaitu 2 dan diakhiri bab ke-233. Pertanyaannya adalah berapa jumlah bab yang ada di buku ini? Giveaway ini berlangsung sampai ada yang menjawab dengan benar dan bagi satu warga Indonesia beruntung akan mendapatkan buku:

The Fetch (The Runestone Saga Buku 1: Sang Duplikat
Good luck 🙂

Untuk tokoh utama, penulis, dan penerjemah yang jenius, 4.5 sayap saya rasa cukup.

Ten Little Niggers (Sepuluh Anak Negro)

2172799Sinopsis:

Sepuluh orang diundang ke sebuah rumah mewah dan modern di Pulau Negro, di seberang pantai Devon. Walaupun mereka masing-masing menyimpan suatu rahasia, mereka tiba di pulau itu dengan penuh harapan, pada suatu sore musim panas yang indah.

Tetapi tiba-tiba saja terjadi serentetetan kejadian misterius. Pulau itu berubah menjadi pulau maut yang mengerikan… Panik mencekam orang-orang itu ketika mereka satu demi satu meninggal… satu demi satu…

Novel Agatha Christie yang paling mencekam dan menegangkan!

Cerita detektif – tanpa detektif!

***

Judul asli: And Then There Were None (Lalu Semuanya Lenyap)

Penulis: Agatha Christie

Alih bahasa: Mareta

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Cetakan ketiga, Oktober 1994

264 halaman

Pinjem mbak @destinugrainy

Sepuluh anak negro makan malam;

Seorang tersedak, tinggal sembilan.

Sembilan anak Negro bergadang jauh malam;

Seorang ketiduran, tinggal delapan.

Delapan anak Negro berkeliling Devon;

Seorang anak tak mau pulang, tinggal tujuh.

Tujuh anak Negro mengapak kayu;

Seorang terkapak, tinggal enam.

Enam anak Negro bermain sarang lebah;

Seorang tersengat, tinggal lima.

Lima anak Negro ke pengadilan;

Seorang ke kedutaan, tinggal empat.

Empat anak Negro pergi ke laut;

Seorang dimakan ikan herring merah, tinggal tiga.

Tiga anak Negro pergi ke kebun binatang;

Seorang diterkam beruang, tinggal dua.

Dua anak Negro duduk berjemur;

Seorang hangus, tinggal satu.

Seorang anak Negro yang sendirian;

Menggantung diri, habislah sudah.

Sepuluh orang dengan latar belakang berbeda diundang ke Pulau Negro oleh seseorang yang sangat misterius, Ulick Norman Owen. UNKNOWN. Mereka semua tidak tahu bahaya yang akan mereka hadapi, bahwa satu per satu dari mereka mati oleh kesalahan yang tak pernah tercium hukum. Namun, ada satu orang yang tahu kesalahan terpendam mereka, dan dia, dimulai dari kesalahan yang paling kecil mengeksekusi satu per satu sesuai dengan sajak anak Negro.

“Anda semua bertanggung jawab atas tuduhan berikut:

‘Edward George Amstrong, apa yang Anda kerjakan pada tanggal 14 Maret 1925, menyebabkan kematian Louisa Mary Clees.’

‘Emily Caroline Brent, pada tanggal 5 Nopember 1931 Anda bertanggung jawab atas kematian Beatrice Taylor.’

‘William Henry Blore, Anda menyebabkan kematian James Stephen Landor pada tanggal 10 Oktober 1928.’

‘Vera Elizabeth Claythorne, pada tanggal 11 Agustus 1935 Anda membunuh Cyril Ogilve Hamilton.’

‘Philip Lombard, pada bulan Pebruari 1932 Anda bersalah atas kematian dua puluh satu orang suku Afrika Timur.’

John Gordon Macarthur, pada tanggal 14 Januari 1917 Anda dengan sengaja membunuh pacar istri Anda, Arthur Richmond.’

‘Anthony James Marston, pada tanggal 14 Nopember tahun lalu Anda bersalah atas kematian John dan Lucy Combes.’

‘Thomas Rogers dan Ethel Rogers, pada tanggal 6 Mei 1929 Anda menyebabkan kematian Jennifer Brady.’

‘Lawrence John Wargrave, pada tanggal 10 Juni 1930 Anda bersalah atas kematian Edward Seton.’

Terdakwa, apakah Anda ingin mengajukan pembelaan?”

Akhirnya saya merasakan salah satu mahakarya The Queen of Crime, eyang Agatha Christie, ternyata lumayan seru juga :p Dari dulu saya sering lihat karya beliau di toko buku tapi entah kenapa tidak berminat sama sekali, bahkan saya kira dia penulis asal Indonesia yang ternyata lahir di Devon, Inggris tempat yang sering dia gunakan untuk setting ceritanya, mungkin saking banyak bukunya jadi bingung mau mulai yang mana dulu. Nah, dari berpuluh-puluh buku yang pernah dia buat entah kenapa lagi saya tertarik dengan Sepuluh Anak Negro ini yang dalam judul aslinya berjudul And Then There Were None, mungkin juga karena saya baca sajak anak Negro yang kayaknya kok seru banget ya sepuluh orang mati berurutan sesuai dengan sajak tersebut.

Yang paling asik ketika membaca buku thriller adalah kita tidak akan menemukan jawaban yang paling benar kalau tidak menyelesaikan sampai akhir buku tersebut, jadi mengasah kesabaran kita :p dan yang paling seru lagi adalah menebak siapa dalang semua masalah yang terjadi, kita ikut-ikutan jadi detektif!

Buku ini tidak tebal dan alurnya cepat, tips membaca buku ini adalah hafalkan semua tokoh yang ada di buku ini, kita harus jeli karena semua tokoh di buku ini mati dan pelakunya salah satu dari mereka. Saya bisa menebak kalau pasti pelakunya salah satu dari sepuluh orang yang diundang tapi tetap saja kebingunggan ketika orang kesepuluh mati dan siapa pelakunya???? Untung saya orangnya sabar 😀

2630972Kekurangan buku ini menurut saya adalah saya orangnya pelupa dan saya nggak hafal para tokohnya jadi bolak balik ngulang baca biar ngeh ‘ini tadi yang mana ya?’ hahahaha, soalnya kebanyakan sudut pandangnya orang pertama dan di buku ini cukup banyak isi kepala yang harus dicerna dengan baik-baik jadi saya nggak bisa baca cepet dan ada korban yang mati tidak sesuai dengan sajak jadi menurut saja kurang nendang. Saya lebih suka cover terbarunya, sesuai banget dengan isi buku ini.

Untuk kesan pertama saya tidak kapok dan pengen nyoba baca buku penulis yang pada tahun 1971 dianugerahi gelar Dame Commander of the British Empire ini, tapi yang mana????? banyak banget bahkan lebih dari 80 novel yang bercerita tentang detektif, jadi saya pengen nyoba yang mainstream dulu aja 😀 ada saran dan ada yang mau minjemin atau buntelin? #KutuBokek XD

Oh ya, buat yang pengen tahu lebih banyak  tentang Agatha Christie dan karya-karyanya coba deh berkunjung ke selselkelabu.blogspot.com recomended banget dan ada postingan yang keren banget yang dibuat oleh mbak Astrid tentang Hercule Poirot, salah satu tokoh ciptaan Agatha Christie yang paling sering muncul di buku-bukunya yang terkenal dengan sel-sel kelabunya, A Tribute to Hercule Poirot.

Buku ini saya rekomendasikan untuk yang pengen nyoba kaya Agatha Christie untuk pertama kalinya dijamin bikin nagih 😀

Dan seperti kebanyakan tips dari orang-orang setelah membaca buku ini, jangan buka halaman terakhirnya.

3.5 sayap untuk The Queen of Crime

The Notting Hill Mystery

The_notting_hill_mystery

Penulis: Charles Felix

Penerjemah: Lulu Fitri Rahman

Cover: Aminudin Hadinugroho

Penerbit: Visi Media

ISBN: 979-065-122-8

Cetakan pertama, Juli 2012

245 halaman

 

Tadinya girang lihat teh cangkir lainnya, wah sapa tau tehnya lebih enak, tapi ternyata… baru mulai minum aja udah tersedak, coba diminum lagi eh malah tenggorokan gatel, apa belum dicuci ya cangkirnya? tapi enggak loh, cangkirnya bersih, mulus. Apa yang salah tehnya? kodisinya bagus kok, sebelumnya aja minum teh yang sama. Jadi kesimpulannya emang bukan teh cangkir saya, belum terbiasa sama rasa yang saya inginkan sama ketika saya memakai cangkir teh kesayangan saya.

Seperti itulah saya menuangkannya, saya kurang nyaman aja dengan buku ini, bukan salah covernya yang menurut saya lumayan, bukan salah terjemahannya yang menurut saya tidak ada masalah dan lumayan ‘bersih’, mungkin karna bukan genre favorit saya jadi saya kurang bisa menikmatinya. Bisa dibilang ini buku dektektif yang pertama saya baca, sama halnya yang tertera di sampul buku, buku ini adalah novel detektif pertama di dunia (diterbitkan pertama kali di Inggris pada tahun 1865), Sherlock Holmes yang kondang itu aja belum lahir. Biasanya kalu genre yang banyak mikir kayak gini saya lebih menyukai nonton filmnya, lebih mudah mencerna dan menebak siapa dalang semua kejadiannya. Sebenernya nggak asing juga, biasanya saya membaca cerita berbau pembunuhan di genre Romance Suspense, setidaknya ada penyemangat buat saya untuk terus menamatkannya :p. Tapi terima kasih sekali kepada @gila_buku yang berkenan mengirimi saya buku ini, untuk pertama kalinya mencoba membaca kisah detektif, benar-benar tantangan buat saya.

Karena saya bingung mau menceritakan bagaimana isi buku ini, saya akan mengutip salah satu paragrap di awal buku karena menurut saya sudah menjelaskan sebagian besar isi buku tanpa menebarkan spoiler, yaitu Charles Felix: 150 Tahun Misteri.

Novel ini mengambil gaya bercerita korespondensi antara seorang detektif swasta bernama Ralph Henderson yang disewa oleh pihak asuransi untuk menyelidiki misteri dibalik polis asuransi berharga ribuan poundsterling. Hal yang menarik, di dalam novel juga dimasukkan bukti-bukti pelengkap kasus, seperti denah TKP, buku harian korban, kumpulan surat pengakuan saksi, sertifikat pernikahan, catatan medis, laporan analisis kimia, hingga robekan dokumen penting. Hal-hal yang saat ii biasa kita tonton dari serial TV kabel semacam NCIS atau CSI. Metode penulisan fiksi detektif semacam ini baru populer digunakan tahun 1920. Selain memasukkan berbagai analisis medis dan kimia, Charles Felix juga memasukkan polemik tentang ilmu hipnotis yang saat itu masih diangap hal aneh, bahkan tabu.

Menjelaskan semuanya bukan?

Ketika membaca bab pembuka yang di tulis oleh Penjaga Rumah 57 di atas saya sedikit paham dan cukup bersemangat, sayangnya ketika memasuki tiap bab yang berisi surat para saksi saya melemas, saya kurang suka gaya bercerita seperti ini (padahal kalau nulis suka banget yang kayak gini) entah kenapa beberapa kali membaca cerita yang berwujud surat saya kehilangan nyawanya, padahal seharusnya lebih memperjelas makna, lebih personal, tidak adanya dialog dan banyaknya saksi tidak bisa membuat saya menebak siapa pelaku penipuan malah menambah kebingungan ceritanya, dugaan pembunuhan, belum lagi soal hipnotis yang membuat saya mengernyit ini maksudnya apaan sih? Walaupun terseret-seret saya pun memaksakan untuk mengentaskan buku ini, sekali membuka mari kita akhiri juga :D.

Mungkin buat pemanasan aja, siapa tahu nanti kalau membaca buku pure detektif tidak kaget lagi, yang penting jangan sampai kapok, hehe. Walaupun saya kurang menikmatinya buat para pecinta kisah detektif saya recommendedkan buku ini, jangan ngaku freak serial detektif kalau belum baca kisah detektif pertama di dunia.

2 sayap untuk Madame R**

The Virgin Suicides

2869229

The Virgin Suicides

Penulis: Jeffrey Eugenides

Penerjemah: Rien Chaerani

Penerbit: Dastan

ISBN: 978-979-3972-32-9

Cetakan pertama, Januari 2008

350 halaman

 

Sinopsis:

Michigan, awal 1970-an. Keluarga Lisbon adalah keluarga yang sangat religius, keluarga biasa dengan kehidupan yang juga biasa. Sampai ketika satu demi satu anak gadis keluarga itu melakukan bunuh diri. Kelima perawan misterius yang cantik itu mengakhiri hidup mereka sendiri secara misterius pula. Gadis-gadis keluarga Lisbon berumur tiga belas (Cecelia), empat belas (Lux), lima belas (Bonnie), enam belas (Mary), dan tujuh belas tahun (Threse).

Cecilia, si bungsu, menyayat pergelangan tangannya sambil berendam di bak mandi. Kedua tangannya mendekap gambar Perawan Suci. Percobaan pembunuhan pertamanya ini gagal. Namun, ia berhasil dalam percobaan keduanya. Tubuhnya meluncur dari lantai atas rumah. Keberhasilan Cecilia diikuti oleh keempat saudarinya, masing-masing dengan cara yang berbeda.

Gadis-gadis keluarga Lisbon begitu terosebsi dengan kematian. Tidak ada seorang pun yang tahu misteri di balik itu semua. tidak ada yang tahu apa yang sesungguhnya terjadi di dalam rumah keluarga Lisbon…

 

The Winner of the Whiting Award & ALA Book of the Year.

 

My Review:

Tertarik membaca buku ini ketika membaca salah satu review dari @ndarow yang menyebutkan buku ini salah satu favoritnya, selain itu saya juga menaruh perhatian lebih pada buku bergenre psikologi atau lebih tepatnya ke tema bunuh diri. Isi kepala manusia itu sangat kompleks, kadang kita tidak tahu seberapa besar beban pikiran mereka, tiap orang berbeda-beda, cara mengatasinya pun juga berbeda-beda. Dan ketika mereka merasa buntu, bunuh diri kadang menjadi jawaban permasalahannya itu. Buku yang bertema bunuh diri yang pernah saya baca antara lain adalah Dan Hujan Pun Berhenti, After dan 13 Reasons Why, semuanya menjadi favorit, sayang tidak dengan buku ini.

Gara-gara halaman awal hilang sampai dengan halaman 11 saya sempet bingung dengan sudut pandangnya, kemudian saya tanya @ndarow dan dia bilang PoV adalah anak-anak laki-laki yang berada di lingkungan Lisbon bersaudara alias kami. Sama seperti pembaca, ‘kami’ juga menelusuri, mencari alasan kenapa anak-anak keluarga Lisbon mati bunuh diri semua, padahal ‘kami’ mengagumi dan menyukai mereka karena mereka cantik.

Bunuh dirin adalah tindakan angresi yang dipicu oleh dorongan libido seorang anak remaja.

Yang mati bunuh diri pertama kali adalah Cecilia, orang-orang menganggap dia mati bunuh diri karena patah hati, namun tidak banyak bukti yang membenarkan, hanya ada satu tulisan yang meyangkut laki-laki tersebut di buku hariannya. Awalnya dia mencuba menyilet pergelangan tangannya tapi berhasil diselamatkan, lalu dia kembali bunuh diri dengan jatuh dari atap kamarnya.

Saya suka ide ceritanya, saya suka penulis mengambil PoV dari orang yang sama-sama buta tentang kejadian itu kemudian berusaha mencari tahu bersama pembaca untuk menemukan alasan mereka kenapa bunuh diri, namun alurnya cukup membosankan, banyak penjabaran dari ‘kami’ yang menurut saya tidak penting, terlalu bertele-tele. Saya juga tidak bisa konsen baca buku ini dari awal karena hilangnya halaman tadi, saya tidak merasakan feel buku ini. Bahkan ada bagian yang saya skip lantaran tidak ada yang menyangkut kematian Lisbon bersaudara. Sampai akhir pun saya masih tidak menemukan jawabannya. Yang jelas, saya menangkap mungkin yang menjadikan penyebab Lisbon bersaudara adalah orangtua mereka terlalu keras mendidik, terlalu mengekang, terlalu banyak peraturan yang harus mereka laksanakan, padahal mereka memasuki usia di mana seseorang sedang tumbuh baik fisik maupun psikis. Keluarga Lisbon terasa amat jauh, susah untuk memahaminya. Dan satu lagi yang memicu semua ini adalah ketika Cecilia bunuh diri, ingin sekali tahu alasan dia bunuh diri sehingga memicu saudara lainnya untuk melakukan hal yang sama.

Para psikolog sepakat bahwa masa remaja jauh penuh tekanan dan keruwetan dibanding masa anak-anak. Kerap kali, saat ini, berkah perpanjangan masa kanak-kanak bagi kaum muda, dalam kehidupan bangsa Amerika ternyata sia-sia, karena kaum remaja merasa terputus dengan masa kanak-kanak dan kedewasaan. Ekspresi diri sering kali mengalami kebuntuan. terlebih-lebih, menurut para dokter, kebuntuan ini dapat mengarah pada tindakan kekerasan dan remaja yang tidak bisa memisahkan realitas ini dari drama yang dimaksud.

Terjemahannya lumayan sulit dimengerti, saya lebih suka cover aslinya.

10956

2 sayap untuk Lisbon bersaudara.

The Day of The Jackal

284108_2189100376575_1519057220_2429062_7597544_n

By Frederick Forsyth

Penerjemah: Ranina B. Kunto

Penerbit: Serambi

Cetakan: I, Juni 2011

ISBN: 978-979-024-356-9

609 halaman

 

Sebenarnya saya bingung mau menulis review ini, ceritanya terlalu mbulet dan saya tidak benar-benar menyelesaikannya. Membaca buku ini seperti seorang vegetarian yang disuguhi daging dan saya harus memakannya (memasuki bagian lebay). Tidak usah bertele-tele lagi nanti reviewnya malah mbulet, langsung saja ke inti cerita.

Diawali dengan kematian pemimpin geng pembunuh dari OAS (Organisation L’Armee Secrete), Jean Marie Bastien-Thiry yang telah berusaha menembak Presiden Prancis saat itu, Charles de Gaulle karena dia meyakini kalau Gaulle telah menghianati Prancis dan orang-orang yang pada tahun 1958 telah memilihnya kembali menjadi presiden, atas kebijakannya menyerahkan Aljazair kepada kaum nasionalis Aljazair. Namun, kematiannya justru menjadi permulaan. Colonel Marc Rodi, kepala operasi OAS yang baru juga merasa dihianati dan kebenciannya kepada Gaulle semakin menjadi, dia pun melaksanakan kudeta besar-besaran untuk menggulingkan pemerintah pada bulan April 1961 namun kudeta tersebut gagal, kemudian bersama dua temannya di OAS, Rene Montclair, bendahara OAS dan Andre Lasson, coordinator gerakan bawah tanah OAS-CNR di Prancis Metropolitan, mereka membutuhkan seorang professional , orang luar yang pandai dalam pembunuhan politik karena organisasi mereka telah banyak disusupi oleh agen-agen Dinas rahasia Prancis sehingga tidak banyak lagi keputusan yang menjadi rahasia dan wajah mereka juga familier di kalangan polisi Prancis. Mereka membutuhkan orang luar yang didak diketahui identitasnya, pembunuh bayaran dengan harga setengah juta dolar, dia berinisial Jackal.

Jackal pun memulai strateginya dengan membuat identitas atau paspor palsu, merancang sendiri senjatanya agar benar-benar cocok dengan strategi pembunuhannya nanti yang akan dilaksanakan pada waktu kemerdekaan Prancis. Intinya, segalanya terencana dengan baik dan detail. Tentu saja pemerintah Prancis tidak diam begitu saja, mereka mengetahui kalau ada bahaya yang akan mengencam keselamatan presiden, tapi mereka tidak tahu siapa bahkan OAS, DST, Dinas Aksi, RG, tidak ada yang mengetahui identitas sang Jackal. Mereka membutuhkan nama, wajah, paspor agara bisa menahannya, untuk menemukan namanya secara rahasia, mereka membutuhkan seorang detektif. Cerita pun berlanjut akan pengejaran detektif terbaik Prancis, Komisaris Claude Lebel akan keberadaan Jackal. Seperti judul film, Catch Me If You Can.

Buku tebal dan kertasnya tipis ini dibagi menjadi tiga bagian: Anatomi Perencanaan, Anatomi Perburuan Manusia, Anatomi Pembunuhan. Sebenarnya buku ini lumayan apalagi bagi penyuka serial detektif, pemeran antagonis sebagai tokoh utama yang jarang dipakai oleh penulis lain menjadikan buku ini cukup penasaran untuk dibaca, isinya pun benar-benar detail, baik latar belakang terjadinya kudeta, agen-agen militer dan rahasia Prancis, pengejaran Jackal, cara pembunuhannya sangat terencana, penulis begitu pandai menjabarkannya. Sayangnya dari awal saya sudah bingung dan tidak konsen membaca buku ini, hal sepele pun juga dijelaskan dengan detail, ceritanya terlalu mbulet dengan banyaknya tokoh sehingga saya terpaksa melewati atau membaca sekilas saja beberapa halaman. Mungkin karena “Bukan ukuran baju saya,” kebesaran, sehingga saya tidak nyaman membacanya. Mungkin saya lebih cocok dengan filmnya ^^

2 sayap untuk sang penjagal.

 

Tentang penulis

Frederickforsyth

Frederick Forsyth lahir di Inggris pada 25 Agustus 1938. Pada 1956, ia menjalani Wajib Militer sampai 1958, dan pada usia 19 tahun menjadi pilot termuda di Angkatan Udara. Pada 1969, ia mulai menulis buku pertamanya, The Biafra Story, setelah keluar dari BBC pada 1968. Kini ia bermukim bersama isterinya di Hertfortshire, Inggris.

The Day of The Jackal, pertama kali terbit tahun 1971, menjadi buku laris dan mendapatkan penghargaan novel terbaik Edgar Allan Poe Award 1972. Novel-novel Forsyth bercerita seputar peperangan, intrik internasional, intrik politik, spionase dan kriminalitas lintas Negara, mungkin terinspirasi dari latar belakangnya mengikuti Wajib Militer kali ya, hehehe. Karya-karya lainnya yang juga mendapat pengakuan luas diantaranya adalah  The Dogs of War, The Odessa File, The Devil’s  Alternative, The Fourth Protocol, The Negotiator, The Deceiver, The Fist of God, Icon, Avenger, The Afghan, dan The Cobra.

The Day of The Jackal ini juga pernah dibuat film bahkan sampai dua kali pada tahun 1973 dan 1997. Pada film pertamanya mendapatkan penghargaan BAFTA Award, 1974 sebagai Best Film Editing dan remake filmnya dibintangi oleh Richard Gere dan Bruce Willis.

220px-day_of_the_jackal_ver1Mv5bmzcymjk4nzuzmf5bml5banbnxkftztcwnjmzoti1mq