The Heart Speaks

10278553

Angina adalah cara jantung berkomunikasi kepada pemiliknya dengan berseru, “PERHATIKAN!”

Sebenernya bingung mau menulis review buku ini karena pertama buku ini adalah non fiksi yang mengarah ke authobiographi dan kedua buku ini adalah buku kesehatan (di mana saya sudah munek-munek baca buku kuliah saya sendiri :p), mencernanya saja lama apalagi menulis ulang apa yang telah saya dapat setelah membacanya, saya memang tidak berbakat menjadi guru :D.

Awalnya agak males karena tahu pasti lemot mencernanya, tapi ada rasa penasaran besar terhadap buku ini karena bercerita tentang jantung. Selain karna buku ini satu-satunya terbitan serambi yang ada di tumpukan buku yang akan dibaca, yang membuat saya terus melirik kemudian membacanya adalah judul dan gambar stetoskop berbentuk daun hati, trus juga taglinenya yang menyebutkan Kisah Seru Kardiolog Mengungkap Bahasa Rahasia Penyembuhan. Bayangan pertama saya adalah ada cara lain untuk menyembuhkan penyakit jantung selain mengkonsumsi obat-obatan atau kateterisasi jantung!

Pas baca di bagian pendahuluan tentang Riwayat Hidup Jantung yang membuat saya lebih tertarik lagi untuk terus membacanya adalah ada kesamaan antara saya dan dr. Mimi yaitu punya masa lalu yang buruk dengan jantung. Ketika berumur delapan tahun, Mimi kehilangan Ibunya karena serangan jantung, Ibunya terkena Infark Miokard (kematian otot jantung akibat penyumbatan mendadak arteri koroner oleh bekuan darah). Satu dasawarsa berikutnya, dia kehilangan ayahnya karena penyakit jantung juga.

Sebagian alasan saya menjadi dokter adalah untuk mengatasi ketidakberdayaan yang saya rasakan sebagai seorang gadis kecil pada malam itu di Brooklyn, ketika Ibu direnggut dari sisi saya. Mungkin dengan menjadi seorang kardiolog, saya berusaha dalam usaha simbolik untuk kembali ke masa itu dan menyembuhkan sang jantung di tangan keluarga kami yang berhenti berdenyut terlalu cepat.

Oleh karena itu, buku ini adalah kisah bagaimana saya dulu dilatih untuk melihat jantung sebagai pompa mekanis sederhana, kemudian saya dituntun oleh pasien-pasien saya untuk menghargainya sebagai inti dari kompleksitas dan kekuatan yang besar.

Dalam The Heart Speaks, saya akan menjelajahi apa yang pasien-pasien saya  ungkapkan pada saya mengenai sifat sejati organ kompleks dan penuh lapisan ini dengan membagi kisah hidup mereka, selain penemuan terbaru yang menempatkan jantung sebagai pusat kecerdasan, pusat pengambilan keputusan, dan ingatan.

Apa sih rahasia penyembuhan dr. Mimi? Kita akan menemukan jawabannya dari kisah para pasiennya. Saya akan menceritakan dalam dua versi, yaitu versi panjang dan versi singkat. Berikut yang versi panjangnya terlebih dahulu. Siap-siap menerima pelajaran dari ibu guru :p.

Bagian I: Mitos tentang Pompa Mekanis, lebih banyak menceritakan tentang kehidupan Mimi waktu kecil dengan sejarah jantung di keluarganya sampai ia mengambil spesialis di bidang kardiologis. Dikenalkan juga dengan singkat makna jantung bagi kehidupan kita. Tidak terlalu suka bagian ini, karena di bagian Pendahuluan sudah menjelaskan garis besar sejarah jantung keluarga Mimi, tapi ada kalimat dari dosen Mimi, seorang dokter tua yang memberikan pealajaran berharga buat Mimi dan saya:

Jika kalian membiarkan pasien berbicara dan menceritakan kisahnya, dan kalian sungguh-sungguh mendengarkan, mereka akan memberitahu diagnosisnya pada kalian. Tetapi jika kalian terus menyela sehingga mereka enggan menyampaikan kisahnya, kalian terpaksa akan terus menyuruh mereka menjalani ters-tes dan uji lab dan kalian akan melewatkan jawaban yang sesungguhnya, tepat di depan mata kalian.

Bagian II: Bahasa Jantung. Bagian yang paling saya suka. Bagian ini menceritakan kisah hidup pasien-pasien Mimi, kisah penyakit jantung mereka, di mana mereka adalah ilmu pengetahuan yang tidak akan pernah kita temui di buku pelajaran mana pun.

Paul, dia adalah seorang yang gila kerja, mendapatkan serangan jantung karena stress. Dia terkena penyakit yang disebut ‘windowmaker’, suatu penyumbatan mematikan di salah satu pembuluh darah utama yakni pembuluh anterior yang menurun di bagian kiri.

Bertemu seorang dokter baru, terutama setelah mengalami serangan jantung, boleh jadi terasa seperti bertemu dengan Tuhan. Orang asing ini memiliki tidak hanya data diri Anda tetapi juga memahami arti dari data itu, kunci pengobatan di masa depan. Tetapi saya menganggap bekerja dengan pasien jantung adalah seperti kolaborasi di mana kita tidak bisa bekerja sendiri-sendiri. Memecahkan masalah jantung membutuhkan lebih dari sekedar keahlian teknis. Agar perubahan jangka panjang dapat terjadi, tidak cukup bagi saya untuk masuk begitu saja ke dalam sebuah masalah seperti seorang montir dengan berusaha menghilangkan sumbatan arteri atau mengatasi kebocoran katup. Pasien harus benar-benar dilibatkan dalam penyembuhannya sendiri.

Melalui Paul juga, Mimi sadar kalau dia juga mempunyai tingkat stress yang tinggi karena pekerjaannya, yang dapat memicu serangan jantung. Selain itu, Mimi juga belajar dari pasiennya yang melakukan diet, olah raga, obar herbal dari Cina, yoga, meditasi bisa sembuh dari penyakit koroner.

Russ, terpuruk karena penyakit arteri koroner yang parah, tidak mampu lagi bekerja, berjalan atau berolah raga tanpa mengalami angina (berkurangnya oksigen secara sementara ke otot jantung sehingga memberi isyarat bahwa otot jantung tidak menerima cukup darah. Biasanya ditandai dengan nyeri dada hebat sampai ke punggung). Ditambah, ia tidak mempercayai dokter manapun karena mereka telah melakukan hal yang yang tak termaafkan: mencabut harapannya dan menghabisinya. Dokter pertama yang ditemuinya mengatakan kalau dia sebaiknya menyelesaikan urusannya sebelum meninggal.

Sebagai kardiolog, saya sadar bahwa tugas terberat yang saya miliki bukanlah mengerjakan angioplasti atau menyisipkan stent ke dalam arteri yang tersumbat. Kenyataannnya, prosedur ini begitu mudah dibandingkan dengan tugas yang menanti di depan saya, yakni berusaha menyalakan harapan di dalam hati pria yang telah membeku ini.

Saya meletakkan alat-alat medis dan buku resep, dan membiarkan pasien saya berbicara.

Budaya kita berakar dari tradisi bercerita.

Ada sesuatu dalam diri setiap orang yang ingin menceritakan kisah hidupnya dan ingin didengarkan. Penelitian menunjukkan bahwa ketika kita mendengarkan baik-baik dan merespon baik pula, terjadi pertukaran terapi yang dapat membantu menyembuhkan luka emosi dan fisik.

Joe dan Jean, dua pasien yang mengalami depresi. Depresi bisa menyebabkan penyakit jantung. Karena penyakit jantung, bisa menyebabkan seseorang menjadi depresi. Hubungan yang rumit.

Mengapa depresi begitu jahat bagi jantung? Depresi dan gangguan kecemasan dapat meningkatkan tekanan darah, merusak ritme jantung, mengubah pembekuan darah, dan menyebabkan naiknya insulin serta kadar kolesterol. Faktor-faktor ini, bersama dengan obesitas, membentuk kumpulan sinyal dan gejala yang sering kali bertindak sebagai factor pemicu penyakit jantung. Depresi juga membuat kadar hormone stress meningkat secara kronis, seperti kortisol dan adrenalin. Sehingga dapat menaikkan tekanan darah, trigliserida dan LDL atau kolesterol “jahat”.

Milly, ia menderita aritmia jantung yang disebut fibrilasi atrium (ritme jantung yang kacau dan tak teratur di ruang jantung bagian a
tas, penyebab: tekanan darah tinggi atau ketidakseimbangan elektrolit seperti magnesium atau kalium yang rendah. Gejalanya: napas tersengal-sengal, berkeringat, rasa tak nyaman di dada, pusing, pingsan, kelelahan yang ekstrem) yang tak dapat ditangani oleh-obat-obatan. Milly memperkenalkan Mimi pada dimensi spiritual, keajaiban, kekuatan doa.

Pertama kali Anda menyaksikan praktisi non-tradisional berhasil menghilangkan nyeri dada atau membuat pasien yang menderita dapat beristirahat atau dapat menghentikan serangan jantung tanpa obat-obatan atau alat di sisi tempat tidur pasien, Anda akan berkata, ‘kebetulan yang hebat.’ Kalau itu terjadi dua kali, Anda akan berkata, ‘Ini menarik.’ Tetapi, ketika itu terjadi tiga kali, Anda akan berkata, ‘Kita harus mempelajarinya.

Pernah menyangka kalau patah hati, kematian, tenggelam dalam kesedihan bisa menyebabkan penyakit jantung? Ken Rafle, pria yang terlihat sehat ini ternyata mengalami penyumbatan kritis di dua arteri koronernya. Dibalik tampilannya yang sehat, dia mempunyai kisah jantung yang kelam, luka yang tak ingin diungkapkan.

Dalam suasana penuh kepedihan, tubuh dibanjiri oleh limpahan hormone stress dari system syaraf simpatik yang meningkatkan denyut jantung dan mengerutkan arteri.

Terlalu panjang ya? Ambil napas panjang dulu kalau begitu :p. Sebenernya masih ada satu bab lagi nih, Bagian III: Di Balik Jantung Ragawi. Tapi sebaiknya kalian baca sendiri, nggak seru kalau semua bagian terseru saya ceritakan di sini. Lebih mudah menjelaskan isi buku ini dengan mencomot bagian yang saya anggap penting, selain tahu kisah jantung pasien-pasien dr. Mimi dan bagaimana cara dr. Mimi mengatasinya, kita juga akan mendapatkan pengetahuan tentang seluk beluk jantung. Suka cara dr. Mimi bercerita terlebih tentang penjelasan tentang penyakit-penyakit jantung, mudah dipahami, bagi orang awam yang merasa asing dengan istilah asing di buku ini tidak perlu takut, dia menulis seperti menjelaskan kepada pasiennya tentang penyakitnya dengan bahasa yang mudah dicerna. Lalu apa kekurangan buku ini? Saya sempat mandeg baca buku ini karena bosan, seperti halnya buku pelajaran lainnya yang membuat saya tidak pernah betah membacanya, mungkin karena tidak ada konflik XDD.

Ada percakapan dr. Mimi dengan pasiennya yang jleb banget, begini bunyinya:

“Laurie, apa yang paling penting untuk dilakukan seorang dokter agar semua masalah yang kau hadapi selama bertahun-tahun ini menjadi lebih baik?”

“Kau baru saja melakukannya, dr. Guarneri. Kau meluangkan waktu untuk mendengarkan.”

Oh ya, saya belum menuliskan versi singkat buku ini ya? Rahasia penyembuhan yang dilakukan dr. Mimi adalah mendengarkan dan memberi perhatian kepada pasiennya. Itulah obat yang paling mujarab (Jangan dianggap spoiler, ini buku kesehatan yang tidak ada konflik di dalam ceritanya :p).

Setiap orang bertanya mengapa saya memilih untuk mengabil spesialisasi di bidang kardiologi, saya akan menjawab bahwa dengan jantung, ada banyak cara untuk menolong. Ada prosedur seperti stent dan bedah bypass yang benar-benar dapat mengubah hidup seseorang dan memungkinkan mereka untuk menjalani hidup secara produktif selama bertahun-tahun. Apa yang lebih menyenangkan daripada membuka arteri dan membiarkan darah segar mengalir ke dalam jantungnya yang lapar?

Buku ini cocok untuk dokter dan tenaga media lainnya. Buku ini juga cocok untuk orang yang mau mendengarkan isi jantungnya.

 

3.5 sayap untuk dag dig dug J


The Heart Speaks (Dengarlah Jantung Anda Bicara)

Penulis: Mimi Guarneri, M.D.

Penerjemah: Ella Elviana

Penerbit: Serambi

ISBN: 978-979-1275-09-5

Cetakan pertama, Oktober 2007

257 halaman

 

Iklan

The Day of The Jackal

284108_2189100376575_1519057220_2429062_7597544_n

By Frederick Forsyth

Penerjemah: Ranina B. Kunto

Penerbit: Serambi

Cetakan: I, Juni 2011

ISBN: 978-979-024-356-9

609 halaman

 

Sebenarnya saya bingung mau menulis review ini, ceritanya terlalu mbulet dan saya tidak benar-benar menyelesaikannya. Membaca buku ini seperti seorang vegetarian yang disuguhi daging dan saya harus memakannya (memasuki bagian lebay). Tidak usah bertele-tele lagi nanti reviewnya malah mbulet, langsung saja ke inti cerita.

Diawali dengan kematian pemimpin geng pembunuh dari OAS (Organisation L’Armee Secrete), Jean Marie Bastien-Thiry yang telah berusaha menembak Presiden Prancis saat itu, Charles de Gaulle karena dia meyakini kalau Gaulle telah menghianati Prancis dan orang-orang yang pada tahun 1958 telah memilihnya kembali menjadi presiden, atas kebijakannya menyerahkan Aljazair kepada kaum nasionalis Aljazair. Namun, kematiannya justru menjadi permulaan. Colonel Marc Rodi, kepala operasi OAS yang baru juga merasa dihianati dan kebenciannya kepada Gaulle semakin menjadi, dia pun melaksanakan kudeta besar-besaran untuk menggulingkan pemerintah pada bulan April 1961 namun kudeta tersebut gagal, kemudian bersama dua temannya di OAS, Rene Montclair, bendahara OAS dan Andre Lasson, coordinator gerakan bawah tanah OAS-CNR di Prancis Metropolitan, mereka membutuhkan seorang professional , orang luar yang pandai dalam pembunuhan politik karena organisasi mereka telah banyak disusupi oleh agen-agen Dinas rahasia Prancis sehingga tidak banyak lagi keputusan yang menjadi rahasia dan wajah mereka juga familier di kalangan polisi Prancis. Mereka membutuhkan orang luar yang didak diketahui identitasnya, pembunuh bayaran dengan harga setengah juta dolar, dia berinisial Jackal.

Jackal pun memulai strateginya dengan membuat identitas atau paspor palsu, merancang sendiri senjatanya agar benar-benar cocok dengan strategi pembunuhannya nanti yang akan dilaksanakan pada waktu kemerdekaan Prancis. Intinya, segalanya terencana dengan baik dan detail. Tentu saja pemerintah Prancis tidak diam begitu saja, mereka mengetahui kalau ada bahaya yang akan mengencam keselamatan presiden, tapi mereka tidak tahu siapa bahkan OAS, DST, Dinas Aksi, RG, tidak ada yang mengetahui identitas sang Jackal. Mereka membutuhkan nama, wajah, paspor agara bisa menahannya, untuk menemukan namanya secara rahasia, mereka membutuhkan seorang detektif. Cerita pun berlanjut akan pengejaran detektif terbaik Prancis, Komisaris Claude Lebel akan keberadaan Jackal. Seperti judul film, Catch Me If You Can.

Buku tebal dan kertasnya tipis ini dibagi menjadi tiga bagian: Anatomi Perencanaan, Anatomi Perburuan Manusia, Anatomi Pembunuhan. Sebenarnya buku ini lumayan apalagi bagi penyuka serial detektif, pemeran antagonis sebagai tokoh utama yang jarang dipakai oleh penulis lain menjadikan buku ini cukup penasaran untuk dibaca, isinya pun benar-benar detail, baik latar belakang terjadinya kudeta, agen-agen militer dan rahasia Prancis, pengejaran Jackal, cara pembunuhannya sangat terencana, penulis begitu pandai menjabarkannya. Sayangnya dari awal saya sudah bingung dan tidak konsen membaca buku ini, hal sepele pun juga dijelaskan dengan detail, ceritanya terlalu mbulet dengan banyaknya tokoh sehingga saya terpaksa melewati atau membaca sekilas saja beberapa halaman. Mungkin karena “Bukan ukuran baju saya,” kebesaran, sehingga saya tidak nyaman membacanya. Mungkin saya lebih cocok dengan filmnya ^^

2 sayap untuk sang penjagal.

 

Tentang penulis

Frederickforsyth

Frederick Forsyth lahir di Inggris pada 25 Agustus 1938. Pada 1956, ia menjalani Wajib Militer sampai 1958, dan pada usia 19 tahun menjadi pilot termuda di Angkatan Udara. Pada 1969, ia mulai menulis buku pertamanya, The Biafra Story, setelah keluar dari BBC pada 1968. Kini ia bermukim bersama isterinya di Hertfortshire, Inggris.

The Day of The Jackal, pertama kali terbit tahun 1971, menjadi buku laris dan mendapatkan penghargaan novel terbaik Edgar Allan Poe Award 1972. Novel-novel Forsyth bercerita seputar peperangan, intrik internasional, intrik politik, spionase dan kriminalitas lintas Negara, mungkin terinspirasi dari latar belakangnya mengikuti Wajib Militer kali ya, hehehe. Karya-karya lainnya yang juga mendapat pengakuan luas diantaranya adalah  The Dogs of War, The Odessa File, The Devil’s  Alternative, The Fourth Protocol, The Negotiator, The Deceiver, The Fist of God, Icon, Avenger, The Afghan, dan The Cobra.

The Day of The Jackal ini juga pernah dibuat film bahkan sampai dua kali pada tahun 1973 dan 1997. Pada film pertamanya mendapatkan penghargaan BAFTA Award, 1974 sebagai Best Film Editing dan remake filmnya dibintangi oleh Richard Gere dan Bruce Willis.

220px-day_of_the_jackal_ver1Mv5bmzcymjk4nzuzmf5bml5banbnxkftztcwnjmzoti1mq

Lomba Resensi Buku Serambi 2011: Last Tango In Paris

10194332

Pengarang: Robert Alley

Judul asli: Last Tango In Paris, terbitan Pan Books, London 1973

Penerbit: Serambi Ilmu Semesta

Cetakan: I, Januari 2011

Karakter: Paul, Jeanne

256 halaman

goodreads: http://bit.ly/hMTvtU

 

Akhirnya beli juga kemaren. Apa yang mesti saya resensi dari buku ini?

“tampak dua orang melintasi jembatan, menuju arah yang sama, terjerembab dalam irama yang saling berbalas, mesti mereka tak pernah menduganya. Mereka sebelumnya tak pernah bertemu dan tak bisa menjelaskan momen aneh yang secara kebetulan mempertemukan mereka. Bagi keduanya, jembatan, hari itu, pemandangan kota Paris, serta kondisi keberadaan mereka memiliki makna yang sungguh berbeda.” Hal. 6.

Mereka pertama kali bertemu di jembatan itu kemudian saling melirik di sebuah apartemen yang dicari Jeanne untuk dirinya dan tunagannya. Ketika dia membuka sebuah kamar untuk melihatnya ternyata dia ada disana, Paul, pria berusia 45 tahun yang mempunyai wajah tampan tapi terkesan dingin, yang sangat menarik dimata Jeanne. Dengan pertemuan singkat mereka, kata yang sedikit terucap, mereka langsung melakukan “bobok bareng.” Di apartemen itu, telah menjadi saksi sejarah dua beban berat yang ingin dilepas oleh diri masing-masing, Paul yang tidak mengerti kenapa istrinya bunuh diri dan Jeanne dengan tunangannya yang terobsesi menjadi sutradara, dimana dia harus menjadi artisnya, dua kekecewaan menjadi satu, berusaha saling melepaskan.

Mungkin itu saja yang bisa saya katakan.

Tertarik baca ini karena pernah menjadi salah satu bacaan yang dipilih program baca bareng di goodreads tapi baru kesampaian baca kemarin. Melirik para review yang sudah ada, mereka menjelaskan kalau isi buku ini melulu soal sex. Memeng sih, Paul dan Jeanne selalu “bobok bareng” ketika mereka dengan sengaja ataupun tanpa sengaja pergi ke apartemen itu, tapi kalau menurutku tidak terlalu gimana ya, sedikit vulgar lah, soalnya masih banyak juga harlequin ataupun historical romance yang jauh lebih parah. Selain itu,kata-kata Paul disini juga sangat kejam dan kotor, gak habis pikir si Jeanne mau aja digituin apalagi di adegan itu (tidak mau menjelaskan ah), hmm dia memang sebenernya menolak sih hihihihi.

Berbicara sedikit tentang filmnya yang saya dapat dari lembar terakhir di buku ini, novel Robert Alley ini ditulis berdasarkan sebuah film drama romantic (yang seharusnya tragis) legendaris, Last Tango in Paris (1972—Ultimo Tango A Parigi). Film yang diproduseri oleh Alberto Grimaldi dan di sutradarai oleh sineas terkemuka Bernado Bertolucci berdasarkan scenario yang ditulisnya sendiri bersama Franco Arcalli dan Agnes Varda. Tokoh Paul di film ini diperankan oleh actor top saat itu, Marlon Brando. Sementara, Jeanne diperankan oleh Maria Schneider. Atas perannya di film ini, Brando dinominasikan meraih Oscar sebagai actor terbaik, sedangkan Bertolucci dicalonkan sebagai sutradara terbaik dalam ajang Academy Award 1973. Film ini juga menyulut kontroversi karena muatan seksualitasnya yang dianggap sangat eksplisit dan sempat berurusan dengan lembaga sensor diberbagai Negara. Namun, para kritikus mengganggapnya sebagai salah satu film terbaik yang pernah dibuat. Hmmmm, cuman mikir tahun 1972 dan 2011 apakah kadar sensornya masih sama???? =))

 

3 sayap untuk akhir yang tragis.