Clara’s Medal

Cm

Saya punya masa lalu yang buruk dengan Fisika, coba bayangkan, kelas satu SMA kalau ulangan nggak pernah yang namanya nggak remidi, sampai-sampai saya les Fisika di dua tempat, itu pun hasilnya hanya membuat nilai saya nyaris remidi, yang jelas Fisika bukan jam pelajaran favorite saya, jam pelajaran favorite saya adalah jam kosong dan jam istirahat *malah curhat*.

Kenapa saya ngomongin Fisika? Karena di buku ini bercerita tentang anak-anak yang digodok untuk mengikuti Olimpiade Fisika di Singapura. Mereka di tempatkan di FUSI (Fisika untuk Siswa Indonesia) sebuah lembaga pelatihan, kegiatan utama FUSI adalah membina tim Indonesia untuk berlaga di kompetisi-kompetisi fisika Internasional. Tim ini diambil dari siswa-siswa seluruh Indonesia yang sudah melewati proses panjang, mulai dari tingkat kota, provinsi, hingga nasional. 30 siswa terbaik masuk final, disaring lagi menjadi 16 peserta dengan nilai tertinggi. Tahap akhirnya adalah memilih 12 peserta dengan nilai terbaik setelah menjalani pelatihan selama lima bulan di FUSI. Tutor mereka adalah Prasetyo, atau biasa dipanggil Pak Tyo, salah satu pendiri FUSI. Dia ingin membuat ledakan fusi di angkatan ini.

Ledakan fusi adalah ledakan yang dihasilkan dari reaksi bergabungnya inti-inti ringan menjadi inti yang lebih berat. Pada proses ini, inti-inti penyusun inti baru akan melepaskan energi yang sangat besar dan menyebabkan inti barunya mengalami kehilangan massa. Seperti yang terjadi pada matahari, yang menghasilkan energi panas yang dasyat dan menjadi sumber kehidupan mahkluk hidup di muka bumi.

16 peserta yang berotak encer itu adalah: Clara, satu-satunya peserta perempuan yang lolos dalam seleksi FUSI, dia adalah anak dari Bram Wibisono, salah satu pendiri FUSI bersama dengan Prasetyo, seorang fisikawan Indonesia. Angga peserta dari Jakarta yang juga teman Clara, dia seorang yang ambisius, optimis, sombong tapi berprestasi, tujuannya mengikuti olimpiade adalah menjadi pemenang. Erik yang berasal dari Medan, dia orang yang pemalu dan pendiam, cenderung menyembunyikan diri dan irit sekali kalo ngomong. Made, dari namanya bisa ditebak kalau dia berasal dari Bali, anak muda yang kayak jerapah ini adalah fans berat MU, konyol, suka ngasih teka-teki ke teman-temannya, dan dia suka maen game padahal teman yang lain sibuk belajar. Dimas asal dari mBoyolali, bahasa tubuhnya kemayu, sering dibully sebagai banci sama Angga tapi dia tetap tersenyum dan memamerkan lesung pipitnya. Irvan berasal dari Pangkalan Bun, nggak tahu kan? Sama!! Pasti kalau baru awal kenalan pada tanya di mana tuh? Trus Irvan dengan sabar akan menjelaskan ke tiap orang yang bertanya. Reno dari Manado, orangnya polos. Ada si rajin Arief dari Pamekasan, rajin sholat dan dia sering menjuarai kompetisi Fisika di tingkat Kabupaten dan kota. Bambang, berasal dari Tulung Agung, bertubuh pendek dan gempal, dia juga lugu sekali. Khrisna, dari namanya saja sudah ketauan kalau dia cakep, asal dari Malang. Dia punya bakat menggombal terutama ke Clara, pervaya diri tinggi, cuek dan ceplas ceplos, dia juga suka mengadakan eksperimen yang nantinya akan diperlihatkan ke anak yatim. George, asal dari Papua, punya masa lalu yang buruk karena tidak suka sepak bola, tapi dia menunjukkan kehebatannya dengan prestasi yang gemilang. Sandy dari Bukit Tinggi, kalau suntuk dan capek belajar dia akan olahraga kecil sebentar, contohnya sit up. Meddy berasal dari Ambon, berwajah sendu dan suka merendah, kalau ngantuk tapi masih pengen belajar dia akan merendam kakinya di ember yang berisi air dingin, maka akan segar kembali. Alam dari Ujung Pandang, kaku dan canggung. Robby berasal dari Jawa Barat, suka narsis kalau dia mirip sama aktor jaman dulu, dia suka iseng dan sama seperti Made suka ngasih tebak-tebakan ke temennya. Dan yang terakhir adalah Bagas, dia paling tidak disukai teman-teman, posturnya kayak atlet basket, terkenal sangat sombong, cuek, angkuh, tidak peduli dengan sekitar, dia menjadi favoriteku :p. Mereka semua tinggal satu atap di asrama ‘Kawah Candradimuka”.

Gatotkaca, saat keluar dari Kawah Candradimuka, memiliki kekuatan luar biasa, bak berototkan kawat dan bertulang besi. Jadi, ini adalah tempat kalian digodok dan digembleng menjadi orang-orang yang benar-benar berkualitas juara.”

Masalah datang ketika bagas meng-hack situs pemerintah, dia terpaksa di penjara dan FUSI terancam gagal mengirimkan wakilnya untuk Olimpiade, selain itu prestasi FUSI yang merosot dua tahun terakhir membuat banyak pendonor mengundurkan diri bahkan pemerintahpun abu abu dalam membantu. Jadi ikut sebel waktu bacanya, buat WC milyaran rupiah aja bisa sedangkan disuruh membantu kegiatan yang mengharumkan nama bangsa saja dipikir-pikir dulu, kadang saya merasa mereka itu tidak punya otak *emosi*. Yah itulah lemahnya negara kita, jadi ilmuwan di Indonesia juga siap-siap mlarat.

Saya enjoy sekali membaca buku ini, apalagi membaca bagian keseharian para peserta, walau pun mereka saingan tapi mereka bisa juga sangat dekat, saling bersahabat. Kocak banget waktu mereka saling memberi tebak-tebakan, saling menguatkan ketika dini hari masih belajar dan mengantuk, membuat eksperimen seru, saling menggoda teman di mana Clara yang menjadi sasarannya karena cewek sendiri, seru pokoknya, dan tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menyelesaikannya, karena kita akan selalu penasaran apa yang akan selanjutnya mereka lakukan. Ternyata orang jenius itu sama aja kayak orang biasa, mereka bisa bergurau dan bercanda, gombal tapi tetap sewaktu berhadapan dengan soal mereka akan sangat serius, mungkin itu bedanya :p. Bagian yang mebuat saya tertawa terpingkal-pingkal adalah waktu Khrisna memberikan surat kaleng yang berisi rayuan gombal kepada Clara, dan teman-teman yang lain merekamnya hanya ingin melihat ekspresi Clara sewaktu membacanya, hahaha Khrisna, sumpah ya, gombal banget =))

Proses pengaturan diri secara bersama-sama itu yang saya namakan Mestakung: se(mesta) mendu(kung).

Salut sama penulisnya, kalau dia nggak jago Fisika berarti dia melakukan riset. Membaca catatan penulis, memang buku ini terinspirasi dari Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI) dan pembuatannya cukup panjang, saya merasa ayahnya Clara, Bram itu perwujutan dari Bapak Yohanes Surya, pendiri TOFI, dan dengan membaca buku ini kita tahu keseharian orang yang akan melakukan Olimpiade itu seperti apa. Di buku ini juga ada beberapa pengetahuan yang kita dapat tentang Fisika, contohnya ada hukum Newton, bagaimana caranya balon yang ditusuk tidak meledak, balon yang terisi air tidak akan terbakar, membuat gunung berapi, membuat sebatang lilin bisa terus menyala di bawah air, asik sekali membacanya. Saya sangat setuju dengan ajaran papanya Clara, kebanyak kalau kita belajar Fisika itu disuruh menghafal rumus padahal Fisika tidak sesulit itu kalau saja dipelajari dengan fun, melakukan eksperimen contohnya. Itulah yang tidak saya dapat di sekolah dulu, saya hanya menghafal rumus, ketika lupa, ya sudah tidak bersisa. Kita akan senang mempelajari sesuatu kalau sesuatu itu dipelajari dengan asik.

Ada beberapa peserta yang kehidupannya disorot lebih oleh penulis, Clara, Arief, George, dan Meddy. Sebenarnya tidak masalah, bagus malah, kita lebih memahami mereka dan tahu latar belakang mereka, bagaimana mereka akhirnya bisa ikut FUSI, hanya saja apa tidak menimbulkan kecemburuan sama tokoh yang lain? Kalau Clara tidak masalah soalnya dia pemeran utamanya dan latar belakang dia juga berkaitan dengan FUSI, hanya saja saya inginnya semua diulas, haha akan sangat membuat tebal buku ini. Setidaknya mereka mempunyai porsi yang sama. Sandy latar belakangnya juga mengharukan, dari keluarga miskin dan berjuang demi menda
pat beasiswa, Bagas yang yatim, ayahnya selalu berpergian, dan meeka selalu berpindah-pindah tempat tinggal sehingga membuat karakter Bagas lebih suka menyendiri dan terkesan tidak membutuhkan orang lain. Dimas dimana sejak dulu dia sering diolok-olok temannya karena kayak banci, Khrisna yang sering mengunjungi panti asuhan di dekat rumahnya dan menghibur mereka dengan eksperimen-eksperimen sederhana. Irvan dari kampung tak dikenal bisa sampai menembus FUSI, Angga yang moto hidupnya hanya untuk menang, yah saya ingin mengenal mereka semua lebih dekat. Selain itu, saya merasa endingnya terlalu menggantung. Untuk cover, kenapa nggak 16 orang ya? hahaha. Saya hanya bisa menebak-nebak, kalau yang cewek jelas Clara trus yang sinis itu Bagas, lainnya nggak tahu. Minim typo.

Buku ini cocok untuk dibaca siapa saja, orang yang tidak menyukai fisika sama seperti saya pun pasti sangat menikmatinya. Buku ini bercerita tentang mimpi, semangat, persahabatan, dan perjuangan.

Albert Einstein saja yang dulu dianggap anak terbodoh di sekolahnya tapi kemudian dia malah menjadi fisikawan ternama sepanjang zaman, tidak ada yang tidak mungkin, kita juga pasti bisa.

Yakinlah, seperti biji sawi yang ditanam di tanah. Dia tak pernah ragu, tak pernah bertanya apakah dia akan tumbuh atau tidak. Apakah dia berada di tanah yang benar? Tak pernah ada yang tahu. Dia hanya memegang teguh keyakinannya.

 

Tidak akan ada perjuangan yang sia-sia. Tidak akan ada.

4 sayap untuk mestakung

 

 

Clara’s Medal

penulis: Feby Indirani

cover: Fahmi Ilmansyah

penerbit: Qanita

ISBN: 978-602-9225-04-4

cetakan I, September 2011

474 halaman

To Kill a Mockingbird

To_kill_a_mockingbird

penulis: Harper Lee

penerjemah: Femmy Syahrani

penerbit: Qanita

cetakan I: Oktober 2010 (Edisi Gold)

ISBN: 978-602-8579-34-6

536 halaman

 

Sinopsis

Kehidupan Scout dan Jem Finch berubah total saat ayah mereka menjadi pembela seorang kulit hitam. Ketika Atticus membela seorang yang dianggap sampah masyarakat, kecaman pun datang dari seluruh penjuru kota. Di tengah terpaan masalah yang menimpa keluarganya, si kecil Scout belajar bahwa kehidupan tidak melulu hitam dan putih.

Dikisahkan dari sudut pandang gadis delapan tahun dari Maycomb, Alabama, novel ini menunjukkan betapa prasangka sering kali membutakan manusia. Dan sebuah keadilan hanya dapat dilahirkan dari rasa cinta yang tak membedakan apa pun latar belakang seseorang. Harper Lee telah berhasil menyuguhkan sebuah novel menawan yang amat berkesan dan tak lekang oleh zaman.

 

My Review

Saya sangat penasaran sekali dengan buku ini karena banyak sekali yang bilang bagus dan wajib baca. Setelah selesai saya tahu alasannya. Awalnya agak binggung, buku ini kan bercerita tentang ketidakadilan, rasis, tapi kenapa hanya ada tingkah beberapa anak kecil yang selalu menganggu para tetangganya?

Scout dan Jem, dua bersaudara yang sangat usil, bersama teman musim panasnya, Dill, mereka sangat penasaran dengan salah satu tetangganya, Boo Radley, yang tidak pernah keluar rumah seumur hidupnya. Mereka beramsumsi tentang Boo dengan pikiran anak-anak yang akhirnya membuahkan beberapa tantangan untuk memancing dia keluar. Di bab awal cerita ini, si kecil Scout banyak menceritakan tentang tetangga, perilaku, kebiasaannya, dsb.

Konflik buku ini adalah tentang rasis, perjuangan seorang ayah, seorang pengacara dalam membela orang yang tidak bersalah. Tom Robinson, orang kulit hitam yang dituduh melakukan pelecehan pada orang kulit putih. Atticus mencurahkan segala waktu, pikiran, tenaga untuk membelanya, menuntuk keadilan, menghadirkan saksi dan menggunakan kejeniusannya untuk membebaskan Tom. Tapi semua orang tahu, itu adalah perbuatan yang sia-sia, di mata semua orang, orang kulit hitam tak akan bisa berada di atas kulit putih. Percuma saja, Atticusa malah mendapat cemooh dai warga Maycomb.

…Ada sesuatu di dunia kita yang membuat orang kehilangan akal — mereka tak bisa adil meskipun sudah berusaha. Dalam pengadilan kita, ketika kesaksian orang kulit putih di pertentangkan dengan kesaksian orang kulit hitam, orang kulit putih selalu menang. Ini buruk, tetapi inilah fakta kehidupan.

Mungkin bagian yang paling menengangkan dari buku ini adalah ketika Tom mulai diadili, saya sangat bersabar sekali untuk sampai pada bagian itu karena kasus tersebut berada pada bagian dua, hampir dari setengah halaman lebih baru muncul. Tapi setelah menemukan apa yang saya cari-cari, biasa saja. Saya tidak mendapatkan perasaan seperti ketika membaca After saya tidak ikut deg-degan ketika Atticus mendatangkan para saksi. Saya lebih menyukai tentang keluarga Finch, karakter Scout, Jem, dan Atticus. Mereka adalah magnet yang membuat saya betah membaca buku ini.

Scout, gadis kecil dengan rasa tahu sangat tinggi, polos, rela berperilaku seperti laki-laki agar bisa bermain dengan kakaknya. Walaupun polos, kadang pemikirannya lebih dewasa daripada dengan orang yang merasa telah dewasa, dia sangat mencontoh kakaknya.

Jem, dia keras kepala, selalu mencoba untuk dewasa, dia ingin seperti ayahnya. Dia selalu berusaha untuk melindungi adik dan ayahnya, terlebih ketika ayahnya menghadapi kasus yang sulit, dia ingin tahu apa saja yang dilakukannya, dia tidak ingin ada orang yang menyakiti ayahnya.

Atticus, harus bilang apa lagi? Dia adalah sosok ayah yang sangat bijaksana, dia tidak pernah melihat orang dari luarnya saja, dia adalah orang yang sangat adil dan bertanggung jawab. Kalau kata ikal, “ayah juara satu seluruh dunia.”

Ada bagian dimana aku terkagum-kagum akan sosok Atticus, contohnya adalah ketika Scout dihukum oleh pamannya, Jack. Dia bilang kalau Jack tidak adil, pamannya tidak memberi kesempatan pada Scout untuk membela diri ketika bertengkar dengan sepupunya, bercerita dari sisinya. Kata Scout, ketika dia dan Jem bertengkar maka Atticus tak pernah hanya mendengar cerita Jem, tapi mendengarkan ceritanya juga. Saya sangat suka sekali cara Atticus mendidik anaknya yang bandel, dia selalu berusaha untuk jujur dan terbuka. Contohnya, ketika Scout bertanya dengan polosnya apa itu wanita jalang, memerkosa,

Kalau seseorang anak bertanya sesuatu, jawablah, demi Tuhan. Jangan berlebihan. Anak-anak adalah anak-anak, tetapi mereka tahu kalau kau menghindar, mereka tahu lebih cepat daripada orang dewasa, dan menghindar hanya akan membingungkan mereka.

Walaupun single parent, Atticus sangat sukses membesarkan kedua anaknya, dia tidak pernah memberi aturan-aturan, dia membebaskan anak-anaknya dengan kebebasan, kebebasan berpikir, bertindak, kebebasan untuk menjadi dewasa sesuai apa yang diinginkan mereka. Tapi, ketika mereka melakukan kesalahan, sesuatu yang tidak baik dan merugikan orang lain maka Atticus akan tegas menghukum. Bukan sesuatu yang buruk, contohnya ketika Jem geram ketika setiam melewati rumah Mrs. Dubose dia mendengar teriakan-teriakan yang tidak mengenakkan kuping, bilang kalau Jem dan Scout adalah anak yang bengil, dan tidak akan menjadi siapa-siapa ketika besar nanti. Atticus menghibur dan bilang, “Tenanglah, nak. Dia sudah tua dan sakit-sakitan. Angkatlah kepalamu dan jadilah lelaki terhormat. Apa pun yang dikatakannya kepadamu, tetangmu adalah tidak membiarkan dia membuatmu marah.” Tapi kesabarannya habis ketika wanita yang selalu membawa senapa itu menghina Atticus tak lebih baik daripada nigger dan sampah yang dibelanya. Jem dengan marhnya membabat habis tanaman Mrs. Dubose, Apa yang dilakukan Atticus akan pembelaan anaknya? Dia tetap menghukum karena bagaimanapun perbuatan itu salah. Cara dia menghukum? Meminta Jem kembali ke rumah wanita tua itu dan meminta maaf, menyanggupi apa saja permintaanya, membersihkan perbuatannya dan menyanggupi ketika Mrs. Dubose untuk mengurus halaman sampai tumbuh kuncup lagi dan membaca keras-keras selama dua jam.

Banyak sekali point yang bisa diambil dari cara Atticus mendidik anak-anaknya. Selain itu saya sangat sangat sangat menyukai hubungan mereka, bagaimana saling menyayangi dan saling melindungi satu sama lain. Kita juga akan mempelajari apa itu arti keadilan, perbedaan-perbedaan yang dibuat manusia dan mengintip pemikiran-pemikiran mereka. Ada kalimat yang sangat menohok sekali yang diucapkan Scout,

Tidak, Jem, kukira hanya ada satu jenis manusia. Manusia.”

Buku ini wajib dibaca oleh semua orang tua, semua pengacara, semua kulit hitam, semua kulit putih, semua anak-anak, semua orang.

Kau tak akan pernah mengenal seseorang sampai kau berada dalam posisinya dan mencoba menjalani hidupnya – Atticus.

4,5 sayap untuk burung Mockingbird

 

NB: Tentang Pengarang

1825

Harper Lee lahir di Monroeville, Alabama, pada 28 April 1926. Dia adalah putri bungsu dari empat bersaudara. Ayahnya seorang pengacara dan editor surat kabar setempat. Semasa kecil dia sangat akrab dengan teman
sekolah yang juga tetangganya, Truman Capote. Pernah sekolah di Huntington College of Montgomery, dia kemudian meneruskan kuliah hukum di University of Alabama. Di kampus itulah, dia mengasah bakat menulisnya dengan bergabung menjadi editor di majalah humor kampus, Ramma-Jamma.

Harper Lee adalah salah satu penulis yang paling membuat penasaran dalam sejarah kepenulisan pada abad ke-20. To Kill a Mockingbird adalah satu-satunya novel yang ditulisnya. Berkat kisah indah tersebut yang memenangi Pulitzer Award 1961, Harper Lee dianugerahi Presidential Medal of Freedom 2007, The Hingest Civilian Honor USA. Sekarang dia tinggal di New York, dia cenderung menutup diri dan tidak mau menulis novel lagi.