Cerita Misteri yang Bukan Misteri

15777123Insiden Anjing di Tengah Malam Yang Bikin Penasaran

Judul Asli: The Curious Insident of the Dog in the Nigh-time

Penulis: Mark Haddon

Penerjemah: Hendarto Setiadi

Perancang sampul: Boy Bayu Anggara

Penerbit: Penerbit KPG

ISBN: 978-979-91-0477-9

Cetakan keempat, Juli 2012

336 halaman

Pinjem @dion_yulianto

Sinopsis:

Insiden Anjing di Tengah Malam yang Bikin Penasaran merupakan novel misteri pembunuhan yang lain daripada yang lain.

Sang detektif, sekaligus pencerita, bernama Christopher Boone. Christopher berusia limabelas tahun dan dia menyandang Sindrom Asperges sejenis autisme. Dia mahir bermain komputer dan memecahkan soal-soal matematika, tapi kikuk berhubungan dengan orang lain. Dia senang segala sesuatu berjalan teratur terpola, dan masuk akal, tapi benci warna kuning dan cokelat. Dia belum pernah berpergian seorang diri lebih jauh daripada ke ujung jalan rumahnya, tapi ketika menemukan anjing tetangganya mati terbunuh, dia pun menempuh perjalanan menakutkan yang akan menjungkirbalikkan seluruh dunianya.

Christopher adalah tokoh rekaan yang cemerlang, dan Mark Haddon menngambarkan dunianya dengan cara yang sangat menyentuh, sangat lucu, dan sangat meyakinkan. Tak heran jika novel ini dianugerahi berbagai penghargaan sastra, antara lain Whitbread Novel Award 2003, hadiah sastra bergengsi di Inggris.

My Review

Saya belum kuat iman untuk melanjutkan Seratus Tahun Kesunyian, dan kebetulan buku ini ada daftar diantrian baca, judul dan warna covernya sangat memikat saya. Sebelum memulai membaca ceritanya, saya membaca catatan penerjemah di bagian belakang dan review mengenai buku ini terlebih dahulu. Saya mendapatkan dua kunci atau dua buku yang agak mirip dengan buku yang masuk list 1001 books you must read before you die ini. Forrest Gump dan Extremely Loud and Incredibly Close, saya membaca ketiga buku ini (saya memang mudah sekali dibujuk) untuk mendapatkan kesamaan dan memudahkan memahami cerita. Kesamaannya dengan Forrest Gump adalah kedua tokoh utama di buku ini menyandang salah satu jenis sindrom Autisme, kalau Christopher dengan sindrom asperges (salah satu gejala autisme di mana para penderitanya memiliki kesulitan dalam berkomunikasi dengan lingkungannya, sehingga kurang begitu diterima.) yang rata-rata memiliki IQ tinggi, kebalikannya dengan Forrest Gump, IQ-nya dibawah 70, dia seorang idiot savant, seseorang yang tidak mampu mengikat dasi, hanya dengan susah payah bisa mengikat tali sepatu, memiliki mental seperti anak berusia enam sampai sepuluh tahun. Walau sepertinya sangat bertolak belakang, kedua tokoh ini sangat cemerlang dibidang matematika, fisika, mampu menangkap tema-tema musik yang sangat rumit, sama-sama bercita-cita menjadi astronot. Sedangkan kesamaannya dengan Extremely Loud and Incredibly Close, tokoh utamanya yang belum dewasa, Christopher berumur 15 tahun sedangkan Oscar Scell berumur 9 tahun, dengan kecerdasan yang mereka miliki, mereka berusaha menyingkap misteri yang mereka hadapi. Christopher yang terispirasi akan detektif favoritnya, Sherlock Holmes, berusaha menyingkap siapa pembunuh anjing tetangganya sedangkan Oscar mencari lubang kunci yang tepat, mencari lubang kunci yang pas dengan kunci yang ditemukan setelah ayahnya meninggal, mencari satu dari 16 juta lubang kunci yang tepat di seluruh New York yang kemudian terkuak misteri keluarga mereka yang kelam. Walau saya belum selesai membaca Extremely Loud and Incredibly Close (di mana tipografinya yang sangat aneh membuat kepala saya migrain), saya sangat menikmati cerita tentang anak-anak dan satu orang dewasa seperti anak-anak yang pemikirannya luar biasa.

Kenapa saya bilang cerita misteri yang bukan misteri? Karena kita tidak perlu susah payah mengetahui siapa pelaku sebenarnya, pelakunya ngomong sendiri kok. Justru menurut saya, buku ini lebih bercerita tentang orang tua dan anaknya yang memiliki kebutuhan khusus, bagaimana cara mereka menghadapi anak yang tidak biasa, bagaimana susahnya. Bahkan Chris pernah berpikir kalau orangtuanya bercerai maka dialah penyebabnya. Kesabaran kunci utamanya, hal yang tidak dimiliki ibu Chris sehingga dia kadang lelah dan ingin menyerah menghadapi anaknya, berbeda dengan ayah Chris yang lebih sabar, lebih mengetahui apa kesukaan dan ketidaksukaan anaknya. Contohnya ketika ayah Chris ingin memeluknya dia harus mengangkat tangan kanan dan merentangkan jari seperti kipas, kemudian Chris akan membalas dengan menggangkat tangan kiri dan merentangkan jari seperti kipas, begitulah cara mereka berpelukan. Orangtua yang memiliki anak ‘special’ harus tahu kebiasaan anaknya, harus bisa memahami, itulah yang saya dapatkan ketika membaca buku ini. Chris sangat menyukai angka dan keteraturan, sangat suka berada di penjara karena bentuknya nyaris seperti kubus sempurna, dengan panjang 2 meter, lebar 2 meter, dan tinggi 2 meter, bila dia stress dia akan mengitung angka, seperti berhitung sampai 2^45 (baca: dua pangkat 45),  di mana cara tersebut bisa membuatnya tenang. Tidak suka orang asing karena mereka sulit dipahami, bahkan membutuhkan waktu lama sampai terbiasa dengan orang-orang yang baru dikenal. Membenci warna kuning dan cokelat, tidak mau makan makanan yang memiliki warna tersebut, tidak mau memakai baju dengan warna tersebut, pokoknya tidak mau bergubungan dengan warna tersebut. Dia juga menandakan hari baik dan buruk berdasarkan warna mobil. Untuk empat mobil merah berturut-turut yang dilihatnya di jalanan menandakan Hari Baik, tiga mobil merah berturut-turut menandakan Hari Lumayan Baik, lima mobil merah berturut-turut menandakan Hari Sangat Baik, dan empat mobil kuning berturut-turut menandakan Hari Kelabu, hari ketika Chris tidak berbicara dengan siapapun dan duduk sendirian membaca buku dan tidak menyantap makan siangnya dan Tidak Mengambil Risiko. Langsung bisa membuat peta ketika dia baru sekali datang ke tempat itu, misalnya peta kebun binatang yang dikunjunginya dan ayahnya. Dan kalau dia marah, dia bisa berhari-bahari tidak mau makan dan tidak mau berbicara. Itulah sedikit tentang seorang anak yang bernama Christopher John Francis Boone, berusia limabelas tahun, tahu semua negara di dunia beserta ibukotanya dan semua bilangan prima sampai 7.507.

Berbohong adalah kalau kau mengatakan sesuatu telah terjadi padahal sebetulnya tidak. Tapi selalu hanya ada satu hal yang terjadi pada saat tertentu dan tepat tertentu. Dan tak terhingga banyaknya hal yang tidak terjadi pada saat itu dan di tempat itu. Dan kalau aku membayangkan sesuatu yang tidak terjadi maka aku juga langsung mulai membayangkan semua hal lain yang tidak terjadi.

Inilah satu alasan lain lagi kenapa aku tidak suka novel biasa, karena novel seperti itu penuh kebohongan tentang hal-hal yang tidak pernah terjadi dan segala macam kebohongan itu membuatku merasa gamang dan ngeri.

Sangat menarik membaca buku ini, saya acungin jempol kepada penerjemahnya, membaca tentang catatan terjemahannya, membuktikan kalau dia benar-benar serius, awalnya dia menggunakan pendekatan pada Forrest Gump untuk menghadirkan sosok Christopher Boone tetapi dugaannya meleset, kemudian merombak terjemahan awal yang dia buat karena tidak sepadan dengan versi aslinya. Dia terkecoh, mungkin berlaku juga bagi orang yang pertamakali melihat buku ini, judul dan covernya saja sangat tidak biasa, dan ketika selesai membacanya kita akan mendapatkan cerita yang luar biasa. Saya acungin jempol juga buat sang penulis, saya tahu pasti dia melakukan riset, bagaimana dia bisa menjelma menjadi sosok anak kecil yang memiliki kebutuhan khusus dengan sudut pandang orang pertama, seperti nyata adanya. Saya seperti masuk ke isi kepala anak dengan sindrom asperges, mengetahui apa yang dipikirkannya, ciri mereka yang kalau berbicara cenderung kaku, tanpa emosi dan sering melompat-lompat, misalnya di bab pertama bercerita tentang kejadian sekarang maka di bab selanjutkan Chris akan bercerita tentang hal-hal yang disukai atau tidak disukainya, tentang dirinya. Chris sebenarnya tahu apa yang dibicarakan orang yang sedang mengajaknya bicara, hanya saja dia selalu berpikir logis, mendetail dan mereka tidak menyukai orang asing, membutuhkan waktu untuk bisa berinteraksi, sehingga orang-orang kerab mengira mereka punya dunia sendiri padahal si special sebenarnya tahu apa yang mereka bicarakan. Hal ini juga saya temukan ketika membaca buku Forrest Gump, dia tahu apa yang orang bicarakan tapi ketika dia ingin berkata sesuatu yang muncul malah “aku kebelet”.

Bilangan prima adalah apa yang tersisa setelah semua pola kau buang. Kupikir bilangan prima seperti kehidupan. Bilangan prima serba logis tapi kau takkan bisa mencari aturan mainnya, sekalipun kau menghabiskan seluruh waktumu untuk memikirkan bilangan itu.

Bagian yang paling saya sukai adalah ketika Chris pergi menemui ibunya di London, sendirian. Bagaimana dia berusaha menerobos batasan-batasan yang selama ini dia ciptakan; tidak menyukai orang asing dan tidak menyukai ketidakteraturan.

Kemudian apakah buku ini pantas masuk ke dalam 1001 books you must read before you die? Kalau penghargaan seperti; Man Booker Prize Nominee for Longlist (2003), Whitbread Award for Novel and Book of the Year (2003), Commonwealth Writers’ Prize for Best First Book Overall (2004), McKitterick Prize (2004), Los Angeles Times Book Prize (2003) Exclusive Books Boeke Prize (2004), ALA Alex Award (2004), Zilveren Zoen (2004), ALA’s Top Ten Best Books for Young Adults (2004), Abraham Lincoln Award Nominee (2006) tidak cukup, ada satu point yang mungkin tidak pernah kamu temukan di buku lain pernahkah kamu membaca seorang detektif cilik yang berusaha mengungkap pembunuhan seekor anjing? Maka saya katakan, buku ini sangat pantas.

Sekarang waktunya giveaway terselubung :p

Tentu tahu dong kalau Christopher ini sangat menyukai bilangan prima, bahkan bab di buku ini tidak ditulis 1,2,3 dsb tetapi berdasarkan urutan bilangan prima. Bab di mulai dengan bilangan prima yang pertama, yaitu 2 dan diakhiri bab ke-233. Pertanyaannya adalah berapa jumlah bab yang ada di buku ini? Giveaway ini berlangsung sampai ada yang menjawab dengan benar dan bagi satu warga Indonesia beruntung akan mendapatkan buku:

The Fetch (The Runestone Saga Buku 1: Sang Duplikat
Good luck 🙂

Untuk tokoh utama, penulis, dan penerjemah yang jenius, 4.5 sayap saya rasa cukup.

Pulang

16174176

Pulang

Penulis: Leila S. Chudori

Gambar Sampul dan Isi: Daniel “Timbul” Cahya Krisna

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia

ISBN: 978-979-91-0515-8

Cetakan pertama, Desember 2012

464 halaman

Harga: hadiah dari @bacaituseru

Sebelumnya tidak ada niat membaca buku ini, saya belum pernah membaca buku karya Leila S. Chudori sehingga saya tidak ingin mengambil keputusan yang salah, takut kecewa setelah membacanya. Tapi, membaca beberapa review di Goodreads, banyak yang berpendapat kalau buku ini adalah buku yang paling ‘ngena’ tentang tragedi 30 September 1965, saya pun langsung penasaran dan pengen baca. Terimakasih sekali kepada Goodreads Indonesia yang memberi saya kesempatan membaca salah satu Historical Fiction dalam negeri ini, yang akhirnya memperkenalkan saya akan tulisan Leila S. Chudori yang setelah selesai membaca buku ini saya langsung kepengen membabat semua karyanya. Tidak mudah bagi saya untuk tertarik membaca genre diluar romance dan fantasy, saya bisa langsung jatuh cinta sama To Kill A Mockingbird, The Boy in The Striped Pyjamas, Sarah’s Key karena bisa membuat saya kembang kempis ketika membacanya, ikut terhanyut akan apa yang dialami tokohnya, saya berharap ada buku hisfic dalam negeri yang bisa membuat saya seperti itu, Gadis Kretek hampir, tapi tidak sampai berhari-hari saya memikirkan tokoh utamanya. Buku ini sukses membuat saya tidak bisa move on dari Segara Alam #abaikan :D.

“Rumah adalah tempat di mana aku merasa bisa pulang,” jawab Dimas. Dingin. Datar.

Ada tiga bab utama dalam novel ini, Dimas Suryo, Lintang Utara dan Segara Alam. Di awali dengan prolog tertangkapnya Hananto Prawiro, seorang redaktur Luar Negeri dari Kantor Berita Nusantara di Jalan Sabang, Jakarta pada 6 April 1968. Hananto adalah mata rantai terakhir yang akhirnya diringkus. Kantor Berita nusantara digeledah dan diobrak-abrik karena dianggap sangat kiri, Hananto berhasil melarikan diri dan masuk daftar orang-orang paling diburu, sebagai gantinya tentara membawa Surti Anandari, istrinya beserta ketiga anaknya untuk diinterogasi selama berbulan-bulan bahkan sampai tiga tahun karena tentara tak kunjung menemukan Hananto. Pada masa itu ada istilah Bersih Diri (kebijakan di tahun 1980-an yang dikenakan kepada seseorang yang terlibat dalam Gerakan 30 September, anggota PKI atau anggota organisasi sejenisnya) dan Bersih Lingkungan (dikenakan kepada anggota keluarga seseorang yang telah dicap komunis). Sampai akhirnya tentara menemukan persembunyian Hananto di Jalan Sabang, Hananto merasa sudah waktunya berhenti, dia mendengar kabar kalau istri dan anaknya dipindahkan dari Guntur dan Budi Kemulian (tempat interogasi), dia ingin keluarganya bisa hidup aman.

Dimas Suryo, dia merasa berhutang nyawa pada Hananto Prawiro, kalau saja Hananto tidak meminta mengantikannya untuk datang ke koferensi jurnalis di Santiago, tentu Dimas lah yang ditangkap. Saat itu Hananto sedang mengalami masalah pribadi, istrinya, Surti Anandari mengajak anak-anaknya untuk kembali ke rumah orangtuanya dikarenakan perilaku Hananto yang seorang penjahat kelamain, sering gonta-ganti ranjang. Hananto ingin menyelamatkan rumah tangganya sehingga dia tidak bisa pergi jauh. Dimas tidak bisa menolak, dia berharap Surti bahagia. Sebelum menikah dengan Hananto, Dimas dan Surti adalah sepasang kekasih. Bahkan, nama anak-anak Surti sekarang; Kencana, Bunga dan Alam adalah nama pemberian Dimas, yang sebelumnya dia rencanakan untuk anak mereka nantinya. Tapi, ketika Surti ingin mengenalkan Dimas kepada keluarganya, Dimas menghindar, dia belum siap berhadapan dengan keluarga Surti yang terdiri dari dokter-dokter.

Drupadi.

Seluruh kakak beradik Pandawa adalah suaminya. Tetapi adalah Bima yang selalu ingin melindunginya dari Kicaka maupun Dursasana. Yang tragis bagi Bima, Drupadi jauh lebih mencintai Arjuna. Aku betul-betul tak tahu dan tak pernah mencari tahu apakah Surti jauh lebih mencintai Mas Hananto daripada aku. Tetapi aku tahu, dia membuat pilihan.

Aku lebih tak tahu lagi mengapa sampai detik ini, setelah bertemu dengan Vivienne yang jelita dan menikahinya, hatiku masih bergetar setiap kali mengenang Surti. Barangkali aku sudah terlanjur memberikan hatiku padanya. Untuk selama-lamanya.

Pada saat konferensi International Organization of Journalist di Santiago, Cile berlangsung. Dimas dan Nugroho mendengar meletusnya prahara 30 September 1965, peristiwa yang menewaskan beberapa perwira tinggi militer Indonesia dalam percobaan kudeta yang dituduhkan kepada PKI. Bersih Lingkungan dan Bersih Diri digalakkan, mereka tidak bisa kembali ke Indonesia, mereka hanya bisa berharap keluarga mereka tetap aman. Setelah itu, Dimas dan Nug memutuskan untuk bertemu dengan Risjaf di Havana, Kuba. Kemudian mereka menetap selama tiga tahun di Peking, Cina, tempat dimana banyak orang yang senasip dengan mereka. Merasa tidak nyaman, Dimas mengusulkan untuk pindah ke Eropa, dan kebetulan teman mereka, Tjai ingin bertemu. Dipilihlah Paris sebagai rumah baru mereka, rumah persinggahan mereka. Di sana Dimas bertemu dengan Vivienne Deveraux di kampus Universitas Sorbone ketika terjadi revolusi Mei 1968. Le coup de foudre. Cinta pada pandangan pertama, itulah yang dirasakan Vivienne ketika bertemu dengan Dimas. Tak lama setelah pertemuan itu mereka menjadi pasangan kekasih, memutuskan menikah dan lima tahun kemudian mempunyai anak semata wayang yang diberi nama Lintang Utara. Bersama ketiga temannya -Nugroho, Risjaf, dan Tjai- mereka mendirikan Restoran Tanah Air. Satu-satunya bentuk perlawanan karena mereka tidak bisa pulang, satu-satunya cara mengobati rindu akan ibu pertiwi. Empat Pilar Tanah Air.

Katakan, apakah sebatang pohon yang sudah tegak dan batang rantingnya menggapai langit kini harus merunduk, mencari-cari akarnya untuk sebuah nama? Untuk sebuah identitas?

Ayah tahu, dia ditolak oleh pemerintah Indonesia, tetapi dia tidak ditolak oleh negerinya. Dia tidak ditolak oleh tanah airnya. Itulah sebabnya dia meletakkan sekilo cengkih ke dalam stoples besar pertama dan beberapa genggam bubuk kunyit di stoples kedua di ruang tamu hanya untuk merasakan aroma Indonesia.

Lintang Utara mendapatkan tugas akhir untuk membuat film dokumenter tentang Indonesia, sebuah negara yang tak pernah dia sentuh, sebuah negara yang hanya dia dengar dari ayah beserta tiga sahabatnya yang pengetahuannya terhenti setelah tahun 1965 dan dari perpustakaan ayahnya, sebuah negara yang tidak akan bisa dia datangi bersama ayahnya. Dia ingin membuat satu jam dokumentasi tentang sejarah Indonesia. September 1965. Akibat yang terjadi pada keluarga korban, keluarga dari tahanan politik atau keluarganya; mereka yang sama sekali tidak paham atau tidak ada urusan dengan tragedi September tetapi ikut menderita hingga sekarang. Lintang ingin memahami Indonesia dan ayahnya, tidak hanya tentang sejarah yang penuh darah dan nasib eksil politik yang harus berkelana mencari negara yang bersedia menerima mereka. Ada sesuatu tentang ayah Lintang yang selalu peka terhadap penolakan. Tentang seseorang yang sampai sekarang ada di hati ayahnya, seseorang yang menyebabkan retaknya rumah tangga kedua orangtuanya.

“apa yang bisa kita petik dari I.N.D.O.N.E.S.I.A? Itu yang ingin kulakukan.”

Lima bulan Lintang puasa bicara dan bertemu ayahnya karena dia bersikap kasar sewaktu memperkenalkan Narayana Lafebvre sebagai pacarnya. Nara sama seperti Lintang, anak dari percampuran darah Prancis dan Indonesia, bedanya dia bukan anak eksil. Tapi ketika dia mendengar kalau ayahnya jatuh sakit dia tidak tega dan ingin sekali bertemu dengan ayahnya sekaligus membicarakan rencananya ke Indonesia. Ayahnya mengatakan kalau mencari informasi tentang 1965 tidaklah mudah,tidaklah mudah membuka luka lama, apalagi dia adalah anak dari Dimas Suryo, seseorang yang dianggap dari ‘perzinahan politik’ dimana kesalahannya akan memanjang sampai ke anak cucu, sehingga Dimas membantu memberikan daftar nama yang bisa diwawancarainya nanti. Untuk visa ke Indonesia yang tidak pernah Dimas bisa dapatkan, yang tentu saja Lintang juga akan susah mendapatkannya, beruntung Nara mempunyai teman dari KBRI yang berpandangan terbuka, yang berpendapat sudah saatnya zaman berubah.

Di Indonesia, Lintang tinggal bersama Aji Suryo, adik Dimas yang selama ini menjadi informan tentang segala hal di Indonesia, baik tentang keluarganya maupun keluarga Hananto Prawiro. Lintang berencana melakukan riset selama sebulan, yang langsung ditanggapi sinis oleh Segara Alam. Orang-orang dalam daftar Lintang adalah orang-orang yang paling disorot pemerintah, siatuasi masih sangat berbahaya. Saat itu kondisi politik di Indonesia sedang ‘panas-panasnya’, sering terjadi demonstrasi karena kenaikan BBM dan issue KKN yang dilakukan Soeharto beserta kroni-kroninya, “sungguh sangat salah waktu dan salah tempat main turis-turisan di saat seperti ini” begitu kata Bimo, anak dari Nugraho, sahabat Alam sejak kecil yang juga rekan kerjanya di LSM Satu Bangsa.

Di dalam bahasa Prancis, secara harafiah tentu istilah un coup de foudre saja berarti halilintar atau petir. Tetapi jika dua pasang mata besirobak hingga membuat detak jantung berhenti, maka le coup de foundre berurusan dengan emosi (yang bisa membahayakan keseimbangan jagad): jatuh cinta pada pandangan pertama.

Lintang sudah mempunyai Nara sebagai payung besar yang melindunginya dari hujan dan badai. Tetapi. ketika dia bertemu pertama kali dengan Segara Alam, dia mendapatkan serangan halilintar, le coup de foundre. Bersama-sama, mereka meliput para korban malpraktek sejarah yang terjadi di masa lampau dan hiruk-pikuk kerusuhan Mei 1998, masa-masa runtuhnya kejayaan Soeharto.

578586_10200724389215973_484347245_n

dapet lirikan mb Leila S. Chudori ^^

Sebelum menggungkapkan apa yang saya dapat ketika membaca buku ini, saya akan bercerita sedikit tentang apa yang saya dapat ketika menghadiri reriungan bersaa Leila S. Chudori pada 2 Maret di Balai Soedjadmoko yang lalu. Mbak Leila bercerita kalau novel pertamanya ini mulai ditulis pada tahun 2006 dan selesai pada tahun 2012. Penulis yang mulai menulis pada usia 12 tahun ini sempat vakum selama dua puluh tahun dalam menerbitkan buku, setelah buku pertamanya; Malam Terakhir (diterbitkan pertama kali oleh Pustaka Utama Grafiti, 1989 dan diterbitkan ulang oleh Kepustakaan Populer Gramedia, 2009) beliau sibuk menjadi ibu dan wartawan Tempo, pada tahun 2009 barulah menerbitkan kumpulan cerpen lagi; 9 dari Nadira yang menjadi nominasi Khatulistiwa Literary Award pada tahun 2010, yang katanya akan ada lanjutannya. Semua novelnya bercerita tentang keluarga, topik yang paling disukainya. Bahkan tragedi 30 September dan Mei 1998 hanya melatar belakangi, melingkupinya, sama seperti unsur makanan, sastrawan dunia, lagu, film, buku yang akan sering kita temukan ketika membaca novel ini, beliau menyisipkan hal-hal yang disukainya ke dalam tulisannya. Intinya adalah tentang keluarga. Baliau membuat tokoh laki-laki yang tidak sempurna, yang tidak selesai dengan dirinya sendiri. Hananto Prawiro yang suka berpindah ranjang, Dimas Suryo yang galau akan kisah cintanya, Bimo yang lebih memilih berdiam diri ketika dirinya dihina dan di bully teman-temannya karena dia anak eksil, Alam yang sifatnya tidak beda jauh dari ayahnya, hanya saja dia susah berkomitmen, Rama yang lebih memilih membuang identitasnya. Hanya ada satu tokoh laki-laki yang selesai dengan dirinya sendiri, Aji Suryo, dia tahu apa yang akan ingin dia lakukan. Kebalikannya, tokoh perempuan di buku ini adalah sosok perempuan-perempuan yang kuat. Surti yang tetap berdiri tegak ketika suaminya menghilang dan diinterogasi habis-habisan akan keberadaannya, Vivienne yang mencoba menyelami hati Dimas dan memberikan penawar luka akan kerinduannya terhadap Indonesia, bahkan Andini yang tidak peduli kalau dia anak eksil, dia percaya kalau setiap orang diberi kemampuan untuk menyelesaikan dan mengatasi masalahnya. Ada sesi religius yang juga disisipkan, yaitu ketika Dimas menemui Amir, salah satu rekannya di Kantor Berita Nusantara yang mengalami penurunan jabatan karena dia dianggap disebelah kanan. Bang Amir membuat Dimas berpikir tentang spiritualisme, sesuatu yang lebih dalam dan mulia di dalam inti kemanusiaan. Berbincang tanpa embel-embel warna, cap, partai, aliran, atau kelompok. Dan ketika dia mendapat kabar kalau ibunya meninggal, dia sangat bersedih karena tidak bisa pulang, dia butuh berbicara, dia menulis surat kepada Bang Amir akan kekosongan hatinya. Beliau juga bercerita dalam proses pembuatan novel Pulang dia mewawancarai banyak tokoh, salah satunya adalah Pramoedya Antara Toer.  Empat Pilar Tanah Air juga terinspirasi dari kisah nyata; Bapak Umar Said (alm), Bapak Sobron Aidit (alm), Kusni Sulang, para eksil politik di Paris yang mendirikan Restoran Indonesia di Rue de Vaugirard, mereka mendirikan Restoran Indonesia adalah bentuk perlawanan, diskriminasi selama masa orde baru. Kisah mereka lebih rumit dan rute perjalanannya mereka tidak hanya Cile, Kuba, dan Cina. Bedanya adalah mereka membuat Restoran Indonesia dengan mendatangkan koki dari Indonesia sedangkan mbak Leila membuat karakter eksil politik yang bisa memasak, mencurahkan kerinduannya dengan memasak makanan Indonesia. Oh ya, ada lima adegan ‘hot’ di novel ini, bagian yang tidak sulit ditulis mbak Leila karena setiap hari dia dikerumuni teman-temannya yang mayoritas cowok, yang isi kepalanya tidak jauh dari seks. Kurang ah kalau hanya lima :p.

Itu adalah sebagian besar obrolan dalam reriungan kemaren, ada pertanyaan yang diajukan salah satu hadirin yang juga saya pertanyakan ketika membacanya, yaitu pada tahun 1998 apakah di Indonesia sudah ada handphone? Mbak Leila menjawab kalau sudah, karena beliau menggunakan handphone sejak tahun 1997. Lalu ada satu lagi pertanyaan ketika saya membaca novel ini, saya lupa ada di halaman berapa tapi saya mendapati Lintang mengucapkan kata ‘bacot’ padahal dia belum pernah ke Indonesia. Saya tahu dia sering mendengar tentang Indonesia dari orang-orang di sekitarnya tapi sewaktu dia di Indonesia, dia sering sekali mencatat kata-kata yang tidak ada di kamus Indonesia, seperti; nyokap, bokap, bokep, dll.

Untuk karakter tokohnya, tanggapan saya tidak jauh beda dengan yang di atas, hanya saja tokoh Dimas Suryo benar-benar menjadi magnet di buku ini. Tentu saja, cerita tidak akan terjadi bila dia tidak ada, dia adalah tokoh sentral, perwakilan ‘orang-orang yang tidak bisa pulang’, orang yang sebenarnya tidak memihak kiri atau kanan, orang yang senetral negara Swiss tapi pada saat itu apa pun pilihannya, orang-orang hanya memandang kedalam dua kubu tersebut. Yang paling membuat saya bersimpati padanya adalah ketika membaca bab Ekalaya, dalemmmmmm banget, saya ikutan nyesek waktu membacanya. Bahkan, saya sampai pengen baca kisah Mahabharata yang tebelnya bisa buat bantal itu. Betapa rindunya Dimas akan tanah air, rumah sesungguhnya dan pada cintanya yang tak sampai.

Semula aku mengira Ayah kagum karena Bima adalah perwakilan kelelakian. Tinggi, besar, dan protektif. Ternyata Ayah tertarik pada Bima karena kesetiannya pada Drupadi, satu-satunya perempuan yang menjadi isteri kakak beradik Pandawa. Pengabdian Bima pada Drupadi, bahkan melebihi cinta Yudhistira pada isterinya. Adalah Bima yang membela harkat Drupadi yang dihina Kurawa saat kalah permainan judi. “Hanya Bima yang menjaga Drupadi ketika dia diganggu oleh banyak lelaki saat Pandawa dibuang ke hutan selama 12 tahun.” kata Ayah menafsirkan dengan semangat.

Baru belakangan aku bisa memahami ada sesuatu dalam diri Ekalaya yang membuat Ayah mencoba bertahan. Ekalaya ditolak berguru oleh Dorna dan dia tetap mencoba ‘berguru’ dengan caranya sendiri. Hingga Dorna menghianati Ekalaya, sang ksatria tetap menyembah dan menyerahkan potongan jarinya. Ekalaya tahu, meski ditolak sebagai murid Dorna, dia tidak ditolak oleh dunia panahan. Sesungguhnya dialah pemanah terbaik sejagat raya, meski dalam Mahabharata Dorna tetap menggangkat Arjuna ke panggung sejarah hanya karena dia pilih kasih.

Bima adalah Dimas Suryo, Drupadi adalah Surti Anandari. Ekalaya adalah Dimas Suryo, dunia panahan adalah Indonesia.

Karakter favorit saya adalah Segara Alam, hehehe. Sama seperti Lintang, le coup de foundre, sejak pertama muncul saya sudah sangat jatuh cinta akan karakternya, yah walau dia mewarisi sifat penjahat kelamin ayahnya dan mudah marah, dia sangat menyayangi keluarganya, dia akan menyerah dari perbuatannya kalau sudah menyangkut menyusahkan orangtua. Dia sosok yang tegar, dia akan melawan bila dilawan. Berharap banget mbak Leila membuat novel romance yang tokohnya kayak Segara Alam :p. Ada bagian yang menurut saya romantis banget, yang membuat hati berdebar-debar 😀

“Aku tak ingin berakhir seperti mereka, saling mencintai. Lantas kehilangan dan kini mereka hanya mengenang dan merenung dari jauh.”

“Mereka… siapa?”

“Mereka: ayahmu dan ibuku.”

“Aku yakin ibuku mencintai Bapak, seperti halnya ayahmu mencintai ibumu. tetapi Dimas dan Surti? Itu adalah dua nama yang mewakili kisah cinta yang hilang. Yang terputus.”

Kini Alam betul-betul dekat dengan wajahku. tetapi dia sengaja berhenti tepat di depan hidungku dan sama sekali tidak menyentuhku. Aku haya bisa merasakan nafasnya yang berbau mentol yang membuat darahku melonjak-lonjak, “Aku tak ingin seperti mereka. Aku tahu yang kuinginkan. Dan itu kutemukan setelah berusia 33 tahun.”

525335_10200724384455854_196356541_n

koleksi buku bertanda tanganku bertambah ^^

Alurnya flashback, bahkan sering meloncat-loncat dari masa sekarang kembali ke masa lalu, begitu sebaliknya. Tapi tidak usah binggung karena ada bulan dan tahun yang membedakan. Saya jadi teringat perkataan mbak Sanie B. Kuncoro ketika dia berbicara tentang karya mbak Leila. Beliau bilang mbak Leila sangat detail, terlebih dalam menciptakan karakter tokohnya. Tidak ada tokoh yang tidak penting di bukunya, semua tokoh yang dibuat merekatkan puzzle satu dengan yang lainnya. Lalu saya pun memikirkannya, dan benar, semua tokoh yang dibuat mbak Leila penting, semua punya porsi masing-masing. Saya ingat adegan dalam prolog ketika Hananto ingin melihat pukul berapa dia ditanggap lalu teringat arloji yang sering dipakainya sudah diberikan kepada Dimas, bertahun-tahun kemudian, ketika Lintang akan ke Indonesia, dia menyerahkan arloji tersebut ke Lintang untuk diserahkan kembali kepada Alam. Seperti itu, kayaknya sepele tapi belakangan sangat bermakna.

Sudut pandangnya pun campur aduk, kebanyakan orang pertama dan ada juga orang ketiga. Ini juga sangat menarik. Pada bagian Dimas Suryo kita akan mendapatkan sebuah cerita yang belum tuntas, kemudian pada bagian Lintang Utara atau Segara Alam kita akan mendapatkan jawabannya. Contohnya ketika Dimas Suryo selalu meletakkan setoples cengkih dan kunyit di rumahnya, tidak hanya mengobati kangennya akan Indonesia. Kunyit juga simbol sebuah cinta yang hilang, yang intens dan tak pernah terwujud, menginggatkannya akan Surti, bagian itu ada di bab Segara Alam.

Untuk cover dan ilustrasinya, jangan ditanya, keren banget. Salut sama Daniel “Timbul” Cahya Krisna, walau saya tidak mengerti semua ilustrasi di dalam buku ini (yang sangat mudah ditebak adalah ilustrasi di bab Empat Pilar Tanah Air, ada empat bendera merah putih dan ada menara Eiffel) saya yakin semuanya mewakili isi dari buku ini. Tulisannya saya rasa pas, tidak terlalu kekecilan atau kebesaran, sayangnya masih ada beberapa typo.

Saya baru pertama kali ini membaca hisfic yang menganggkat tema Gerakan 30 September, sebelumnya ada Amba karya Laksmi Pamutjak yang bertemakan sama tapi buku tersebut lebih bercerita tentang Pulau Buru sedangkan novel ini bercerita tentang orang yang tidak bisa pulang. Saya sangat menyukai gaya berceritanya Leila S. Chudori, tidak terasa berat walau tema yang diangkat cukup berat. Tidak ada kata-kata atau kalimat yang butuh dicerna lebih dalam, puitis tapi tidak hiperbolis. Sederhana tapi bermakna.

Pulang adalah sebuah drama keluarga, persahabatan, cinta dan pengkhianatan berlatar belakang tiga peristiwa bersejarah: Indonesia 30 September 1965, Prancis Mei 1968, dan Indonesia Mei 1998.

Mengutip tagline yang ada di belakang sampul buku, yang sangat menggambarkan isi buku ini. Kita akan ikut merasakan bagaimana rasanya ingin pulang ke rumah yang sebenarnya, yang walaupun sudah memiliki keluarga baru, rumah baru itu tidaklah cukup, hatinya tetap berada di tanah kelahirannya. Persahabatan empat pilar tanah air yang terusir dari rumahnya sendiri dan harus memulai kehidupan baru di negara yang asing, cinta yang terpendam, cinta yang bertepuk sebelah tangan. Dan peristiwa yang sangat bersejarah di Indonesia, jujur saja, saya sudah lupa tentang pelajaran yang membahas Gerakan 30 September, bahkan pada peristiwa Mei 1998 ingatan saya kabur, kalau tidak salah waktu itu saya masih kelas tiga atau empat SD, yang tidak terlalu memikirkan masalah orang dewasa, yang saya ingat hanya tembok yang penuh dengan coretan. Membaca buku ini tidak hanya mendapatkan sebuah cerita romantis nan tragis tapi menginggatkan kita kembali akan sejarah berdarah yang pernah terjadi di Indonesia.

Buku ini saya rekomendasikan bagi siapa saja yang ingin lebih mengenal sejarah Indonesia, mengenal perjuangan orang-orang yang terusir dari tanah kelahirannya.

5 sayap untuk Empat Pilar Tanah Air

*posting bareng BBI kategori klasik kontemporer*

9 dari Nadira

7049082

9 dari Nadira

Penulis: Leila S. Chudori

Perancang sampul: Wendie Artswenda

Ilustrator sampul dan isi: Ario Anindito

ISBN: 978-979-91-0209-6

Cetakan kedua, Oktober 2010

270 halaman

Pinjem Mas @tezarnet

9 dari Nadira adalah buku ketiga yang saya baca dari penulis yang mempunyai nama lengkap Leila Salikha Chudori, sebelumnya ada Pulang dan Malam Terakhir. Berbeda dengan Malam Terakhir yang sama-sama merupakan kumpulan cerpen, buku ini ada benang merah yang kuat antara cerita satu dengan lainnya, sedangkan Malam Terakhir berdiri sendiri, tidak terkait. Benang merah yang kuat itu adalah Nadira. Kita akan melihat kehidupan dan kompleknya keluarga Nadira dari berbagai sisi. Seperti yang pernah dijelaskan mbak Leila pada reriuangan yang pernah saya hadiri, semua novelnya bertema keluarga dan buku ini bercerita tentang keluarga Suwandi.

1. Mencari Seikat Seruni

Apa yang akan kamu lakukan jika melihat orang yang kamu sayang bunuh diri? Membaca Yasin dengan suara tertahan sambil mengusir air mata, menangis tersedu-sedu sampai melolong, atau mencari bunga seruni, bunga favoritnya?

Dan pertanyaan terbesar adalah kenapa? apakah tidak bahagia dengan hidupnya? padahal dia mempunyai suami yang dicintai dan anak-anak yang disayangi sepenuh hati.

Cerpen ini bercerita tentang Nadira dan ibunya, ada bagian flashback ketika pertama kali ibu Nadira, Kemala, bertemu dan akhirnya menikah dengan Bramantyo, suaminya.

2. Nina dan Nadira

Tentang Nadira dan kakak perempuannya, Nina. Semasa kecil dulu ada kejadian yang tak akan pernah mereka berdua lupakan, kejadian ketika Nina menenggelamkan kepala Nadira di jamban dengan tuduhan mencuri uang, padahal uang tersebut adalah hasil kepiawaian Nadira dalam bercerita. Kejadian itu membuat Nina merasa gagal sebagai seorag kakak, gagal menjadi kakak sulung yang baik, mengecewakan orangtuanya, mengecewakan ibunya karena ibunya ingin dia menyayangi dan merawat adik-adiknya.

3. Melukis Langit

Tentang Nadira dan ayahnya. Kematian Kemala merubah kehidupan suami dan anaknya. Nadira menjadi gila kerja, mengganggap kolong meja kerjanya sebagai rumah dan dia kehilangan emosi, kakak laki-lakinya, Arya memilih melarikan diri ke hutan, Nina memilih luar negeri untuk melupakan masa lalu dan ayahnya yang merindukannya ia selalu menginggat profesinya dulu sebagai wartawan handal. Hanya Nadira yang ada untuk ayahnya ketika dia mulai kehilangan semangat hidup, membereskan semua persoalan keluarganya.

4. Tasbih

Tentang Nadira dan profesinya. Ketika Nadira meliput bagian kriminalitas dan hukum, dia bertemu dengan Bapak X, seorang psikiater yang selalu melakukan pembunuhan pada perempuan paruh baya yang mempunyai anak lelaki, dan setelah itu mulut korbannya selalu dirobek. Alih-alih mengorek informasi tersangka, Bapak X malah bertanya tentang keluarga Nadira, tentang bagaimana ibunya bunuh diri, melihat kebencian Nadira kepada Nina. Di bagian ini juga dikisahkan masa kecil Nina, Arya dan Nadira.

Bunga seruni cocok untuk seseorang yang lelah dengan dunia… Seseorang yang ingin pensiun dari hidupnya.

5. Ciuman Terpanjang

Tentang Nadira dan laki-laki yang mencintainya. Ada seorang teman Nadira yang tidak berani mengungkapkan hatinya tapi dia selalu mencoba selalu ada. Ketika pemakaman ibunya dialah yang menemani mencari bunga seruni, ketika dia ingin memegang tasbih yang pernah diberikan kakuknya kepada ibunya, agar merasa lebih tenang, dia mencarikannya. Dia selalu menegur ketika Nadira tertidur di kolong mejanya, dia, dia, dia yang dengan bodohnya sulit mengucap kata cinta yang akhirnya terluka ketika Nadira menemukan seseorang yang membuatnya tertawa lagi, Niko Yuliar. Si Bodoh itu bernama Utara Bayu.

Tahukah Kang, selama bertahun-tahun sejak ibu pergi meninggalkan kita, ada sebuah batu besar yang membebani tubuhku, hatiku, jantungku, yang menyebabkan aku hanya bisa celentang di dalam kubur itu, tanpa bisa hidup, dan juga tidak mati?

Dan tahukah, Kang Arya, tidak ada satupun, tidak ada siapapun yang bisa menggangkatku dari lubang kubur. tara hanya bisa menjenguk diriku ke permukaan liang kubur dan memberikan wajah simpati. Seisi kantor hanya bisa kasak-kusuk mengasihani aku, seorang wartawan yang bernasip malang karena ibunya bunuh diri. Yang kemudian tak akan pernah berani menjalin hubungan yang serius dengan lelaki manapun. Di luar? sanak saudara kita tak merasa mempunyai reaksi yang tepat… antara rasa prihatin, sedih, kasihan sekaligus amarah.

Bertahun-tahun, setelah aku terpuruk di lubang kubur itu, aku tak kunjung mendapatkan jawaban: mengapa Ibu sengaja memutuskan pertalian kita. Mengapa Ibu memilih untuk meninggalkan kita dengan cara yang begitu sia-sia.

Sampai akhirnya hanya satu, ya satu lelaki yang datang dan menyodorkan tangannya. Dia langsung mengambil tanganku dan mengajakku untuk bangun dari lubang kubur itu. Tanpa ragu, tanpa jeda. Dia tak membutuhkan waktu untuk berpikir ulang, karenanya dia yakin aku harus bersama dia.

6. Kirana

Tentang Nadira dan Candra Kirana, putri Raja Daha yang teraniyana oleh ibu tirinya. Kirana melarikan diri dan menyamar sebagai Panji Semirang, dia mendirikan perkampungan Asmarantaka sembari mencari kekasihnya, pangeran Kediri Inu Kertapati. Dalam hidup selalu ada kesalahan yang pernah dilakukan, begitu juga degan Nadira, dia salah memilih. Tapi dari kesalahan itu dia belajar dan mendapatkan sesuatu yang berharga.

7. Sebilah Pisau

Tentang Nadira dan pengagum rahasianya. Kris pertama kali mengenal Nadira sebagai seorang perempuan yang penuh semangat, cerdas, malas berdandan, tidak banyak bicara, ekspresif, lebih suka menuangkannya dalam tulisan. Setelah dua tahun dia mendapati perubahan sangat besar pada Nadira, sejak ibunya bunuh diri. Nadira menjadi tidak punya emosi, jarang tersenyum dan menyiksa diri dalam pekerjaan. Dia menjadi pengamat, dia diam-diam menyimpan perasaan sama seperti wartawan serius di kantornya. Dia hanya mengungkapkan perasaan pada goresan tangannya, melalui sketsa-sketsa yang dibuatnya. Nadira punya dunianya sendiri dan Kris tidak bisa merabanya.

8. Utara Bayu

Tentang Nadira dan orang yang terluka karenanya. Keresahan orangtua yang anaknya enggan menikah, itulah yang dialami orangtua Utara Bayu. Meraka tahu kenapa anaknya tidak lekas menikah, karena sulit melupakan Nadira yang sudah menikah, bercerai dan pindah ke Kanada. Mereka pun mencoba menjodohkan Utara Bayu dengan reporter majalah Tera, tempat di mana anaknya bekerja.

9. At Pedder Bay

Kita membutuhkan jeda dari hiruk-pikuk aliran hidup kita.

Tentang Nadira dan Marc, yang membicarakan Arya. Undangan pernikahan kakaknya merobohkan niat Nadira untuk tidak kembali lagi ke Indonesia, sama seperti Nina, dia mengganggap dirinya tidak punya rumah dan sejarah. Percakapannya dengan Marc, mantan pacarnya zaman kuliah sedikit membuka matanya, demi Arya, demi ‘unfinished business’ yang bernama Tara.

Banyak yang bilang kalau buku ini sebenarnya novel karena bercerita tentang Nadira yang sama, banyak juga yang bilang kalau Kumcer karena berdiri sendiri dan bisa dibaca tanpa berurutan. Terserahlah, saya membacanya berurutan dan bisa dibilang saya memihak kalau buku ini sebenarnya novel. Alasannya adalah saya menemukan perkembangan setting waktu dan karakter di dalam buku ini. Di cerpen pertama kisah dibuka dengan kematian ibu Nadira dan di cerpen terakhir di tutup bagian di mana Nadira sudah melewati kisah yang begitu panjang, terluka bertahun-tahun karena ditinggal ibunya tanpa sebab, mulai menemukan kebahagaiaan, menikah, mempunyai anak, bercerai, pindah ke Amerika sampai pada dia ingin kembali dan menyelesaikan masalahnya, berurutan. Saya juga suka gaya bercerita mbak Leila, jenius! Berbeda dengan Malam Terakhir yang lumayan memaksa saya harus berkonsentrasi membacanya atau Pulang yang mudah dicerna. Buku ini bahasanya biasa kecuali Kirana yang sedikit banyak mengandung metafora, mencampuradukkan dengan cerita Panji Semirang, cerita rakyat yang berasal dari Jawa Timur. Buku ini juga banyak sekali menebar teka-teki dan jawabannya ada di cerpen lainnya, mencari jawaban teka teki itulah yang menarik. Misalnya saja di cerpen pertama kita akan sangat dibuat penasaran kenapa Kemala sangat menyukai Seruni, dan di cerpen Tasbih kita menemukan jawabannya.

Ada yang bilang lagi kalau cerita dibuku ini banyak terispirasi dari kisah nyata penulisnya sendiri. Saya pun mencoba mencocokkannya. Ayah mbak Leila adalah seorang wartawan di majalah Kantor Berita ANTARA, profesi Nadira dan mbak Leila pun sama, Nadira bekerja di majalah Tera dan mbak Leila adalah wartawan majalah Tempo sejak tahun 1989, sama-sama pernah mewawancarai Presiden Cory Aquino -Presiden Filipina- pada tahun 1989, pernah menikah dengan Yudhi Soerjoatmodjo, fotografer jurnalistik yang kerap membuat esai foto yang akhirnya bercerai dan dari hasil perkawinannya lahir putri satu-satunya, Rain Chudori-Soerjoatmodjo, Nadira juga punya satu anak yang bernama Jodi. Sama-sama pernah kuliah di Kanada, mbak Leila terpilih mewakili Indonesia mendapat beasiswa menempuh pendidikan di “Lester B. Pearson College of the Pacific (United World Colleges)” di Victoria, Kanada. Itulah beberapa kesamaan yang saya dapatkan antara Nadira dan mbak Leila. Dulu mbak Leila pernah bilang, terkadang dia memasukkan apa yang dia sukai ke dalam tulisannya seperti ibunya yang suka memberinya pesan kematian, siapa yang mewarisi apa, begitu juga dengan Kemala yang ketika dia meninggal dia ingin bunga seruni menghiasi makamnya, hal ini juga saya dapatkan di novel Pulang di mana sang tokoh utama, Dimas Suryo ingin dimakamkan di Karet. Tak jarang menyisipkan buku, musik atau film favoritnya, seperti beberapa penulis favoritnya yang sering disebut dibukunya; Virgina Woolf, Sylfia Plath, Franz Kafka, Dostoyewsky.

Tokoh favorit saya adalah Utara Bayu, karena selain ganteng saya suka bagaimana cara dia mencintai Nadira walau dibilang pengecut dan bodoh, saya suka perhatian yang dia berikan, manis sekali. Untuk tokoh yang paling waras saya kira hanya Arya, dia satu-satunya yang selesai dengan dirinya sendiri, berhasil mengatasi masalahnya, sempat menghilang karena kehilangan ibunya toh dia kembali dan mulai menata hidupnya, bahkan ketika membaca masa kecilnya, dia sudah terlihat kuat dan penyayang. Brahmantyo pun yang waktu muda punya semangat membara loyo ketika ditinggal istrinya dan jabatan barunya, dia seperti orang yang sudah tidak punya semangat hidup, selalu membayangkan waktu menjadi wartawan luar negeri sama seperti prestasi yang dihasilkan Nadira sekarang, dia selalu terbayang oleh masa lalu. Yang paling lemah adalah Nina, dia haus akan pengakuan, terlalu dilanda kecemburuan, dia ingin menjadi panutan tapi sayangnya keiriannya pada Nadira membutakannya sehingga kerap dia mengecewakan orangtuanya, terlebih ibunya. Selain Kemala, tokoh Nina merupakan tokoh yang sulit untuk saya pahami, mereka sama-sama komplek, banyak sekali masalah yang terjadi dan tidak bisa tertebak. Saya tidak mengerti kenapa dia tidak bisa minta maaf kepada Nadira padahal dia yang menyebabkan Nadira selalu memasukkan kepalanya ke dalam air ketika sedang stress, dampak perbuatannya waktu kecil yang meneggelamkan kepala Nadira di jamban, yang menyebabkan Nadira selain menyayangi sekaligus membencinya. Sama halnya dengan alasan Kemala bunuh diri. Nadira sebenarnya juga sulit dipahami, tapi saya mendapatkan pencerahan ketika membaca Ciuman Terpanjang, di surat yang ia tulis untuk kakaknya, yang tidak menyetujui pernikahannya dengan Niko.

Semua buku mbak Leila berbau suram, penuh kesedihan. Alih-alih ingin menampilkan kelemahan tokoh utamanya dia malah memperlihatkan kekuatan yang bisa dimiliki oleh Nadira. Nadira kuat ketika ibunya meninggal, dia tidak menangis seperti keluarga lainnya, walau sempat terpuruk dan kehilangan tawa dia kebali bangkit ketika menemukan cintanya, dia terluka lagi karena gagalnya pernikahan tapi dia bangun dan mencoba dan terus mencoba kuat.

Bagian yang saya sukai ada di cerpen Tasbih, bagian ketika Tara mencoba mencari sesuatu yang bisa membuatnya tenang.

“Aku ada sesuatu untukmu…,” Tara mengambil seikat bunga seruni berwarna putih dari laci. “Aku tak berhasil menemukan tasbih ibumu…”

“He?”

“Bawa saja…”

Nadira menerima seikat kembang itu dan menatapnya, masih tak percaya. Lalu dia mencabut tiga tangkai seruni dan memasukkannya ke dalam ranselnya.

Beberapa cerpen di buku ini pernah di muat di media masa, seperti Melukis Langit, cerita pertama tentang Nadira yang pertama kali diterbitkan di majalah Mantra pada tahun 1991 dan mengalami revisi pada 2009. Nina dan Nadira yang juga pernah diterbitkan di majalah yang sama pada tahun 1992 juga mengalami revisi. Cerpen pertama di buku ini malah terbit pertama kali di majalah Horison April 2009 diikuti dengan Tasbih di bulan September 2009. Tidak heran kalau buku ini masuk ke dalam nominasi Khatulistiwa Literary Award 2010 untuk kategori fiksi, melihat bagaimana mbak Leila menggabungkan cerita dari berbagai tahun menjadi satu kesatuan yang utuh, cerpen pertama yang dibuat malah menempati posisi ketiga di daftar isi.

Alurnya flashback, salah satu ciri dari tulisan mbak Leila, ada bulan dan tahun terjadinya cerita sehingga tidak akan membuat kita bingung, bahkan kalau kita cermat kita bisa menentukan kapan Nadira lahir dan kejadian lainnya. Karena berbentuk cerpen, sudut pandangnya mayoritas orang pertama dan ketiga, untuk cerpen Sebilah Pisau terasa yang paling berbeda karena sudut pandangnya dari Kris, teman kerja Nadira. Untuk covernya, kalau tidak salah mengartikan adalah gambar Kirana, diambil dari ilustrasi cerpen keenam. Di setiap bab akan ada iulustrasi yang keren karya Ario, ilustrasi yang mewakili inti setiap cerpen dan yang paling favorit adalah di cerpen Ciuman Terpanjang, gambar Nadira bangkit dari kubur dan mengeggam tangan seseorang. Untuk typo tidak perlu khawatir, hampir mulus, ada bagian yang bercetak miring yang dibuat untuk pembeda sudut pandang yang awalnya sedikit membingungkan tapi ketika kita menikmati ceritanya itu tidak menjadi masalah. Banyak yang mencak-mencak karena endingnya yang sangat sangat menggantung, kabarnya, mbak Leila sedang menggarap lanjutan 9 dari Nadira dan kumpulan cerita seorang pembunuh bayaran, Lembayung Senja, semoga saja ceritanya sekeren cerpen Tasbih yang berbau psikologi dan thriller. Tapi, ada cerpen kesepuluh tentang Nadira yang cukup membuat penasaran akan kelanjutannya dan cerpen ini pernah dimuat di majalah Femina edisi khusus Kartini, April 2010, cerpennya bisa dibaca di sini, enjoy ^^

Untuk keseluruhan, buku ini saya rekomendasikan buat kamu yang menyukai cerita keluarga yang komplek.

4 sayap untuk cerita tentang Nadira.

Malam Terakhir

7252844

Malam Terakhir

Penulis: Leila S. Chudori

Perancang sampul: Wendie Artswenda

Ilustrator sampul: Maryanto

Penerbit: Kepustakaan Populer Graedia (KPG)

ISBN: 978-979-91-0215-7

Cetakan pertama, November 2009

117 halaman

Harga: 20k (titip Bang @tezarnet di Gramedia Semarang)

Sejak membaca Pulang, saya sudah mentasbihkan kalau Leila S. Chudori adalah salah satu penulis favorit saya tahun ini. Saya sangat terpesona dengan cerita yang dia buat. Pulang mudah saya terima walau memiliki tema yang berat, berbeda dengan buku yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1989 ini, tepat sebelum Leila menjadi wartawan Tempo, ada beberapa cerpen yang perlu saya baca berulang-ulang agar mengerti maksudnya. Berikut kesembilan cerpen yang ada di buku Malam Terakhir:

1. Paris, Juni 1988

Cerpen ini salah satu yang tidak saya mengerti, kalau membaca bagian akhir kira-kira intinya adalah tentang kebebasan. Seorang laki-laki yang terjebak oleh khayalan yang dibuatnya.

Janou tak bisa menguasai Jean-Gilles; dia tak bisa menguasai gairahku; isi hatiku yang paling dalam. janou menyadari, jika dia bercinta denganku, dia hanya bercinta dengan tubuhku…,kamu tahu…” Marc tiba-tiba memegang dada sang gadis, “Ada sesuatu dalam hati, satu sekat ruang yang tak bisa dimiliki siapa-siapa barang seusapanpun?”

2. Adila

Adila adalah seorang anak yang tak dibatasi oleh konvensi. Ia bisa melakukan apa saja menembus garis-garis ruang dan waktu. Ia hidup tanpa pagar.

Memiliki ibu yang otoriter, selalu menginginkan kesempurnaan tapi sayangnya dia tidak memberikan perhatian yang lebih kepada anaknya membuat si anak merasa terpenjara, merasa apa yang selalu dilakukannya selalu salah. Lalu si anak menciptakan teman khayalannya sendiri, Ursula -salah satu tokoh dalam novel The Rainbow karya D.H Lawrence, Bapak Neill -pendiri sekolah Summerhill, dan Stephen Dedalus, mengajarkan Dila apa arti kebebasan.

3. Air Suci Sita

“Sayang, engkau ternyata seorang perempuan yang teguh dan kukuh. Sedangkan aku hanyalah lelaki biasa,” tunangannya mengusap pipi perempuan itu dengan mata yang berkaca-kaca. “Engkau begitu tegap, mandiri, dan mempertahankan kesucianmu seperti yang diwajibkan oleh masyarakat; sedangkan aku adalah lelaki lemah, payah, manja, tak bisa menahan diri. Kami. para lelaki, dimanjakan dengan apa yang dianggap kodrat, kami diberi permisi seluas-luasnya. Kalau kau yang berkhianat, pastilah kau dianggap nista. Tetapi jika aku yang berkhianat, maka itu dianggap biasa…”

Jadi, kalau lelaki boleh selingkuh perempuan nggak boleh? Enak bener.

4. Sehelai Kain Hitam

“Salikha, setiap kali aku tampil di tempat umum, aku harus mengenakan baju berwarna putih. Mereka menginginkan aku berwarna putih. Seputih tulisan-tulisanku. Mereka menolak melihat bahwa di antara warna putih, ada noda, ada titik-titik kotor… Mereka tak ingin melihat aku sebagai manusia biasa.”

Cerpen kedua yang cukup sulit saya pahami. Kira-kira artinya adalah seseorang yang berpura-pura sempurna di mata orang lain. Cerita ini juga berbau religius.

“Tidak… Kau banar. Aku lemah. Pengecut. Aku telah terbentuk, secara tidak kusadari, oleh masyarakat. Aku didekte oleh masyarakat untuk berbicara dan menulis apa yang ingin mereka baca dan dengar. Mereka terlanjur melihatku sebagai sebuah sosok, tokoh, idola, atau sebutan apapun yang memberikan beban luar biasa. Mereka menyangka aku yang memiliki kekuasaan untuk mengangkat taganku dan mengerakkan mereka untuk melakukan sesuatu. Tapi, sebetulnya, merekalah yang telah begitu berkuasa memerintahkan alu untuk mengenakan pakaian putih, tanpa boleh meletakkan benang-benang hitam, tanpa boleh ada noda… Tidak. Aku tak menyalahkan siapa-siapa. Dengan sadar, kupilih jalan ini.”

5. Untuk Bapak

“Srikandi dan Arjuna mengepung Bhisma, dan dengan tenang dia berdiri karena dia sudah memilih hari akhirnya. Panah-panah Srikandi kemudian menusuk tubuhnya beruntun, Tap! Tap! Tap! Bhisma runtuh tetapi badannya tidak menyentuh tanah, karena rangkaian panah itu menyangga tubuhnya, Hingga perang Bharatayudha berakhir, Pak, ia tetap hidup sambil menatap langit…”

Cerita favoritku! Salah satu yang saya sukai dari tulisan mbak Leila adalah dia selalu menyisipkan cerita Mahabharata. Kali ini bercerita tentang cinta seorang anak kepada Bapaknya, yang mengganggap Bapaknya seperti Bhisma, laki-laki yang selama hidupnya dikenal sangat setia pada sumpahnya.

“Anakku, panah-panah Bhisma itu sudah menjadi urat nadi Bapak. Tapi kamu tetap menjadi jantungku,” demikian kau menulis pada ulangtahunku yang ke-15.

Hiks.

6. Keats

Cerita ketiga yang saya baca berulang-ulang, maaf saja saya tidak punya otak prima, adanya otah bulat jadi yah perlu tenaga ektra untruk memahami bahasa yang penuh metafora :p. Intinya adalah sebuah keluarga yang tidak menyetujui pilihan hidupseseorang lalu mereka menjodohkan dengan orang yang terlihat sempurna, padahal belum tentu dalamnya sebaik tampilan luar. Tami mencurahkan semua perasaannya itu pada John Keats, penyair Inggris awal abad ke-19 yang terkenal dengan sajak “Tentang Mati”. Btw, John Keats ini merupakan salah satu penyair favorit mbak Leila, semua bukunya selalu ada cuplikan sajak tentang kematian ini.

7. Ilona

Tentang pernikahan. Gagalnya pernikahan orangtuanya, membuat Ona dia tidak percaya pada pernikahan.

“Rasa sepi itu selalu menyerang setiap orang yang menikah maupun yang tidak menikah. Barangkali rasa sepi akan terasa lebih perih bagi mereka yang mengalami kegagalan dalam perkawinan. Mereka terbiasa berbagi, lalu mereka terpaksa menjadi sendiri.”

8.Sepasang Mata Menatap Rain

Seorang anak kecil dengan rasa ingin tahu yang besar, Rain namanya, dia melihat bukti nyata dari kelaparan dan peperangan di Burundi ketika tak sengaja ikut menonton majalah yang dibaca ibunya. Tak lama setelah itu, dia melihat bukti nyata di depan matanya, bukti nyata seorang pengamen yang nasibnya tidak jauh berbeda dari korban perang dan kelaparan. Kritik sosial sangat kental di cerpen ini, terlebih teguran untuk para orangtua agar memberi penjelasan apa pun dan jujur dalam segala hal kepada anaknya, bahwa di luar sana banyak orang yang masih menderita. FYI, anak mbak Leila S. Chudori juga bernama Rain, entah terispirasi oleh anaknya atau bukan, cerpen ini sungguh bagus, terasa nyata.

9. Malam Terakhir

Tentang ketidakadilan dan kekuasaan, dan seorang gadis melihat ketidakadilan tersebut dilakukan oleh ayahnya sendiri yang penuh kuasa di pemerintahan.

“Ulat-ulat kecil…,” isak si Kurus tiba-tiba, “akan hancur diinjak sepatu bergerigi itu. Tapi, ulat kecil itu akrab berdekapan dengan tanah. Dan mereka akan menyuburkan bumi ini dengan udara kebenaran.”

8417548

cover tahun 1989, gambarnya mewakili cerpen 1989

Ada banyak tema yang bisa diambil dari kesembilan cerpen di atas, tentang feminisme, kebebasan, tentang komitmen, pernikahan, issue sosial dan politik, ketidakadilan, kasih sayang kepada orang tua, tentang kehilangan, kepura-puraan, bahkan ada yang berbau religius. Untuk gaya bahasanya, di buku ini banyak mengunakan metafora, seperti di cerpen Adila dimana dia mempunyai fantasy berteman dengan orang-orang yang terkenal akan kebebasannya, cerpen Keats yang terasa aura suramnya karena adanyanya burung gagak dan John Keats yang berdialog dengan Tami, di cerpen Malam Terakhir ada seorang tahanan wanita yang alat vitalnya digerogoti oleh tikus, seperti itu. Buat saya yang pemula dalam membaca buku sastra, saya harus mencernanya pelan-pelan bahkan membacanya berulang-ulang untuk mengerti maksud sebenarnya. Memang sedikit berbeda dengan Pulang yang gaya bahasanya lebih ‘apa adanya’, tidak banyak bahasa metafora sehingga lebih mudah saya terima.

Untuk tokoh favorit saya sebenarnya suka Marc, dia menginggatkan saya akan Segara Alam (salah satu tokoh di Pulang), persetan dengan kegilaannya dia terlihat keren dengan goresan yang dihasilkannya. Sedangkan untuk tokoh perempuan, saya suka Ilona, dia wanita yang kuat, tahu apa yang dia mau meskipun bertentangan dengan moral dan agama, yang penting dia bahagia menurut versinya.

17729972

cover tahun 2012, gambarnya mewakili cerpen Adila

Covernya suka, hanya saja saya tidak tahu gambar di cover tahun 2009 mewakili cerpen apa, berbeda dengan dua cover pertama dan terbaru sangat jelas terlihat. Minim typo dan fontnya juga sedang, tidak mengganggu ketika kita membacanya. Buku ini tidak ada ilustrasi seperti di novel Pulang atau kumcer 9 dari Nadira, cukup disayangkan, walaupun kadang susah dimengerti, ilustrasi yang ada di tiap bab mewakili isi ceritanya, membuat kemasannya semakin menarik. Buku ini juga mengalami seleksi dari edisi lama, dipilih beberapa cerita pendek yang mewakili penulis dan zamannya, gaya sederhana yang memiliki kompleksitas cerita. Sayangnya tida disebutkan berapa jumlah cerpen di edisi pertama yang diterbitkan oleh Pustaka Utama Graffiti. Setelah membaca ketiga bukunya saya tidak menemukan perubahan besar dalam gaya tulisan mbak Leila, setelah dua puluh tahun vakum menerbitkan buku, di buku terbarunya saya masih mendapati sajak kematiannya John Keats, salah satu penyair favoritnya, tokoh-tokoh dalam Mahabharata, ruang-ruang pribadi bagi tokoh perempuannya, tema keluarga yang selalu diangkat ke dalam ceritanya, mungkin di buku terbarunya, Pulang, saya merasa lebih cocok karena bahasanya yang lebih ringan tanpa mengindahkan tema berat di dalamnya.

Buku ini saya rekomentasikan buat pecinta sastra indonesia, khususnya bagi pemula seperti saya 😀

3 sayap untuk yang ditabrak malam.

Petualangan Naif dan Mesin Waktu #4: Jerat-Jerat Waktu

Cover-komiknaif-4

by Franki Indrasmoro

story board & tinta: Suryo Nugroho & Joko Purwanto

penerbit: KPG

cetakan I: Oktober 2011

ISBN: 978-979-97-0388-8

 

Siapa sih yang nggak tahu sama grub band Naif? Band yang mengusung tema retro baik penampilan atau pun lagu-lagunya ini sudah tidak perlu lagi disangsingkan kalau di atas panggung. Nah, kalau di atas kertas bagaimana kiprah mereka? Saya baru tahu kalau Naif, atau lebih tepatnya Franki atau lebih dikenal dengan nama Pepeng, sang drummer, otak dibalik komik berseri ini yang tau-taunya udah seri keempat aja, hehe. Seneng banget waktu dikasih tau sama penerbit KPG kalau saya memenangkan buku ini, apalagi dipilih langsung sama penulisnya (lebih seneng lagi kalau ada tanda tanggannya) XD. Walau langsung lonjat ke komik keempat tidak membuat saya bingung, komik ini bisa berjalan sendiri walaupun lebih baik kalau membacanya secara urut. Cerita ini hanya fiksi belaka, jadi kalau ada kesamaan nama, tempat, waktu, abaikan saja :))

Cerita berawal dari Buya, manager Naif yang kelimpungan mencari anak asuhan mereka yang tiba-tiba menghilang, padahal konser mau segera dimulai. Akhirnya dia mencari naif gadungan, orang-orang yang mirip sama personel band Naif. Kocaknya, Naif gadungan ini tidak mengerti sama sekali tentang musik, yah walaupun tampangnya mirip XD. Lalu dimana Naif berada?

Jakarta, tahun 2024, David sang vocalis terlempar ke masa yang akan datang. Tau-taunya dia sudah berada di Heaven Devil Bar, tempat nongkrong anak Jakarta jaman besok, di sana dia mendapati keributan yang dilakukan oleh Jason, anaknya yang juga telah membuat sebuah band dengan nama Jasaon and The Ribs. Jason marah karena sang ayah melarangnya membentuk sebuah band, terjadilah konflik antara anak dan ayah. Setelah masalah selesai, David terlempar lagi di jaman bahulak.

Tahun 1933, David terlempar di masa penjajahan VOC. Di sana dia kembali bergabung dengan personil lainnya, Emil, Pepeng, dan Jarwo. Nggak taunya, Emil terlibat kisah cinta dengan Roekiyah, tapi sayang cinta tak terbalas. Setelah anggota band terkumpul semua mereka berencana pulang dengan radio antik yang membawa mereka melalang buana. Tapi, Emil tidak mau pulang karena ingin mengejar cintanya, terjadilah perkelahian antara Emil dan Pepeng, karena mereka harus pulang bersama-sama. Sewaktu bertengkar mereka tak sengaja menabrak radio antik dan tersedot ke masa jamannya Saung Kampret. Ada apa di sana? Baca deh 🙂

Seru, seru dan kocak. Selain disuguhkan dengan ilustrasi yang color full dan apik, kita juga dibawa ke masa yang bersejarah. Selain mendatangkan tokoh di masa itu, penulis juga memberi keterangan siapa mereka. Contohnya tentang Roekiyah dan Komik Saung Kampret (komik favorit penulis, buah tangan Dwi Koen). Lucunya lagi, waktu terlempar ke tempo doelu itu, bahasanya juga menggunakan ejaan van Ophuijsen, haha kocak deh pokoknya (tentu ada keterangan juga apa itu ejaan di buku). Kita nggak akan binggung waktu baca, selain bisa bikin ketawa, komik ini juga nambah pengetahuan juga, kan?

Kekurangannya? Terlalu tipis bukunya, hahaha. Nggak sampai setenggah jam saya sudah selesai bacanya. Selain itu konfliknya jadi cepet selesai, jadi yah berasa kurang, kurang tebel =))

Kita tunggu aja kelanjutannya, mau di bawa kemana lagi Naif menjelajahi waktu, baca-baca sih bakalan ada 5 seri. So, semoga lanjutannya lebih tebel dan cepet terbit :p

3 sayap untuk Jerat-jerat waktoe 🙂

 

NB: Tentang Penulis

Pepeng_naif

Franki Indrasmoro Sumbodo, lahir di Kudus 15 Januari 1976, ia lulusan D3 Fakultas Seni Rupa/Desain Grafis IKJ (1994-1999). Ketika berusia 17 tahun, pengoleksi action figure dan komik ini berhasil meraih Juara Harapan I Lomba Menggambar Kobo-Chan (Elex Media Komputindo). Setelah itu Franki digaet majalah Hai sebagai Freelance Illustrator selama dua tahun (1993-1995).

Tahun 1995 ia banting setir ke dunia musik. Selain menjadi main talent video klip band Netral, “Walah”, bersama David, Jarwo, Chandra, dan Emil, Franki mendirikan Band Naif yang masih eksis sampai sekarang (walau Chandra sudah mengundurkan diri pada tahun 2003). Di band tersebut, yang mempunyai panggilan akrab Pepeng, berperan sebagai drummer. Selain penulis lagu (Posesif), ia juga yang mendesain sampul kaset/CD beberapa album Naif dan memproduseri beberapa video klip Naif.

Franki juga membuat gebrakan baru dengan menjadi konseptor dan penulis komik Petualangan Naif dan Mesin Waktu. Bisa mengenal lebih dekat lagi dengan Franki di www.frankiindrasmoro.com

Hmmm, dari sejarah dia dulu emang nggak jau-jauh dari nggambar ya 🙂