13 Reasons Why

12814659

Coba bayangkan seandainya saja jika kau pulang dari sekolah dan menemukan kotak sepatu berisi 13 rekaman dalam 7 kaset yang direkam oleh gebetanmu, kaset yang berisi alasan kenapa dia bunuh diri dua minggu sebelumnya? Mungkin kau akan merasa seperti Clay Jensen, tidak percaya, ingin muntah dan bagaimana bisa? Terlebih dia menjadi salah satu alasan Hannah Baker bunuh diri. Setiap kaset memiliki nomor yang ditulis dengan cat kuku berwarna biru tua di sudut kanan atas, setiap sisi kaset memiliki nomor yang berbeda. Nomor satu dan dua di kaset pertama, nomor tiga dan empat di kaset kedua, dan seterusnya. Tugas bagi si penerima adalah mendengarkan dan mengedarkan. Setelah selesai dia harus mengirim ke orang berikutnya yang sudah terencana. Tidak hanya kaset itu, Clay juga mendapatkan peta kota dengan sekitar selusin bintang berwarna merah yang menandai tempat yang berbeda-beda di sekitar kota, peta yang akan mendukung kejadian yang dialami Hannah. Mungkin kalian sudah tidak sabar mendengarkan isi kaset tersebut bukan? aku ambil walkman dulu, dan, Play:

KASET 1: SISI A –> Justin Foley, dia ciuman pertama Hannah.

KASET 1: SISI B –> Alex Standall, yang membuat daftar Kelas Satu — Yang Sexy/ Yang Tidak Sexy

KASET 2: SISI A –> Jessica Davis, orang yang pernah sama-sama melakukan Olly-olly-oxen-free

KASET 2: SISI B –> Tyler Down, juru foto buku tahunan

KASET 3: SISI A –> Courtney Crimsen, salah satu cewek paling populer di sekolah

KASET 3: SISI B –> Marcus Cooley. Oh My Dollar Valentine!

KASET 4: SISI A –> Zach Demsey, menyabotase surat-surat Hannah

KASET 4: SISI B –> Ryan Shaver, yang memncuri puisi Hannah

KASET 5: SISI A –> Clay Jensen. Romeo, oh Romeo

KASET 5: SISI B –> Justin Foley. Pesta awal segala bencana

Hampir selesai, jangan menekan tombol Stop dulu ya

KASET 6: SISI A –> Jenny Kurtz, pemandu sorak dari kantor OSIS

KASET 6: SISI B –> Bryce Walker, kotoran di kehidupan Hannah

KASET 7: SISI A –> Mr. Porter, satu-satunya orang dewasa yang terlibat dalam masalah Hannah

KASET 7: SISI B –> *suara dengungan statis* …….

Klik.

Apa yang dilakukan oleh ke-13 orang di atas pada Hannah?

Suicide. Bunuh Diri. Tindakan yang dilakukan oleh orang yang depresi, putus asa akan masalah yang dialaminya dan memilih jalan tersebut untuk menyelesaikannya. Mungkin masalah awal sepele, tapi begitu merentet ke masalah yang lainnya, seperti bola salju, masalah itu akan menumpuk dan kita tidak tahu seberapa besar jadinya. Waktu membaca ini rasanya seperti membaca After-nya Amy Efaw, memahami keadaan psikis seorang remaja. Sendirian dalam menghadapi masalah. Rasanya sakit ketika membaca bagian Clay setiap kali bilang, “Ada aku.” Tapi dia terlambat, tidak bisa menyelamatkannya. Hannah yang termasuk orang baru di kotanya, tidak mempunyai teman dekat, dua orang yang sangat dipercaya menjadi musuh, orang tua yang sibuk, sampai pelecehan sexual. Dan ketika dia meminta bantuan orang dewasa untuk menyelesaikan masalahnya, pilihannya adalah menghadapi atau melupakan. Bagi Hannah, masa remaja tak seindah kata orang-orang.

Saat mengejek seseorang, kau harus bertanggung jawab saat orang itu bereaksi terhadap ejekanmu.

Seperti kalimat yang ditulis oleh penulis di bagian Tiga Belas Alasan (Yang Tersirat), 13 pertanyaan untuk Jay Asher, dia berkata:

Pada dasarnya, meskipun Hannah mengakui bahwa keputusan bunuh diri benar-benar keputusannya sendiri, kita perlu berhati-hati dalam memperlakukan orang lain. Meski ada orang yang tampaknya tak acuh terhadap komentar kita atau tidak terpengeruh oleh suatu rumor, kita tidak mungkin tahu segala hal yang terjadi pada kehidupan orang lain itu, dan mungkin saja kita malah menambah rasa sakitnya. Orang-orang dapat menimbulkan dampak pada kehidupan orang lain, dan itu tidak bisa disangkal.

Kadang awalnya kita menganggap ejekan itu semacam “guyon” tapi kalo yang diejek itu tidak terima dan bersikap “karep mu” yang disimpan sendiri, itu bisa menjadi duri dalam daging, bumerang, selalu terbayang kalau kita dijuluki si itu, padahal kita tidak suka.

Geez, saya seperti Clay yang tidak bisa berhenti mendengarkan rekaman dan sangat penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya, apa kesalahannya? Saya tidak bisa berhenti membacanya, benar-benar menguras habis cadangan kesabaran saya. Sejak membaca sinopsisnya sudah sangat tertarik sekali, idenya benar-benar jenius, tema yang mungkin udah tidak asing lagi tapi disuguhkan dengan cara bercerita tidak biasa, rekaman kaset. Alurnya pun cepat, melompat-lompat, dan mulus, cerita buku ini hanya berlangsung kurang lebih dalam satu hari saja, kita seperti berada di samping Clay dan mengikuti perjalan sehari dengannya, menguak isi kaset tersebut. Covernya juara! Lebih suka cover terjemahannya daripada versi aslinya, benar-benar menggambarkan isi cerita. Saya pun bisa terhanyut akan karakter Hannah dan Clay, betapa sedihnya mereka menghadapi masalah, betapa susahnya mereka bicara satu sama lain. Tidak ada yang tidak saya suka dari buku ini.

 

5 sayap untuk ke-13 rekaman.

 

13 Reasons Why

by Jay Asher

Penerjemah: Mery Riansyah

Penerbit: Matahati

ISBN: 1595141715

Cetakan: I, September 2011

287 halaman

 

NB: Thirteen Reasons Why adalah novel pertama Jay Asher, bayak sekali penghargaan yang didapat, keren ya, berikut daftarnya:

  1. New York Times Bestseller
  2. Publisher Weekly Bestseller
  3. Best Book for Young Adults (YALSA)
  4. Association of Booksellers for Children — Best Book
  5. Barnes & Noble — Top 1- Best for Teens
  6. Kirkus Review Editor’s Choice
  7. California Book Award Winner

*Review ini saya ikutkan dalam Annual Contest yang diadakan oleh Oky, dengan syarat: ada “angka” pada judul buku.*

The Imaginarium Geographica #1: Here, There Be Dragons

8758785

Penulis: James A. Owen

Penerjemah: Barliani M. Nugrahani

Penerbit: Matahati

ISBN: 602859018-5

Cetakan Pertama, Juli 2010

445 halaman

 

Sinopsis:

Tiga orang pemuda, seorang pria eksentrik, dan sepasukan monster Wendigo haus darah dipertemukan dalam sebuah malam kelam dan berkabut di London. Bersama kehadiran si pria eksentrik, terkuaklah rahasia Imaginarium Geographica, sebuah atlas yang menggambarkan seluruh negeri yang tersebar di dunia mitologi dan legenda, fabel dan dongeng.

Ketika keselamatan Imaginarium Geographica terancam, nasib dunia pun berada di ujung tanduk. Malam itu, John, Charles, dan Jack menerima tanggung jawab berat sebagai Juru Kunci Geographica, sebuah tugas yang mengharuskan mereka membelah Dunia menuju Kepulauan Mimpi.

Dengan detail-detail menawan, penuturan menakjubkan, dan humor yang menggelitik, James A. Owen membuktikan diri sebagai penulis kisah fantasi yang menjanjikan pada masa ini.

 

My Review

Pertama lihat covernya berharap banyak sama buku ini, tapi kok baca di awal-awal nggak seru dan datar, mandeg beberapa saat dulu eh keterusan. Baru dibaca kembali kemaren pas BBI ngadain baca bareng terbitan buku Matahati, lumayan lah ada penyemangatnya untuk menamatkan buku ini.

Sebenernya idenya seru, tiga laki-laki dipertemukan karena alasan yang sama, Profesor Sigurdsson yang mati dibunuh. Setelah bersaksi mereka berkumpul di Beker Street 221B untuk membahas kenapa Profesor meninggal dan mendekatkan diri, bagaimana mereka bisa mengenal Profesor, namun bincang santai mereka diganggu oleh seorang pria yang mirip dengan robekan ilustrasi dalam cerita karya Jacob dan Wilhelm Grimm. Pria yang bernama Bert itu menunjukkan sebuah buku yang berjudul Imaginarium Greographica atau Geografi Imajiner, sebuah atlas geografi imajiner untuk memandu seseorang dari satu tempat ke tempat lainnya di sebuah dunia imajiner, tempat negeri-negeri dongeng yang disebut Kepulauan Mimpi. Dari situ mereka tahu kalau Prefesor mati dibunuh karena buku itu. Dan Bert berkata kalau John dan kedua temannya adalah Juru Kunci buku tersebut, orang yang bisa membaca altlas Kepulauan Mimpi tersebut. Setelah cukup terkejut mendengar kenyataan tersebut, mereka harus cepat melarikan diri karena dikejar Wendigo, Aven, anak Bert yang sudah menunggu dengan Kapal Indigo Dragon langsung mempercepat laju kapal. Menuju Kepulauan Mimpi.

Petualangan mereka pun dimulai…

Hah, kok sampe disitu aja sinopsis ceritanya? Hehe, biar penasaran aja soalnya petualangan mereka masih sangat panjang. Setelah berlayar kita akan berkenalan dengan para awak kapal Indigo Dragon yang ternyata adalah faun (makhluk setengah manusia setengah kambing), bertemu ksatria hijau, sang penjaga Avalon (sebuah pulau yang merupakan batas antara perairan dunia dengan perairan Kepulauan), bertemu dengan Kapten Nemo dan kapalnya Nautillus, bertempur dengan Black Dragon, kapal Raja Musim Dingin, musuh besar mereka yang tidak mempunyai bayangan, tangan kanannya berkait baja, yang memiliki pasukan Shadow-Born, menginjar Geographica. Bukan itu saja, masih ada kurcaci, Troll, Uruk Ko sang Raja Goblin, Raja Sekop, Ratu Hati. Mereka juga menerima undangan teh dari seorang leluhur naga, Samarath yang memberikan pilihan menerima undangan tersebut atau mati, pilihan yang mudah sekali bukan? yang nggak kalah seru, ketika mereka terdampar di Pulau Byblos, mereka bertemu dengan Ordo Maas, sang leluhur manusia yang meminjamkan salah satu kapal  Dragonship, White Dragon.

Bocoran dikit deh, berkat Samarath juga, John berhasil menguak sedikit peta dan mengetahui cara untuk menemukan kartografer Tempat-tempat yang Hilang dan mengetahui rencana sesungguhnya kenapa Raja Musim Dingin begitu mengingginkan Geographica, yaitu untuk memanggil naga.

Tetapi, terkadang, yang penting bukanlah menjaga sesuatu yang berharga namun menjadi seorang penjaga yang berharga, sehingga jika dikemudian hari sesuatu yang perlu dijaga tiba di sini, tidak ada lagi yang perlu dipertanyakan.

Bingung ya sama reviewnya? Aku sendiri juga bingung kok sama ceritanya, hehe. Mungkin karena pernah mandeg dan dari awal baca udah nggak ada feel sama buku ini, ditambah disambi baca buku yang lain, bacanya pun jadi nggak konsen. Yang bikin seru buku ini adalah sama seperti seri Nicholas Flamel, banyak tokoh dunia, makhluk mitologi dan dongeng dunia yang nyelip di buku ini. Contohnya saja kematian Profesor, pembunuhan terjadi pada pertengahan Maret, sama persis dengan kematian Julius Caesar yang ditulis oleh Shakespeare, Baker Street 221B flat yang ditinggali Sherlock Holmes, Oxford, Charles Dickens, ada juga Juru Kunci sebelumnya diantaranya adalah Alexander Dumas, Hans Christian Anderson, Arthur Conan Doyle, Edgar Allan Poe, dan masih banyak lagi nama-nama terkenal. Bagian yang paling saya suka adalah Di Dalam Penjara Waktu, hoho permainan waktunya keren.

Sebenarnya saya berharap akan menjumpai petualangan berlayar seru seperti di komik One Piece dengan Geographica sebagai panduannya, tapi sampe akhir pun tidak ada yang berhasil membacanya, yah mungkin John mendapatkan petunjuk sedikit mengenai peta atau atlas tersebut tapi tidak terlalu di sorot, lebih ke pertempuran yang menurut saya tidak seru. Terlebih soal naga, hah masak cuman si Samarath sama yang dipanggil pas pertempuran itu saja? Intinya, jauh dari harapanku. yang udah baca Nicholas Flamel pasti bisa merasakan serunya dimana banyak tokoh dunia di dalam satu buku tersebut, sayangnya membaca buku ini saya tidak mengebu-ngebu seperti membaca Nicholas series. Tadinya pengen ngasih  dua sayap, tapi menilik cover, ilustrasi yang keren dan mengetahui nama asli John, Charles, dan Jack pada ending buku ini dan sukses membuat saya berkata “hah” jadilah saya memberi:

3 sayap untuk petualangan ke Kepulauan Mimpi.

 

The Warlock (The Secrets of the Immortal Nicholas Flamel #5)

Warlock

Sinopsis:

Scathach, Joan of Arc, Palamedes, Saint-Germain, dan Shakespeare terjebak di waktu dan tempat yang sangat luar biasa. Mereka ada di Danu Talis, sebelum pulau tersebut mengalami kehancuran. Mereka berlima, serta beberapa Tetua, mengemban misi yang luar biasa penting bagi kelangsungan hidup seluruh alam bayangan.

Sementara itu si kembar dalam legenda telah terpisah, salah satunya lebih memercayai Dr. John Dee, dan siap membantu sang Doktor dalam mencapai tujuannya -menghancurkan dunia. Bersama Virginia Dare, Niccolo Machiavelli, dan Billy the Kid, mereka berencana melepaskan monster-monster buas ke San Francisco, untuk menghancurkan humani.

Namun, dua dari lima orang ini akhirnya berubah pikiran, dan menyatakan diri sebagai Warlock – pengingkar janji.

Nicholas Flamel sendiri sedang sekarat. Dia mungkin tak akan sanggup melewati hari ini, padahal pertarungan pamungkas sudah di depan mata. Mampukah Perenelle Flamel mempertahankan suaminya?

 

Review

Kembali ke kata seru 😀

Menemukan kembali efek kejut ditiap ending bab. Setelah adem ayem di buku keempat, saya merasakan kembali semangat membaca buku ini. Yah, walaupun tidak banyak tokoh baru yang muncul, semua pertanyaan dari buku pertama mulai terkuak. Setting waktunya cuman berlangsung sehari Rabu 6 Juni, sama sekali tidak terasa.

Sophie sangat terluka dengan penghianatan saudara kembarnya, atau malah sebaliknya?

Mars Ultor telah dibebaskan kembali, oleh istrinya Zephaniah untuk melawan Dee. Dia juga bertemu kawan lama, Isis dan Osiris. Zephaniah bilang kalau dunia memerlukan kehadiran Warlock lagi. Tidak hanya Mars Ultor saja yang ingin membunuh Dee, dengan alasan karena dia telah mencoba membangkitkan Coatlicue yang dahulu kala telah banyak membunuh teman Mars Ultor, ada juga Odin dan Hel yang juga mempunyai dendam kusumat pada Dee. Selain itu Isis dan Osiris telah menyatakan Dee sebagai Utlaga, menawarkan keabadian, kesejahteraan, dan pengetahuan yang tak terhitung kepada siapa pun yang berhasil membawa Dee hidup-hidup. Setelah sampai di  Brodway dan Scott Street dia dijemput oleh Rajawali Hitam, yang sebelumnya telah diperintahkan oleh Tetuanya Kulkukan untuk menjemput Odin dan Hel, membawa mereka kekediaman Tsagaglalal sang Pengawas.

Nicholas sekarat, dia akan mati, Perenelle mengunakan sisa hidupnya untuk membuat suaminya bertahan hidup, untuk mati bersama-sama. Bersama Niten, Prometheus dan Sophie, pasangan Flamel mengajak mereka untuk menemui Tsagaglalal, selain alam bayangan Prometheus akan runtuh. Di sana Perenelle meminta bantuan Sophie untuk memberikan sedikit auranya guna menyalurkan ke tubuh Nicholas melalui scarab, sebuah ukiran kumbang yang apabila disentuh akan berpendar, berdenyut dengan cahaya hijau hangat. Mars Ultor, Odin, Hel dan Rajawali Hitam sampai dikediaman Tsagaglalal dan bereuni dengan Prometheus dan Niten. Prometheus, Niten dan Pasangan Flemel akan menghadapi Lotan yang akan menghancurkan kota, sedangkan Mars Ultor, Odin dan Hel akan pergi ke Alcatraz untuk melawan Dee yang akan menghancurkan dunia dengan diantar oleh Rajawali Hitam. Lalu Sophie yang ingin sekali bertemu dengan saudara kembarnya apakah bisa bertemu kembali dan menyadarkannya?

Dee, Dare dan Josh pergi ke Alcatraz untuk membangkitkan monster jahat. Dee berhasil menciptakan gerbang ley dengan menggunakan pedang-pedangnya. Mereka bertiga berhasil ke Alcatraz dan bertemu dengan Marchiavelli dan Billy the Kid. Dee meminta Nereus untuk membangkitkan Lotan dengan menghisap darahnya agar dia mematuhi perintah Dee, melepaskan binatang buas pemakan daging dan peminum aura untuk menghancurkan kota. Haha, ngakak waktu Billy bilang, “Bodoh adalah nama tengahku.” Dia masih saja kocak. Ada satu lagi bagian yang saya suka, ada di halaman 64:

“Billy,” ujarnya cepat, “aku akan menjadikanmu murid dan mengajarimu semua yang aku tahu – dengan satu syarat, ” lanjutnya.

“Apa?” tanya Billy hati-hati.

“Kau harus menutup mulutmu selama sepuluh menit ke depan.”

Bahkan saat Marchiavelli belum berhenti berbicara, bau busuk menyengat dari ikan dan gangang busuk menyerbu masuk ke dalam terowongan.

Dan sesosok monster muncul dari keremangan.

Billy the Kid tanpa sadar melangkah mundur. “Astaga, jelek sekali–“

“Billy!”

Hahahaha, Billy memang cerewet sekali, tidak bisa diam, suka deh :))

Dengan melalui tiga belas gerbang Alam bayangan, Scathach, Joan of Arc, Saint-Germain, Palamedes, William Shakespeare dan Marethyu (laki-laki bertangan kait) sampai di Danu Talis, sebelum mengalami keruntuhan. Apa sebenarnya tujuan mereka? Temukan sendiri XDD. Perjuangan mereka tidaklah mudah karena mereka harus melawan Anpu yang berada di dalam Vimana atau piring terbang terbesar, mereka ditangkap dan dipenjara di atas gunung berapi aktif. “Tidak ada satu pun penjara di dunia ini yang bisa menawanku” kata Scatty. Bahkan Scatty yang selalu bisa meloloskan diri kehilangan ide untuk mempertahankan gelarnya tersebut.

Kasih bocoran sedikit deh, Sophie berhasil menguasai sihir Tanah dan Josh juga sudah menguasai sihir Udara, lalu siapa yang membangkitkannya? Baca sendiri.

Oh ya, selain Mars Ultor yang mempunyai julukan sebagai Warlock, akan ada tambahan tiga orang lagi yang akan mempunyai gelar itu, satu tokoh di masa lalu, dan duanya di masa sekarang, tambah penasaran kan? 😀

Catatan penulis dalam buku ini adalah tentang Vimana dan Pesawat, pengen tahu dong “asal usul” piring terbang.

Banyak rahasia yang mulai terbongkar, ramalan-ramalan, kisah masa lalu, semua mulai terkuak di sini. Hanya saja ada yang kurang, mungkin bisa dibilang perasaan saya ketika membaca buku ini sama halnya dengan apa yang dipikirkan Sophie, bingung dengan keadaan yang menimpanya. Setelah selesai membaca pun saya masih bertanya-tanya, ini akhirnya akan gimana? Saya benar-benar tidak bisa menebak bagaimana akhir dari seri Nicholas Flamel ini, memang ada yang bisa saya tebak, seperti siapa sebenarnya Isis dan Osiris yang mengacu pada identitas Tsagaglalal di dunia para humani. Asiknya buku ini adalah kejeniusan penulis mengobrak abrik tokoh dunia, sejarah yang ada, mencampurkannya menjadi cerita yang kaya akan pengetahuan. Jujur saja, sebelum baca seri ini pengetahuan saya tentang mitologi dunia nol besar, saya tidak suka dengan sejarah, sukanya ya dari membaca buku fiksi seperti ini :D. Selain para tokohnya, buku ini menawarkan rasa yang berbeda, bagian yang seharusnya menegangkan dibuat konyol seperti membangkitkan elemen yang saya menganggap biasa saja, sampai adegan pertarungan yang seharusnya heboh dengan makhluk buas pun tidak ada baunya. Penjahat yang tidak terlihat jahat, yub duo Marchiavelli dan Billy the Kid adalah penjahat favoritku, haha mereka konyol sekali.

Harga dari cinta adalah apa pun… sekaligus segalanya.

Untuk cover, lingkaran yang mengelilingi kotak saya artikan sebagai lambang Mars Ultor (kiri atas), Codex (kanan atas), lelaki bertudung/laki-laki bertangan kait/ Marathyu (kiri bawah), yang kanan bawah nggak tahu artinya, hehe, kayaknya sih berbau mitologi mesir, tapi apa? Kemudian ada kumbang hijau yang menceritakan penyaluran aura yang dilakukan Perenelle untuk suaminya agar tetap hidup. Yah, hanya itu saja yang saya tahu :p.

Untuk terjemaha
nnya, saya merasa tidak konsisten, di buku sebelumnya nama Rajawali Hitam adalah Elang Hitam, buku Abraham Sang Mangus menjadi Abraham Sang Magi, dan bunyi ramalan menjadi “Dua yang satu harus menjadi satu yang semua. Satu untuk menyelamatkan dunia, satu untuk menghancurkannya.” Agak membingungkan kan dari ramalan yang saya tulis di buku pertama?

Di samping kesalahan yang sedikit itu, buku ini tetap wajib dibaca buat penggemar seri Nicholas Flamel, bisa dibilang buku ini adalah pintu masuk untuk menuju ruang utama.

Sangat berharap  The Enchantress (The Secrets of the Immortal Nicholas Flamel, #6) segera terbit, udah nggak sabar nunggu endingnya T.T

8519822

4.5 sayap untuk sang pengingkar janji.

 

The Warlock (The Secrets of the Immortal Nicholas Flamel #5)

penulis: Michael Scott

penerjemah: Mohammad Baihaqqi

penerbit: Matahati

ISBN: 602859039-8

cetakan pertama, Januari 2012

471 halaman.

The Necromancer (The Secrets of the Immortal Nicholas Flamel #4)

The_necromancer

Sinopsis:

Saat terjadi Litha semakin dekat.

Para Tetua Gelap semakin kuat.

Josh dan Sophie Newman akhirnya kembali ke San Francisco, setelah petualangan tanpa henti di Ojai, Paris, hingga London. Mereka menyadari bahwa ada lebih dari sekedar butiran kebenaran dari setiap mitos dan legenda. Pengalaman dan ilmu yang mereka peroleh dalam seminggu terakhir, membuat keduanya bingung akan seluruh masa depan mereka. Si kembar belum menguasai seluruh sihir yang diperlukan untuk menghadapi para Tetua Gelap, sementara Dr. John Dee masih terus mengejar mereka tanpa lelah.

Sementara itu di London, Dr. John Dee, yang untuk kesekian kalinya gagal melaksanakan tugas dari majikan Tetuanya, kini dinyatakan sebagai buronan dan berbalik dikejar oleh sekian banyak makhluk buas. Namun, Dee memiliki rencananya sendiri untuk menguasai dunia.

 

Review

Kurang seru

Entah ya, buku keempat ini serasa biasa aja, efek kejutnya sedikit sekali, alurnya masih cepet, setting waktunya pun juga sama hanya berselang dua hari, Selasa 5 Juni dan Rabu 6 Juni. Sama seperti sebelumnya juga, jika ada musuh yang baru maka akan ada peran protagonis yang baru. Hanya saja menurut saya perpindahan tokoh ditiap bab jaraknya kadang terlalu lama sehingga “rasa” kejutannya mulai hilang. Adegan pertempurannya pun juga tidak terlalu seru. Saya akan menulisnya kejadian yang dialami tiap tokoh.

Nicholas dan Flamel kembali ke toko buku mereka Small Book Shop yang sudah porak poranda, mengambil senjata rahasia mereka yang tertinggal. Sedangkan Josh dan Sophie kembali ke rumah bibi Agnes, di sana mereka bertemu dengan Aoife sang bayangan, saudara kembar Scathach dan laki-laki Jepang bernama Niten, si Ahli Pedang, dikenal juga sebagai Miyamoto Musashi. Sophie “diculik” oleh Aoife dan Niten, sehingga Josh terpaksa meminta bantuan pasangan Flamel. Dengan mudah mereka mengetahui lokasi keberadaan Sophie, Aoife hanya ingin berbincang-bincang dengan Sophie tanpa ada gangguan, walau hubungannya dengan saudara kembarnya tidak akur, dia dapat merasakan kalau ada bahaya yang mengancam Scatty dan dia merasa kalau kembarannya “pergi”. Oh ya, mereka juga menemui Prometheus, untuk membangkitkan sihir Api milik Josh. 

Dr. John Dee nasipnya terancam karena telah gagal menjalankan tugas dari para Tetua, dia menjadi buronan, sudah diadili, dia pun mengarungi Xibalba untuk melarikan diri, yang biasa dikenal dengan Persimpangan, Sarang rasa takut, salah satu Alam bayangan kuno, daerah netral yang digunakan saat para Tetua dan tetua Gelap dari berbagai Alam Bayangan perlu mengadakan pertemuan. Dee juga dikejar oleh para Cucubuth (sangat langka, keturunan vampire dan Torc Madra, tentara bayaran, pemburu, peminum darah) dan dua burung gagak raksasa, Huginn dan Muninn. Mereka tak hidup dan tak mati, berada diantaranya, kedua burung itu adalah makhluk abadi yang bisa bicara seperti manusia, diciptakan oleh Dewi Berwajah Tiga Hekate, sebagai hadiah bagi Tetua bermata satu Odin. Yub, Odin ingin balas dendam karena Dee telah membunuh Hekate. Pengejaran mereka untuk menangkap Dee tidaklah mudah karena dia mendapat sekutu, wanita dengan seruling mautnya, Virginia Dare.

Joan of Arc dan Schtach masih terjebak di zaman Pleistosen, melawan makhluk-makhluk buas dengan kekuatan yang tersisa. Saint-Germain pun meminta bantuan temannya, Ksatria Saracen atau Palamedes menemui Tetuanya agar bisa membawanya kembali pada istri tercintanya. Bersama Shakespeare, mereka pergi ke Hutan Sherwood untuk menemui Mater Tammuz, si Manusia Hijau, untuk mengirim ke masa lalu. Tapi, sang Tetua tidak bisa membawa mereka kembali, hanya bisa mengantarkan, hanya Cronos, sang Penguasa Waktu yang bisa membawa mereka kembali. Dan ketika mereka sampai ke masa lalu, Sait-Germain tidak hanya bertemu dengan Joan dan Scatty saja, dia bertemu dengan orang yang sudah mengajarinya mencuri sihir Api milik Prometheus dan yang mengajari Sang Alchemist menerjemahkan Codex, Lelaki bertudung yang mempunyai nama Marethyu, yang berarti kematian. Marethyu membawa mereka mengarungi dunia lain lagi, Danu Talis.

Nasip Marchiavellie dan Billy the Kid lebih mujur daripada Dee, walau gagal membunuh Perenelle, mereka ditugaskan untuk membangkitkan monster-monster yang terkurung di Alcatraz. Billy the Kid meminta bantuan temannya Ma-ka-tai-me-she-kia-kiak atau panggilan mudahnya adalah Elang Hitam. Elang Hitam membawa mereka pada seorang Tetua, Quetzalcoatl sang Ular Berbulu atau Kukulkan (saya sering sekali salah menyebutnya dengan kalkunkan :P) untuk membangkitkan monster tersebut. Ada perkataan Marchiavellie yang saya suka, begini bunyinya ketika Billy bertanya pada Marchiavelli:

“Apakah kau pernah terpikir untuk membunuh majikanmu?”

“Tidak pernah” jawab Marchiavelli.

“Mengapa tidak?” tanya Billy.

“Siapa tahu akan datang suatu hari saat aku menginginkan keabadianku dicabut, satu hari saat aku ingin menua dan mati.”

Satu hal yang saya dapat dari buku ini adalah, bahwa keabadian itu tidak melulu menyenangkan.

Konflik di buku ini adalah ketika Dee meminta bantuan Mars Ultor untuk mempengaruhi Josh yang baru dibangkitkan sihir Apinya untuk berpihak pada Dee. Dee memberi iming-iming pada Josh bahwa dia akan mengajari sihir pembangkit mayat atau nama bekennya Necromancer. Dee ingin Josh memanggil seorang Archon, Coatlicue, Induk dari Segala Dewa, Coatlicue adalah vampire pertama, musuh para Tetua.

Apa yang sebenarnya direncanakan Dee, lalu kepada siapa Josh akan berpihak? Bagaimana nasip Scatty dan kawan-kawannya? Apakah Marchieavelli dan Billy the Kid berhasil membangkitkan para monster di Alcatraz? Apakah pasangan Flamel masih bisa bertahan hidup dengan sisa waktu yang dimiliki mereka? Banyak sekali pertannyaan yang belum terjawab.

Bagian yang paling seru dari buku ini ada di akhir cerita, ketika Josh memanggil Coatlicue. Yak, hanya itu yang paling seru. Biasanya diawal cerita penulis akan menyuguhkan aksi heroik tapi saya tidak menjumpainya, sedikit kejutan ketika kakak adik Newman bertemu dengan Aoife dan Niten. Mungkin karna terlalu cepat alurnya atau terlalu cepat berpindah tokoh, tiap bab tidak terlalu banyak sehingga kayak nangung. Empat pedang berkekuatan besar -Durendal, Joyeuse, Clarent dan Excalibur- tidak terlihat kehebatannya, saya berharap banyak akan ada aksi mencengangkan dari keempat pedang tersebut, tapi nihil juga. Josh kurang mempelajari sihir Udara dan Tanah, sedangkan Sophie tinggal sihir Tanah, oh ya ada satu sihir tambahan lagi deng yaitu sudah saya sebutkan direview buku sebelumnya :D. Saya juga berharap penulis tidak lupa untuk merampungkan penguasaan sihir yang dilakukan Newman bersaudara dan berharap kekuatan itu akan sangat berguna dan terlihat dibuku selanjutnya. Bagi yang sudah membaca pasti tahu gaya penulisan Scott yang membuat adegan “biasa” dari kekuatan tersebut dan ketika melawan para musuh.

Biacara soal cover, salah satu yang menarik dari buku ini. Saya masih penasaran dengan lambang-lambang atau apa namanya dari cover buku ini. Saya hanya bisa menabak-menabak kalau gambar tengkorak melambangkan “senjata rahasia” yang dimiliki Perenelle, bulatan kiri bawah melambang
kan cemeti punya Perenelle yang diberikan kepada Sophie, yang tebuat dari rambut Medusa, dan kanan bawah hufur Jepang yang tidak saya tahu artinya tapi memahami dengan munculnya tokoh dari mitologi Jepang, Miyamoto Musashi. Dan pancaran yang keluar dari mata tengkorak adalah lambang dari sihir api yang sukses dipelajari Josh, apakah benar? Hehehehe, saya hanya menebak dan hanya itu saja yang saya tahu, mungkin ada yang mau menjelaskannya kepada saya? 😀

Untuk terjemahan sebenarnya tidak terlalu masalah, hanya saja saya melihat penerjemahnya berbeda-beda sehingga ada kata-kata yang berbeda pula. Di buku sebelumnya dituliskan sihir Udara sedangkan dibuku ini sihir Angin, nah jadi bingung kan?

Untuk tokoh, kali ini yang menjadi favorit saya adalah duo penjahat Marchiavelli dan Billy the Kid, hahahaha mereka sumpah kocak banget, obrolan mereka itu loh, coba baca sendiri bagian mereka, pasti akan paham apa maksud saya XD, mereka adalah penjahat fovorit saya.

Salut sama Dee, dia sebenarnya tidak terlalu kuat, mujur aja nasibnya, dia benar-benar penghasut ulung!.

Kali ini penulis menyisipkan sejarah tentang Alcatraz, tempat Perenelle disekap, tempat tinggal hantu de Ayala, tempat para monster mengerikan dipenjara.

Untuk melanjutkan buku setelahnya harus membaca buku ini dulu biar tidak bingung 😀

3.5 sayap untuk tengkorak kristal.

 

The Necromancer (The Secrets of the Immortal Nicholas Flamel #4)

penulis: Michael Scott

penerjemah: M. Baihaqqi

penerbit: Matahati

ISBN: 602859025-8

cetakan kedua, Februari 2011

484 halaman

 

 

 

The Sorceress (The Secrets of the Immortal Nicholas Flamel #3)

7363955

Sinopsis:

Sophie dan Josh Newman tiba di London, bersama Nicholas Flamel, untuk mencari seseorang yang dapat mengembangkan kemampuan sihir mereka. Namun, London adalah kota kekuasaan Dr. John Dee. tak ayal kedatangan mereka segera disambut oleh sergapan makhluk-makhluk suruhan Dee.

Sementara itu, Perenelle Flamel masih terperangkap di Alcatraz. Bersama si Laba-Laba Tua, dia mencari cara untuk bisa keluar dari pulau itu, tempat Dee menidurkan sekian banyak monster dan makhluk aneh di dalam sel-sel penjara.

Para Tetua Gelap memberi Dee kesempatan terakhir untuk menangkap Flamel dan si Kembar serta merebut dua lembar terakhir Codex, sementara Machiavelli ditugaskan untuk menangani sang Sorceress di Alcatraz.

Si Kembar dengan kekuatan yang semakin berkembang harus mengawal lembaran terakhir Codex itu demi kelangsungan hidup manusia. Bersama sang Alchemyst yang semakin menua, mereka harus menghadapi serangan Dee yang didukung penuh para Tetua Gelap.

 

Review

Dan jika aku menyerahkan Buku Abraham, maka Tetua Gelap akan kembali ke dunia. Bumi akan merasakan arti sebenarnya dari kata Armageddon. Membuka Alam Bayangan akan mengirim gelombang kejut ke seluruh penjuru dunia, mengakibatkan angin topan, gempa bumi, tsunami. Jutaan orang akan mati. Pythagoras pernah memperhitungkan bahwa mungkin setengah dari populasi dunia akan hancur hanya oleh kejadian awalnya saja. lalu para Tetua Gelap akan kembali ke dunia ini. Jika mereka sampai kembali ke planet ini, akan terjadi melapetaka yang menghancurkan keseimbangan dunia.

Makin seruuuuu.

Makin banyak tokoh baru, makhluk baru, konflik baru, makin banyak kejutan, puas deh bacanya.

Sama seperti sebelumnya, setting waktunya hanya berlangsung dua hari, yaitu pada hari Senin, 4 Juni dan Selasa, 5 Juni. Buku pertama lokasi di Amerika, buku kedua di Paris, dan di buku ketiga ini setting tempatnya di London, daerah kekuasaan Dee, di mana banyak mahkluk dan manusia abadi yang mengabdi pada Tetua Gelap sehingga rombongan Nicholas pun harus susah payah melarikan diri.

Scathach sang Bayangan, si Gadis Petarung entah ke mana ketika bertempur dengan Dagon sehingga dia terpisah dengan Flamel, Josh dan Sophie. Rombongan Flamel berhasil ke London dengan mengunakan gerbang ley, tapi Dee sudah memikirkan semuanya, dia meminta bantuan Genii Cucullati atau The Hooded Ones-Kaum Bertudung, Pemakan Jasad untuk menghadang. Dengan kekuatan yang sedikit tersisa, Flamel berhasil meloloskan diri dan atas bantuan Francis atau Saint-Germaint datanglah taxi yang menjemput mereka dan sang penolong adalah Palamedes, Ksatria Sarcen yang berpostur sangat besar dan berotot. Palamedes membawa rombongan Flamel ke dalam wilayahnya yang berupa kastil dari mobil-mobil bekas, banyak makhluk yang menghuni seperti larve dan lemur (yang tidak mati dan yang tak bisa mati), Noctural Spirit (roh-roh penghuni malam), Gabriel Hounds- Anjing-Anjing Gabriel atau Rachet (yang bisa berubah bentuk menjadi laki-laki muda seperti manusia) dan di sana mereka bertemu dengan mantan murid Nicholas Flamel, mantan kaki tangan Dee, William Shakespeare yang tidak pernah mandi, kalau marah dia akan melampiaskannya dengan memasak, yub, penyair yang legendaris itu. Flamel ingin Sophie dan Josh menguasai semua elemen, baik air, api, udara, dan tanah, dan ternyata bukan hanya empat ada satu lagi elemen, yaitu Aether, sihir kelima. Tujuan mereka ke London adalah untuk bertemu manusia abadi tertua di dunia, sang Leluhur Zaman, Penguasa Air, Gilgamesh sang Raja, dia gila, kadang lupa siapa namanya dan dia ingin sekali mati.

Kali ini Dee tidak main-main, dia sudah diancam oleh para Tetua kalau gagal lagi maka keabadiannya akan diambil, dia pun meminta bantuan Cernunos, Dewa Bertanduk (salah sutu Archon yang melegenda, ras Tetua, jauh lebih tua) untuk bertempur dengan Flamel-cs.

Perenelle Flamel masih terjebak di penjara Alcatraz bersama Laba-Laba Tua, energi mereka terkuras habis ketika melawan berjuta-juta lalat yang dikirim oleh Bily tha Kid/ Henry McCarty di mana menjadi manusia abadi ketika berusia 22 tahun dan sekarang bersama dengan Marchiavelli harus membunuh Perenelle. Kejadian tersebut membuat Areop-Enap harus tidur untuk menyembuhkan diri dari lalat-lalat beracun yang mengigitnya. Dia masih terperangkap bersama makhluk peminum darah dan pemakan daging; vetala, minotaur, Windigo, oni, troll, cluricaum dan sphinx yang sangat berbahaya bagi Perenelle karena dia penghisap energi sihir dan dia tidak bisa melarikan diri karena laut sudah dikuasai oleh Nereid liar, Sea Nymph-peri laut. Marchiavellie merencanakan menghidupkan seluruh makhluk buas yang terpenjara tersebut dan membunuh Perenelle yang terjebak di sana.

Kabar baik: ehmm, tidak akan saya ceritakan XD.

Kabar Buruk: Dee berhasil merebut pedang Clarent, sehingga dia mempunyai semua pedang berkekuatan besar, dia menggabungkan Excalibur dengan Clerent sehingga menjadi pedang yang sangat hebat. Scatty dan Joan berencana menyelamatkan Perenelle, sayangnya mereka malah terlempar ke zaman di Kala Pleistosen, masa diantara satu koma delapan juta tahun yang lalu hingga mungkin sekitar sebelas ribu lima ratus tahun lalu, ulah Marchievelli yang sihir pada gerbang ley di Notre Dame dan akan aktif pada Titik Nol Paris.

Quote Favorit:

Pada saat tak seorang pun menginggatmu lagi itulah saat kau benar-benar musnah. Itu adalah kematian yang sebenarnya.

Buku ini benar-benar penuh ketengangan, saya pun sudah bisa menebak gaya penulisan Michael Scott karena dibuku ketiga mempunyai alur yang sama dengan buku sebelumnya. Di awal dia akan langsung memunculkan konflik, pertempuran, musuh yang menyerang Flamel kemudian diakhir bab yang sedang genting itu dia akan cool down dengan menganti bab atau cerita bagian Perenelle, begitu sebaliknya, sehingga sukses membuat pembaca penasaran. Yang sangat saya sukai dengan tulisan Scott adalah dia membuat cerita yang penuh dengan mitologi, sejarah, tokoh terkenal dunia, alurnya cepat, banyak efek kejut di akhir cerita, dan kadang lucu. Bahkan, dibuku ini dia memunculkan William Shakespeare sebagai  salah satu tokoh pendatang baru. Di setiap buku, Scott juga akan memunculkan konflik baru yang menegangkan dengan makhluk-makhluk dan tokoh baru juga, dan di setiap setting tempatnya, dia juga bercerita tentang lokasi beserta sejarahnya, untuk buku ini sejarah yang diangkat adalah Stoneghenge dan Titik Nol. Nggak heran kalau dia dijuluki sebagai ahli mitologi.

Beberapa bagian yang membuat saya terkikik:

  • waktu Josh mengira kalau melawan werewolf itu dengan peluru perak, ternyata salah! Flamel dan Will membagi tipsnya hanya dengan menyemprotkan cuka, lemon, dan merica, dan ketika mereka berhenti untuk bersin-bersin, itulah waktu yang tepat untuk melarikan diri. 
  • Hal. 319, Ketika Dewa Bertanduk memandangi mereka satu persatu, dan berhenti di Alchemist. Ia menegakkan tubuh, mengangkat tongkat dinosaurusnya dan menunjuk pada Flamel. “Makan malam,” katanya, ujung tongkat itu bergerak menunjuk ke Palmedes. “Makan siang.” Tongkat itu berbalik melewati sang Alchemist dan menunjuk ke Shakespeare. “Kudapan.” “Kurasa itu suatu penghinaan,” gerutu si Penyair.
  • Dan yang terakhir adalah ketika Perenelle mencuri perahu Marchievelli dan Billy, hahaha saya benar-benar ngakak waktu membacanya, sebenarnya pengen saya ceritakan tapi nanti malah spoiler XD.

Untuk karakter tiap tokohnya, Perenelle, dia wanita yang sangat cerdik dan hebat, menguasai berbagai macam sihir dan ketika keadaannya tersudut pun dia tetap bertahan dan masih bisa merencanakan strategi, sedangkan Nicholas, walaupun masih penuh teka teki, dia juga hebat, akan mengunakan energin
ya yang sudah sangat melemah untuk melindungi si kembar, bagaimana pun caranya akan melindungi mereka, dan dia juga sangat mencintai Perenelle, jika mati dia ingin berada di samping istrinya. Sophie semakin kuat dan semakin menguasai elemen sihirnya, Udara dan Api, sedangkan Josh yang baru dibangkitkan belum tahu cara mengontrol diri, belum menguasai elemen apa pun, dia hanya memiliki pedang Clarent yang membuat dirinya merasa kuat dan hebat, ada keirian sewaktu kekuatannya belum dibangkitkan, dan Sophie tahu, bahkan Sophie tahu kalau Josh sangat menyukai kekuatan barunya sedangkan Sophie ingin kembali seperti semula, manusia biasa, saya sangat suka kedekatan mereka, saling melindungi dan akan berbuat apa saja demi keselamatan satu sama lain. Josh juga tambah membenci Nicholas ketka tahu banyak anak kembar sebelumnya yang mati karena disangka sang terpilih. Oh ya, di buku sebelumnya Josh diberi hadiah oleh Mars Ultor, dan hadiah tersebut berupa, keahlian dalam berperang, ahli strategi. Untuk pemeran antagonisnya, Dee, yak dia ambisius, seluruh hidupnya dipakai untuk memburu pasangan Flamel, tidak ada kata menyarah, sombong dan selalu memakai cara kasar untuk menjalankan misinya. lain halnya dengan Marchievellie, bisa dibilang dia penjahat baik, dia selalu memakai cara halus, dan tidak suka jika tindak kejahatannya memakan banyak korban humani, dia juga mengeluh waktu Hetake dibunuh oleh Dee, dia juga lucu :D.

Masih kurang tiga seri lagi dan sudah tidak sabar ingin membaca seri terakhir yang kabarnya terbit tahun ini, sepertinya harus menunggu setahun lagi untuk membaca terjemahannya. Masih sama, saya akan sangat merekomendasikan buku ini untuk dibaca bagi pecinta fantasi 😀

5 sayap untuk Gilgamesh yang gila.

 

The Sorceress (The Secrets of the Immortal Nicholas Flamel #3)

penulis: Michael Scott

penerjemah: Mohammad Baihaqqi

cover: Michael Wagner

penerbit: Matahati

ISBN: 602859010-x

cetakan pertama, Maret 2010

613 halaman.

The Magician (The Secrets of the Immortal Nicholas Flamel #2)

The_magician6290341

Sinopsis (Goodreads)

Nicholas Flamel, sang Alchemyst, manusia abadi, kembali ke tanah kelahirannya: Paris, Prancis. Bersama Scathach dan si kembar, Sophie dan Josh Newman, kedatangan mereka disambut oleh sang pakar kebohongan, manipulator handal, seorang lelaki Italia ambisius yang juga manusia abadi, Niccolò Machiavelli. Konon, ia jauh lebih berbahaya dari Dee. 

Sementara itu Perenelle Flamel ditawan di Alcatraz, dalam penjagaan ketat sphinx. Tapi jika Perenelle menyangka hanya sendirian di pulau kosong itu, ia salah. Alcatraz adalah pulau para hantu. Dan Perenelle bukan satu-satunya tahanan di sana. 

Di dua tempat terpisah, Paris dan Alcatraz, mereka harus berjuang mempertahankan dunia dari cengkeraman para Tetua Gelap. Dapatkah mereka berhasil melawan makhluk-makhluk yang hanya muncul dalam mimpi buruk, sementara Flamel semakin menua setiap harinya dan Dee tak kenal kata menyerah.

 

Review

“Aku pernah sekilas membaca mantra-mantra dalam kitab yang bisa meluluhlantakkan dunia ini jadi abu, manta yang bisa membuat gurun-gurun bersemi. Tapi Josh, bahkan jika aku bisa menggunakan mantra-mantra itu-dan aku tidak bisa- isi buku itu bukan milikku untuk dipakai.”

“Perenelle dan aku hanyalah Penjaga Buku. kami hanya menyimpan buku itu sampai bisa menyerahkan pada pemilik yang sah. Mereka akan tahu bagaimana menggunakannya.”

“Tapi, di mana pemilik sah buku itu? Di mana mereka?”

“Yah, aku berharap, mereka adalah kau dan Sophie.” 

Seru. Seru. Seru.

Kalau di buku pertama kejadian pada hari Kamis, 31 Mei dan Jumat, 1 Juni, di buku ini tidak berselang lama, yaitu Sabtu, 2 Juni, Minggu, 3 Juni dan Senin, 4 Juni. Buku setebal 574 halaman ini hanya berlangsung selama tiga hari dan tak terasa secepat itu.

Setelah bertempur melawan mayat hidup di Ojai, rombongan Flamel, Scatty, Jobs dan Sophie terbang ke Paris melalui Gerbang ley. Masih merasakan jetlag, mereka tidak bisa berleha-leha karena Dee tidak buang awaktu, dia meminta bantuan sekutunya untuk menahan mereka, Niccolo Marchiavelli -makhluk abadi paling berbahaya di Eropa- mengerahkan seluruh kekuasaannya sebagai kepala DGSE, badan inteligen di Prancis untuk mengepung mereka dan menciptakan Tulpa -moster lilin yang dihidupkan dengan kekuatan imaginasi- untuk menahan mereka. Sayangnya usaha Marchiavellie tidak membuahkan hasil, Sophie berhasil menciptakan kabut gelap sehingga nyaris tidak ada yang mengetahui keberadaan mereka.

Kalau Dee punya Marchiavellie sebagai sekutu, maka Flamel pun juga punya, atas bantuan penyihir Endor, mereka dibantu oleh Comte de Saint-Germain, mantan murid Flamel, yang mempunyai spesialis menciptakan batu permata, seorang musisi kenamaan di Prancis dan sang penguasa api. Oh, ditambah satu lagi, istri Saint-Germain, Jeanne d’Arc, Perawan dari Orleans, atau Joan of Arc, sahabat Scatty. Jeanne adalah humani terakhir yang juga mempunyai aura perak seperti Sophie walau tidak sekuat milik Sophie, dia mengajarinya mengontrol aura dan memilah antara ingatannya dengan ingatan penyihir Endor. Selain itu, Flamel meminta Saint-Germain untuk melatih Sophie menguasai elemen api. Lalu bagaimana dengan Josh? Flamel tahu kalau dia sudah dihasut oleh Dee sewaktu di Ojai sehingga membenci dan tidak mempercayai Flamel, tapi Flamel malah memberi dia dua lembar terangkir Codex untuk menjaganya dan memberinya pedang legendaris, Clarent.

Ada empat pedang berkekuatan besar, masing-masing dihubungkan dengan suatu elemen: tanah, udara, air, api. Konon, pedang-pedang ini ada sebelum munculnya para Tetua. Pedang-pedang itu mempunyai banyak julukan, Excalibur (pedang es yang dimiliki Dee yang pernah digunakan untuk menghancurkan Pohon Dunia/Yggdrasill) dan Joyeuse, Mistelteinn dan Curtana, Durendal dan Tyrfing. Nah, pedang yang diberikan Flamel kepada Josh adalah pedang kembarannya Excalibur, Clarent: Pedang Api. Hanya pedang itu yang bisa mengalahkan Excalibur. Semua takut kepada Clarent, dijuluki Pedang Pengecut, senjata jahat dan terkutuk, pernah digunakan Mordred untuk membunuh pamannya, Raja Arthur.

Selagi Saint-Germain melatih kekuatan elemen api Sophie, Dee dan Marchiavellie merencanakan akan menyergap kediaman mereka, untuk menghadapi Scatty, mereka mengundang Valkyre/Disir/ Perawan Ksatria/Musuh bebuyutan Scatty. Para Disir membawa petarung-petarung yang terlepas ketika Pohon Dunia hancur, Nidhogg, Pelahap Bangkai (bayangkan dinosaurus + ular). Pertempurannya seru, yah Dee dan Marchiavellie hanya ongkang-ongkang melihat rumah Saint-Germain hancur karena Nidhogg yang menerkam Scatty dan John berusaha menyelamatkannya dengan pedang Clarent dan merasa sangat hebat (walaupun memegang saja susahnya minta ampun), Jeanne dan Sophie yang menghadapi para Disir, Flamel yang tenaganya terkuras, sedangkan Saint-Germain asik mendengarkan musik dengan earphone sehingga tidak tahu kejaian yang ada di dapur rumahnya, benar-benar seru. Apalagi ketika Dee berhasil membujuk Josh untuk ikut bersamanya, Dee menawarkan kekuatan Josh akan dibangkitkan, dan tentu saja Josh langsung mau, karena memang itu yang diharapkannya, kekuatannya bangkit. Dee dan Marchiavellie membawa Josh ke Kotakombe, tempat yang dulunya tambang batu kapur dan sekarang berisi tulang belulang, Kota Orang Mati dan di sana hidup Sang Tetua, Mars Ultor, Dewa Perang.

Lalu bagaimana nasip Perenelle? Dia berhasil lolos dari penjagaan para Sphinx (yang mampu menyedot kekuatan sihir) dibantu penguasa pulau Alcatraz, hantu Juan Manuel de Ayala. Perenelle juga mengetahui kalau banyak moster yang mengerikan yang berada di penjara itu, dan dia juga mendapati banyak sekali sarang laba-laba, dia menelurusi bersama de Ayala dan mendapati kalau Dee juga menangkap Aerop-Enap, Tetua
laba-laba.

Yak, yak, yak, seru banget pokoknya. Yah, walau di awal alurnya agak lambat tapi tidak mengurangi keseruannya. Di buku ini banyak tokoh baru, mahkluk-makhluk baru, konfliknya pun lumayan banyak. Sophie sudah menguasai elemen udara dan api, sedangkan Josh kekuatannya baru dibangkitkan dan saya penasaran sekali hadiah apa yang diberikan oleh Mars Ultor kepadanya. Setiap ada musuh baru maka ada juga tokoh baru yang akan membantu Flamel, makin banyak mitologi-mitologi dan sejarah yang disisipkan. Benar-benar salut sama penulisnya, pengetahuannya benar-benar luas, membuat cerita dari tokoh sejarah paling masyur pada masanya. Di catatan penulis dia juga menuliskan fakta tentang Kotakombe (kalau di buku pertama menceritakan tentang Nicholas Flamel), membaca buku ini pengetahuan kita tentang sejarah dunia bertambah deh. Selain itu, keteganggan juga mewarnai buku ini, ketika cerita berada pada bagian genting dan berganti bab, maka cerita akan beralih sejenak ke Perenelle, begitu sebaliknya, mengejutkan.

Sophie pemikirannya lebih dewasa, sebaliknya dengan Josh, kadang sebel karena dia lebih mempercayai Dee daripada Flamel. Scatty masih sangat kuat dan senang ketika banyak musuh yang memburunya (sangat penasaran apa saja sepak terjang dia dulu sehingga banyak orang yang ingin membunuhnya), sedangkan Flamel semakin melemah, tapi dia tetap jenius dan punya rencana yang tidak ketebak. Saya suka ketika dia menjelaskan kepada Josh kenapa dia tidak pernah memberi informasi lengkap pada siapa pun, 

Kalau kau katakan semuanya pada seseorang, kau merampas kesempatannya untuk belajar.

Kekurangan buku ini hanya endingnya nangung, haha jelas lah ya karena masih ada lanjutannya, enam seri lagi dan ini buku kedua, masih panjang. Nggak ada keluhan untuk terjemahan ataupun cover. Untuk masalah cover saya penasaran akan simbol-simbol itu bacanya apa ya? Pokoknya, yang suka fantasy tidak akan bisa melewatkan cerita yang satu ini, ayo baca! :))

5 sayap untuk pedang Clarent.

 

The Magician (The Secrets of the Immortal Nicholas Flamel #2)

penulis: Michael Scott

penerjemah: Novia Stephani

cover: Michael Wagner

penerbit: Matahati

ISBN: 979-1141-36-3

cetakan pertama, Maret 2009

574 halaman.

The Alchemyst (The Secrets of the Immortal Nicholas Flamel #1)

3424418

Sinopsi (Goodreads)

Kebenaran: 
Nicholas Flamel, yang lahir di Paris pada tanggal 28 September 1330, dikenal sebagai Alchemyst termasyhur di masanya. Ia berusaha menciptakan ramuan untuk hidup abadi, dan mengubah logam biasa menjadi emas murni. Menurut catatan, sang Alchemyst meninggal pada tahun 1418, tetapi ketika dibongkar ternyata makamnya kosong. 

Legenda: 
Nicholas Flamel masih hidup karena ia berhasil menemukan ramuan untuk hidup abadi. Semua rahasianya ada dalam Buku Abraham sang Magus. Jika jatuh ke tangan orang yang salah, buku itu dapat membawa petaka bagi umat manusia. 

Terkadang, legenda merupakan kebenaran. 


Josh dan Sophie Newman tidak menyangka, ternyata pemilik Small Book Shop tempat Josh bekerja merupakan Nicholas Flamel, sang Alchemyst yang berusia lebih dari 600 tahun! Rahasia di balik umur panjangnya adalah Buku Abraham sang Magus, harta berharga yang telah dijaga Flamel seumur hidupnya. 

Kedua remaja berusia 15 tahun ini terlibat dalam perseteruan yang berusia ribuan tahun, ketika musuh bebuyutan sang Alchemyst, Dr. John Dee, berhasil merampas Buku Abraham dan menculik istri Nicholas, Perenelle Flamel. 

Kehidupan Josh dan Sophie seketika berubah. Terutama setelah mengetahui ternyata mereka bukan sekadar remaja biasa. Dalam diri si kembar tersimpan sebuah kekuatan hebat yang kelak akan menjadikan mereka penyelamat dunia.

 

Review

Seruuuu!!!

Awalnya agak males baca, biasa kalo baca fantasy dapet feelnya agak belakangan baru muncul. Iseng baca halaman terakhir tentang catatan penulis dan wow! ternyata Nicholas Flamel itu beneran ada, aku langsung googling dan nemu artikel tentang Nicholas Flamel di wikipedia (ketularan Josh, dikit-dikit googling cari tahu beneran ada apa nggak :D). Ternyata penulis mencampur adukan dengan sejarah, menarik nih.

Nicholas Flamel adalahsalah satu alkemis terbesar pada zamannya. Alkemi adalah perpaduan dari ilmu kimia, botani, kedikteran, astronomi dan astrologi. Ilmu ini memiliki sejarah yang panjang dan menonjol, juga dipelajari di Yunani dan Cina kuno, dan terdapat pendapat yang mengatakan bahwa ilmu ini adalah dasar ilmu kimia modern. Seperti halnya Dee, semua detail tentang Nicholas Flamel dalam The Alchemist adalah nyata.

Flamel terlahir pada 1330 dan memiliki mata pencahariaan sebagai pedagang dan penyalin buku. Pada suatu hari, dia membeli buku yang istimewa: Buku Abraham. Buku itu betul-betul ada, dan Nicholas Flamel memberikan detail yang sangat jelas mengenai buku bersampul tembaga yang ditulis di atas bahan menyerupai kulit kayu. Bersama Perenelle, Flamel menghabiskan lebih dari dua puluh tahun untuk melakukan perjalanan mengelilingi Eropa untuk menerjemahkan buku tersebut. Saat kembali ke Paris pada abad keempat belas, dia menjadi kaya raya. Desas-desus yang langsung berkembang menyebutkan bahwa dia telah menemukan rahasia terbesar dalam ilmu alkemi di Buku Abraham: cara menciptakan batu bertuah, yang mengubah logam biasa menjadi emas, serta cara mendapatkan keabadian.

Flamel dan Perenelle melanjutkan kehidupan dengan tenang dan tidak menarik perhatian, menggunakan kekayaannya untuk amal. Perenelle meninggal terlebih dahulu, tidak lama kemudian, pada tahun 1418 kematian Nicholas Flamel diumumkan.

Kemudian pada tengah malam buta, seseorang menjarah kuburan Nicholas Flamel dan Perenelle, dan ketika itulah diketahui bahwa kuburan itu kosong.

Hingga bertahun-tahun kemudian, terdapat penampakan pasangan Flamel di seluruh Eropa.

Belajar sejarah sedikit ga pa-pa yah :D, soalnya fakta diatas adalah akar dari cerita Nicholas Flamel ini. Gara-gara menyimpan buku keabadian itulah mereka diburu oleh Dr. John Dee seorang alkemis juga, anak buah Tetua Gelap. Jangan heran kalau buku ini banyak berseliweran makhluk mitologi kuno, makhluk purba, semua sejarah campur aduk deh.

Singkat cerita, Dee menemukan lokasi Flamel bersembunyi setelah beratus tahun, terjadilah pertempuran di toko buku milik Flamel. Pertempuran itu menyeret Josh karena dia bekerja disitu, juga dengan Sophie -saudara kembarnya- yang berkerja di seberang toko buku tersebut. Dee berhasil mencuri Buku Abraham sang Magus atau biasa disebut Codex dan menculik Perenelle, sayangnya dua lembar terakhir buku tersebut disobek oleh Josh. Karena tahu Dee akan kembali dan memburu lagi untuk mendapatkan lembaran terakhir itu, mau tidak mau Flamel membawa serta Josh dan Sophie karena mereka sudah terlibat cukup jauh. Flamel meminta bantuan Scathach, anggota Ras Tetua dan telah melatih semua pejuang dan pahlawan legendaris selama dua ribu tahun terakhir. Dalam mitologi dikenal dengan nama Gadis Petarung, sang Bayangan, Pembasmi Iblis, Pencipta Raja, dan panggilannya Scatty. Flamel percaya kalau Josh dan Sophie adalah pasangan kembar legendaris yang disebutkan dalam Codex. Codex menyebutkan tentang anak kembar beraura perak dan emas, dua menjadi satu, dan satu yang mencakup semuanya. Josh beraura emas dan Sophie beraura p
erak, mereka memiliki aura yang sangat langka. Kekuatan mereka hanya bisa dibangkitkan oleh Tetua dari generasi pertama, dia adalah Hekate atau Goddess of Three Faces – Sang Dewi Berwajah Tiga, dia kan melatih sihir si kembar Newman. Sayangnya hanya Sophie saja yang baru dibangkitkan kekuatannya, Hekate tidak sempat membangkitkan kekuatan Josh karena Alam Bayangan -kediaman Hekate- diserang oleh Dee yang meminta bantuan Crow Goddes – sang Dewi Gagak (dipuja dan ditakuti di seluruh kerajaan Celtic sebagai Goddess of Death – Dewi Kematian dan Destruction – Bencana), Dee juga berhasil menghubungi Tetua yang paling ditakuti: Bastet, Dewi kucing Mesir. Kejar-kejarannya seru, pelarian Flamel cs selanjutnya adalah menemui Witch of Endor -Penyihir mematikan dari Endor, Mistress of the Air – Penguasa Udara, nenek Scatty.

Coba kalau semua sejarah dibuat cerita yang menarik, pasti menjadi pelajaran favorit saya, hehe. Lalu gimana nasip mereka? Nasip Perenelle yang masih disekap Dee? Dan gimana cara membangkitkan kekuatan Josh? Yuk baca, serinya ada banyak loh, tapi dijamin seru kok 😀

  1. The Alchemyst (The Secrets of the Immortal Nicholas Flamel, #1)
  2. The Magician (The Secrets of the Immortal Nicholas Flamel, #2)
  3. The Sorceress (The Secrets of the Immortal Nicholas Flamel, #3)
  4. The Necromancer (The Secrets of the Immortal Nicholas Flamel, #4)
  5. The Warlock (The Secrets of the Immortal Nicholas Flamel, #5)
  6. The Enchantress (The Secrets of the Immortal Nicholas Flamel, #6)

Hehehe, banyak yah. Kalau di Indonesia sendiri sudah sampe The Warlock. Lanjut buku keduanya dulu :)).

Dari segi cerita sangat bagus dan menarik kalau menurut saya, benar-benar pure fantasy. Nggak ada adegan romantis hanya saja saya sangat menyukai ikatan antara Josh dan Sophie, mereka selalu ingin menjaga satu sama lain. Josh yang lebih banyak bertindak sedangkan Sophie lebih banyak berpikir, walau kadang cek cok tapi mereka tetap kompak. Kalau Nicholas Flamel sendiri lebih ke misterius, banyak teka-teki akan dirinya, apa yang akan dlakukannya tidak tertebak, dia tidak pernah menceritakan segalanya apa yang dia tahu, menariknya di situ. Kalau Perenelle tidak banyak muncul, tapi dia sangat menguasai ilmu sihir, Nicholas saja kalah, Dee juga takut dengan kekuatannya. Kalau Dee sepeti tokoh antagonis kebanyakan, keinginannya harus terpenuhi, dia juga cerdik walau lebih cerdikan Nicholas :p.

Covernya keren, unsur alkemis ya kalau nggak salah sama huruf kuno? Terjemahannya bagus, ada typo dikit, alurnya lumayan cepet, dari awal kita sudah disuguhi konflik, sayang agak lambat ditengah-tengah, agak bosan juga sih tapi setelahnya seru kok. Cerita setebel ini hanya berlangsung dua hari loh! Baru ngeh kenapa ada hari dan tanggal. Selain itu nggak ada masalah lagi :D. Pokoknya, yang ngaku suka fantasy harus baca ini #maksa.

4 sayap untuk sang Alkemis kita.

 

 

The Alchemyst (The Secrets of the Immortal Nicholas Flamel #1)

penulis: Michael Scott

penerjemah: Berlian M. Nugrahani

penerbit: matahati

ISBN: 979-1141-22-3

cetakan pertama, 2008

493 halaman

 


NB: Tentang Penulis

27100

Sebagai ahli di bidang mitologi dan cerita rakyat, Michael Scott adalah salah seorang penulis tersukses di Irlandia. Sebagai seorang pakar kisah fantasy, fiksi, ilmiah, horor, dan kisah rakyat, dia dinobatkan oleh Irish Times sebagi “Raja Fantasi di seluruh negeri.” Dia tinggal dan menulis di Dublin. Untuk lebih lengkapnya kunjungi www.dillonscott.com

literary awards (goodreads)