Manxmouse

10908273Manxmouse
by Paul Gallico
Penerjemah: Maria Lubis
Cover: Ella Elviana
Penerbit: Media Klasik Fantasy (a division of Mahda Books)
ISBN: 978-602-97067-3-4
Cetakan pertama, April 2011
227 halaman
Buntelan dari @MahdaBooks

Perkenalkan, namanya Manxmouse, dia adalah mahakarya gagal seorang perajin keramik asal Buntingdowndale, London. Dia kira dia telah membuat tikus paling indah dan paling halus yang pernah diciptakan, ketika dia membuka tungku, dia melihat bahwa yang diciptakan bukanlah makhluk super, tetapi suatu bencana, yang tidak pernah ada sepanjang sejarah pembuatan keramik.

Tikus itu warnanya bukan kelabu tetapi biru terang. Makhluk itu memiliki tubuh mungil yang gemuk seperti seekor opossum -hewan kecil berkantung yang bisa tinggal di pepohonan. Kaki belakangnya mirip kaki kanguru, cakar depan mirip monyet, lalu, telinganya mirip telinga kelinci. Namun, yang paling buruk dari semuanya adalah makhluk itu tidak memiliki ekor, hanya sebuah tonjolan kecil yang mungkin merupakan pangkal sebuah ekor. Perajin keramik merasa gagal total.

Awalnya dia ingin menghancurkannya karena tidak ingin suatu hari dipermalukan, tetapi ketika dia mengamati tikus tersebut dia tidak tega. Setelah menginggat-ingat, terlebih mengamati tonjolan yang seharusnya tempat ekor dia sadar kalau yang dibuatnya adalah Tikus Manx. Makhluk itu mirip kucing-kucing dari Pulau Man, yang seperti diketahui semua orang, tidak memiliki ekor juga dan dikenal sebagai Kucing-Kucing Manx. Lalu dia membuat keputusan akan menyimpannya saja, keesokan harinya, Tikus Manx sudah menghilang. Petualangan baru saja dimulai.

Buku ini berisi 12 bab, bab pertama adalah asal mula terciptanya Manxmouse, setelah itu adalah petualangan Manxmouse dalam pencarian jati diri atau pelarian dalam menghindari ketakutan terbesarnya. Dia tidak tahu siapa dirinya, setiap bertemu makhluk lain, mereka selalu bilang “Berhati-hatilah terhadap Kucing Manx.” Ada Ramalan Hari Akhir yang ditulis penyihir dan berkata kalau nasib Tikus Manx akan berakhir sebagai santapan Kucing Manx.

Saya kira buku ini biasa saja, tidak ada pesan khusus seperti yang saya harapkan. Saya selalu percaya kalau buku anak-anak pasti memiliki moral story, di mana biasanya dipakai para orangtua untuk mengajarkan sesuatu yang baik dan buruk. Saya masih awam dalam mengenal children literature, bukan genre kesukaan saya, Enid Blyton yang punya pengemar banyak gagal mengambil hati saya, saya merasa tulisannya terlalu kasar, banyak adegan kekerasan di dalamnya (Saya baru baca seri Malory Tower dan hanya mampu menyelesaikan seri pertama St. Claire). Kalau membaca buku anak, saya ingin mendapatkan sesuatu yang polos, sesuatu yang khas dimiliki anak-anak. Ternyata pendapat saya salah tentang buku ini.

Bisa dibilang kalau buku ini setengah fabel, di mana tokoh utama dan sebagaian besar adalah hewan. Tapi lebih menarik daripada The Wind in The Willow yang pure fabel, ada yang bilang kalau cerita fabel adalah cerminan kehidupan manusia, mungkin banyaknya tokoh yang menarik dan di setiap pertemuan selalu ada yang bisa diambil hikmahnya membuat buku ini lebih bisa saya terima. Tema utama buku ini adalah tentang bagaimana kita melawan ketakutan terbesar di dalam diri kita. Setelah merenung dan mencerna baik-baik setiap bab, inilah moral story yang saya dapat.

1. Kisah tentang Tiddly si pembuat tikus: mengajarkan kalau sebuah kegagalan tidak selalu berdampak buruk, pasti ada sisi lain yang suatu saat menjadi happy ending.

“Kadang-kadang, saat seseorang memiliki suatu ambisi selama hidupnya, bekerja keras dan terus berusaha tanpa lelah, dia bisa mendapatkan suatu saat penuh keajaiban. Dan tiba-tiba segalanya tampak mungkin.”

2. Kisah tentang Manxmouse dan Cutterbumph: Manxmouse pertama kali diperkenalkan oleh apa itu ketakutan dengan bertemu Hantu Cutterbumph. Ketakutan tidak akan tercipta kalau kita tidak memikirkannya, sesuatu yang tidak akan ada hingga seseorang membayangkannya.

“Dan sebenarnya, tidak ada orang yang pernah terlahir dengan ketakutan atau kekhawatiran terhadap sesuatu.”

3. Kisah tentang peristiwa-peristiwa di Nasty: tentang bagaimana kita seharusnya mendengarkan perintah orangtua yang biasanya benar, jangan seperti masuk ke telinga kanan dan keluar ketelingan kiri. Seperti yang dilakukan Induk Kucing Rumah kepada anak-anaknya yang melarang memakan Manxmouse walau si tikus justru malah menawarkan diri sendiri. Jangan mudah percaya kepada orang asing.

4. Kisah tentang Manxmouse dan kapten Pilot Hawk: jangan menilai orang dari luarnya saja, bisa jadi tampang sangar tapi murah hati. Manxmouse tidak mengira kalau pertemuannya dengan si burung pemangsa akan sangat menakjubkan. Dia kira nasibnya akan berakhir di tangan burung elang yang bernama Kapten Hawk, Pilot Senior, justru Manxmouse diajak terbang!

5. Kisah tentang perburuan besar Tikus Humbleton: tidak ada salahnya kita menolong teman yang sedang dalam bahaya.

6. Kisah tentang Nelly si gugup: Nellyphant, seekor gajah yang takut kepada seekor tikus, dan Manxmouse membuatnya berani mengatasi ketakutannya.

7. Kisah tentang Wendy H. Troy: perjalanan selanjutnya membawa Manxmouse bertemu gadis kecil yang kesepian  dan dianggap aneh oleh teman-temannya. Mereka menjadi teman baik. Hewan bisa menjadi sahabat manusia, mereka juga punya hak untuk hidup, bukannya dipakai untuk bahan percobaan di laboratorium.

8. Kisah tentang si harimau yang ketakutan: kabur bukanlah keputusan yang tepat untuk mengatasi masalah, seharusnya adalah menghadapinya.

9. Kisah tentang si pemilik toko hewan yang tamak: ketamakan adalah salah satu sifat keji manusia, ketamakan bisa membuat dirimu lupa semuanya, ingin lebih, lebih dan lebih, tidak akan pernah membuatmu puas.

10. Kisah tentang pelelangan Tikus Manx yang menakjubkan: dibagian ini adalah dampak dari sebuah ketamakan, yaitu merugikan diri sendiri.

“Tapi ini menggelikan! Seseorang akan menghabiskan uang sebanyak itu untukku? Aku tidak akan pernah mengizinkan itu terjadi. Aku tidak seberharga itu. Aku tidak akan pernah bisa menikmati tidur nyenyak lagi pada malam hari jika kupikir aku membiarkan seseorang membayar uang sebanyak itu,” di sini, wajahnya menjadi lebih murung. “Aku sama sekali bukan milik Mr. Smeater. Aku dimiliki oleh Kucing Manx… semua orang berkata begitu.”

11. Kisah tentang Manxmouse bertemu Manxmouse: di dalam diri Maxmouse ada dua sifat yang bersebrangan. Yang satu memiliki penampilan luar tenang dan terhormat, ramah dan selalu siap menolong, tidak pernah gelisah, tenang dan terkendali, seorang teman yang dibutuhkan siapa pun. Dan yang lain berisi ketakutan, tidak aman, dan diam-diam merasa takut di dalam hatinya, dia cenderung selalu ingin kabur, bukannya menghadapi apa pun yang harus dihadapi. Selain itu, dia percaya kata-kata orang lain bisa membuatnya takut. Yang mana kamu?

12. Kisah tentang Manxmouse bertemu dengan Kucing Manx: ingat, ketakutan tidak akan muncul kalau kita tidak menciptakannya. dan ketika ketakutan itu menyerang kita, kita harus berani melawan, entah hasilnya nanti bagaimana, yang penting kita berani mencoba. Titik puncak Manxmouse menghadapi ketakutan terbesarnya dan mencoba tidak melarikan diri.

Wow, ternyata banyak banget pesan moral yang bisa kita ambil dari cerita yang awalnya saya kira biasa-biasa saja. Memang harus pelan bacanya agar bisa memaknainya, khususnya bagi saya yang emang agak lemot ini. Terjemahannya menurut saya sangat bagus, mungkin agak susah menerjemahkan buku anak di mana masih bisa mempertahankan moral story di dalamnya. Masih ada sedikit typo, terlebih tidak konsisten dalam penulisan judul di tiap bab, contohnya ‘si’ di bab 9, kalau besar ya besar semua, kalau kecil ya kecil semua. Covernya oke, memudahkan kita membayangkan gimana sih sosok Manxmouse secara nyata? terlebih di dalamnya juga ada ilustrasi jadi tidak terasa sangat membosankan dan imajinasi kita terbantu.

Sudah banyak cerita anak atau film keluarga yang melibatkan tikus, sebut saja tikus yang pandai masak di Ratatouille (Pixar, 2007), tikus yang bisa menjadi sahabat manusia bahkan menjadi keluarga di Stuart Little (terbit pertama kali pada tahun 1945, ditulis oleh E.B White), dan tikus yang selalu bermusuhan dengan kucing dan anehnya selalu selamat berkat kecerdikannya, Tom & Jerry (diproduksi oleh MGM Cartoon Studio pada tahun 1940-1957, diciptakan oleh duo William Hanna dan Joseph Barbera atau Hanna-Barbera) :D. Manxmouse menjadikan tambahan cerita yang mungkin juga sangat menghibur buatmu, terlebih tema yang diusung sangat erat sekali dengan diri kita sendiri. Dari ketiga film tentang tikus yang sudah saya tonton dan tentang Manxmouse ini bisa saya tarik kesimpulan kalau tikus selalu digambarkan makhluk yang cerdik :p. Buku ini bisa dibaca oleh anak berusia mulai…. mungkin sepuluh tahun, melihat saya aja awalnya agak kesusahan mencernanya.

Kisah Manxmouse yang tidak kenal rasa takut ini terbit pertama kali pada tahun 1968 ditulis oleh Paul William Gallico, lelaki berkebangsaan Amerika yang lahir pada 26 Juli 1897, awalnya bekerja sebagai penulis dan editor berita olahraga. Selain Manxmouse, buku yang terkenal lainnya adalah Matilda, The Poseidon Adventure, seri Mrs. ‘Arris, dan  The Snow Goose yang melambungkan namanya. Buku yang katanya menjadi favoritnya J.K Rowling ini pernah juga diadaptasi oleh stasiun televisi Jepang, Nippon Animation pada tahun 1979 dengan judul Tondemo Nezumi Daikatsuyaku: Manxmouse (Manxmouse’s Great Activity). Dan pada tahun 1990an, Nickelodeon menyiarkan dengan judul The Legend of Manxmouse.

Buat yang suka cerita anak dengan tokoh utamanya hewan unyu, buku ini bisa menjadi pilihan.

3 sayap saya sematkan untuk melawan ketakutan.

Iklan

The Wind in The Willow

8194264

The Wind in The Willow: Embusan Angin di Pohon Dedalu

by Kenneth Grahame

Penerjemah: Rini Nurul Badariah

Cover: Ella Elviana

ISBN: 970-979-19926-4-0

Cetakan I: April 2010

Penerbit: Mahda Books

 

Selamat hari anak, hari ini saya akan mereview buku khusus anak, semoga bisa menjadi referensi ^^

 

Sinopsis:

Terjual lebih dari 100 juta kopi dan telah dicetak lebih dari 250 edisi dalam berbagai versi, The Wind in The Willow -pertama terbit tahun 1908- merupakan buku fabel terbaik sepanjang masa. Karya Kenneth Grahame ini tidak hanya bercerita mengenai petualangan seru, tetapi juga nilai-nilai persahabatan.

Kisah tentang persahabatan antara tikus tanah yang polos, tikus air yang mencintai sungai, luak yang bijaksana, serta katak yang ceroboh. Di tepi sungai yang indah dan hutan belantara yang angker, kisah mereka terjalin dengan indah dan mendebarkan.

 

Review:

Saya tidak ingat apakah pernah membaca fabel waktu kecil, yang jelas buku ini adalah buku fabel yang saya baca dewasa ini. Agak susah menceritakannya, hehe (sebenernya agak sedikit lupa juga sama ceritanya *toyor*). Intinya, seperti sinopsis di atas, persahabatan antara hewan-hewan yang mempunyai bermacam sifat.

Cerita di mulai ketika tikus tanah (Moly) keluar dari sarang menuju tepi sungai dan bertemu dengan tikus air (Ratty) yang ramah. Ratty mengajak <oly berperahu menyusuri sungai dan menunjukkan Hutan Rimba yang tidak pernah dikunjungi penduduk tepi sungai. Setelah puas, mereka beristirahat dan berpiknik, tidak lama mereka kedatangan tamu yaitu si berang-berang dan si luak tua yang pemalu, senang menyendiri. Keesokan harinya ratty mengajak Moly mendayungmengarungi sungai lagi, kali ini melihat rumah Tuan Katak. katak cukup kaya, ramah tapi suka membual, cenderung menyombongkan diri dan ‘lupa daratan’ bila sudah asik dengan perahu, kereta gipsi, serta mobil balap. Bicara tentang si katak, dialah yang paling repot membuat teman-temannya akan masalah yang dia buat dan menjadi konflik di buku ini.

Tidak itu saja, kalian juga akan berkenalan dengan Dorty anak berang-berang yang suka menjelajah, para landak, para rase, cerpelai, serta musang, satwa cerdik namun suka mencuri dari Hutan Rimba.

Keseluruhan buku ini cocok sekali dibaca oleh anak-anak. tidak ada kalimat yang kasar, dan ada beberapa ilustrasi yang indah, walau tidak banyak. Pesan moralnya pun jelas, tentang persahabatan, saling membantu dan sifat congkak itu suatu waktu akan merugikan diri kita sendiri.

 

3 sayap untuk penduduk tepi sungai.