Amba

15995172Amba
Penulis: Laksmi Pamuntjak
Desain sampul dan isi: Ari Prameswari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-979-22-8879-2
Cetakan kedua, November 2012
494 halaman
Buntelan dari mbak @kenpetung

Sinopsis:

Dalam epik ini, kisah Amba dan Bhisma dalam Mahabharata bertaut (dan bertabrakan) dengan kisah hidup dua orang Indonesia dengan latar kekerasan tahun 1965.

Amba anak sulung seorang guru di Kadipura, Jawa Tengah. Ia meninggalkan kota kecilnya, belajar sastra Inggris di UGM dan bertunangan dengan Salwa Munir, seorang dosen ilmu pendidikan yang mencintainya. Pada suatu hari di Kediri, ia bertemu dengan Bhisma Rashad, seorang dokter muda lulusan Universitas Leipzig yang bekerja di sebuah rumah sakit.

Percintaan mereka yang intens terputus mendadak di tahun 1965, di tengah ketegangan dan kekerasan politik setelah Peristiwa G30S di Kediri dan Yogya.

Bhisma tiba-tiba hilang—ketika Amba hamil.

Beberapa tahun kemudian, setelah Amba menikah dengan seorang peneliti keturunan Jerman, datang kabar bahwa Bhisma meninggal. Ia meninggal di Pulau Buru.

Rupanya selama itu, sejak sebuah bentrokan di Yogya, Bhisma, dijebloskan dalam tahanan di Jawa, dan sejak akhir 1971 dibuang ke pulau itu, bersama 7000 orang yang dituduh ‘komunis’ oleh pemerintahan Suharto.

Amba, yang tak pernah berhenti mencintainya, datang ke pulau itu dengan ditemani seorang bekas tapol, seorang lelaki Ambon. Ia berhasil menemukan surat-surat Bhisma yang selama bertahun-tahun ditulisnya untuk dia—tetapi tak pernah dikirimkan, hanya disimpan di bawah sebatang pohon.

Dari surat-surat yang selama bertahun-tahun disembunyikan ini terungkap bukan saja kenangan kuat Bhisma tentang Amba, tetapi juga tentang pelbagai peristiwa—yang kejam dan yang mengharukan—dalam kehidupan para tahanan di kamp Pulau Buru.

Melalui penelitian bertahun-tahun, melalui puluhan interview dan kunjungan ke Pulau Buru, Laksmi menampilkan sejarah Indonesia yang bengis, tetapi justru dengan manusia-manusia yang mencintai. Dalam sepucuk suratnya kepada ayahnya Amba menulis:

Adalah Bapak yang menunjukkan bagaimana Centhini sirna pada malam pengantin… Adalah Bapak yang mengajariku untuk tidak mewarnai duniaku hanya Hitam dan Putih, juga untuk tidak serta-merta menilai dan menghakimi. Hitam adalah warna cahaya. Sirna adalah pertanda kelahiran kembali.

My Review:

Alasan kenapa pengen baca buku ini adalah tema yang sama dengan buku Pulang, tentang G30SPKI yang melatari cerita. Nggak sama plek, cukup berbeda sebenarnya kecuali peristiwa berdarah yan pernah terjadi di Indonesia. Kalau Pulang bercerita tentang orang-orang yang tidak bisa pulang buku ini lebih ke pencarian seseorang, tentang pulau Buru, tempat yang pernah menjadi pengasingan tapol.

Cerita diawali dengan ditemukannya dua perempuan yang sepertinya habis ‘bertempur’. Perempuan pertama dilukai perempuan kedua dan tak sadarkan diri, tidak tahu siapa dia sebenarnya, darimana asal usulnya, sedangkan perempuan kedua yang mencoba membunuhnya adalah warga asli Waeapo, pulau Buru. Kejadian itu membuat geger seluruh kampung. Perempuan pertama ditemukan di tengah hutan dengan mendekap sebuah gundukan tanah. Baru setelah seorang laki-laki bernama Samuel datang, misteri demi misteri mulai terungkap. Perempuan pertama itu bernama Amba, dia datang ke pulau Buru untuk mencari suaminya yang hilang pada peristiwa 1965, empat puluh satu tahun yang lalu.

Sejak kecil Amba sudah terlihat feminis, dia berbeda dengan kabanyakan perempuan yang hanya selalu menurut, dia sulung dari tiga bersaudara, anak dari seorang bapak yang menjadi kepala sekolah dan ibu yang mengabdikan sepenuhnya untuk keluarga, mereka tinggal di Kadipura, Kediri. Bukannya cepat-cepat menikah dia malah ingin melanjutkan pendidikan ke universitas, Amba memang cerdas dan punya pendirian yang kuat, tak peduli pendapat orang lain, dia juga tidak percaya akan pernikahan. Di usianya yang kedelapan belas, orang tua Amba terlebih ibunya sangat mengkhawatirkan status putrinya itu, umur delapan belas belum menikah sudah memasuki gelar perawan tua, Amba pun tak kuasa menolak ketika orang tuanya mengenalkannya pada Salwa, pemuda yang mengambil hati kedua orang tua dan saudara  Amba, yang juga menyukainya. Mereka tidak langsung menikah karena Amba diterima di fakultas sastra Gadjah Mada, mereka bertunangan.

Pada pertengahan 1965 Salwa mendapatkan pelatihan guru di Universitas Airlangga selama setahun, di satu sisi Salwa tidak ingin berpisah dengan Amba di sisi lain Salwa tahu kalau Amba belum siap menikah, mereka pun menjalani hubungan jarak jauh dengan saling berkirim surat. Amba tidak ingin hanya berdiam diri menunggu Salwa menyelesaikan pelatihannya, sebuah iklan di surat kabar membawanya ke sebuah rumah sakit di Kediri, menjadi penerjemah dokumen medis seorang dokter lulusan luar negeri.

“Seorang lelaki harus dibikin jatuh cinta selamanya pada seorang perempuan agar ia tak pergi. Tapi, ia tak mengucapkannya: ini adalah rahasia terdalam.

Bhisma Rashad, dialah sang dokter, dialah yang akan memporak-porandakan kehidupan Amba. Cinta mereka membara di tengah panasnya politik saat itu, Bhisma dicurigai menjadi salah satu yang kiri dan perpisahan mereka pada malam itu, pada malam penyerbuan di Universitas Res Publica, menjadi perpisahan selama-lamanya.

“Tentu saja, ia amat akrab dengan cerita itu. Bagaiamana tidak, dengaan namanya. Sebagaimana adik-adiknya. Amba tumbuh bersama kisah Putri Amba yang pada suatu hari, bersama kedua adik kembarnya Ambika dan Ambalika, diculik oleh Bhisma dari sebuah sayembara. Mereka akan dikawinkan dengan Raja Wichitawirya dari Kerajaan Hastinapura. Amba menyaksikan bagaimana tunangannya, raja muda Salwa, dipermalukan setelah ia menantang Bhisma dan dikalahkan di tengah hutan, di hadapan pasukannya. Setelah itu, kegilaan. Amba menyaksikan begaimana rasa kehormatan laki-laki mengalahkan semua emosi di muka bumi -dan ia, putri kerajaan, dicampakkan setelah kekalahan itu, karena Salwa malu, karena Salwa punya harga diri yang lebih tinggi ketimbang cintanya. Tapi putri itu jga ditolak oleh penculiknya, karena Bhisma, ksatria luhur itu, ingin membuktikan rasa bakti yang tinggi, lebih tinggi ketimbang rasa kemanusiaannya. Para dalang kemudian bercerita bahwa Putri Amba menyimpan dendam kesumat sebesar samudra. Seluruh hidupnya adalah persiapan pembalasan terhadap kaum laki-laki.”

“Amba.” Ia tersenyum. “Dalam cerita wayang, nama itu nama tokoh wanita yang dicampakkan oleh dua lelaki.”

Kalau Pulang terispirasi kisah nyata, sepertinya buku ini juga, terispirasi dari seorang dokter ahli bedah keturunan Tionghoa, Dr. Oey yang mengapdikan diri seumur hidupnya di Irian Jaya, setelah kembali dari Stuttart, di buku ini Bhisma juga mengabdikan diri di Pulau Buru, dan lulusan dari Leipzig. Untuk kisah pewayangannya, kalau Pulang mengambik Drupadi dan Bima sebagai inspirasinya, di buku ini Amba dan Bhisma, saya lupa Amba ini apakah pernah disebutkan di buku The Palace of Illution – Divakaruni yan pernah saya baca, yang jelas kisah cinta yang saya tahu adalah Srikandi dan Bhisma, apakah Srikandi reinkarnasi dari Amba? Saya lupa. Srikandi dibuku ini digambarkan adalah anak dari Amba dan Bhisma.

G30SPKI, terinspirasi dari kisah nyata, dan ada kisah pewayangan yang disisipkan, itulah sedikit kesamaan dengan Pulang. Mau nggak mau saya menyamakan dan membandingkannya, tapi seperti yang saya katakan di awal, kedua buku ini berbeda. Peristiwa ’65 hanya ‘tempelan’ saja di Pulang, tema utama yang diusung penulis adalah kisah keluarga dan kisah cintanya pun sangat terasa, berbeda dengan Amba, bisa dibilang kebalikan dari Pulang, kisah cintanya hanya ‘tempelan’, buku ini banyak bercerita tentang keadaan sebelum dan sesudah ’65 meledak, bercerita tentang orang-orang yang tidak tahu apa-apa namun menjadi tersangaka peristiwa ’65, sedikit keadaan para tahanan di pulau Buru dan yang paling utama adalah pencarian untuk berdamai dengan masa lalu.

Jujur saja, saya sedikit bosan ketika membaca buku ini karena kisah cintanya tidak menonjol, hahahaha, saya emang mudah bosan baca buku sejarah, harus ada penyemangatnya dan buku ini sedikit sekali memberi dorongan, berbeda dengan Pulang yang alasannya bisa dibaca di reviewnya :p. Bukan berarti tidak menarik, melihat bagaimana penulis melakukan riset (sampai ke pulau Buru) tentu membuat buku ini wajib dikoleksi bagi pengumpul sejarah. Diksinya pun oke, kadang menyisipkan bahasa jawa atau asing yang pada tempatnya.

“Bukankah berpisah, mengucapkan selamat tinggal adalah salah satu kritis terhebat dalam kehidupan manusia?”

Saya sebenernya sebel banget sama Bhisma, sikapnya yang nggak tegas, mengantung perasaan Amba dan merasa tidak ada tempat tujuan pulang ketika sudah ‘enak’ di Buru sangat sangat menyebalkan. Yah, melihat kisah aslinya di buku Mahabharata, bukannya Bhisma memang diceritakan berjanji tidak akan menikah? Kadang kita harus menerima cerita yang memang semestinya berakhir adanya.

3 sayap untuk kisah cinta Amba dan Bhisma.

Les Miserables 2

17993486Les Miserables 2

Penulis: Victor Hugo

Penerjemah: Fahmy Yamani

Penerbit: Visimedia

ISBN: 979-065-170-8

Cetakan pertama, 2013

442 halaman

Buntelan dari @buku_visimedia

Sinopsis:

Setelah kehilangan kekayaan dan jabatan di Kota M. Sur M, Jean Valjean terpaksa kembali menjalani hukuman kerja paksa seumur hidup di Toulon. Saat bekerja di Kapal Orion, Valjean menyelamatkan nyawa seorang kelasi yang nyaris tewas terjatuh dari tiang kapal. Apa daya, Valjean harus membayarnya dengan kenyataan bahwa dirinyalah yang malah terjatuh ke dalam lautan. Valjean dinyatakan tewas secara resmi.

Tak lama setelah itu, seorang laki-laki paruh baya terlihat di Kota Montfermeil, tempat Cosette kecil menjalani kehidupan yang menyedihkan di rumah keluarga Thenardier setelah ditinggalkan ibunya, Fantine, sejak berusia balita. Valjean datang untuk menunaikan janjinya kepada mendiang Fantine. Janji untuk menyelamatkan Cosette dari cengkeraman pasangan Thenardier yang tamak.

Ternyata, tanpa disadarinya, Inspektur Javert yang sebelumnya sukses membongkar jati diri Valjean, menolak percaya begitu saja bahwa Valjean tewas ditelan lautan. Diam-diam, dia melakukan penyelidikan, mengendus Valjean hingga nyaris membuatnya kembali mengenakan rantai berbola besi di kaki.

My Review

Buku ini adalah sebuah drama, dengan tokoh terkemuka adalah Yang Mahakuasa. Manusia adalah tokoh kedua.

Sebenarnya mau saya ikutkan dalam posting bareng BBI bulan ini yang kategori sastra Eropa tapi karena akhir bulan bakalan sibuk banget dan udah lama banget dapat buntelan ini saya merasa bersalah kalau tidak cepat-cepat direview :p. Belum tahu pasti apakah visimedia akan menerjemahkan versi aslinya yaitu ada lima buku, yang jelas seri ketiga akan segera terbit. Nah seri kedua ini adalah lanjutan dari buku sebelumnya Les Miserables, di mana Jean Valjean tertangkap lagi oleh Javert, padahal dia udah berjanji kepada Fantine untuk menolong anaknya, Cosette.

Saya selalu suka dengan pengantar yang ditulis oleh Penghuni Rumah 57, memberikan gambaran tentang isi buku ini. Di seri kedua lebih banyak bercerita tentang Perang Waterloo, bahkan mengisi seperempat halaman dan ada sisipan tentang biara, maknanya, tentang iman dan hukum. Selain bercerita tentang sejarah Prancis, kali ini Victor Hugo menyentil aspek agama, juga diceritakan sedikit tentang asal usul Thenardier, kau-tahu-siapa.

Tapi saya tidak akan membahasnya, nanti reviewnya jadi sangat panjang XD. Langsung saja kita ke nasip Jean Valjean, bagian yang paling saya nanti-nantikan.

Jean Valjean ditangkap lagi dan dia dinyatakan mati ketika jatuh dari kapal Orion pada 17 November 1823, mayatnya tidak pernah ditemukan. Kemudian cerita beralih ke Montfermeil, ke Cosette dan keluarga Thenardier, di mana dia tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari orang-orang yang ditugaskan menjaganya, dia dijadikan budak, tidak ada tempat tidur yang layak, tidak ada pakaian yang pantas, selalu mendapatkan hukuman, dia hanya bisa iri ketika anak-anak dari pasangan Thenardier itu bermain boneka dan mendapatkan kemewahan yang seharusnya miliknya. Lalu pada suatu malam ketika dia disuruh mengambil air datang seorang laki-laki kumuh yang menolongnya, bisa ditebak siapa dia.

Anak-anak menerima kegembiraan dan kebahagiaan dengan spontan dan akrab, karena sifat asli mereka memang gembira dan bahagia.

Bagian saat Jean Valjean menjadi dewa penolong Cosette adalah bagian yang paling favorit di buku ini, terharu sekali. Jean Valjean selalu memberikan berapapun jika pasangan Thenaidier memerasnya, dia juga memberikan boneka yang awalnya hanya bisa dilihat Cosette di etalase sebuah toko. Dia berusaha memenuhi janjinya pada Fantine, dia tidak ingin kehilangan Cosette. Seumur hidupnya dia tidak pernah merasakan yang namanya kasih sayang, seumur hidupnya dia hanya merasakan kekosongan, dan ketika dia melihat Cosette, dia berjanji tidak akan pernah melepaskannya.

Apakah Jean Valjean akan lepas dari kejaran Javert? Lelaki yang terobsesi terhadap hukum itu tidak langsung percaya kalau Jean Valjean mati, dengan sembunyi-sembunyi dia menyusuri jejak Jean Valjean. Kejaran-kejaran mereka cukup menegangkan juga.

Walau lumayan sedikit kisah tentang Jean Valjean, buku ini tetap tidak bisa dilewatkan. Buku ini membawa kita kebagian di mana Jean Valjean menemukan sedikit kebahagiaan yang tidak pernah dia dapatkan sebelumnya, buku ini membawa pengejaran Javert tidak kenal lelah, dan buku ini membawa kehidupan baru untuk Cosette. Tidak sabar membaca buku ketiga di mana kalau tidak salah tebak, kita akan mendapatkan cerita baru tentang Cosette yang beranjak dewasa, can’t wait!

Saya cukup puas dengan cover kedua ini, tidak banyak tulisan yang berceceran di cover depan, lebih suka lagi kalau kutipan dari Victor Hugo ditiadakan *banyak maunya* hehehe. Sekarang bisa memahami kenapa di buku pertama ada tulisan Jean Valjean dan Fantine, ya karena di buku pertama yang menjadi sorotan utama adalah mereka berdua, sedangkan di buku kedua ini sudah jelas dengan nama Cosette. Penasaran sama buku ketiga apakah covernya Javert? Kita tunggu saja :D. Seperti biasa, walau ada sedikit typo tapi tidak terlalu mengganggu, terjemahannya tidak perlu diragukan lagi :D.

4 sayap untuk si kecil Cosette.

 

Pulang

16174176

Pulang

Penulis: Leila S. Chudori

Gambar Sampul dan Isi: Daniel “Timbul” Cahya Krisna

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia

ISBN: 978-979-91-0515-8

Cetakan pertama, Desember 2012

464 halaman

Harga: hadiah dari @bacaituseru

Sebelumnya tidak ada niat membaca buku ini, saya belum pernah membaca buku karya Leila S. Chudori sehingga saya tidak ingin mengambil keputusan yang salah, takut kecewa setelah membacanya. Tapi, membaca beberapa review di Goodreads, banyak yang berpendapat kalau buku ini adalah buku yang paling ‘ngena’ tentang tragedi 30 September 1965, saya pun langsung penasaran dan pengen baca. Terimakasih sekali kepada Goodreads Indonesia yang memberi saya kesempatan membaca salah satu Historical Fiction dalam negeri ini, yang akhirnya memperkenalkan saya akan tulisan Leila S. Chudori yang setelah selesai membaca buku ini saya langsung kepengen membabat semua karyanya. Tidak mudah bagi saya untuk tertarik membaca genre diluar romance dan fantasy, saya bisa langsung jatuh cinta sama To Kill A Mockingbird, The Boy in The Striped Pyjamas, Sarah’s Key karena bisa membuat saya kembang kempis ketika membacanya, ikut terhanyut akan apa yang dialami tokohnya, saya berharap ada buku hisfic dalam negeri yang bisa membuat saya seperti itu, Gadis Kretek hampir, tapi tidak sampai berhari-hari saya memikirkan tokoh utamanya. Buku ini sukses membuat saya tidak bisa move on dari Segara Alam #abaikan :D.

“Rumah adalah tempat di mana aku merasa bisa pulang,” jawab Dimas. Dingin. Datar.

Ada tiga bab utama dalam novel ini, Dimas Suryo, Lintang Utara dan Segara Alam. Di awali dengan prolog tertangkapnya Hananto Prawiro, seorang redaktur Luar Negeri dari Kantor Berita Nusantara di Jalan Sabang, Jakarta pada 6 April 1968. Hananto adalah mata rantai terakhir yang akhirnya diringkus. Kantor Berita nusantara digeledah dan diobrak-abrik karena dianggap sangat kiri, Hananto berhasil melarikan diri dan masuk daftar orang-orang paling diburu, sebagai gantinya tentara membawa Surti Anandari, istrinya beserta ketiga anaknya untuk diinterogasi selama berbulan-bulan bahkan sampai tiga tahun karena tentara tak kunjung menemukan Hananto. Pada masa itu ada istilah Bersih Diri (kebijakan di tahun 1980-an yang dikenakan kepada seseorang yang terlibat dalam Gerakan 30 September, anggota PKI atau anggota organisasi sejenisnya) dan Bersih Lingkungan (dikenakan kepada anggota keluarga seseorang yang telah dicap komunis). Sampai akhirnya tentara menemukan persembunyian Hananto di Jalan Sabang, Hananto merasa sudah waktunya berhenti, dia mendengar kabar kalau istri dan anaknya dipindahkan dari Guntur dan Budi Kemulian (tempat interogasi), dia ingin keluarganya bisa hidup aman.

Dimas Suryo, dia merasa berhutang nyawa pada Hananto Prawiro, kalau saja Hananto tidak meminta mengantikannya untuk datang ke koferensi jurnalis di Santiago, tentu Dimas lah yang ditangkap. Saat itu Hananto sedang mengalami masalah pribadi, istrinya, Surti Anandari mengajak anak-anaknya untuk kembali ke rumah orangtuanya dikarenakan perilaku Hananto yang seorang penjahat kelamain, sering gonta-ganti ranjang. Hananto ingin menyelamatkan rumah tangganya sehingga dia tidak bisa pergi jauh. Dimas tidak bisa menolak, dia berharap Surti bahagia. Sebelum menikah dengan Hananto, Dimas dan Surti adalah sepasang kekasih. Bahkan, nama anak-anak Surti sekarang; Kencana, Bunga dan Alam adalah nama pemberian Dimas, yang sebelumnya dia rencanakan untuk anak mereka nantinya. Tapi, ketika Surti ingin mengenalkan Dimas kepada keluarganya, Dimas menghindar, dia belum siap berhadapan dengan keluarga Surti yang terdiri dari dokter-dokter.

Drupadi.

Seluruh kakak beradik Pandawa adalah suaminya. Tetapi adalah Bima yang selalu ingin melindunginya dari Kicaka maupun Dursasana. Yang tragis bagi Bima, Drupadi jauh lebih mencintai Arjuna. Aku betul-betul tak tahu dan tak pernah mencari tahu apakah Surti jauh lebih mencintai Mas Hananto daripada aku. Tetapi aku tahu, dia membuat pilihan.

Aku lebih tak tahu lagi mengapa sampai detik ini, setelah bertemu dengan Vivienne yang jelita dan menikahinya, hatiku masih bergetar setiap kali mengenang Surti. Barangkali aku sudah terlanjur memberikan hatiku padanya. Untuk selama-lamanya.

Pada saat konferensi International Organization of Journalist di Santiago, Cile berlangsung. Dimas dan Nugroho mendengar meletusnya prahara 30 September 1965, peristiwa yang menewaskan beberapa perwira tinggi militer Indonesia dalam percobaan kudeta yang dituduhkan kepada PKI. Bersih Lingkungan dan Bersih Diri digalakkan, mereka tidak bisa kembali ke Indonesia, mereka hanya bisa berharap keluarga mereka tetap aman. Setelah itu, Dimas dan Nug memutuskan untuk bertemu dengan Risjaf di Havana, Kuba. Kemudian mereka menetap selama tiga tahun di Peking, Cina, tempat dimana banyak orang yang senasip dengan mereka. Merasa tidak nyaman, Dimas mengusulkan untuk pindah ke Eropa, dan kebetulan teman mereka, Tjai ingin bertemu. Dipilihlah Paris sebagai rumah baru mereka, rumah persinggahan mereka. Di sana Dimas bertemu dengan Vivienne Deveraux di kampus Universitas Sorbone ketika terjadi revolusi Mei 1968. Le coup de foudre. Cinta pada pandangan pertama, itulah yang dirasakan Vivienne ketika bertemu dengan Dimas. Tak lama setelah pertemuan itu mereka menjadi pasangan kekasih, memutuskan menikah dan lima tahun kemudian mempunyai anak semata wayang yang diberi nama Lintang Utara. Bersama ketiga temannya -Nugroho, Risjaf, dan Tjai- mereka mendirikan Restoran Tanah Air. Satu-satunya bentuk perlawanan karena mereka tidak bisa pulang, satu-satunya cara mengobati rindu akan ibu pertiwi. Empat Pilar Tanah Air.

Katakan, apakah sebatang pohon yang sudah tegak dan batang rantingnya menggapai langit kini harus merunduk, mencari-cari akarnya untuk sebuah nama? Untuk sebuah identitas?

Ayah tahu, dia ditolak oleh pemerintah Indonesia, tetapi dia tidak ditolak oleh negerinya. Dia tidak ditolak oleh tanah airnya. Itulah sebabnya dia meletakkan sekilo cengkih ke dalam stoples besar pertama dan beberapa genggam bubuk kunyit di stoples kedua di ruang tamu hanya untuk merasakan aroma Indonesia.

Lintang Utara mendapatkan tugas akhir untuk membuat film dokumenter tentang Indonesia, sebuah negara yang tak pernah dia sentuh, sebuah negara yang hanya dia dengar dari ayah beserta tiga sahabatnya yang pengetahuannya terhenti setelah tahun 1965 dan dari perpustakaan ayahnya, sebuah negara yang tidak akan bisa dia datangi bersama ayahnya. Dia ingin membuat satu jam dokumentasi tentang sejarah Indonesia. September 1965. Akibat yang terjadi pada keluarga korban, keluarga dari tahanan politik atau keluarganya; mereka yang sama sekali tidak paham atau tidak ada urusan dengan tragedi September tetapi ikut menderita hingga sekarang. Lintang ingin memahami Indonesia dan ayahnya, tidak hanya tentang sejarah yang penuh darah dan nasib eksil politik yang harus berkelana mencari negara yang bersedia menerima mereka. Ada sesuatu tentang ayah Lintang yang selalu peka terhadap penolakan. Tentang seseorang yang sampai sekarang ada di hati ayahnya, seseorang yang menyebabkan retaknya rumah tangga kedua orangtuanya.

“apa yang bisa kita petik dari I.N.D.O.N.E.S.I.A? Itu yang ingin kulakukan.”

Lima bulan Lintang puasa bicara dan bertemu ayahnya karena dia bersikap kasar sewaktu memperkenalkan Narayana Lafebvre sebagai pacarnya. Nara sama seperti Lintang, anak dari percampuran darah Prancis dan Indonesia, bedanya dia bukan anak eksil. Tapi ketika dia mendengar kalau ayahnya jatuh sakit dia tidak tega dan ingin sekali bertemu dengan ayahnya sekaligus membicarakan rencananya ke Indonesia. Ayahnya mengatakan kalau mencari informasi tentang 1965 tidaklah mudah,tidaklah mudah membuka luka lama, apalagi dia adalah anak dari Dimas Suryo, seseorang yang dianggap dari ‘perzinahan politik’ dimana kesalahannya akan memanjang sampai ke anak cucu, sehingga Dimas membantu memberikan daftar nama yang bisa diwawancarainya nanti. Untuk visa ke Indonesia yang tidak pernah Dimas bisa dapatkan, yang tentu saja Lintang juga akan susah mendapatkannya, beruntung Nara mempunyai teman dari KBRI yang berpandangan terbuka, yang berpendapat sudah saatnya zaman berubah.

Di Indonesia, Lintang tinggal bersama Aji Suryo, adik Dimas yang selama ini menjadi informan tentang segala hal di Indonesia, baik tentang keluarganya maupun keluarga Hananto Prawiro. Lintang berencana melakukan riset selama sebulan, yang langsung ditanggapi sinis oleh Segara Alam. Orang-orang dalam daftar Lintang adalah orang-orang yang paling disorot pemerintah, siatuasi masih sangat berbahaya. Saat itu kondisi politik di Indonesia sedang ‘panas-panasnya’, sering terjadi demonstrasi karena kenaikan BBM dan issue KKN yang dilakukan Soeharto beserta kroni-kroninya, “sungguh sangat salah waktu dan salah tempat main turis-turisan di saat seperti ini” begitu kata Bimo, anak dari Nugraho, sahabat Alam sejak kecil yang juga rekan kerjanya di LSM Satu Bangsa.

Di dalam bahasa Prancis, secara harafiah tentu istilah un coup de foudre saja berarti halilintar atau petir. Tetapi jika dua pasang mata besirobak hingga membuat detak jantung berhenti, maka le coup de foundre berurusan dengan emosi (yang bisa membahayakan keseimbangan jagad): jatuh cinta pada pandangan pertama.

Lintang sudah mempunyai Nara sebagai payung besar yang melindunginya dari hujan dan badai. Tetapi. ketika dia bertemu pertama kali dengan Segara Alam, dia mendapatkan serangan halilintar, le coup de foundre. Bersama-sama, mereka meliput para korban malpraktek sejarah yang terjadi di masa lampau dan hiruk-pikuk kerusuhan Mei 1998, masa-masa runtuhnya kejayaan Soeharto.

578586_10200724389215973_484347245_n

dapet lirikan mb Leila S. Chudori ^^

Sebelum menggungkapkan apa yang saya dapat ketika membaca buku ini, saya akan bercerita sedikit tentang apa yang saya dapat ketika menghadiri reriungan bersaa Leila S. Chudori pada 2 Maret di Balai Soedjadmoko yang lalu. Mbak Leila bercerita kalau novel pertamanya ini mulai ditulis pada tahun 2006 dan selesai pada tahun 2012. Penulis yang mulai menulis pada usia 12 tahun ini sempat vakum selama dua puluh tahun dalam menerbitkan buku, setelah buku pertamanya; Malam Terakhir (diterbitkan pertama kali oleh Pustaka Utama Grafiti, 1989 dan diterbitkan ulang oleh Kepustakaan Populer Gramedia, 2009) beliau sibuk menjadi ibu dan wartawan Tempo, pada tahun 2009 barulah menerbitkan kumpulan cerpen lagi; 9 dari Nadira yang menjadi nominasi Khatulistiwa Literary Award pada tahun 2010, yang katanya akan ada lanjutannya. Semua novelnya bercerita tentang keluarga, topik yang paling disukainya. Bahkan tragedi 30 September dan Mei 1998 hanya melatar belakangi, melingkupinya, sama seperti unsur makanan, sastrawan dunia, lagu, film, buku yang akan sering kita temukan ketika membaca novel ini, beliau menyisipkan hal-hal yang disukainya ke dalam tulisannya. Intinya adalah tentang keluarga. Baliau membuat tokoh laki-laki yang tidak sempurna, yang tidak selesai dengan dirinya sendiri. Hananto Prawiro yang suka berpindah ranjang, Dimas Suryo yang galau akan kisah cintanya, Bimo yang lebih memilih berdiam diri ketika dirinya dihina dan di bully teman-temannya karena dia anak eksil, Alam yang sifatnya tidak beda jauh dari ayahnya, hanya saja dia susah berkomitmen, Rama yang lebih memilih membuang identitasnya. Hanya ada satu tokoh laki-laki yang selesai dengan dirinya sendiri, Aji Suryo, dia tahu apa yang akan ingin dia lakukan. Kebalikannya, tokoh perempuan di buku ini adalah sosok perempuan-perempuan yang kuat. Surti yang tetap berdiri tegak ketika suaminya menghilang dan diinterogasi habis-habisan akan keberadaannya, Vivienne yang mencoba menyelami hati Dimas dan memberikan penawar luka akan kerinduannya terhadap Indonesia, bahkan Andini yang tidak peduli kalau dia anak eksil, dia percaya kalau setiap orang diberi kemampuan untuk menyelesaikan dan mengatasi masalahnya. Ada sesi religius yang juga disisipkan, yaitu ketika Dimas menemui Amir, salah satu rekannya di Kantor Berita Nusantara yang mengalami penurunan jabatan karena dia dianggap disebelah kanan. Bang Amir membuat Dimas berpikir tentang spiritualisme, sesuatu yang lebih dalam dan mulia di dalam inti kemanusiaan. Berbincang tanpa embel-embel warna, cap, partai, aliran, atau kelompok. Dan ketika dia mendapat kabar kalau ibunya meninggal, dia sangat bersedih karena tidak bisa pulang, dia butuh berbicara, dia menulis surat kepada Bang Amir akan kekosongan hatinya. Beliau juga bercerita dalam proses pembuatan novel Pulang dia mewawancarai banyak tokoh, salah satunya adalah Pramoedya Antara Toer.  Empat Pilar Tanah Air juga terinspirasi dari kisah nyata; Bapak Umar Said (alm), Bapak Sobron Aidit (alm), Kusni Sulang, para eksil politik di Paris yang mendirikan Restoran Indonesia di Rue de Vaugirard, mereka mendirikan Restoran Indonesia adalah bentuk perlawanan, diskriminasi selama masa orde baru. Kisah mereka lebih rumit dan rute perjalanannya mereka tidak hanya Cile, Kuba, dan Cina. Bedanya adalah mereka membuat Restoran Indonesia dengan mendatangkan koki dari Indonesia sedangkan mbak Leila membuat karakter eksil politik yang bisa memasak, mencurahkan kerinduannya dengan memasak makanan Indonesia. Oh ya, ada lima adegan ‘hot’ di novel ini, bagian yang tidak sulit ditulis mbak Leila karena setiap hari dia dikerumuni teman-temannya yang mayoritas cowok, yang isi kepalanya tidak jauh dari seks. Kurang ah kalau hanya lima :p.

Itu adalah sebagian besar obrolan dalam reriungan kemaren, ada pertanyaan yang diajukan salah satu hadirin yang juga saya pertanyakan ketika membacanya, yaitu pada tahun 1998 apakah di Indonesia sudah ada handphone? Mbak Leila menjawab kalau sudah, karena beliau menggunakan handphone sejak tahun 1997. Lalu ada satu lagi pertanyaan ketika saya membaca novel ini, saya lupa ada di halaman berapa tapi saya mendapati Lintang mengucapkan kata ‘bacot’ padahal dia belum pernah ke Indonesia. Saya tahu dia sering mendengar tentang Indonesia dari orang-orang di sekitarnya tapi sewaktu dia di Indonesia, dia sering sekali mencatat kata-kata yang tidak ada di kamus Indonesia, seperti; nyokap, bokap, bokep, dll.

Untuk karakter tokohnya, tanggapan saya tidak jauh beda dengan yang di atas, hanya saja tokoh Dimas Suryo benar-benar menjadi magnet di buku ini. Tentu saja, cerita tidak akan terjadi bila dia tidak ada, dia adalah tokoh sentral, perwakilan ‘orang-orang yang tidak bisa pulang’, orang yang sebenarnya tidak memihak kiri atau kanan, orang yang senetral negara Swiss tapi pada saat itu apa pun pilihannya, orang-orang hanya memandang kedalam dua kubu tersebut. Yang paling membuat saya bersimpati padanya adalah ketika membaca bab Ekalaya, dalemmmmmm banget, saya ikutan nyesek waktu membacanya. Bahkan, saya sampai pengen baca kisah Mahabharata yang tebelnya bisa buat bantal itu. Betapa rindunya Dimas akan tanah air, rumah sesungguhnya dan pada cintanya yang tak sampai.

Semula aku mengira Ayah kagum karena Bima adalah perwakilan kelelakian. Tinggi, besar, dan protektif. Ternyata Ayah tertarik pada Bima karena kesetiannya pada Drupadi, satu-satunya perempuan yang menjadi isteri kakak beradik Pandawa. Pengabdian Bima pada Drupadi, bahkan melebihi cinta Yudhistira pada isterinya. Adalah Bima yang membela harkat Drupadi yang dihina Kurawa saat kalah permainan judi. “Hanya Bima yang menjaga Drupadi ketika dia diganggu oleh banyak lelaki saat Pandawa dibuang ke hutan selama 12 tahun.” kata Ayah menafsirkan dengan semangat.

Baru belakangan aku bisa memahami ada sesuatu dalam diri Ekalaya yang membuat Ayah mencoba bertahan. Ekalaya ditolak berguru oleh Dorna dan dia tetap mencoba ‘berguru’ dengan caranya sendiri. Hingga Dorna menghianati Ekalaya, sang ksatria tetap menyembah dan menyerahkan potongan jarinya. Ekalaya tahu, meski ditolak sebagai murid Dorna, dia tidak ditolak oleh dunia panahan. Sesungguhnya dialah pemanah terbaik sejagat raya, meski dalam Mahabharata Dorna tetap menggangkat Arjuna ke panggung sejarah hanya karena dia pilih kasih.

Bima adalah Dimas Suryo, Drupadi adalah Surti Anandari. Ekalaya adalah Dimas Suryo, dunia panahan adalah Indonesia.

Karakter favorit saya adalah Segara Alam, hehehe. Sama seperti Lintang, le coup de foundre, sejak pertama muncul saya sudah sangat jatuh cinta akan karakternya, yah walau dia mewarisi sifat penjahat kelamin ayahnya dan mudah marah, dia sangat menyayangi keluarganya, dia akan menyerah dari perbuatannya kalau sudah menyangkut menyusahkan orangtua. Dia sosok yang tegar, dia akan melawan bila dilawan. Berharap banget mbak Leila membuat novel romance yang tokohnya kayak Segara Alam :p. Ada bagian yang menurut saya romantis banget, yang membuat hati berdebar-debar 😀

“Aku tak ingin berakhir seperti mereka, saling mencintai. Lantas kehilangan dan kini mereka hanya mengenang dan merenung dari jauh.”

“Mereka… siapa?”

“Mereka: ayahmu dan ibuku.”

“Aku yakin ibuku mencintai Bapak, seperti halnya ayahmu mencintai ibumu. tetapi Dimas dan Surti? Itu adalah dua nama yang mewakili kisah cinta yang hilang. Yang terputus.”

Kini Alam betul-betul dekat dengan wajahku. tetapi dia sengaja berhenti tepat di depan hidungku dan sama sekali tidak menyentuhku. Aku haya bisa merasakan nafasnya yang berbau mentol yang membuat darahku melonjak-lonjak, “Aku tak ingin seperti mereka. Aku tahu yang kuinginkan. Dan itu kutemukan setelah berusia 33 tahun.”

525335_10200724384455854_196356541_n

koleksi buku bertanda tanganku bertambah ^^

Alurnya flashback, bahkan sering meloncat-loncat dari masa sekarang kembali ke masa lalu, begitu sebaliknya. Tapi tidak usah binggung karena ada bulan dan tahun yang membedakan. Saya jadi teringat perkataan mbak Sanie B. Kuncoro ketika dia berbicara tentang karya mbak Leila. Beliau bilang mbak Leila sangat detail, terlebih dalam menciptakan karakter tokohnya. Tidak ada tokoh yang tidak penting di bukunya, semua tokoh yang dibuat merekatkan puzzle satu dengan yang lainnya. Lalu saya pun memikirkannya, dan benar, semua tokoh yang dibuat mbak Leila penting, semua punya porsi masing-masing. Saya ingat adegan dalam prolog ketika Hananto ingin melihat pukul berapa dia ditanggap lalu teringat arloji yang sering dipakainya sudah diberikan kepada Dimas, bertahun-tahun kemudian, ketika Lintang akan ke Indonesia, dia menyerahkan arloji tersebut ke Lintang untuk diserahkan kembali kepada Alam. Seperti itu, kayaknya sepele tapi belakangan sangat bermakna.

Sudut pandangnya pun campur aduk, kebanyakan orang pertama dan ada juga orang ketiga. Ini juga sangat menarik. Pada bagian Dimas Suryo kita akan mendapatkan sebuah cerita yang belum tuntas, kemudian pada bagian Lintang Utara atau Segara Alam kita akan mendapatkan jawabannya. Contohnya ketika Dimas Suryo selalu meletakkan setoples cengkih dan kunyit di rumahnya, tidak hanya mengobati kangennya akan Indonesia. Kunyit juga simbol sebuah cinta yang hilang, yang intens dan tak pernah terwujud, menginggatkannya akan Surti, bagian itu ada di bab Segara Alam.

Untuk cover dan ilustrasinya, jangan ditanya, keren banget. Salut sama Daniel “Timbul” Cahya Krisna, walau saya tidak mengerti semua ilustrasi di dalam buku ini (yang sangat mudah ditebak adalah ilustrasi di bab Empat Pilar Tanah Air, ada empat bendera merah putih dan ada menara Eiffel) saya yakin semuanya mewakili isi dari buku ini. Tulisannya saya rasa pas, tidak terlalu kekecilan atau kebesaran, sayangnya masih ada beberapa typo.

Saya baru pertama kali ini membaca hisfic yang menganggkat tema Gerakan 30 September, sebelumnya ada Amba karya Laksmi Pamutjak yang bertemakan sama tapi buku tersebut lebih bercerita tentang Pulau Buru sedangkan novel ini bercerita tentang orang yang tidak bisa pulang. Saya sangat menyukai gaya berceritanya Leila S. Chudori, tidak terasa berat walau tema yang diangkat cukup berat. Tidak ada kata-kata atau kalimat yang butuh dicerna lebih dalam, puitis tapi tidak hiperbolis. Sederhana tapi bermakna.

Pulang adalah sebuah drama keluarga, persahabatan, cinta dan pengkhianatan berlatar belakang tiga peristiwa bersejarah: Indonesia 30 September 1965, Prancis Mei 1968, dan Indonesia Mei 1998.

Mengutip tagline yang ada di belakang sampul buku, yang sangat menggambarkan isi buku ini. Kita akan ikut merasakan bagaimana rasanya ingin pulang ke rumah yang sebenarnya, yang walaupun sudah memiliki keluarga baru, rumah baru itu tidaklah cukup, hatinya tetap berada di tanah kelahirannya. Persahabatan empat pilar tanah air yang terusir dari rumahnya sendiri dan harus memulai kehidupan baru di negara yang asing, cinta yang terpendam, cinta yang bertepuk sebelah tangan. Dan peristiwa yang sangat bersejarah di Indonesia, jujur saja, saya sudah lupa tentang pelajaran yang membahas Gerakan 30 September, bahkan pada peristiwa Mei 1998 ingatan saya kabur, kalau tidak salah waktu itu saya masih kelas tiga atau empat SD, yang tidak terlalu memikirkan masalah orang dewasa, yang saya ingat hanya tembok yang penuh dengan coretan. Membaca buku ini tidak hanya mendapatkan sebuah cerita romantis nan tragis tapi menginggatkan kita kembali akan sejarah berdarah yang pernah terjadi di Indonesia.

Buku ini saya rekomendasikan bagi siapa saja yang ingin lebih mengenal sejarah Indonesia, mengenal perjuangan orang-orang yang terusir dari tanah kelahirannya.

5 sayap untuk Empat Pilar Tanah Air

*posting bareng BBI kategori klasik kontemporer*

The Palace of Illutions

6591999

The Palace of Illutions

Penulis: Chitra Banerjee Divakaruni

Alih bahasa: Gita Yuliani K.

Desain dan ilustrasi cover: Satya Utama Jadi

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

ISBN: 979-22-4556-1

Cetakan pertama, Juli 2009

496 halaman

pinjem mbak Sanie B. Kuncoro

Pernahkah kamu ketika membaca sebuah buku dan buku itu bercerita tentang sebuah kisah lain kamu menjadi sangat tertarik untuk membacanya? Saya pernah, sekali ini. Saya sampai memikirkannya berhari-hari dan ingin segera membaca buku tersebut. Saya sangat terpesona akan sosok Bima dan Ekalaya yang pernah diceritakan mbak Leila S. Chudori di buku Pulang, sejak saat itu saya ingin sekali membaca cerita Mahabharata, tentu waktu kecil saya pernah mendengarnya tapi saya sudah lupa dan saya ingin mengulang dan merasakan sendiri kehebatan salah satu Pandawa Lima itu. Awalnya saya ingin meminjam buku Mahabharata yang super tebal dan hardcover milik mantan King of Galau (berharap dapat buntelan buku ini juga), tapi dia menyarankan agar saya membaca The Palace of Illutions, kisah Mahabharata yang lebih ringan, yang lebih cocok untuk otak bulat saya. Dan saya tahu siapa yang punya.

Biasanya kisah Mahabharata diceritakan melalui sudut pandang orang pertama yaitu Byasa -orang bijak yang tahu segala, penyusun Mahabharata yang juga muncul di dalamnya sebagai salah satu tokoh. Di buku ini sudut pandangnya dari Dropadi atau Panchali putri Raja Panchala, istri dari Pandawa Lima. Melalui sudut pandangnya kita akan mengetahui bagaimana perasaan sesungguhnya seorang perempuan yang lahir Tidak Diundang, titisan Dewi Agni yang lahir dari api -bersama kembarannya Drestadumnya, yang diramalkan akan mengubah sejarah.

Suatu hari dia mendatangi si petapa bijak untuk mengatahui masa depannya, dan ramalan itu membuat Dropadi sangat hati-hati menjalani hidupnya.

Kau akan mengawini lima pahlawan terbesar pada masamu.

Kau akan menjadi ratu segala ratu, dicemburui semua dewi.

Kau akan menjadi pelayan. Kau akan menjadi penguasa istana paling hebat, lalu kehilangan itu.

Kau akan diingat karena menyebabkan perang terbesar pada masamu.

Kau akan menyebabkan kematian raja-raja jahat -dan anak-anakmu, dan kakakmu. Sejuta perempuan akan menjadi janda gara-gara kau. Ya, memamng, kau akan meninggalkan jejak pada sejarah.

Kau akan dicintai, meskipun kau tidak selalu tahu siapa yang mencintaimu. Meskipun kau mempunyai lima suami, kau akan mati sendirian, ditinggalkan pada akhirnya -sekaligus tidak ditinggalkan.

Si petapa juga berkata sifat Dropadi yang sombong, pemarah dan pendendam akan mempercepat proses takdir hidupnya, dan dia memberikan nasehat tentang tiga saat berbahaya yang akan menimpa Dropadi dan berharap mengurangi kedasyatan bencana yang akan datang. Yang pertama, tepat saat pernikahannya, pada saat itu Dropadi harus menahan pertanyaannya. Yang kedua, pada waktu suami-suaminya berada di puncak kekuasaan, pada saat itu Dropadi harus menahan tawanya. Yang ketiga akan datang waktu Drupadi dipermalukan begitu hebat dan dia harus menahan kutukannya.

Takdir Dropadi dimulai ketika turnamen besar di Hastinapura, ayahnya mengadakan ujian bagi siapa yang mampu menaklukkan tantangan yang ada dialah yang nantinya akan menjadi suami Dropadi. Salah satu Pandawa Lima hampir menempati posisi itu, dialah Arjuna sang pemanah handal. Lalu datanglah Karna, putra seorang kusir kereta yang sebenarnya mempunyai kemampuan lebih, yang membuat Dropadi selalu ingin memandang matanya. Karena statusnya itu dia tidak bisa mengikuti sayembara. Duryodana yang tidak ingin Pandawa selalu menang langsung mengangkat Karna sebagai penguasa Angga dan sahabatnya. Tetapi kehormatan lebih penting, Karna berasal dari kasta rendah dan dia akan menodai status Dropadi, Dre langsung siaga ketika Karna tidak mau menyerah mendapatkan Dropadi. Takut ramalan terjadi, kakak tersayangnya terbunuh, Dropadi melontarkan salah satu hal yang sebenarnya tidak boleh dia katakan, dia tidak bisa menahan pertanyaannya. Sejak saat itu Karna berjanji akan membalas dendam seratus kali lipat.

Awalnya Dropadi menikah dengan Arjuna, dia menolak semua fasilitas yang akan diberikan ayahnya dan memilih mengikuti Arjuna ke hutan belantara karena istana mereka habis dilalap api, di hutan itu tinggallah keempat saudara dan ibunya, Kunti. Kunti tidak senang dengan kehadiran Dropadi, membuat dia merasa mempunyai jarak dengan anak-anaknya, dia selalu memberikan ujian pada Dropadi, seperti memasak dengan bahan yang minim dan peralatan yang seadanya, untungnya Dropadi mempunyai aji-aji untuk mengatasinya. Karena tumbuh dan besar bersama baik susah maupun senang, Kunti mengajarkan kalau mereka harus selalu berbagi, tak terkecuali istri. Tidak mampu menolak permintaan ibunya, mereka kembali ke istana dan memberikan penawaran. Sang Byasa pun merancang bagaimana kehidupan pernikahan Dropadi. Dia akan menjadi istri untuk masing-masing saudara selama setahun penuh, mulai dari yang sulung sampai yang bungsu secara bergantian. Selama setahun itu saudara lainnya dilarang menyentuh, kalau berbicara harus menundukkan mata dan kalau melanggar dia akan dikucilkan selama setahun dari rumah tangga. Dropadi juga diberi aji-aji, setiap kali dia bersama saudara yang baru dia akan kembali perawan.

Meskipun Dhai Ma menghiburku dengan berkata akhirnya aku mempunyai kebebasan seperti yang dipunyai kaum laki-laki selama berabad-abad, keadaanku sangat berbeda dengan keadaan laki-laki yang mempunyai beberapa istri. Tidak seperti laki-laki, aku tidak punya pilihan dengan siapa aku akan tidur, dan kapan. Seperti gelas minum milik bersama, aku akan digilirkan dari tangan ke tangan, tidak peduli aku bersedia atau tidak.

Aku juga tidak begitu senang dengan aji-aji keperawanan itu, yang rupanya lebih dirancang demi keuntungan suami-suamiku daripada aku. Sepertinya begitulah selalu sifat aji-aji yang diberikan kepada kaum perempuan -diberikan kepada kami seperti hadiah yang tidak diinginkan.

Setelah menikah dengan para Pandawa Lima, Dropadi tinggal di istana baru yang megah dan indah, Istana Khayalan. Istana itu dibuat oleh Maya, yang mebangun istana-istana untuk para dewa, Arjuna pernah menyelamatkannya dari api, kini waktunya membalas budi. Istana itu akan membuat cemburu semua raja, Duryodana salah satunya. Untuk merayakannya sekaligus gelar Yudhistira sebagai raja, perta digelar selama berhari-hari, judi, minuman meraja lela, membutakan para Pandawa. Suatu waktu ketika semua tamu hampir pulang ke istananya masing-masing, hanya tinggal Duryodana, ia mencoba memasuki kawasan Dropadi tapi karena istana itu dirancang sedemikian rupa membuat Duryodana terjatuh ke telaga, membuat semua yang mlihatnya tertawa terbahak-bahak. Dropadi melupakan nasehat yang kedua.

Ketika gantian mereka yang diundang ke istana baru Duryodana, mereka berhasil terkena jebakan. Dulu sewaktu di Istana Khayalan Duryodana selalu kalah bermain judi dan sekarang Sengkuni berhasil mengalahkan Yudistira, membuat dia mengorbankan harta, istana, saudara bahkan istrinya. Justru Karna lah, laki-laki yang selalu diharapkan menjadi suami Drupadi berteriak kepada Duryodana agar semua Pandawa melepaskan pakaian dan perhiasan mereka dan berkata, “Kenapa Dropadi harus diperlakukan berbeda? Ambil pakaiannya juga.” Membuat Dropadi melupakan nasehat yang ketiga, yang menyebabkan pecahnya perang Kurukshetra.

Sedih setelah selesai membaca buku ini, bukan karena perangnya, oke sedikit sih akrena melihat Gatotkaca (anak Bima) dan Abimanyu (anak Arjuna) mati, tapi akan kisah cintanya. Sungguh tepat kalau sudut pandangnya dari Dropadi, kita seakan merasakan apa yang dia rasakan. Terlahir tanpa cinta membuat dia selalu mencari cinta. Tidak banyak yang benar-benar mencintai Dropadi, dia hanya mengenal Dre, Krishna sahabatnya yang jauh dan ibunya, Dhai Ma yang setelah menikah Dru kehilangan mereka dan merasa sendirian, padahal dia mendambakan seseorang yang bisa diajak berbicara secara pribadi. Dia diam-diam mencintai Karna tapi karena status dia memendamnya. Dari semua Pandawa Lima, hanya Arjuna yang benar-benar mengambil hati Dru sayangnya Arjuna tidak pernah sekali pun memperhatikannya, bahkan ketika berjalan di hutan dia meninggalkan jauh Dropadi di belakangnya, tanpa mengandeng tangannya. Hanya Bima yang benar-benar tulus mencintai Dru, dia selalu menanyakan apa yang diinginkan Dru, dia rela membunuh Kicaka agar kehormatan Dru tidak ternoda, yang menyebabkan penyamaran mereka terungkap. Hanya Bima yang rela mati demi Dru. Awalnya ketika saya membaca buku-buku mbak Leila saya sangat mengidolakan Bima, masih, hanya saja ada rangking pertamanya, dialah Karna. Nyesek banget baca kisahnya, hidupnya benar-benar tidak adil. Kalau di rangking idola saya dalam cerita Mahabharata ini adalah:

  1. Karna
  2. Bima
  3. Ekalaya
  4. Krishna
  5. Dre

Membaca dari sudut pandang Dropadi membuat Pandawa Lima tidak sekeren sebelumnya, saya sebel banget dengan Yudistira yang karena kebodohannya membuat keluarganya hancur, dan lebih sebel lagi dengan Arjuna, dia benar-benar laki-laki yang tidak setia, punya banyak istri dan licik. Tidak banyak dikisahkan rumah tangga Dropadi dengan para Pandawa, sedikit ketika bersama Yudistira, Arjuna dan Bima, sedangkan dengan Nakula dan Sadewa tidak ada bagian khusus. Bersama Yudhistira, Dropadi seperti penasehat, teman bertukar pendapat tentang mengurus kerajaan. Bersama Arjuna hanya membuat Dropadi terluka. Bersama Bima, Dropadi mendapatkan cinta yang menyakitkan. Bersama Karna, Dropadi mendapatkan nyesek di dada.

Harapan adalah seperti batu-batu tersembunyi dijalanmu -hanya membuatmu tersandung.

Buku ini bercerita tentang perjuangan Dropadi untuk meraih kebahagiaan, meraih cinta dan menerangkan kalau takdir tidak bisa diubah.

Buku ini saya rekomendasikan bagi kamu yang ingin membaca kisah Mahabharata.

4 sayap untuk cowok yang saya rangking.

NB: Bonus cerita

Inilah kisahnya, secara sederhana: Karna, Raja Angga, mencintai putri cantik dari dunia lain bernama peri hutan. Waktu diadakan sayembara untuk mencari pasangan sang peri, datanglah seorang manusia yang dengan pedenya ingin mengikuti sayembara tersebut. Ayahnya, si penguasa hutan belantara terang-terangan menolak karena mereka tidak satu rumpun. Laki-laki gagah itu tidak menyerah, dia memperlihatkan semua kemampuannya dan mengalahkan semua tantangan yang ada, tapi semua itu percuma, dari golongan perilah yang dapat mempersunting si peri cantik. Sejak pertama melihat mata pemuda itu, peri hutan seperti terhipnotis, tanpa ragu dia menambatkan hatinya, dia bisa membaca kesedihan lewat matanya karena merasa gagal. Tanpa berpikir panjang lagi, si peri hutan berkata kepada ayahnya, dia ingin bersama Karna, dia tidak peduli akan status yang membedakan mereka, dia yakin bersama Karna dia akan menemukan kebahagiaan. Dia pergi meninggalkan semua kemewahan dari dunia peri dan bersama Karna yang menggandeng tangannya, mereka menyongsong hari yang baru.

The Calligrapher’s Daughter

15789948

The Calligrapher’s Daughter

Penulis: Eugenia Kim

Penerjemah: Gema Mawardi

Cover: Jeffri Fernando

Penerbit: Gagasmedia

ISBN: 979-780-549-2

Cetakan pertama, 2012

602 halaman

pinjem mbak @sinta_nisfuanna

Sinopsis:

Pada abad kedua puluh di Korea, Najin Han, putri seorang kaligrafer, merindukan hak untuk menentukan pilihan atas nasib sendiri. Sadar putrinya seorang yang cerdas dan keras kepala, sang ibu membebaskan dirinya untuk mencari jati diri, namun sang ayah sangat keras dan teguh memegang tradisi. Terlebih, ada ancaman dari Jepang yang sedang berusaha mengontrol pemerintahan Negeri Gingseng tersebut.

Namun, ketika ayah Najin Han berusaha menikahkan putrinya dengan laki-laki dari keluarga bangsawan, ibunya malah menentang dan menyuruh Najin Han melayani di istana raja sebagai pendamping bagi seorang putri muda.

Sayangnya, tak lama kemudian kaisar Korea mati terbunuh. Budaya monarki yang berabad-abad dipelihara pun akhirnya menemui ajal bersama pimpinan tertinggi negeri itu. Dalam situasi yang serba tidak pasti, Najin Han memulai perjalanan hidupnya sendiri. Dia memutuskan untuk melanjutkan pendidikan -dan menemukan cinta du tengah perjalanan yang panjang itu…

***

Ini adalah pertama kalinya saya membaca Historical Fiction Korea, yang cukup jarang dilirik penerbit kecuali komedi romantis atau drama adaptasi televisi yang tahun lalu bahkan sampai sekarang masih marak di toko buku. Jujur saja saya lama-lama bosan dengan buku-buku yang berbau Korea tersebut, seperti tidak ada hal yang baru lagi karena sebagian besar tema ceritanya mirip bahkan karakter tokohnya satu buku dengan buku yang lain sama juga. Saya tertarik dengan buku ini karena tema ceritanya lain dari yang pernah ada dan juga menginggatkan saya akan drama kolosal Korea yang saya suka banget nget nget, Jewel In The Palace. Walau saya tahu ceritanya berbeda, kalau Jewel In The Palace tokoh utamanya adalah seorang wanita yang awalnya seorang koki istana akhirnya menjadi tabib perempuan pertama di Korea sedangkan di buku ini perjuangan seorang anak perempuan demi maraih pendidikan, kesamaannya adalah mereka sama-sama perempuan yang kuat, perempuan yang berjuang keras demi meraih impiannya.

Bersetting pada abad kedua puluh, tahun 1915-1945, masa ketika Korea dijajah Jepang sampai mendapatkan kemerdekaan. Kisah ini diceritakan dari sudut pandang orang pertama, Najin Han, putri seorang seniman sarjana sastra, sang Kaligrafer Han yang sangat dihormati. Sarjana Han sangat ingin mempunyai seorang putra, seorang yang nantinya bisa mewarisi kekayaan dan mengikuti tradisi yang ada, sayangnya beberapa kali ibu Najin, Haejung keguguran, hanya Najin yang bertahan. Waktu kecil Haejung mempunyai impian memperoleh pendidikan seperti saudara laki-lakinya, yang tentu saja tradisi jaman dulu pendidikan hanya untuk laki-laki. Haejung senang ketika mendengar akan dibuka sekolah perempuan, sekolah Jepang. tidak mudah membujuk suaminya agar Najin Han dapat menempuh ilmu terlebih sekolah itu dibuat oleh orang Jepang, baginya tugas perempuan adalah di rumah bukan sekolah. Tapi Haejung memiliki tekat yang kuat, dia berusaha agar anak satu-satunya memperoleh pendidikan, dan berhasil.

Ayah mengatur beberapa perjodohan, anak laki-laki tertua berdoa agar diselamatkan dari dosa terbesar, yaitu tak memiliki keturunan laki–laki. Para istri berdoa agar memiliki putra untuk membuktikan dan menunjukkan kelayakan mereka. Lalu, anak perempuan, sepertiku, belajar tiga hukum penting dalam hidup seorang perempuan: patuhi ayahmu, patuhi suamimu dan patuhi anak lelakimu.

Najin akhirnya memiliki seorang adik laki-laki, Ilsun namanya. Tentu saja hal itu sangat membuat semua keluarganya bahagia, terlebih ayahnya. Ilsun langsung menjadi anak kesayangan ayahnya, dia terlalu dimanja, bahkan Najin juga suka memanjakannya. Kedekatan Najin dan Ilsun tidak terlalu disukai ayahnya, dia merasa Najin berpengaruh buruk pada adik laki-lakinya, ayahnya merasa Najin sulit diatur, tingkah lakunya kasar sehingga lebih baik menikahkannya saja. Perihal perjodohan ini tidak dirundingkan dulu dengan istrinya sehingga membuat Haejung marah besar, bahkan pertama kalinya dia manentang suaminya, dia pun tanpa meminta persetujuan sarjana Han mengirim surat kepada sepupunya di Seoul agar menerima Najin di kerajaan, melayani Yang Mulia Tuan Putri.

Kedekatan Najin dengan Putri Deokhye tidak lama karena Jepang dengan mudah menguasai Korea. Najin kembali ke kampung halaman. Najin juga berkesempatan melanjutkan pendidikannya di Ewha, mengumpulkan uang dari hasil mengajarnya yang sebagian besar dia gunakan untuk membantu sekolah Ilsun dan menutupi perbuatan bodohnya. Karena selalu di manja, Ilsun menjadi pemuda seenaknya sendiri, tanpa sepengetahuan orang tuanya dia sering melakukan taruhan dan kalah. Karena rasa sayangnya Najin pun terpaksa menutupinya. Najin juga berkenalan dengan seorang laki-laki yang dikenalkan oleh tetangganya, Hansu. Laki-lai itu adalah putra seorang pendeta, Calvin Cho yang juga mengikuti profesi ayahnya. Berbeda dengan perjodohan pertamanya, kali ini Najin sadar kalau sudah waktunya dia berkeluarga sehingga dia tidak menolak ketika dijodohkan lagi.

Kisah Najin Han tidak berhenti sampai di situ, bahkan setelah menikah pun dia tidak pernah berhenti berjuang. Berjuang melawan rindu katika tidak lama setelah menikah dia harus ditinggal suaminya belajar keluar negeri yang lama kelamaan tanpa kabar, menghadapi mertuanya, menghadapi ayahnya ditangkap bahkan nantinya dia juga merasakan hal tersebut, menghadapi adiknya yang semakin dewasa semakin mengecewakan ayahnya. Najin Han dengan tegar menhadapi semua permasalahan tersebut, dia sejak kecil ditempa oleh ibunya agar menjadi wanita yang kuat.

Buku ini bagus, mengambarkan kehidupan wanita yang pada masanya tidak memiliki hak untuk berpendidikan, tugasnya adalah patuh pada suami dan mengurus rumah. Sayangnya saya kurang merasakan bagaimana Najin Han menuntut ilmu, lebih ke sejarah hidupnya yang diwarnai dengan bangsa Jepang yang mulai mengontrol politik negeri gingseng tersebut, masa-masa ketika Jepang mengalami depresi sehingga rakyat Korea sulit mendapatkan pekerjaan karena semua dikontrol oleh Jepang, bahkan tanah dan semua harta keluarga Han ikut di sita yang menyebabkan Najin berusaha keras menghidupi keluarganya, dia tidak bisa mengandalkan adiknya karena dia mengurus diri sendiri saja susah. Bagian dia menuntut ilmu yang saya rasa tema utamanya malah tidak menonjol. Kisah cintanya tidak banyak dijelaskan justru sejarahnya sangat kental sekali, mungkin itu juga yang membuat saya sedikit bosan ketika membacanya :p

Tokoh favorit saya dibuku ini adalah Haejung, ibu Najin Han. Dia benar-benar sosok wanita yang kuat. Dia tidak ingin apa yang pernah dialaminya juga bakal dirasakan anaknya, tidak punya kesempatan mendapatkan pendidikan. Sehingga ketika ada peluang sedikit dia tidak menyia-nyiakannya bahkan dia rela menghiananti suaminya demi membuat anaknya merasakan bangku sekolah, dia juga mengajari semua hal tentang bagaimana menjadi seorang perempuan. Haejung sangat berpikiran maju, dia berpendapat bukan jamannya lagi perempuan bodoh, perempuan juga berhak mendapatkan pendidikan seperti laki-laki dan usahanya agar Najin bisa bersekolah sungguh pantas diacungin jempol. Dia melanggar prinsipnya untuk selalu patuh dan menghormati suaminya demi menyekolahkan anak perempuannya. Kehebatannya juga terlihat ketika melahirkan Ilsun.

Quote favorit saya:

Menyimpan rahasia itu salah dan tak perlu merasa khawatir tentang hal-hal yang tak kau pahami atau yang terkesan aneh. Terkadang, bertanya adalah cara terbaik untuk belajar.

“Laki-laki membutuhkan air untuk hidup, tetapi mereka tak bisa bergerak seperti air. Perempuan seperti air yang mengalir, menghidupi dan menjelajah dan berada di bawah kedua kaki laki-laki yang menancap dengan mantap di tanah. Kita cair. Dan, dari kitalah mereka muncul, minum dan tumbuh. Dan jadi,” kata Ibu sambil mengusap rambutku yang mencuat liar dari kepangan dan sirkam perunggu. “Ketika ayahmu terlihat kasar, aku ingin kau menginggat hal ini. Perempuan dianugerahi secara istimewa dengan cara yang tak pernah dipahami laki-laki. Jagalah kasih Tuhan di dalam hatimu dan ingatlah hal ini selalu.”

6400109Terjemahannya bagus, tidak ada kalimat yang sulit dimengerti dan minim typo. Jangan khawatir dengan genrenya yang sedikit berat, buat yang sering migrain baca sejarah apalagi yang dibalut kisah perjalanan hidup seorang wanita Korea seperti buku ini, tenanggg, di belakangnya ada catatan sejarah yang akan mempermudah kita memahami isi cerita, selain itu juga ada daftar istilah, bahasa Korea yang sedikit banyak berseliweran di buku ini jadi bisa sekalian belajar bahasa asing juga, bahasa Korea yang sering digunakan di kehidupan sehari-hari, seperti panggilan ayah, ibu, kakak perempuan, dsb. Untuk covernya saya lebih suka versi terjemahannya, lebih mengambarkan seni yang dikuasai keluarga Han, kaligrafer.

The Calligrapher’s Daughter adalah novel pertama dari Eugina Kim, putri dari imigran Korea yang datang ke Amerika tidak lama setelah perang pasifik. Walau baru pertama menulis novel buku ini langsung menyabet penghargaan Borders Original Voices Award for Fiction (2009), A Best Book of 2009, The Washington Post, Shortlisted for the 2010 Dayton Literary Peace Prize in Fiction.

Untuk lebih lengkapnya silahkan kunjungi http://www.thecalligraphersdaughter.com

NB: Posting bareng BBI kategori penulis Asia

Water for Elephants

9410658

Air Untuk Gajah

Penulis: Sara Gruen

Alih Bahasa: Andang H. Sutopo

Desain Cover: Marcel A.W.

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

ISBN: 978-979-22-6252

Cetakan pertama, September 2010

512 halaman

Yang membuat saya ingin membaca buku ini adalah karena buku ini sudah di filmkan, bukan, bukan karena pemain utamanya pernah menjadi vampir yang menghabiskan bedak, lebih karena penasaran apa yang membuat buku ini layak diangkat ke layar lebar. Saya selalu yakin bahwa pasti ada sesuatu yang sangat menarik kenapa sebuah buku dijadikan film, walau pasti banyak orang yang berpendapat tetap versi bukulah yang sangat menarik, saya pun seperti itu, hanya saja kadang sebuah film bisa mewujudkan fantasy kita, selalu ada pembeda tapi tetap dalam inti yang sama. Selain menduduki #1 New York Times bestseller ketika pertama kali terbit, mendapatkan penghargaan untuk Book Sense Book of the Year Award for Adult Fiction (2007), ALA Alex Award (2007), The Quill Award Nominee for General Fiction (2006) dan diterjemahkan ke dalam 44 bahasa, yang sangat menarik dari buku ini adalah bercerita tentang rombongan sirkus pada awal tahun 1930-an.

Untuk judulnya sendiri sangat manarik, ada bagian ketika Jacob menuduh temannya berbohong ketika dia bercerita kalau dulunya pernah bekerja membawa air untuk gajah, itu tidak mungkin terjadi. Jacob tahu lebih dari siapa pun. Faktanya adalah seekor gajah minum 25-75 galon atau 100-300 liter air per hari, sesuatu yang sangat mustahil dilakukan oleh seorang manusia. Air Untuk Gajah memiliki ungkapan yang berarti membawa beban yang sangat berat, seperti membawa suatu rahasia yang tidak bisa diceritakan kepada siapa pun, termasuk orang yang sangat dicintainya.

Diceritakan dari sudut pandang orang pertama, Jacob Jankowski yang berumur 90 tahun atau 93 tahun dan ketika dia berusia 23 tahun. Pertama-tama kita disuguhkan sebuah prolog yang sedikit menegangkan, membuat sangat penasaran, membuka sedikit rahasia besar Jacob Jankowski yang dibawanya selama tujuh puluh tahun, tidak ada seorang pun yang mengetahuinya tak terkecuali istrinya sendiri, dan dia membaginya kepada kita, hanya kepada para pembaca.

Alurnya flashback, bab pertama kita akan melihat bagaimana Jacob Jankowski tua sangat cerewet menghadapi aturan di panti jompo tempat dia tinggal di masa tua. Dia merasa dikekang dengan aturan-aturan sehingga sering sekali menyusahkan para perawat, contohnya adalah dia bosan sekali makan bubur, kacang tumbuk, bubur bayi, dia mengganggap kalau daging panggang, jagung yang masih ada tongkolnya, apel adalah makanan surga. Bab berikutnya berganti dengan kehidupan Jacob muda, walau porsi Jacob muda lebih banyak, selang-seling itulah cara Sara Gruen menggungkapkan kisah hidup perjalanan Jacob Janskowski.

Kabar kematian orangtua Jacob merobohkan impiannya  menjadi dokter hewan, selain hanya tinggal dia seorang, orang tuanya tidak meninggalkan warisan seperserpun, ayahnya yang seorang dokter hewan tidak berpenghasilan banyak, rumah dan harta lainnya digunakan untuk membayar hutang di bank, yang Jacob ketahui itu semua demi membayar biaya pendidikannya di universitas terkemuka, Cornell University. Dia tidak bisa berpikir, dia merasa sendirian di dunia, tidak punya tujuan pulang, dia ingin meninggalkan Itacha, meninggalkan tempat yang menorehkan luka yang sangat dalam. Ketika Jacob kembali ke sekolah dan menghadapi ujian akhir dia tidak sanggup lagi, memilih mundur, memilih kabur. Tidak ada tempat tujuan baginya, dia berjalan menyusuri kota dan mengikuti jalur rel kereta api, ketika dia melihat sebuah lokomotif besar yang mempunyai banyak gerbong, tanpa berpikir lagi dia berlari dan melompat, mendaratkan tubuhnya ke Flying Squadron Benzini Bersaudara Pertunjukan Paling Spektakuler di Dunia, sebuah rombongan sirkus.

Di rumah barunya Jacob bertemu orang-orang yang menajubkan, salah satunya adalah Camel yang dengan baik hatinya tidak mengusir dan menawarinya bekerja dalam rombongan sirkus. Menyekop tahi, menjaga ketertiban ketika Barbara sedang beraksi melucuti pakaiannya satu per satu sampai pada akhirnya riwayat pendidikan Jacob diketahui yaitu mahasiswa semester akhir kedokteran hewan. Alan Bunkel, atau biasa dipanggil Paman Al, Ringmaster Extraordinaire, Penguasa Seluruh Alam Raya Yang Diketahui Maupun Yang Tidak Diketahui, pemilik sirkus Benzini Brother tidak mementingkan apakah Jacob sudah lulus atau belum, yang dia tahu adalah Jacob bisa mengobati binatang-binatang kesayangannya, rombongannya belum mempunyai dokter hewan seperti Ringling saingannya dan itu sudahlah cukup. Sejak saat itu kedudukan Jacob naik setingkat, dia tidak lagi tidur bersama Camel yang seorang pekerja, dia ditempatkan bersama Kinko -kalau sudah menjadi teman bisa memanggilnya Walter- seorang performer, bertubuh cebol yang tinggal bersama Queenie, anjing kesayangannya, seseorang yang memiliki buku lengkap karya Shakespeare dan komik-komik cabul. Selain Paman Al, orang yang sangat berpengaruh di Benzini Brother adalah August Rosenbluth, direktur pertunjukan kuda dan pengawas hewan-hewan. Dia memiliki kepribadian ganda, di satu sisi dia bisa sangat baik dan di sisi lain bisa sangat kejam. Contohnya ketika dia sedang baik hati; dia mengundang Jacob makan malam bersama istrinya, meminjaminya pakaian bagus, dan memberinya tempat tinggal yang layak daipada para pekerja. Ketika dia sedang jahat; dia mempersilahkan Jacob memberi makan kepada Rex, kucing besar yang sudah tidak memiliki gigi, seekor harimau. Dia juga sangat kasar kepada Rosie, seekor gajah yang baru dibeli Paman Al dari sirkus yang sudah bangkrut. Rosie dianggap gajah dungu karena tidak pernah mau mengikuti perintah August sehingga tidak jarang dia menyiksanya, yang dilakukannya hanyalah makan dan mengacau, Rosie juga belum pernah melakukan pertunjukan sirkus, padahal gajah itu sangatlah cerdas, hanya Jacob yang bisa memahaminya. Hanya dua orang yang tahu kalo August mengidap paranoid schizophrenic, Paman Al dan Marlena, istrinya. Pertama kali melihat Marlena beraksi dengan kuda Arab cantik, Jacob sangat terpesona, dia tidak bisa melupakannya.

Selain menceritakan kicah cinta terlarang Jacob dan Marlena, buku ini banyak bercerita tentang kehidupan di balik layar para pekerja sirkus. Ada perbedaan yang mencolok antara para pekerja dan para performer/kinker, sangat penting dari Departemen mana seseorang berasal, apakah dari  ring stock, baggange stock atau managerie (tenda binatang liar). Ada tingkatan-tingkatan yang jelas, para performer tinggal di gerbong yang lebih bagus dan dekat dengan lokomotif dan para pekerja ada dibelakangnya, kadang satu gerbong dengan binatang. Bahkan, binatang dianggap lebih berharga daripada para pekerja. Paman Al tidak akan segan-segan bila terjadi sesuatu dengan asetnya dan apabila ada pekerjanya yang sudah tidak sanggup melakukan lagi pekerjaannya, dia akan langsung ‘dilampumerahkan’ yang berarti dibuang dari kereta ketika kereta sedang berjalan. Upah kerja pun menjadi masalah, para performer selalu mendapatkan gaji yang banyak dan tepat waktu sedangkan para pekerja tidak jarang mengalami penundaan. Itulah yang dilihat Jacob di sirkus Benzini Brother, dia takut ketika Camel mengidap jake leg, mengalami kelupuhan di tangan, kaki dan organ vital bagi laki-lagi gara-gara mengkonsumsi Jamaica ginger paralysis -minuman ekstrak jahe Jamaica. Dia takut kalau Camel akan dilampumerahkan oleh Paman Al yang hanya mementingkan hewan sirkus dan orang aneh asli sehingga dia menyembunyikannya di kamarnya. Belum lagi menghadapi August yang gila, yang mampu berbuat apa pun yang bisa menyakiti Marlena, yang mulai mencium hubungan terlarang mereka dan di tempat itulah dia menyimpan rahasia terbesarnya.

ringling-brothers-circus-performing-elephant

Tema buku ini sangat menarik, bergenre historical fiction yang menceritakan sejarah sirkus tahun 1930-an, di bagian catatan penulis kita akan mengetahui bagaimana Sara Gruen melakukan riset sejarah sirkus Amerika untuk menguatkan cerita yang dia buat. Walau Benzini Brother hanya rekayasa penulis, The Ringling Brother nyata adanya. Kelompok sirkus tersebuat dibuat oleh Ringling bersaudara pada tahun 1884 bahkan ada Ringling Circus Museum yang terletak di Florida. Kejadian yang dialami Camel juga merupakan tragedi nyata yang dialami oleh sekitar seratus ribu orang Amerika pada tahun 1930-1931 yang mengalami kelumpuhan yang disebabkan oleh minuman keras oplosan seperti Jamaica ginger. Ada juga kisah nyata yang mirip dengan gajah cantik Rosie. Water for Elephants adalah buku ketiga Sara Gruen, sebelumnya dia menerbitkan seri Riding Lessons (Riding Lessons dan Flying Changes) yang bercerita tentang kuda, sedangkan buku terbarunya; Ape House bercerita tentang kera. Sara Gruen memang sangat mencintai dunia binatang, semua karyanya berbau binatang. Ia mendukung berbagai organisasi amal penyayang binatang dan lingkungan hidup.

Selain tema dan faktanya yang menarik, buku ini juga diwarnai tokoh-tokoh yang unik. Paman Al yang ambisius, August yang gila tapi briliant, Marlena yang cantik nan menawan, Jacob yang polos (yang entah kenapa saya merasa Jacob tua dan muda sangat berbeda, kalau Jacob muda lebih pendiam, Jacob tua sangat cerewet) dan para pekerja sirkus yang tak pernah patah semangat walau mereka sering tidak diperlakukan secara layak. Hidup mereka hanya untuk sirkus, mereka berusaha menampilkan performa yang menarik disamping segala kekurangan yang mereka miliki. Terjemahan buku ini juga tidak ada masalah, hanya saja saya berharap ada beberapa istilah sirkus yang sebaiknya lebih dijelaskan seperti departemen ring stock dan baggange stock, saya masih belum mengerti departemen itu mengurus bagian apa, berbeda dengan managerie yang sering disebut, yang dikuhususkan untuk tenda binatang liar. Untuk covernya sebenarnya tidak kalah dengan cover aslinya, hanya saja saya berharap gambar gajah dihilangin, toh cerita sebenarnya bukan tentang Rosie, hewan itu hanya merupakan salah satu pelengkap cerita. Untuk ukuran huruf dan kertasnya juga tidak masalah, tidak terlalu kekecilan dan memakai kertas buram yang luwes di tangan.

Sebenarnya saya berharap akan ada pertunjukan sirkus yang spektakuler namun hanya ada beberapa pertunjukan yang dijelaskan secara lengkap, seperti pertunjukan Barbara yang menari erotis, Marlena dengan kuda Arab dan gajah Rosie, saya menginginkan lebih banyak lagi karena seumur-umur saya belum pernah melihat sirkus. Entah di Indonesia sudah pernah ada atau belum, yang saya tahu hanya cembreng dan pasar malam, sehingga saya berharap mendapatkan cerita tentang sirkus di sini. Buku ini lebih banyak menyorot kehidupan dibalik layarnya. Mungkin versi film menjawab penasaran saya, melihat trailernya kemegahan sebuah sirkus cukup tergambarkan, dibintangi oleh aktor yang tidak asing lagi, si pemeran vampir tampan di film Twilight, Robert Pattinson dan aktris peraih Oscar, Reese Witherspoon yang saya rasa keduanya cocok memerankan Jacob dan Marlena. Buat yang terkesan dengan film I Am Legend dan yang sedang menunggu tidak sabar untuk film Catching Fire, Francis Lawrence tidak perlu diragukan lagi kehebatannya sebagai sutradara.

index

Bagian yang paling mengharukan adalah ketika Jacob tua menunggu kedatangan anak-anak mereka untuk melihat sirkus. Sedih banget rasanya ketika mereka tidak datang. Jacob memiliki lima anak dan tidak ada seorang pun yang menginggat ayahnya, seperti tidak ada tempat bagi Jacob di kehidupan anak-anaknya. Ketika membaca bagian ini saya merasa terpecut, tersengat untuk lebih memperhatikan keberadaan orang tua kita.

Quote favorit saya:

Umur adalah pencuri yang jahat. Sewaktu kau mulai terbiasa dengan hidupmu, ia membuat kakiu lemah dan punggungmu bungkuk.

Bila dua orang ditakdirkan untuk bersatu, mereka akan bersatu. Itu takdir.

3 sayap untuk Benzini Bersaudara Pertunjukan Paling Spektakuler di Dunia