The Calligrapher’s Daughter

15789948

The Calligrapher’s Daughter

Penulis: Eugenia Kim

Penerjemah: Gema Mawardi

Cover: Jeffri Fernando

Penerbit: Gagasmedia

ISBN: 979-780-549-2

Cetakan pertama, 2012

602 halaman

pinjem mbak @sinta_nisfuanna

Sinopsis:

Pada abad kedua puluh di Korea, Najin Han, putri seorang kaligrafer, merindukan hak untuk menentukan pilihan atas nasib sendiri. Sadar putrinya seorang yang cerdas dan keras kepala, sang ibu membebaskan dirinya untuk mencari jati diri, namun sang ayah sangat keras dan teguh memegang tradisi. Terlebih, ada ancaman dari Jepang yang sedang berusaha mengontrol pemerintahan Negeri Gingseng tersebut.

Namun, ketika ayah Najin Han berusaha menikahkan putrinya dengan laki-laki dari keluarga bangsawan, ibunya malah menentang dan menyuruh Najin Han melayani di istana raja sebagai pendamping bagi seorang putri muda.

Sayangnya, tak lama kemudian kaisar Korea mati terbunuh. Budaya monarki yang berabad-abad dipelihara pun akhirnya menemui ajal bersama pimpinan tertinggi negeri itu. Dalam situasi yang serba tidak pasti, Najin Han memulai perjalanan hidupnya sendiri. Dia memutuskan untuk melanjutkan pendidikan -dan menemukan cinta du tengah perjalanan yang panjang itu…

***

Ini adalah pertama kalinya saya membaca Historical Fiction Korea, yang cukup jarang dilirik penerbit kecuali komedi romantis atau drama adaptasi televisi yang tahun lalu bahkan sampai sekarang masih marak di toko buku. Jujur saja saya lama-lama bosan dengan buku-buku yang berbau Korea tersebut, seperti tidak ada hal yang baru lagi karena sebagian besar tema ceritanya mirip bahkan karakter tokohnya satu buku dengan buku yang lain sama juga. Saya tertarik dengan buku ini karena tema ceritanya lain dari yang pernah ada dan juga menginggatkan saya akan drama kolosal Korea yang saya suka banget nget nget, Jewel In The Palace. Walau saya tahu ceritanya berbeda, kalau Jewel In The Palace tokoh utamanya adalah seorang wanita yang awalnya seorang koki istana akhirnya menjadi tabib perempuan pertama di Korea sedangkan di buku ini perjuangan seorang anak perempuan demi maraih pendidikan, kesamaannya adalah mereka sama-sama perempuan yang kuat, perempuan yang berjuang keras demi meraih impiannya.

Bersetting pada abad kedua puluh, tahun 1915-1945, masa ketika Korea dijajah Jepang sampai mendapatkan kemerdekaan. Kisah ini diceritakan dari sudut pandang orang pertama, Najin Han, putri seorang seniman sarjana sastra, sang Kaligrafer Han yang sangat dihormati. Sarjana Han sangat ingin mempunyai seorang putra, seorang yang nantinya bisa mewarisi kekayaan dan mengikuti tradisi yang ada, sayangnya beberapa kali ibu Najin, Haejung keguguran, hanya Najin yang bertahan. Waktu kecil Haejung mempunyai impian memperoleh pendidikan seperti saudara laki-lakinya, yang tentu saja tradisi jaman dulu pendidikan hanya untuk laki-laki. Haejung senang ketika mendengar akan dibuka sekolah perempuan, sekolah Jepang. tidak mudah membujuk suaminya agar Najin Han dapat menempuh ilmu terlebih sekolah itu dibuat oleh orang Jepang, baginya tugas perempuan adalah di rumah bukan sekolah. Tapi Haejung memiliki tekat yang kuat, dia berusaha agar anak satu-satunya memperoleh pendidikan, dan berhasil.

Ayah mengatur beberapa perjodohan, anak laki-laki tertua berdoa agar diselamatkan dari dosa terbesar, yaitu tak memiliki keturunan laki–laki. Para istri berdoa agar memiliki putra untuk membuktikan dan menunjukkan kelayakan mereka. Lalu, anak perempuan, sepertiku, belajar tiga hukum penting dalam hidup seorang perempuan: patuhi ayahmu, patuhi suamimu dan patuhi anak lelakimu.

Najin akhirnya memiliki seorang adik laki-laki, Ilsun namanya. Tentu saja hal itu sangat membuat semua keluarganya bahagia, terlebih ayahnya. Ilsun langsung menjadi anak kesayangan ayahnya, dia terlalu dimanja, bahkan Najin juga suka memanjakannya. Kedekatan Najin dan Ilsun tidak terlalu disukai ayahnya, dia merasa Najin berpengaruh buruk pada adik laki-lakinya, ayahnya merasa Najin sulit diatur, tingkah lakunya kasar sehingga lebih baik menikahkannya saja. Perihal perjodohan ini tidak dirundingkan dulu dengan istrinya sehingga membuat Haejung marah besar, bahkan pertama kalinya dia manentang suaminya, dia pun tanpa meminta persetujuan sarjana Han mengirim surat kepada sepupunya di Seoul agar menerima Najin di kerajaan, melayani Yang Mulia Tuan Putri.

Kedekatan Najin dengan Putri Deokhye tidak lama karena Jepang dengan mudah menguasai Korea. Najin kembali ke kampung halaman. Najin juga berkesempatan melanjutkan pendidikannya di Ewha, mengumpulkan uang dari hasil mengajarnya yang sebagian besar dia gunakan untuk membantu sekolah Ilsun dan menutupi perbuatan bodohnya. Karena selalu di manja, Ilsun menjadi pemuda seenaknya sendiri, tanpa sepengetahuan orang tuanya dia sering melakukan taruhan dan kalah. Karena rasa sayangnya Najin pun terpaksa menutupinya. Najin juga berkenalan dengan seorang laki-laki yang dikenalkan oleh tetangganya, Hansu. Laki-lai itu adalah putra seorang pendeta, Calvin Cho yang juga mengikuti profesi ayahnya. Berbeda dengan perjodohan pertamanya, kali ini Najin sadar kalau sudah waktunya dia berkeluarga sehingga dia tidak menolak ketika dijodohkan lagi.

Kisah Najin Han tidak berhenti sampai di situ, bahkan setelah menikah pun dia tidak pernah berhenti berjuang. Berjuang melawan rindu katika tidak lama setelah menikah dia harus ditinggal suaminya belajar keluar negeri yang lama kelamaan tanpa kabar, menghadapi mertuanya, menghadapi ayahnya ditangkap bahkan nantinya dia juga merasakan hal tersebut, menghadapi adiknya yang semakin dewasa semakin mengecewakan ayahnya. Najin Han dengan tegar menhadapi semua permasalahan tersebut, dia sejak kecil ditempa oleh ibunya agar menjadi wanita yang kuat.

Buku ini bagus, mengambarkan kehidupan wanita yang pada masanya tidak memiliki hak untuk berpendidikan, tugasnya adalah patuh pada suami dan mengurus rumah. Sayangnya saya kurang merasakan bagaimana Najin Han menuntut ilmu, lebih ke sejarah hidupnya yang diwarnai dengan bangsa Jepang yang mulai mengontrol politik negeri gingseng tersebut, masa-masa ketika Jepang mengalami depresi sehingga rakyat Korea sulit mendapatkan pekerjaan karena semua dikontrol oleh Jepang, bahkan tanah dan semua harta keluarga Han ikut di sita yang menyebabkan Najin berusaha keras menghidupi keluarganya, dia tidak bisa mengandalkan adiknya karena dia mengurus diri sendiri saja susah. Bagian dia menuntut ilmu yang saya rasa tema utamanya malah tidak menonjol. Kisah cintanya tidak banyak dijelaskan justru sejarahnya sangat kental sekali, mungkin itu juga yang membuat saya sedikit bosan ketika membacanya :p

Tokoh favorit saya dibuku ini adalah Haejung, ibu Najin Han. Dia benar-benar sosok wanita yang kuat. Dia tidak ingin apa yang pernah dialaminya juga bakal dirasakan anaknya, tidak punya kesempatan mendapatkan pendidikan. Sehingga ketika ada peluang sedikit dia tidak menyia-nyiakannya bahkan dia rela menghiananti suaminya demi membuat anaknya merasakan bangku sekolah, dia juga mengajari semua hal tentang bagaimana menjadi seorang perempuan. Haejung sangat berpikiran maju, dia berpendapat bukan jamannya lagi perempuan bodoh, perempuan juga berhak mendapatkan pendidikan seperti laki-laki dan usahanya agar Najin bisa bersekolah sungguh pantas diacungin jempol. Dia melanggar prinsipnya untuk selalu patuh dan menghormati suaminya demi menyekolahkan anak perempuannya. Kehebatannya juga terlihat ketika melahirkan Ilsun.

Quote favorit saya:

Menyimpan rahasia itu salah dan tak perlu merasa khawatir tentang hal-hal yang tak kau pahami atau yang terkesan aneh. Terkadang, bertanya adalah cara terbaik untuk belajar.

“Laki-laki membutuhkan air untuk hidup, tetapi mereka tak bisa bergerak seperti air. Perempuan seperti air yang mengalir, menghidupi dan menjelajah dan berada di bawah kedua kaki laki-laki yang menancap dengan mantap di tanah. Kita cair. Dan, dari kitalah mereka muncul, minum dan tumbuh. Dan jadi,” kata Ibu sambil mengusap rambutku yang mencuat liar dari kepangan dan sirkam perunggu. “Ketika ayahmu terlihat kasar, aku ingin kau menginggat hal ini. Perempuan dianugerahi secara istimewa dengan cara yang tak pernah dipahami laki-laki. Jagalah kasih Tuhan di dalam hatimu dan ingatlah hal ini selalu.”

6400109Terjemahannya bagus, tidak ada kalimat yang sulit dimengerti dan minim typo. Jangan khawatir dengan genrenya yang sedikit berat, buat yang sering migrain baca sejarah apalagi yang dibalut kisah perjalanan hidup seorang wanita Korea seperti buku ini, tenanggg, di belakangnya ada catatan sejarah yang akan mempermudah kita memahami isi cerita, selain itu juga ada daftar istilah, bahasa Korea yang sedikit banyak berseliweran di buku ini jadi bisa sekalian belajar bahasa asing juga, bahasa Korea yang sering digunakan di kehidupan sehari-hari, seperti panggilan ayah, ibu, kakak perempuan, dsb. Untuk covernya saya lebih suka versi terjemahannya, lebih mengambarkan seni yang dikuasai keluarga Han, kaligrafer.

The Calligrapher’s Daughter adalah novel pertama dari Eugina Kim, putri dari imigran Korea yang datang ke Amerika tidak lama setelah perang pasifik. Walau baru pertama menulis novel buku ini langsung menyabet penghargaan Borders Original Voices Award for Fiction (2009), A Best Book of 2009, The Washington Post, Shortlisted for the 2010 Dayton Literary Peace Prize in Fiction.

Untuk lebih lengkapnya silahkan kunjungi http://www.thecalligraphersdaughter.com

NB: Posting bareng BBI kategori penulis Asia

Jiwo J#ncuk

Jiwo_jancuk

Penulis: Sujiwo Tejo

Editor: Resita Wahyu Febriantri

Cover: Jeffri Fernando

Ilustrasi isi/lukisan: Sujiwo Tejo

Penerbit: Gagasmedia

ISBN: 979-780-572-7

Cetakan pertama, 2012

196 halaman

 

“Membaca tulisan Sujiwo Tejo tentang cinta di buku ini rasanya… jancuk!”

-Moammar Emka, penulis Dear You.

 

Ketika membaca endorsemen penulis di atas, saya pikir buku ini adalah buku romance, ternyata… jancuk! lebih dari itu. Buku dibagi menjadi empat bab: Amor, Metropolitan, Ceplas Ceplos, dan Twit Wayang. Mari kita tenggong satu per satu. 

Amor, di bab pertama ini, budayawan yang berpenampilan nyentrik dan tidak jarang bicara ceplas ceplos ternyata bisa menulis bahasa yang biasa, nyantai tapi romantis. Sewaktu kuliah dulu, penulis bekerja sebagai penyiar radio, tiap kali dia siaran dia menceritakan orang yang disukainya, bagaimana perasaanya, bagaimana rupa di wanita tersebut, juga salah seorang teman laki-lakinya. Puncaknya ada di cerpen Retno Kusumawardani :).

Puncak kangen paling dahsyat ketika dua orang tak saling menelepon

tak saling sms

bbm-an

dan lain-lain tak saling

namun diam-diam keduanya saling mendoakan

Selain itu, dalang edan ini juga bercerita tentang perempuan lewat prosa dan puisi, hahaha menyentil sekali :). Bahwa perempuan suka es krim dan coklat, tapi lebih suka kepastian, alasan seorang istri tiba-tiba meminta cerai kepada suaminya, seorang perempuan yang pertama kali pisah dengan anak-anaknya, melihat cinta dari sorot mata seorang perempuan.

Bahwa perempuan lebih canggih dari makhluk angkasa luar. UFO cuma bisa naik piring terbang, perempuan bisa menyebabkan piring-piring berterbangan ke para suami yang nyebelin. Lebih dari itu, perempuan bisa mengajukan gugutan cerai.

 

Perempuan bagai belut, meski telah kau kenali segala lukuk liku tubuhnya, sukmanya selalu luput dari genggaman.

 

Bagi saya, kalau sampeyan ditanya kenapa mencintai seseorang, apa alasannya, dan sampeyan bisa menjawab tuntas, berarti sampeyan bukan sedang jatuh cinta.

Bukan itu namanya. Itu itung-itungan. Cinta tak pakai alasan-alasan.

Metropolitan, berbicara tentang Jakarta tidak akan ada habisnya, macetnya lah, banjirnya lah, sumpeknya lah, semua ada. Di sini penulis menyentil tentang pelecehan seksual yang ada di angkutan umun, banyaknya Mal yang ada di Jakarta, kebiasaan baca koran saat di WC, merenung tentang angka kendaraan roda empat yang membludak, silahturahmi, dan dunia otomotif. 

Ceplas ceplos, berisi pendapat-pendapat dia, pemikirannya tentang masa lalu dan sekarang. Dulu para artis hampir tidak mempunyai privasi, beda dengan artis sekarang kita bisa cuek ketika dia berada di samping kita. Ucapan selamat lebaran yang dikirim lewat SMS atau BBM broadcast, di mana dulunya lewat katu pos, walau pun sama-sama copas yang paling membedakan adalah di kartu pos ada nama orang yang dituju. Para orang tua yang berlomba-lomba memasukkan putra-putrinya ke sekolah internasional,

Padahal, menurut Einstein, logika cuma sanggup mengantarmu dari A ke B. Sementara imajinasi sanggup membawamu dari A ke tak terhingga…

makna seorang guru, perempuan dan multitasking, komodo dan intra penciumannya, demokrasi, agama, pentingnya bernyanyi, dendam dan membalas dendam, mudik, kesehatan, komunikasi merubah banyak hal, ujian nasional, dan yang terakhir, salah satu pertanyaan besar ketika saya membaca twitnya @sudjiwotedjo yaitu pengertian Jancuk!

#JANCUK tuh ungkapan beragam dari kemarahan sampai keakraban, tergantung sikon seperti FUCK. tapi orang munafik langsung nyensor.

#jancuk ketika kita disuruh bangga jadi Indonesia tapi buku sejarah gak direvisi. Sejak SD dibilang Indonesia dijajah 350 tahun, mestinya berperang!

#jancuk tuh ketika teroris boleh ditembak tanpa sidang, tapi koruptor harus disidang dulu berbelit-belit dan abis itu gak jadi di-dor pula.

#jancuk itu asli kosakata Surabaya. Artinya Jaran Ngencuk. Dulu pernah dibuatkan seminar di Surabaya, bukan umpatan, cuma salam. Contoh: #Jancuk! Nang endi ae koe? (ke mana aja loe?) Muatan emosinya bukan jorok, tapi terkejut ketemu teman. Kalo bahasa Inggris: where the fuck have you been man? Bukan jorok, tapi suprised.

Twit wayang, nah, bagian yang saya suka nih, ingin tahu si dalang edan berbicara tentang filosofi hidup lewat wayang? di sinilah jawabannya. Kita akan tahu kenapa penulis sangat mengidolakan #Semar, bercerita tentang #DewaRuci, #Wisanggeni, #Yudistira, #Panakawan, #Petruk.

Gareng itu lambang keintelektualan dalam dirimu. Ketika kamu kritis mempertanyakan berbagai hal, kamu sedang meng-Gareng.

Ketika kamu sedang easy going dan take easy terhadap apa pun, kamu sedang mem-Petruk.

Ketika kamu sedang ingin memberontak terhadap apa pun, maka kamu sedang mem-Bagong.

Namun, biarlah #Semar dalam dirimu yang akan memoderatori kemunculan Panakawan dalam batinmu secara situsional.

Petruk: lambang kehendak, berhati-hati dalam menentukan keinginan, harus tetap rendah hati, dan waspada.

Bagian yang saya suka adalah bercerita tentang Yudistira 🙂

Ketika kita membaca pemikiran Sujiwo Tejo dengan berbagai hal di sekitar kehidupannya, kesehariannya, kita akan mikir: ternyata benar juga ya pendapatnya, terlebih tentang perempuan itu dan tentang lainnya :p. Lalu kita juga akan merasakan bagaimana seorang Sujiwo Tejo sangat membenci korupsi, berbicara sinis tentang pemerintahan tapi juga bisa romantis soal cinta. Saya juga suka pemikirannya tentang tidak ada aturan untuk tiap pagi sarapan, makan sehari tiga kali yang benar ya makan ketika lapar dan berhenti ketika kenyang, pemikirannya sederhana tapi bermakna. Buku ini menarik, seperti yang tertulis di belakang sampul buku: observasinya terhadap detail kehidupan disampaikan dengan bahasa yang santai, namun tetap sarat nilai dan kerap “menyentil”.

Padahal, kalau saya nggak salah ingat, setiap agama punya semangat sosial. Malah ada yang bilang, sembahyang yang sebenarnya ialah berbuat kebajikan buat orang banyak. Sebaik-baiknya umat adalah yang paling bermanfaat buat orang lain. Saya sering ngetwit seperti ini: “Sujud tertinggi adalah membahagiakan orang lain.

Itu nggak ada jadwalnya. Itu sepanjang waktu. Ajaran ini juga kerap dibilang dalam wayang.

Sembahyang formal yang ada jadwal-jadwalnya terhadap Tuhan baru punya dilai di depan-Nya kalau sembahyang itu makin kuat menggerakkan orang untuk melakukan perbuatan bagi sesama. Sembahyang individual menjadi laksana generator yang membangkitkan energi sosial.

Baru kali ini saya membaca karya full dari budayawan nyentrik ini, sebelumnya pernah membaca salah satu cerpennya di  kumcer 1 Perempuan 14 Laki-Laki, belum mengenal gaya penulisannya dan kali ini saya suka, bagaimana dia bercerita dengan ‘halus’, mengalir, dan mengena, ada beberapa bagian di endingnya ada efek kejutnya, eksekusinya pas sekali. Ada juga sisipan lukisan karya penulis yang nyleneh, saya nggak pinter mengintepretasikan sebuah lukisan yang jelas lukisan Sudjiwo Tejo ini nggak jauh-jauh dari wayang dan Semar :). Minim typo. Suka banget sama covernya, kayak sebuah permainan apa itu namanya? Boneka yang ada talinya trus digerak-gerakkan dengan tangan. Buku ini tida
k hanya berisi kisah cinta tapi pemikiran-pemikiran dan perasaannya terhadap kehidupan sekitarnya.

Buku itu ditujukan kepada para Jancukers.

 

3.5 sayap untuk Jancuk!

Manusia Setengah Salmon

13290213

Penulis: Raditya Dika

Editor: Windy Ariestanty

Desain cover & ilustrasi: Adriano Rudiman

Penerbit: Gagasmedia

ISBN: 979-780-531-x

Cetakan ketiga, 2011

258 halaman

 

Sebelumnya mau ngucapin selamat berpuasa bagi yang merayakan 🙂

Lumayan lama juga nggak baca tulisannya Raditya Dika baik buku ataupun blognya, kemaren sempet ngintip sebentar blognya dan menemukan tulisan yang cukup memotivasi, bulan puasa buat dia adalah bulan yang produktif buat nulis, dan saya ingin mengikuti jejaknya, hahaha. Kebetulan banyak sekali buku yang belum saya review karena ngebut baca, hampir 30an buku yang belum saya review dan cukup bingung mau memulai yang mana, maka dari itu saya mengikuti jejak Radit untuk produktif baik membaca ataupun menulis review di bulan yang penuh berkah ini, itung-itung nunggu buka puasa, terlebih yang menulis review. Karena jadwal kerja saya yang tak beraturan, saya berencana menulis kalau libur, biasanya sih juga gitu, untuk memaksimalkan waktu luang saya akan usahakan kalau nggak bisa onlen kompi saya akan menulis di kertas dulu, buat penggemar Kutu Bokek dan Kubikel Romance nantikan ya, ngabuburit baca review buku 🙂

Buku terakhir Raditya yang saya baca adalah Marmut Merah Jambu, buku komedi yang berisi tentang cinta, kalau buku ini bertema dengan pindah.

Manusia Setengah Salmon adalah kumpulan tulisan komedi Raditya Dika. Sebilan belas bab di dalam bercerita tentang pindah rumah, pindah hubungan keluarga, sampai pindah hati. Simak juga bab berisi tulisan galau, observasi ngawur, dan lelucon singkat khas Raditya Dika.

Saya suka temannya, pindah. Kebetulan saya agak mempunyai masalah dengan kata itu. Dulu waktu kecil pas pindah rumah saya sempet sakit berhari-hari. Kemudian pas pindah dari SD ke SMP saya juga sakit, untungnya sudah bisa menyesuaikan ketika pindah ke SMA dan perguruan tinggi, hehe, mau nggak mau umur yang bekerja. Kemudian pas saya dapet panggilan kerja di Jakarta saya nggak krasan, padahal baru satu hari saya sudah homesick, nggak cocok jauh dari rumah.

Di buku ini kita akan menemui bentuk-bentuk pindah, walaupun nggak semuanya berisi tentang kepindahan. Di bab Sepotong Hati Di Dalam Kardus Coklat kita mendapatkan cerita ketika Radit putus cinta, pindah hati pada pertengahan 2009 dengan alasan tidak ada lagi kecocokan.

Di kehidupan nyata, pada umumnya ketika cowok diputusin sama ceweknya, dia pasti akan setengah mati berusaha untuk gak nangis. Si cowok akan sedapat mungkin stay cool, supaya gak kelihatan cemen. Harga diri lebih penting daripada sakit hati.

Hahaha, putusnya lempem aja gitu, nggak ada banyak kata, yah mungkin meminimalisir sakit hati kali ya. Tapi sakitnya setelah itu, kita akan kepikiran terus sama si mantan, apa-apa yang kita lakukan pasti teringan sama mantan, betul itu?

PUTUS cinta seperti disengat lebah. Awalnya, tidak terlalu berasa, tetapi lama-kelamaan bengkaknya mulai terlihat.

Di bab itu juga, ibunya Radit juga mengusulkan untuk pindah rumah karena rumah yang mereka tempati sepuluh tahun terakhir itu tidak cukup besar untuk saudara-saudara Radith yang sudah mulai dewasa.

Putus cinta sejatinya adalah sebuah kepindahan.

Bagaimana kita pindah dari satu hati, ke hati yang lain. Kadang kita rela untuk pindah, kadang kita dipaksa untuk pindah oleh orang yang kita sayang, kadang bahkan kita yang memaksa orang tersebut untuk pindah. Ujung-ujungnya sama: kita harus bisa maju, meninggalkan apa yang sudah menjadi ruang kosong.

Cerita pindah selanjutnya saya temukan di bab Kasih Ibu Sepanjang Belanda. Bagian ini sebelumnya sudah pernah saya baca di novel The Journeys. Kalau sebelumnya tentang pindah hati dan pindah rumah, kali ini kita mendapatkan cerita tentang pindah hubungan keluarga. Semakin kita dewasa, seharusnya kita lebih mendekatkan diri ke orang tua kita, itulah pesan yang saya tanggap. Ceritanya ketika Radit umur 22 tahun mendapatkan beasiswa summer course ke Belanda selama dua minggu. Nyokapnya radit terkenal punya perhatian yang terlalu besar kepada anak-anaknya, dan itu cukup menganggu Radit, awalnya. Kemudian dia sadar, seharusnya bersyukur karena ada orang yang selalu mengkhawatirkannya.

Sesungguhnya, terlalu perhatiannya orangtua kita adalah gangguan terbaik yang pernah kita terima.

Di bab Ledakan Paling Merdu kita juga mendapatkan pindahnya hubungan dengan bokapnya Radit, dulu mereka sering olahraga bareng untuk mengeluarkan kentut di pagi hari, tapi semenjak Radit mulai tenar, kebiasaan itu jarang mereka lakukan bersama. Cukup membuat saya ngakak.

Di bab Mencari Rumah Sempurna isninya nggak jauh beda dengan bab Sepotong Hati Di Dalam Kardus Coklat, bercerita tentang pindah rumah dan pindah hati. Akhirnya nyokap Radit menemukan rumah idaman namun Radit belum begitu nyaman dengan rumah barunya itu, dia masih nyaman dengan rumah lamanya.

Saat ini, gue jadi berpikir, proses pindah hati juga seperti pindah rumah. Terkadang, kita masih membanding-bandingkan siapa pun yang kita temui dengan mantan pacar. Ketika kenalan sama seseorang, kita membandingkan dengan kebiasaan mantan pacar kita. Kita membandingkan secara sadar ataupun tidak, cara mereka berjalan, cara mereka berbicara, bahkan cara mereka mengakhiri pembicaraan di telepon. Seperti lazimnya orang yang masih terjebak di dalam masa lalu. Orang yang lebih baru pasti kalah sama mantan pacar kita yang sudah lama itu.

Ini mungkin alasan kenapa susah banget buat gue untuk menemukan yang baru, karena perjuangan untuk pindah adalah perjuangan untuk melupakan.

Sebenernya bab di atas yang terasa sekali aura kepindahannya dan juga bagian terakhir dari review ini, bab lainnya lebih banyak bercerita tentang kacaunya hidup Radith, haha. Ada tulisan-tulisan singkat, contohnya di bab Akibat Bertanya ke Orang yang Salah Tentang Ujian, bab yang berisi pertanyaan-pertannyaan followers @radityadika pas musim ujian, tentu dijawab dengan ngasal. Hal-Hal yang Tidak Seharusnya Dipikirkan Tapi Entah Kenapa Kepikiran, hal absurb yang kok bisa-bisanya kepikiran? contohnya: Jika saya memasukkan Kalpanax ke dalam sup jamur, apakah sup tersebut akan lenyap? Trus ada percakapan yang lebih absurb lagi di bab Interview With The Hantus, hahaha saya suka tokoh Genderuwo atau biasa dipanggil Uwo, sekarang dia udah nggak gimbal lagi rambutnya, cocok untuk menjadi duta shampo selanjutnya XDD. Bab Emo…Emo…Emo…Emoticon! pasti udah nggak asing lagi bagi para alay. Terlentang Melihat Bintang adalah bab dimana kamu bisa menjadi atlet gulat internasional, tipsnya dijamin tokcer :D. Dan untuk yang suka galau pasti suka baca bab: Penggalauan. Kasih contoh lagi bagian yang saya suka:

“Jatuh cinta itu musuh akal sehat.”

“Naksir diam-diam itu komedi putar. Seakan berjalan, tetapi sebenernya tidak kemana-mana.”

Ada satu bab lagi bab yang mungkin nggak asing bagi yang suka twitteran: Serupa tapi Emang Beda.

Pacaran: beli baju sama pacarnya. LDR: dikirimin baju sama pacarnya. Jomblo: minjem baju tetangga.

Pacaran: pelukan pas nonton konser. LDR: telepon-teleponan pas nonton konser. Jomblo: jadi calo tiket.

Ngomongin soal jomblo, ada dua bab yang berkaitan dengan tema itu: Tarian Musim Kawin dan Jomblonology. Di t
arian Musim Kawin kita akan mendapat tips gimana caranya menarik perhatian orang.

Inilah sesungguhnya tujuan dari PDKT: agar kita bisa membedakan antara orang yang kita mau dengan orang yang kita butuhkan.

Prof. Dr. Raditya Dika, MBA., Msc., McD Delivery Service akan memperkenalkan Jomblonology, sebuah bidang keilmuan yang mempelajari segala sesuatu tentang jomblo. jadi untuk fakir asmara, jangan patah semangat dulu, kalian masih mempunyai harapan dengan adanya paper yang dibuat Prof. Dr. Raditya Dika, MBA., Msc., McD Delivery Service di buku ini. Semangat!

Dan bagian yang membuat saya terpingkal-pingkal adalah Bakar Saja Keteknya dan Lebih Baik Sakit Gigi.

‘Pak…’

‘Ya, kenapa, bang?’ tanya dia, sambil mengecilkan suara radio.

‘Bapak tahu bunga bangkai nggak?’

‘Bunga yang bau itu? Tahu.’

‘Nah, gimana, sih caranya caranya supaya bunga itu enggak bau lagi?’

Gue berharap Pak Sugiman akan berkata bahwa harusnya bunganya disemprot dengan zat penghilang bau. Gak taunya, Pak Sugiman malah berkata mantap, ‘Dibakar aja, Bang.!’

Kita sama-sama diam.

Ini berbeda sekali dengan jawaban yang sudah gue siapkan. Sekarang gimana? Masak gue harus bilang, ‘Nah, bayangkan bunga bangkai itu ketek Bapak, sekarang silahkan bakar ketek Bapak.’

***

Gue mulai panik. Gue nyuruh pembantu nyariin dokter gigi di sekitar rumah yang masih buka, dia malah bilang, ‘Bang, kalau aku dulu pas masih kecil, giginya akut iket benang trus aku tarik di pintu.’

‘Mbak, itu kan gigi susu, yang gampang copot. Ini gigi bungsu, geraham pula. Pasti susah banget copotnya.’

Pembantu gue mikir sebentar, lalu entah becanda entah hilang akal. dia bilang, ‘Kalau giginya keras dan susah, gini aja Bang… Iket pake benang terus ditarik aja pake mobil.’

‘Mbak,’ kata gue sambil menggeleng. ‘Itu, sih giginya mungkin copot, tapi rahangnya juga ikutan copot.’

Gue jadi berpikir, tumbuh dewasa memang menyenangkan, tetapi tumbuh dewasa juga harus melalui rasa sakit-sakit ini. The pains of growing up. ‘Pindah’ menjadi dewasa berarti siap menghadapi rasa sakit dan melihat hal-hal yang menyakitkan itu sendiri: hadir di pemakaman nenek-kakek, rasa sakit karena gagal masuk ke sekolah yang kita mau, atau rasa sakit lantaram geraham bungsu yang tumbuh.

Atau kalau kata nyokap gue: salah satu tanda orang sudah dewasa adalah ketika dia sudah pernah patah hati.

Selain banyolannya yang khas, yang saya tunggu-tunggu dari karyanya Radit adalah ketika dia bercerita tentang keluarganya, tentang bagaimana dia berbuat semena-mena terhadap adik-adiknya, terlebih pada Edgar, adik yang pangkatnya paling rendah di rumah, haha. Satu hal yang paling seru dari karya-karyanya. Kita bisa mendapatkan semua itu di bab Pesan Moral Dari Sepiring Makanan.

The Power of Pindah kita temukan di bab terakhir: Manusia Setengah Salmon.

Setiap tahunnya ikan salmon akan bermigrasi, melawan arus sungai, berkilometer jauhnya hanya untuk bertelur. Beberapa species, seperti Snake River Salmon bahkan berenang sepanjang 1148 kilometer lebih, dua kali lipat jarak Jakarta-Surabaya. Perjalanan salmon-salmon ini tidak gampang. Di tengah berenang, banyak yang mati kelelahan. banyak juga yang menjadi santapan beruang yang nunggu di daerah-daerah dangkal. Namun, salmon-salmon ini tetap pergi, tetap pindah, apa pun yang terjadi.

Gue jadi berpikir, ternyata untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik, gue gak perlu menjadi manusia super. Gue hanya perlu menjadi manusia setengah salmon: berani pindah.

Di bab itu, kita akan dibawa ke suasana perubahan hidup Radit, merasakan tahap apa saja yang sudah dilaluinya, mulai dari pindah dari rahim ibunya, pindah sekolah, pindah pekerjaan, pindah cita-cita, pindah rumah, pindah hati, pindah hubungan dengan nyokapnya, walau nggak detail, kita serasa memahami perubahan tersebut karena kita juga mengalaminya, kita semua.

Hidup sesungguhnya adalah potongan-potongan antara perpindahan satu dengan lainnya. Kita hidup diantaranya.

Hidup penuh dengan ketidakpastian, tetapi perpindahan adalah salah satu yang pasti.

 

3,5 sayap untuk ikan salmon.

 

Little Bee

13402843

 

Sinopsis (Goodreads)

Kami tidak ingin memberi tahu Anda APA YANG TERJADI di dalam buku ini. 

Karena KISAHNYA BEGITU ISTIMEWA dan kami tidak ingin merusak kenikmatan Anda membaca. 

MESKI BEGITU, Anda perlu tahu sedikit untuk mau membelinya, jadi inilah yang akan kami katakan: 

Ini adalah kisah dua orang perempuan. Kehidupan mereka bersilang jalan suatu hari, dan salah seorang dari mereka harus membuat pilihan yang mengerikan, jenis pilihan yang kami harap tidak akan pernah Anda hadapi. Dua tahun kemudian, mereka bertemu kembali–dan kisahnya dimulai dari sini…. 

Setelah Anda membacanya, Anda pasti ingin memberi tahu teman Anda tentang kisah ini. Ketika Anda menceritakannya, tolong jangan beri tahu mereka apa yang terjadi. Keajaiban kisah ini terletak pada bagaimana ia terkuak.

 

Review

Saya akan memberitahu apa yang terjadi, tentu tidak semuanya. Jadi, inilah yang akan saya katakan:

Sering kali, aku berharap menjadi sekeping koin Inggris senilai satu pound dan bukan seorang gadis Afrika. Semua orang akan senang melihatku datang.

Sekeping koin satu pound bisa pergi ke mana pun yang baginya paling aman.

Sekeping koin satu pound juga bisa serius. Ia bisa menyamar menjadi kekuasaan, atau properti, dan tidak ada yang lebih serius ketika kalian bertemu seorang gadis yang tidak memiliki keduannya.

Koin satu pound bebas bepergian menuju tempat yang aman, dan kita bebas melihatnya pergi.

Cerita bermula dua tahun yang lalu ketika Sarah ingin memperbaiki rumah tangganya dengan Andrew ke Nigeria, liburan gratis. Sarah merasa bersalah karena berselingkuh dengan Lawrence, sejak menikah dengan Andrew, dia merasa mereka bukan pasangan yang cocok maka ketika ada brosur liburan gratis dia ingin memperbaiki semuanya.

Di Nigeria, tepatnya di sebuah pantai mereka bertemu dengan dua orang gadis yang ingin ikut ke tempat mereka, salah satu dari mereka bilang kalau mereka sedang diburu dan akan dibunuh. Andrew tidak percaya dan meminta agar mereka tidak mengikutinya. Pengawal Sarah dan Andrew memaksa dua pasangan itu untuk segera kembali ke hotel karena keadaan negara tersebut ternyata tidak aman, tapi Sarah tetap ingin jalan-jalan. Hingga datanglah para pemburu, para pemburu itu memaksa untuk menyerahkan dua gadis itu tapi Sarah tidak mau, kemudian para pemburu itu akan membiarkan salah seorang dari mereka hidup kalau ada yang mau mengorbankan jari tengahnya untuk dipotong. Sarah meminta Andrew untuk melakukannya, tapi ketika dia hampir melakukannya dia tidak mau. Lalu Sarah memotong jari tengahnya sendiri.

Dua tahun kemudian, waktu pemakaman Andrew- yang mati bunuh diri- Little Bee, salah seorang gadis yang ditemui Sarah di pantai Nigeria dulu ada di depan pintu rumahnya. Dia bilang dia tidak punya kenalan kecuali pasangan O’Rourke yang ditemuianya dua tahun lalu dan dia mendapatkan alamat mereka  dari SIM Andrew yang jatuh di pantai. Little Bee bilang kalau dia melarikan diri dari Black Hill Immigration Removal Center, ya, Little Bee adalah imigran gelap dan dia tidak mau pulang ke negaranya.

Well, saya bingung mau ngomong apa tentang inti cerita ini, mata saya berkaca-kaca ketika membaca bagian akhir. Cerita ini sedih, tapi ada juga kebahagiannya, walaupun sedikit. Alurnya maju mundur, point of view dari dua orang yaitu Litle Bee dan Sarah, bergantian di tiap bab. Walaupun maju mundur tidak membuat saya bingung, ceritanya seperti acak tapi ketika kita membaca lembar demi lembar, kita akan memahami apa yang terjadi antara Little Bee dan Sarah.

Little Bee, gadis berusia enam belas tahun ini berhasil lolos dari buruan para pemburu, dia diburu karena melihat mereka membunuh orang-orang di desanya, banyak yang mati di desanya, ada gambaran tentang Nigeria yang tampak luar tanpa konflik, penghasil minyak bumi  dan pengekspor terbesar  ke delapan di seluruh dunia ternyata di dalamnya sangat sangat mengerikan, banyak perempuan yang diperkosa setelah itu dibunuh. Dia mencoba bertahan hidup, menciptakan dunia baru dengan nama Little Bee.

Lebah itu kecil dan ia mendarat di setangkai bunga pucat, lalu lebah itu terbang lagi, tanpa membuat keributan. Little Bee tidak menyadari keberadaan bunga itu sebelum si lebah datang, tetapi kini ia melihat bahwa bunga itu indah.

Sarah, wanita yang sukses dengan pekerjaanya tapi sayangnya tidak dengan rumah tangganya. Sebenarnya tidak seburuk itu, dia mempunyai anak Charlie yang lucu dan mengaku sebagai Batman dan hubungan dengan Andrew juga harmonis, hanya saja dia lebih cocok dengan Lawrence dan setelah kejadian di Nigeria itu hubungan mereka tidak bisa diakhiri. Andrew lebih cenderung merasa depresi, tidak tahu alasan kenapa dia bunuh diri, saya berasumsi karena dia tidak bisa melindungi Sarah, bukan dia yang berkorban untuk memotong tangannya, dia suka menyendiri dan sibuk dengan pekerjaannya. Mungkin juga dia merasa gagal menjadi suami untuk Sarah, ada perkataan Sarah dan Andrew yang membuat saya bersimpati:

“Charlie menginginkan kau kembali, Andrew.”

Hening.

“Andrew?”

“Charlie mengingginkan itu ya?”

“Ya.”

“Bagaimana denganmu? Apa kau meningginkan aku kembali?”

“Aku ingin apa yang Charlie inginkan.”

Walau berselingkuh -di mana saya tidak suka dengan sikap ini- saya tidak bisa membenci Sarah. Dia menjadi tokoh favorit saya, dan saya sangat menikmati ketka dia yang bercerita. Mungkin karena dia tetap mau membantu Little Bee, mengorbankan jarinya agar dia tetap hidup di pantai itu, dia juga bersikeras agar Little Bee tinggal di rumahnya dan mencoba membuat statusnya menjadi legal, dia juga sangat mencintai Charlie, anaknya, saya sampai ikut khawatir ketika Charlie hilang ketika mereka berjalan-jalan, ikut memohon Charlie tidak kenapa-kenapa. Yang tidak saya suka dari Sarah adalah ketika suaminya meninggal dia tetap menjalin hubungan dengan Lawrence, di satu sisi dia merasa kehilangan di satu sisi dia tidak ingin melepaskan Lawrence, saya tidak bisa memahaminya. Satu lagi tokoh favorit saya, Charlie, yub, bocah yang sering memakai kostum Batman ini lucu dan polos. Suka ketika jika berkata salah makan Sarah akan membenarkan ucapannya, kemudian Charlie akan mengulangi perkataannya. Saya juga suka ketika Little Bee bisa ‘menangani’ kenakalannya. Hubungan mereka unik, sulit untuk diungkapkan. Penulis benar-benar bisa membawa perasaan saya ikut hanyut di cerita ini. Buku ini bercerita tentang kehilangan dan penerimaan.

Kekurangan buku ini terletak pada cover, terjemahan dan masih banyaknya typo. Sebenarnya tidak terlalu buruk, hanya saja ketika memasuki bab 3 saya sangat merasa aneh dengan bahasanya, saya menilai bagus jeleknya terjemahan dari kenyamanan saya membaca, saya tidak tahu benar atau salah terjemahannya karena saya tidak membaca versi aslinya, jadi kalau saya nyaman dengan bahasanya maka tidak ada masalah. Diskripsinya oke, saya nyaman tapi ketika memasuki bagian dialog merasa sangat jangal, mungkin penerjemah bermaksud agar bahasanya tidak terlalu formal, tapi sangat berbeda dengan bab lainnya, bab lainnya di bagian dialog tidak seperti di bab tiga, sehingga selain saya tidak nyaman terjadilah banyak typo. Contohnya di halaman 105, “Oh, coba liat kondisi kita ini, Bug. Apa yang kita akan kita buat pada diri kita sendiri?” rasanya aneh dan kadang saya mengulang membaca agar paham. Untuk cover, saya tidak terlalu suka dengan terbitan Gagas ini, saya lebih suka cover yang ini:

Little_beeLittlebee

Quote favorite saya adalah:

Kebahagiaan bukan sesuatu yang bisa diambil orang dari rak, itu sesuatu yang harus diusahakan seseorang.

 

4 sayap untuk koin satu pound.

 

 

Little Bee

penulis: Chris Cleave

penerjemah: –

editor: Samira

cover: Jeffri Fernando

penerbit: gagasmedia

ISBN: 979-780-524-7

cetakan pertama, 2011

383 halaman

 

NB: Tentang Penulis

374590

 

Chris Cleave adalah seorang novelis dan kolumnis untuk koran The Guardian di London.

Novel best seller miliknya, Incendiary diterbitkan di dua puluh negara, memenangi Somerset Maugham Award 2006, masuk daftar pendek untuk Commonwealth Writer’s Prize 2006, memenangi United States Book-of-the-Month Club’s First Fiction Award, dan juga memenangi Prix Special du Jury di French Prix des Lecture 2007.

Terinspirasi dari kenangan masa kanak-kanaknya di Afrika Barat dan sebuah kunjungan tak sengaja ke sebuah kamp konsentrasi Inggris, Little Bee adalah novel keduanya.

Ia tinggal di London dengan istrinya yang berkebangsaan Prancis dan dua anak keturunan Anglo-Prancis yang nakal-nakal.

Kunjungi dia di www.chriscleave.com atau di twitter @chriscleave

Life Traveler

Life_traveler

Life Traveler: Suatu Ketika di Sebuah Perjalanan

by Windy Ariestanty

editor: Alit T. Palupi

cover: Jaffri Fernando

penerbit: Gagasmedia

ISBN:979-780-444-5

cetakan I, 2011

382 halaman

 

“Semua orang bisa pergi ke Vietnam, Paris bahkan Pluto. Tapi, hanya beberapa saja yang memilih pulang membawa buah tangan yang mampu menghangatkan hati. Windy berhasil menyulap perjalanan yang paling sederhana sekalipun jadi terasa mewah. Bahkan, celotehannya dalam kesendirian terdengar ramai. Ramai membuat nyaman.” – @vabyo

Sekilas buku ini tidak jauh berbeda dengan buku traveling lainnya, tapi yang membuat special adalah penulis bukan hanya membawa kita ke Ha Noi (Viet Nam), Kamboja, Amerika Serikat, Czech Republic, Jerman, Swiss, Prancis, Belanda dengan traveler’s tip, traveler’s note, traveler’s trick, traveler’s fact yang sangat bermanfaat kalau kita berkunjung kesana tetapi penulis juga mengamati orang asing yang ditemuinya, bertemu dengan orang asing yang tidak membuatnya asing di negeri orang, menemukan rumah. Sederhana, ya, kisah perjalanannya sederhana, tidak membeberkan berapa total bujet yang harus dikeluarkan, mengunjungi semua tempat yang terkenal, dengan mengamati segala sesuatu disekitarnya dan menikmati perjalanannya, kisah ini begitu mewah.

Saya tidak akan menulisakan keindahan dari kota/negara yang dikunjungi penulis, kisah cinta yang penulis temui atau alami dan siapa saja yang membuat dia menemukan keluarga di luar rumah, saya akan menulisankan pemikiran penulis tentang perjalanan menurut versinya, agak banyak karena tulisan dia benar-benar indah 🙂

 

Saya ingin menemukan cerita untuk ditulis. Cerita tentang apa saja selama perjalanan ini. Saya mengamati setiap orang yang saya temui. Mencoba menemukan kisah mereka. Menjelajah setiap sudut tempat yang saya kunjungi. Menangkap pesan yang tersembunyi. Atau bahkan isyarat yang tak saya pahami. Saya seperti si pemungut remah yang mengumpulkan remah yang tercecer di sepanjang jalan.

 

Kisah tentang mereka yang hanya ingin menjauh sejenak untuk bisa menemukan jalan pulang. A way to go home, finding themselves.

 

 

..keanehan selalu menjadi awal untuk sesuatu yang tidak akan bisa dilupakan. Something that you do not expect bring a surprise to your life. I called it ‘friends’.

 

Buat saya, hidup sendiri adalah sekumpulan daftar mana yang penting dan mana yang kurang penting. Dan kita harus bergerak cepat.

 

Kadang, kita menemukan rumah justru di tempat yang jauh dari rumah itu sendiri. And yes, wherever you feel peacefulness, you might call it home.

 

Kadang, kita menemukan ‘rumah’ di tempat yang tidak kita duga. Menemukan teman, sahabat, saudara. mungkin juga cinta. Mereka-mereka yang memberikan ‘rumah’ itu untuk kita, apa pun bentuknya.  Tapi yang paling menyenangkan  dalam sebuah perjalanan adalah menemukan diri kita sendiri.

 

Buat saya, bukan berapa lama waktu yang saya miliki. Buat saya, bukan berapa lama waktu yang saya miliki dalam sebuah perjalanan, tetapi apa yang bisa saya temukan dalam perjalanan.

 

Dalam sebuah perjalanan, ketika merasa tak ada seorang pun mengenalnya, manusia bisa lebih leluasa mengekspresikan diri. Lebih leluasa menjadi dirinya sendiri. Dan kadang, batas mengekspresikan diri ini menjadi kabur. Meniadakan keberadaan yang lain.

 

Saya percaya, ada bahasa yang tak bersuara. Ada aksara yang tak memerlukan kata-kata. Dan itu cinta.

Cinta adalah sebuah perjalanan yang tak bisa ditempuh dalam satu atau dua hari. Tidak juga dalam sebulan atau satu tahun. Tak ada peta untuk menemukan tempat bernama cinta. Tak ada buku panduan traveling yang bisa menuntun kita ke sana. Mana ada pula panduan menghemat bujet untuk tiba di sana.

Cinta adalah perjalanan panjang, ia tumbuh tua bersama waktu dan manusia. Dan ia, tak pernah benar-benar jauh. Selalu memeluk manusia dengan erat. Mengisi celah yang mungkin hanya sejengkal itu. Memberi kita alasan untuk selalu pulang.

 

Untuk menguasai Bahasa Dunia ini hanya dibutuhkan satu hal: keberanian untuk memahami.

Ada bahasa yang tumbuh besar bersama manusia tanpa membutuhkan kamus, bahasa ‘memahami’.

 

Semua tahu mereka butuh ‘pulang’. Butuh rehat. Butuh mencari hangat. Bukan dari sinar matahari, bukan dari nyala api di tungku, atau hawa panas yang dikeluarkan mesin penghangat. Mereka mencarinya dari sebuah kebersamaan. Keintiman yang menjauhkan mereka dari keterasingan.

 

Menunggu memang seperti jebakan . Bersembunyi di antara sela-sela waktu yang tak terduga. Ketika saya ingin bergegas, ia justru membuat saya harus memelankan langkah. meminta saya melihat sesuatu lebih jeli. Memberi saya sedikit ruang untuk menarik napas dan menikmati apa pun tanpa tergesa.

 

Waktu memang tak pernah menunggu. Ia membuai. Membuat kita lelap. Entah di sudut mana, ia meninggalkan kita dalam rasa sesal karena kehabisan waktu. Padahal, waktu tak pernah habis. Ia hanya terus bergulir. Dengan iramanya yang konstan, ia meninabobokan kita hingga lupa untuk bergegas.

Kehidupan ini ibarat sebuah penutup botol sampanye yang jauh di sungai dan terbawa oleh aliran air. Supaya bahagia, kita hanya  harus  mengkuti alirannya. – Auguste Renoir

 

Home is a place where you feel more comfortable. Home is a place where you can be and find yourself.

Selain tulisannya yang indah, buku ini dilengkapi dengan foto-foto yang mendukung kisah perjalanannya dan ilustrasi yang apik di tiap bab-nya. Ada dua bonus kisah perjalanan sahabat penulis yang lumayan seru juga. Cover dan pembatas bukunya suka banget. Bagian yang saya suka adalah bab 5 tentang A Sleeping Beauty On the Sleeping Bus, saya benar-benar ingin merasakan tidur di sleeping bus dan ikut mengamati beragam ekspresi dari penumpang lainnya, melihat pemandangan Viet Nam hanya dengan tiduran, benar-benar terlihat seru.

Buku ini menjadi berbeda dengan buku traveling lainnya, kita akan memahami bahwa walaupun kita berada sangat jauh dari rumah, kita tetap akan bisa menemukan ‘rumah’ itu dan kita tetap akan bisa menjadi diri sendiri.

4 sayap untuk perjalanan yang tidak biasa

Kedai 1001 Mimpi

Cover-kedai-1001-mimpi

Kedai 1001 Mimpi: Kisah Nyata Seorang Penulis yang Menjadi TKI

penulis: Valiant Budi

editor: Alit Tisna Palupi

Cover: Jeffri Fernando

ISBN: 979-780-497-6

Cetakan I: 2011

444 halaman

 

Sinopsis

Valiant Budi adalah seorang penulis yang tergila-gila dengan dunia Timur Tengah. Salah satu ambisinya yaitu menulis sebuah buku travel dari belahan bumi 1001 mimpi ini. Kesempatan datang, ia akhirnya tinggal di Saudi Arabia sambil bekerja di salah satu kedai kopi international. Ternyata, terjun langsung sebagai TKI membuatnya menemukan berbagai peristiwa ganjil yang tak pernah ia ingin ketahui, apalagi ikut merasakannya. Ambisinya terkubur, berubah menjadi keinginan kuat untuk kembali tinggal di tanah air tercinta. Buku ini berdasarkan pengalaman Valiant Budi dan beberapa rekan TKI yang bertahan hidup di Saudi Arabia dan selalu rindu Indonesia.

 

My Review

Waktu kecil saya bercita-cita ingin keliling dunia, salah satu caranya adalah dengan bekerja di luar negeri. Nggak tahu sih dimana tepatnya, yang jelas impianku itu bisa terwujud. Lalu waktu kuliah ada dosen yang bilang kalau di Timur Tengah, profesi saya banyak yang dibutuhkan. Tapi, setelah membaca buku ini, saya akan membelokkan pesawat ke timur lagi menuju Korea atau Jepang saja, di sana banyak boy band unyu :p.

Buku ini bercerita tentang kisah nyata Vibi ketika menjadi TKI, percaya atau tidak. Melalu proses panjang akhirnya, pada pertengahan Mei 2009 impiannya mulai terwujud, sayangnya dia tidak di tempatkan di kota yang sebelumnya sudah terjadwal, dia nyasar ke kota bernama Dammam – Kingdom of Saudi Arabia

Begitu sampai culture shock mulai menyerang dan lama-lama meradang. Mulai dari cuaca, bahasa, sampai perilaku aneh orang-orang yang ditemuinya. Singkat cerita selama bekerja di Sky Rabbit, selma tinggal beberapa bulan di Arab banyak pengalaman yang mungkin banyak orang tidak akan percaya. Dimulai dari dituduh maling ponsel, kontrak akomodasi yang kacau, dikira orang Filipini, menjadi tukang pel dan lap meja, bos berkepribadian ganda, ditawar dan dikejar-kejar om-om tengah malam, sakit dan mendapati rumah sakit yang aneh, bertemu keluarga dengan kisah yang menakjubkan, bekerja bersama dengan orang yang berperilaku menjijikan jika tidak senang dengan pembeli, dipaksa berbuat curang dalam bekerja.

Aku mungkin binal dan begundal, tapi ada hal-hal yang tetap aku junjung tinggi sebagai prinsip hidup.

Banyak hal yang sangat membuat saya terkejut, ternyata di negara yang kata orang paling suci, negar surga ternyata tidak sesuci yang saya bayangkan. Di sana ada juga homo, pelacuran, makanan haram yang dicari, berbuat curang dalam bekerja pun dilakukan, bahkan katanya kalau datang ke arab itu sia-siap juga untuk di perkosa. Miris sekali bukan, negara yang setiap tahunnya berjuta-juta orang untuk naik haji, untuk lebih dekat denganNya, tenryata membawa juga sejuta derita.

Menyedihkan membaca buku ini? Ya. Apa sampai membuat berlinang air mata? TIDAK. Kenapa? saya kasih contoh ya:

Ouuh jiwa terasa melayang, ketombeku pada terbang. Hari yang dinanti telah datang! Badai pasir kuadang, pohon kaktus kutebang, demi iqama-ku sayang.

LOL, saya malah banyak ngakaknya baca buku ini, tiap kali mau ikut sedih dengan pengalaman atau cerita yang didapatkannya Vibi disana, ga jadi. Karena tiap kali dia nulis mengharu biru, berikutnya dia akan membuat kaliamat yang membatalkan kesedihan kita. Kocak abis deh gaya lebay-nya.

Bagian paling favorite dari buku ini adalah Botol Kecap dan Kue Apem. Awalnya heran kok nggak nyambung gini judulnya, ternyata XD. Di bagian ini saya merasakan kelegaan Vibi ketika dia bertemu ‘keluarga’ yang senasip dengannya, meluangkan waktu untuk bertemu dan saling bercerita, menjaga dia tetap waras diantara orang yang sinting.

Ada baiknya para TKI berpikir ulang kalau mau bekerja di luar (ada baiknya lagi baca buku ini sebagai pengalaman), kalau memang ingin dan terpaksa sebaiknya dipersiapkan lebih, mulai dari mental, ketrampilan dan bahasa. Banyak kasus yang sudah terjadi yang berakhir mengenaskan, jangan sampai terulang lagi.

Maaf, tapi di negara miskin saya itu, saya lebih banyak tersenyum. Tak terbeli dengan ribuan riyal. Lagi pula, semua kebusukan negara saya, Indonesia, ada di negara lain, kok. Tapi keindahan Indonesia belum tentu dimiliki negara lain.

4 sayap untuk sang barista kita, Pibi 🙂

Letters to Sam

12139422

Penulis: Daniel Gottlieb

Penerjemah: Windy Ariestanty

Penerbit: Gagasmedia

Cetakan: I, 2011

ISBN: 979-780-510-7

218 halaman

 

Aku tak sanggup memikirkan hal ini, tetapi aku tahu, suatu hari nanti, kau akan mendengar seseorang berkata, ‘Dia Autis.’ Kalau hal itu terjadi, aku khawatir, kau akan menyadari bahwa ketika orang melihatmu, mereka tak melihat seorang Sam. Mereka melihat sebuah diagnosis. Sebuah masalah. Sebuah pengelompokan. Bukan seorang manusia. — hal. 65

Buku ini bercerita tentang surat-surat yang dikirim oleh seorang laki-laki berumur 53 tahun yang menderita kelumpuhan selama 20 tahun karena kecelakaan kepada cucunya, Sam yang lahir pada 25 Mei 2000 dimana ketika dia berusia kurang dari 2 tahun, keluarga menemukan bahwa Sam menunjukkan gejala autisme, setelah melakukan tes kecerdasan, penilaian perilaku, dan ujian fisik, hasilnya menyatakan kalau Sam menderita PDD — Pervasive Deveplomental Disorder, (Gangguan Perkembangan Pervasif). Dia berhenti berceloteh dan sepenuhnya membisu, menghantamkan kepalanya ke lantai bilamana merasa frustasi, berteriak ketika mendengar suara-suara tertentu. Dengan mengabaikan kekuranngan yang diderita cucunya, Gottlieb percaya kalau pesan yang penuh cinta itu akan tersampaikan. Dia ingin cucunya belajar memahami artinya ‘berbeda’ dari orang lain, memberitahu Sam tentang cinta, dimana memberikan cinta adalah jauh lebih penting daripada menerimanya, dan memberitahu apa artinya menjadi manusia.

Surat-surat yang ditulis lebih banyak menceritakan tentang pengalaman penulis. Walaupun begitu, ada kalanya dia menceritakan orang-orang terdekatnya, seperti di bagian kedua yang berisi “Tentang Keluargamu.” Kita juga dikenalkan dengan Sam, ‘kesempurnaannya’ sampai masa depannya, bagaimana dia harus menghadapi perbedaan. Penulis ingin mempersiapkan semuanya, menghadapi masa depan, berjuang menghadapi ketidakadilan. Sayangnya, menurutku cerita tentang Sam terlalu sedikit, saya ingin lebih mengenal dia bukan hanya garis besarnya saja, bagaimana dia tumbuh, bagaimana dia menjalani terapi, saya ingin tahu perjuangannya. Tapi, rasa sayang seorang kakek kepada cucunya terasa jelas melalui surat-surat tersebut, selain itu banyak kata-kata Gottlieb yang saya suka, filosofinya tentang hidup, disetiap bab selalu bermakna, covernya cantik. Berikut adalah bagian yang paling saya suka. 

Ayahmu dan Ayahku, menceritakan kehebatan para ayah. Sam pasti bangga sekali dengan laki-laki yang ada di keluarganya 🙂

Kemudian, ketika ayahmu tahu tentang autisme yang kau derita, dia mengatakan sesuatu yang tidak akan pernah aku lupakan. ‘Kalau Sam tidak bisa belajar di sekolah,’ katanya kepadaku, ‘aku akan berhenti kerja dua tahun, kami akan berlayar berkeliling dunia. Aku akan mengajarinya segala sesuatu yang perlu dia ketahui dalam dua tahun itu.’

Berikan Kesempatan untuk Berbuat Baik, dibagian ini kita mengenal sisi lain dari kerapuhan. Kerapuhan, kelemahan justru mendorong keluarnya kebaikan orang lain. Nggak ada salahnya kalau kita tak berdaya 🙂

Terkadang, keadaan memaksa kita untuk berpura-pura kuat dan berani, padahal sebenarnya kita merasakan yang sebaliknya. Tapi itu jarang sekali. Pada umumnya, akan lebih baik kalau kita tak usah berpura-pura kuat ketika sedang merasa lemah, atau berpura-pura berani padahal merasa takut. Aku percaya, dunia akan menjadi tempat yang lebih aman kalau setiap orang merasa lemah menggunakan flasher dan berkata, ‘Aku punya masalah. Aku lemah dan sedang berusaha semaksimal mungkin.’

Bagian yang paling saya suka adalah Melihat Seorang Manusia, di bagian ini penulis menceritakan perempuan bernama Norma, sahabatnya, seseorang yang mengidap skizofrenia.

Akankah aku menyerahkan anak perempuanku yang masih bayi kepada ‘seorang skizofrenik’? Tentu saja tidak. Namun aku mempercayakannya kepada Norma. Penyakit yang diderita Norma menyerang otaknya, tetapi jiwanya tetap utuh.

 

Sam, selama bertahun-tahun aku mendapati bahwa aku bukanlah seorang tunadaksa. Aku memang memiliki kelumpuhan. Kau bukan penderita autis. Kau memiliki autisme. karena label yang diletakkan pada kita, beberapa orang takut mendekati kita. Beberapa yang lain menjadi berhati-hati ketika berbicara atau memberikan kepercayaan kepada kita. Dengan cedera tulang belakangku dan autisme yang kau miliki, kita terlihat berbeda dan bertindak berbeda. tapi, kita juga bisa mengajari orang lain, sebagaimana Norma telah mengajariku, bahwa apa pun yang terjadi dengan tubuh atau pikiran kita, jiwa kita tetap untuh.

Di bagian Menyembuhkan Luka, kita dikenalkan cara penyembuhan yang ampuh, bahwa penyembuhan terjadi dengan cara dan waktunya sendiri.

Bagaimana penyembuhan terjadi? Luka sembuh dengan cara yang ajaib. Secara tak terelakan, dia sembuh dengan caranya sendiri. Apa yang harus kita lakukan hanyalah tidak membiarkan ego kita kelaparan menuntut rasa sakit agar segera lenyap dalam jangka waktu tertentu. kita membutuhkan keyakinan bahwa kelak rasa sakit itu akan pergi. Bagaimanapun, rasa sakit hanyalah sebuah emosi. tak ada satupun emosi yang abadi.

Buku ini penuh cinta, penuh makna hidup. Mungkin masih banyak lagi kalimat pamungkas di buku ini, temukan sendiri :))

Sedikit cerita, DULU saya sangat bodoh, DULU saya termasuk golongan orang yang membeda-bedakan ‘si lumpuh’ atau ‘si autis’, sempat menganggap kekurangan orang menjadi bahan olok-olokan. Setelah saya membaca beberapa blog tentang STOP menggunakan kata autis untuk bahan ejekan saya SADAR, saya membayangkan bagaimana saya menjadi orang tua tersebut, tidak mudah, pasti, kita harus mempunyai pasokan sabar yang amat besar, karena autis bukan penyakit sehingga tidak ada obatnya. Salah satu link yang ‘menyadarkan’ saya adalah http://sillystupidlife.com/2009/04/time-to-speak-out/ yang ditulis oleh   seorang ibu yang memiliki dua anak dengan autis. Melalui twitnya juga, saya belajar banyak tentang autisme. Ada twit beliau yang sangat jleb, kalau nggak salah begini bunyinnya: Dia nanya, “Am I autistic mom?”.. I said, “No dear, you’re just different, but you’re special. One day you gonna make everybody proud of u.”

Ahhhh, anaknya pasti bangga banget punya ibu yang hebat seperti beliau :))

Autisme adalah suatu kondisi mengenai seseorang sejak lahir ataupun saat masa balita, yang membuat dirinya tidak dapat membentuk hubungan sosial atau komunikasi yang normal. Akibatnya anak tersebut terisolasi dari manusia lain dan masuk dalam dunia repetitive, aktivitas dan minat yang obsesif (Baron-Cohen, 1993). Menurut Power (1989) karakteristik anak dengan autisme adalah adanya 6 gangguan dalam bidang:

  1. interaksi sosial,
  2. komunikasi (bahasa dan bicara),
  3. perilaku-emosi,
  4. pola bermain,
  5. gangguan sensorik dan motorik
  6. perkembangan terlambat atau tidak normal.

Gejala ini mulai tampak sejak lahir atau saat masih kecil, biasanya sebelum anak berusia 3 tahun (Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Autisme untuk lebih jelasnya).

3 sayap untuk cinta kakek kepada cucunya 🙂

NB: Tentang Penulis

DangottliebDan_samDaniel_gottlieb

Daniel Gottlieb, psikolog dan terapis keluarga yang menjadi pembawa acara di Voice in the Family di radio WHYY, afiliasi dari Philadelphia’s National Public Radio. Seorang kolumnis untuk Philadelphia Inquirer, penulis tiga buku, Learning from the Heart, Voice in the Family, dan kompilasi kolom Voices of Conflict; Voices of Healing. Dia adalah ayah dari dua putri, dan Sam adalah cucu satu-satunya. Royalti penulis akan disumbangkan untuk kepentingan organisasi kesehatan anak-anak dan amal. Untuk lebih jelasnya silahkan kunjungi http://www.drdangottlieb.com/ :))