Jiwo J#ncuk

Jiwo_jancuk

Penulis: Sujiwo Tejo

Editor: Resita Wahyu Febriantri

Cover: Jeffri Fernando

Ilustrasi isi/lukisan: Sujiwo Tejo

Penerbit: Gagasmedia

ISBN: 979-780-572-7

Cetakan pertama, 2012

196 halaman

 

“Membaca tulisan Sujiwo Tejo tentang cinta di buku ini rasanya… jancuk!”

-Moammar Emka, penulis Dear You.

 

Ketika membaca endorsemen penulis di atas, saya pikir buku ini adalah buku romance, ternyata… jancuk! lebih dari itu. Buku dibagi menjadi empat bab: Amor, Metropolitan, Ceplas Ceplos, dan Twit Wayang. Mari kita tenggong satu per satu. 

Amor, di bab pertama ini, budayawan yang berpenampilan nyentrik dan tidak jarang bicara ceplas ceplos ternyata bisa menulis bahasa yang biasa, nyantai tapi romantis. Sewaktu kuliah dulu, penulis bekerja sebagai penyiar radio, tiap kali dia siaran dia menceritakan orang yang disukainya, bagaimana perasaanya, bagaimana rupa di wanita tersebut, juga salah seorang teman laki-lakinya. Puncaknya ada di cerpen Retno Kusumawardani :).

Puncak kangen paling dahsyat ketika dua orang tak saling menelepon

tak saling sms

bbm-an

dan lain-lain tak saling

namun diam-diam keduanya saling mendoakan

Selain itu, dalang edan ini juga bercerita tentang perempuan lewat prosa dan puisi, hahaha menyentil sekali :). Bahwa perempuan suka es krim dan coklat, tapi lebih suka kepastian, alasan seorang istri tiba-tiba meminta cerai kepada suaminya, seorang perempuan yang pertama kali pisah dengan anak-anaknya, melihat cinta dari sorot mata seorang perempuan.

Bahwa perempuan lebih canggih dari makhluk angkasa luar. UFO cuma bisa naik piring terbang, perempuan bisa menyebabkan piring-piring berterbangan ke para suami yang nyebelin. Lebih dari itu, perempuan bisa mengajukan gugutan cerai.

 

Perempuan bagai belut, meski telah kau kenali segala lukuk liku tubuhnya, sukmanya selalu luput dari genggaman.

 

Bagi saya, kalau sampeyan ditanya kenapa mencintai seseorang, apa alasannya, dan sampeyan bisa menjawab tuntas, berarti sampeyan bukan sedang jatuh cinta.

Bukan itu namanya. Itu itung-itungan. Cinta tak pakai alasan-alasan.

Metropolitan, berbicara tentang Jakarta tidak akan ada habisnya, macetnya lah, banjirnya lah, sumpeknya lah, semua ada. Di sini penulis menyentil tentang pelecehan seksual yang ada di angkutan umun, banyaknya Mal yang ada di Jakarta, kebiasaan baca koran saat di WC, merenung tentang angka kendaraan roda empat yang membludak, silahturahmi, dan dunia otomotif. 

Ceplas ceplos, berisi pendapat-pendapat dia, pemikirannya tentang masa lalu dan sekarang. Dulu para artis hampir tidak mempunyai privasi, beda dengan artis sekarang kita bisa cuek ketika dia berada di samping kita. Ucapan selamat lebaran yang dikirim lewat SMS atau BBM broadcast, di mana dulunya lewat katu pos, walau pun sama-sama copas yang paling membedakan adalah di kartu pos ada nama orang yang dituju. Para orang tua yang berlomba-lomba memasukkan putra-putrinya ke sekolah internasional,

Padahal, menurut Einstein, logika cuma sanggup mengantarmu dari A ke B. Sementara imajinasi sanggup membawamu dari A ke tak terhingga…

makna seorang guru, perempuan dan multitasking, komodo dan intra penciumannya, demokrasi, agama, pentingnya bernyanyi, dendam dan membalas dendam, mudik, kesehatan, komunikasi merubah banyak hal, ujian nasional, dan yang terakhir, salah satu pertanyaan besar ketika saya membaca twitnya @sudjiwotedjo yaitu pengertian Jancuk!

#JANCUK tuh ungkapan beragam dari kemarahan sampai keakraban, tergantung sikon seperti FUCK. tapi orang munafik langsung nyensor.

#jancuk ketika kita disuruh bangga jadi Indonesia tapi buku sejarah gak direvisi. Sejak SD dibilang Indonesia dijajah 350 tahun, mestinya berperang!

#jancuk tuh ketika teroris boleh ditembak tanpa sidang, tapi koruptor harus disidang dulu berbelit-belit dan abis itu gak jadi di-dor pula.

#jancuk itu asli kosakata Surabaya. Artinya Jaran Ngencuk. Dulu pernah dibuatkan seminar di Surabaya, bukan umpatan, cuma salam. Contoh: #Jancuk! Nang endi ae koe? (ke mana aja loe?) Muatan emosinya bukan jorok, tapi terkejut ketemu teman. Kalo bahasa Inggris: where the fuck have you been man? Bukan jorok, tapi suprised.

Twit wayang, nah, bagian yang saya suka nih, ingin tahu si dalang edan berbicara tentang filosofi hidup lewat wayang? di sinilah jawabannya. Kita akan tahu kenapa penulis sangat mengidolakan #Semar, bercerita tentang #DewaRuci, #Wisanggeni, #Yudistira, #Panakawan, #Petruk.

Gareng itu lambang keintelektualan dalam dirimu. Ketika kamu kritis mempertanyakan berbagai hal, kamu sedang meng-Gareng.

Ketika kamu sedang easy going dan take easy terhadap apa pun, kamu sedang mem-Petruk.

Ketika kamu sedang ingin memberontak terhadap apa pun, maka kamu sedang mem-Bagong.

Namun, biarlah #Semar dalam dirimu yang akan memoderatori kemunculan Panakawan dalam batinmu secara situsional.

Petruk: lambang kehendak, berhati-hati dalam menentukan keinginan, harus tetap rendah hati, dan waspada.

Bagian yang saya suka adalah bercerita tentang Yudistira 🙂

Ketika kita membaca pemikiran Sujiwo Tejo dengan berbagai hal di sekitar kehidupannya, kesehariannya, kita akan mikir: ternyata benar juga ya pendapatnya, terlebih tentang perempuan itu dan tentang lainnya :p. Lalu kita juga akan merasakan bagaimana seorang Sujiwo Tejo sangat membenci korupsi, berbicara sinis tentang pemerintahan tapi juga bisa romantis soal cinta. Saya juga suka pemikirannya tentang tidak ada aturan untuk tiap pagi sarapan, makan sehari tiga kali yang benar ya makan ketika lapar dan berhenti ketika kenyang, pemikirannya sederhana tapi bermakna. Buku ini menarik, seperti yang tertulis di belakang sampul buku: observasinya terhadap detail kehidupan disampaikan dengan bahasa yang santai, namun tetap sarat nilai dan kerap “menyentil”.

Padahal, kalau saya nggak salah ingat, setiap agama punya semangat sosial. Malah ada yang bilang, sembahyang yang sebenarnya ialah berbuat kebajikan buat orang banyak. Sebaik-baiknya umat adalah yang paling bermanfaat buat orang lain. Saya sering ngetwit seperti ini: “Sujud tertinggi adalah membahagiakan orang lain.

Itu nggak ada jadwalnya. Itu sepanjang waktu. Ajaran ini juga kerap dibilang dalam wayang.

Sembahyang formal yang ada jadwal-jadwalnya terhadap Tuhan baru punya dilai di depan-Nya kalau sembahyang itu makin kuat menggerakkan orang untuk melakukan perbuatan bagi sesama. Sembahyang individual menjadi laksana generator yang membangkitkan energi sosial.

Baru kali ini saya membaca karya full dari budayawan nyentrik ini, sebelumnya pernah membaca salah satu cerpennya di  kumcer 1 Perempuan 14 Laki-Laki, belum mengenal gaya penulisannya dan kali ini saya suka, bagaimana dia bercerita dengan ‘halus’, mengalir, dan mengena, ada beberapa bagian di endingnya ada efek kejutnya, eksekusinya pas sekali. Ada juga sisipan lukisan karya penulis yang nyleneh, saya nggak pinter mengintepretasikan sebuah lukisan yang jelas lukisan Sudjiwo Tejo ini nggak jauh-jauh dari wayang dan Semar :). Minim typo. Suka banget sama covernya, kayak sebuah permainan apa itu namanya? Boneka yang ada talinya trus digerak-gerakkan dengan tangan. Buku ini tida
k hanya berisi kisah cinta tapi pemikiran-pemikiran dan perasaannya terhadap kehidupan sekitarnya.

Buku itu ditujukan kepada para Jancukers.

 

3.5 sayap untuk Jancuk!

Iklan

Little Bee

13402843

 

Sinopsis (Goodreads)

Kami tidak ingin memberi tahu Anda APA YANG TERJADI di dalam buku ini. 

Karena KISAHNYA BEGITU ISTIMEWA dan kami tidak ingin merusak kenikmatan Anda membaca. 

MESKI BEGITU, Anda perlu tahu sedikit untuk mau membelinya, jadi inilah yang akan kami katakan: 

Ini adalah kisah dua orang perempuan. Kehidupan mereka bersilang jalan suatu hari, dan salah seorang dari mereka harus membuat pilihan yang mengerikan, jenis pilihan yang kami harap tidak akan pernah Anda hadapi. Dua tahun kemudian, mereka bertemu kembali–dan kisahnya dimulai dari sini…. 

Setelah Anda membacanya, Anda pasti ingin memberi tahu teman Anda tentang kisah ini. Ketika Anda menceritakannya, tolong jangan beri tahu mereka apa yang terjadi. Keajaiban kisah ini terletak pada bagaimana ia terkuak.

 

Review

Saya akan memberitahu apa yang terjadi, tentu tidak semuanya. Jadi, inilah yang akan saya katakan:

Sering kali, aku berharap menjadi sekeping koin Inggris senilai satu pound dan bukan seorang gadis Afrika. Semua orang akan senang melihatku datang.

Sekeping koin satu pound bisa pergi ke mana pun yang baginya paling aman.

Sekeping koin satu pound juga bisa serius. Ia bisa menyamar menjadi kekuasaan, atau properti, dan tidak ada yang lebih serius ketika kalian bertemu seorang gadis yang tidak memiliki keduannya.

Koin satu pound bebas bepergian menuju tempat yang aman, dan kita bebas melihatnya pergi.

Cerita bermula dua tahun yang lalu ketika Sarah ingin memperbaiki rumah tangganya dengan Andrew ke Nigeria, liburan gratis. Sarah merasa bersalah karena berselingkuh dengan Lawrence, sejak menikah dengan Andrew, dia merasa mereka bukan pasangan yang cocok maka ketika ada brosur liburan gratis dia ingin memperbaiki semuanya.

Di Nigeria, tepatnya di sebuah pantai mereka bertemu dengan dua orang gadis yang ingin ikut ke tempat mereka, salah satu dari mereka bilang kalau mereka sedang diburu dan akan dibunuh. Andrew tidak percaya dan meminta agar mereka tidak mengikutinya. Pengawal Sarah dan Andrew memaksa dua pasangan itu untuk segera kembali ke hotel karena keadaan negara tersebut ternyata tidak aman, tapi Sarah tetap ingin jalan-jalan. Hingga datanglah para pemburu, para pemburu itu memaksa untuk menyerahkan dua gadis itu tapi Sarah tidak mau, kemudian para pemburu itu akan membiarkan salah seorang dari mereka hidup kalau ada yang mau mengorbankan jari tengahnya untuk dipotong. Sarah meminta Andrew untuk melakukannya, tapi ketika dia hampir melakukannya dia tidak mau. Lalu Sarah memotong jari tengahnya sendiri.

Dua tahun kemudian, waktu pemakaman Andrew- yang mati bunuh diri- Little Bee, salah seorang gadis yang ditemui Sarah di pantai Nigeria dulu ada di depan pintu rumahnya. Dia bilang dia tidak punya kenalan kecuali pasangan O’Rourke yang ditemuianya dua tahun lalu dan dia mendapatkan alamat mereka  dari SIM Andrew yang jatuh di pantai. Little Bee bilang kalau dia melarikan diri dari Black Hill Immigration Removal Center, ya, Little Bee adalah imigran gelap dan dia tidak mau pulang ke negaranya.

Well, saya bingung mau ngomong apa tentang inti cerita ini, mata saya berkaca-kaca ketika membaca bagian akhir. Cerita ini sedih, tapi ada juga kebahagiannya, walaupun sedikit. Alurnya maju mundur, point of view dari dua orang yaitu Litle Bee dan Sarah, bergantian di tiap bab. Walaupun maju mundur tidak membuat saya bingung, ceritanya seperti acak tapi ketika kita membaca lembar demi lembar, kita akan memahami apa yang terjadi antara Little Bee dan Sarah.

Little Bee, gadis berusia enam belas tahun ini berhasil lolos dari buruan para pemburu, dia diburu karena melihat mereka membunuh orang-orang di desanya, banyak yang mati di desanya, ada gambaran tentang Nigeria yang tampak luar tanpa konflik, penghasil minyak bumi  dan pengekspor terbesar  ke delapan di seluruh dunia ternyata di dalamnya sangat sangat mengerikan, banyak perempuan yang diperkosa setelah itu dibunuh. Dia mencoba bertahan hidup, menciptakan dunia baru dengan nama Little Bee.

Lebah itu kecil dan ia mendarat di setangkai bunga pucat, lalu lebah itu terbang lagi, tanpa membuat keributan. Little Bee tidak menyadari keberadaan bunga itu sebelum si lebah datang, tetapi kini ia melihat bahwa bunga itu indah.

Sarah, wanita yang sukses dengan pekerjaanya tapi sayangnya tidak dengan rumah tangganya. Sebenarnya tidak seburuk itu, dia mempunyai anak Charlie yang lucu dan mengaku sebagai Batman dan hubungan dengan Andrew juga harmonis, hanya saja dia lebih cocok dengan Lawrence dan setelah kejadian di Nigeria itu hubungan mereka tidak bisa diakhiri. Andrew lebih cenderung merasa depresi, tidak tahu alasan kenapa dia bunuh diri, saya berasumsi karena dia tidak bisa melindungi Sarah, bukan dia yang berkorban untuk memotong tangannya, dia suka menyendiri dan sibuk dengan pekerjaannya. Mungkin juga dia merasa gagal menjadi suami untuk Sarah, ada perkataan Sarah dan Andrew yang membuat saya bersimpati:

“Charlie menginginkan kau kembali, Andrew.”

Hening.

“Andrew?”

“Charlie mengingginkan itu ya?”

“Ya.”

“Bagaimana denganmu? Apa kau meningginkan aku kembali?”

“Aku ingin apa yang Charlie inginkan.”

Walau berselingkuh -di mana saya tidak suka dengan sikap ini- saya tidak bisa membenci Sarah. Dia menjadi tokoh favorit saya, dan saya sangat menikmati ketka dia yang bercerita. Mungkin karena dia tetap mau membantu Little Bee, mengorbankan jarinya agar dia tetap hidup di pantai itu, dia juga bersikeras agar Little Bee tinggal di rumahnya dan mencoba membuat statusnya menjadi legal, dia juga sangat mencintai Charlie, anaknya, saya sampai ikut khawatir ketika Charlie hilang ketika mereka berjalan-jalan, ikut memohon Charlie tidak kenapa-kenapa. Yang tidak saya suka dari Sarah adalah ketika suaminya meninggal dia tetap menjalin hubungan dengan Lawrence, di satu sisi dia merasa kehilangan di satu sisi dia tidak ingin melepaskan Lawrence, saya tidak bisa memahaminya. Satu lagi tokoh favorit saya, Charlie, yub, bocah yang sering memakai kostum Batman ini lucu dan polos. Suka ketika jika berkata salah makan Sarah akan membenarkan ucapannya, kemudian Charlie akan mengulangi perkataannya. Saya juga suka ketika Little Bee bisa ‘menangani’ kenakalannya. Hubungan mereka unik, sulit untuk diungkapkan. Penulis benar-benar bisa membawa perasaan saya ikut hanyut di cerita ini. Buku ini bercerita tentang kehilangan dan penerimaan.

Kekurangan buku ini terletak pada cover, terjemahan dan masih banyaknya typo. Sebenarnya tidak terlalu buruk, hanya saja ketika memasuki bab 3 saya sangat merasa aneh dengan bahasanya, saya menilai bagus jeleknya terjemahan dari kenyamanan saya membaca, saya tidak tahu benar atau salah terjemahannya karena saya tidak membaca versi aslinya, jadi kalau saya nyaman dengan bahasanya maka tidak ada masalah. Diskripsinya oke, saya nyaman tapi ketika memasuki bagian dialog merasa sangat jangal, mungkin penerjemah bermaksud agar bahasanya tidak terlalu formal, tapi sangat berbeda dengan bab lainnya, bab lainnya di bagian dialog tidak seperti di bab tiga, sehingga selain saya tidak nyaman terjadilah banyak typo. Contohnya di halaman 105, “Oh, coba liat kondisi kita ini, Bug. Apa yang kita akan kita buat pada diri kita sendiri?” rasanya aneh dan kadang saya mengulang membaca agar paham. Untuk cover, saya tidak terlalu suka dengan terbitan Gagas ini, saya lebih suka cover yang ini:

Little_beeLittlebee

Quote favorite saya adalah:

Kebahagiaan bukan sesuatu yang bisa diambil orang dari rak, itu sesuatu yang harus diusahakan seseorang.

 

4 sayap untuk koin satu pound.

 

 

Little Bee

penulis: Chris Cleave

penerjemah: –

editor: Samira

cover: Jeffri Fernando

penerbit: gagasmedia

ISBN: 979-780-524-7

cetakan pertama, 2011

383 halaman

 

NB: Tentang Penulis

374590

 

Chris Cleave adalah seorang novelis dan kolumnis untuk koran The Guardian di London.

Novel best seller miliknya, Incendiary diterbitkan di dua puluh negara, memenangi Somerset Maugham Award 2006, masuk daftar pendek untuk Commonwealth Writer’s Prize 2006, memenangi United States Book-of-the-Month Club’s First Fiction Award, dan juga memenangi Prix Special du Jury di French Prix des Lecture 2007.

Terinspirasi dari kenangan masa kanak-kanaknya di Afrika Barat dan sebuah kunjungan tak sengaja ke sebuah kamp konsentrasi Inggris, Little Bee adalah novel keduanya.

Ia tinggal di London dengan istrinya yang berkebangsaan Prancis dan dua anak keturunan Anglo-Prancis yang nakal-nakal.

Kunjungi dia di www.chriscleave.com atau di twitter @chriscleave