Sarah’s Key

Sarahs_key

Penulis: Tatiana De Rosnay

Alih bahasa: Lily Endang Joeliani

Penerbit: PT Elex Media Komputindo

ISBN: 978-602-00-0923

Cetakan pertama, 2011

329 halaman

 

Paris, Juli 1942

Gadis itu bingung, gadis itu ketakutan, ada polisi Prancis (yang disinyalir mereka melakukanya atas perintah Jerman) yang sedang mencari ayahnya, ibunya cemas, ayahnya bersembunyi di gudang bawah setiap malam, dan dia pernah menguping pembicaraan kalau suatu saat akan ada pengumpulan besar-besaran, tetapi dulu ayahnya bilang hanya kaum laki-lak saja yang terancam bahaya, bukan kaum perempuan, apalagi anak-anak. Ibunya berbohong kepada polisi kalau suaminya entah pergi kemana, dan mereka menyuruh ibu dan si gadis untuk bersiap-siap ikut dengan mereka. Lalu si gadis ingat kalau adik lelakinya, Michel masih tidur, dia membangunkannya dan menyuruhnya bersembunyi di lemari yang panjang dan dalam serta tersembunyi di dinding kamar, mereka tidak akan tahu. Di lemari itu ada senter, beberapa bantal. mainan, buku-buku dan sebotol air. Adiknya tidur sambil memeluk boneka beruang kesayangannya. Dia yakin ayahnya akan tahu di mana adiknya bersembunyi kalau dia sendiri sudah keluar dari persembunyiaannya. Si gadis sangat percaya adiknya akan aman di situ, lalu dia menguncinya dari luar, dan berjanji akan menjemputnya nanti.

Tapi perkiraannya salah, si ayah menyusul mereka, meninggalkan adiknya sendirian di rumah, terkunci di lemari rahasia. Membawa kunci yang tersimpan rapat di sakunya.

Paris, Mei 2002, Enam Puluh Tahun Kemudian

Julia Jarmond, seorang wartawan Amerika yang sudah bertahun-tahun hidup dan berkeluarga di Paris. Dia ditugasi menyelidiki peristiwa enam puluh tahun yang lalu, peristiwa yang tabu dibicarakan oleh orang-orang Prancis, peristiwa yang ingin dilupakan. Peringatan ke enam puluh tahun Vel’ d’ Hiv’, pengumpulanbesar-besaran di Velodrome d;Hiver, sebuah stadion indoor terkenal tempat diadakannya perlombaan sepeda. Tapi malam itu digunakan untuk menyekap ribuan keluarga Yahudi selama berhari-hari dalam kondisi mengenaskan, yang kemudian akan dikirim ke Auschwitz dan dimasukkan ke dalam kamar gas. Julia ditugaskan untuk menemukan orang-orang yang slamat dari peristiwa tersebut, mencari fakta apa yang sebenarnya terjadi.

Tidak mudah dalam pencariannya, orang Prancis tidak suka membicarakan peristiwa enam puluh tahun yang lalu itu. Kemudian ada temannya yang mengenalkannya kepada Guillaume, neneknya adalah salah satu yang selamat dari peristiwa itu, dia meengatakan tentang Vel’ d’Hiv’, yang sebenarnya adalah sebuah kode nama: Operasi Angin Musim Semi. Pemerintah Jerman meminta polisi Prancis untuk mengirimkan sejumlah orang Yahudi antara usia enam belas dan lima puluh tahun, polisi menangkapi anak-anak yang lahir di Prancis. Anak-anak Prancis. Polisi berpikir anak-anak Yahudi itu tetap saja Yahudi, akhirnya mereka mengirimkan hampir delapan puluh ribu orang yahudi ke kamp-kamp kematian. Hanya beberapa ribu yang bisa kembali dengan selamat, dan hampir tidak ada anak-anak yang selamat. Julia menyusuri tempat-tempat terjadinya kejadian, mulai dari Vel’ d’Hiv’ sampai ke stasiun Austerlitz.

Pencariannya buntu, tidak ada saksi mata yang benar-benar bisa mengatakan apa yang sebenarnya terjadi, sampai suatu ketika dia mengunjungi Mame, nenek dari sang suami di panti jompo, dia bercerita tentang masa lalunya dan tempat tinggalnya, apartemen yang akan di huni Julia bersama keluarganya, apartemen rue de Saintonge. Mame berkata mereka menemukan apartemen itu dengan mudah, pada akhir Juli tahun 1942, ketika ada penangkapan besar-besaran.

Seperti mendapatkan clue utama, Julia beralih mencari siapa keluarga yang dulunya tinggal di apartemen rue de Saintonge sebelum ditinggali keluarga suaminya, Dan nama keluarga itu adalah Starzynski. Ada tiga nama, kedua orang tua dan satu anak. Tapi ada yang berbeda dari data yang didapat Julia, si anak tidak pernah sampai di Drancy, dia hanya sampai di kamp penahanan di Beaune-la-Rolande. Dan dia juga mendapati foto Sarah yang usianya hanya setahun lebih muda dari anaknya sendiri. Pencariannya berubah, Julia ingin mengetahui apa yang terjadi pada anak perempuan itu, Sarah Starzynski.

“Papa,” katanya, “berapa lama kita di sini?”

“Aku tidak tahu, manisku.”

“Mengapa kita berada di sini?”

Gadis itu meraba tanda bintang kuning yang dijahit di depan bajunya.

“Karena ini, bukan?” ujarnya. “Semua orang di sini punya tanda ini.”

Ayahnya tersenyum, senyum yang muram dan sedih.

“Ya,” jawabnya. “Karena itu.”

Gadis itu mengerutkan dahi.

“Tidak adil, Papa,” desisnya. “Ini tidak adil.”

Tidak adil, itu juga yang saya rasakan ketika membaca kisah Holocaust, buku kedua tentang kekejaman para Nazi setelah The Boy In The Striped Pyjamas. Sampai sekarang saya tidak tahu ada apa dengan orang Yahudi? Apa salah mereka? Kenapa pada tahun 1940an mereka dibasmi? Yeah ketahuan sekali kalau nilai sejarah saya memang jeblok.

Miris, sedih sekali ketika membaca bagian Sarah. Setelah kejadian itu dia berubah, tidak lagi menjadi seorang anak kecil tapi menjadi orang tanpa semangat hidup. Di kamp dia melihat ibu dan anak bunuh diri, anak-anak kelaparan, mati, ibu melahirkan seorang diri, semua hal yang tidak pantas dilihat oleh anak kecil. Terlebih dia selalu bertanya kepada ayahnya sebenarnya apa yang akan terjadi dengan mereka? Apakah mereka akan pulang dan membuka kunci lemari? Apa yang terjadi dengan adik kecilnya Michel? Dia menggenggam erat kunci itu supaya tidak hilang, supaya dia, ayah dan ibunya kembali ke pelukan Michel.

Pantang menyerah, itulah Julia, dengan masalah pribadi yang sedang melandanya dia tetap bertekad mencari Sarah, mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan dia walaupun semua keingintahuannya ini ditentang oleh suami dan keluarganya, hanya Zoe, anaknya yang mendukung pencariannya tentang Sarah, mencarinya sampai dapat.

Buku ini benar-benar menguras emosi. Bayangkan kalau kejadian itu terjadi pada diri kita, mungkin kita akan seperti Sarah, tidak punya tujuan hidup lagi, tidak punya semangat. Saya tidak bisa berhenti membacanya, narasi yang bergantian dari Sarah ke Julia, begitu terus sampai langkah Sarah berhenti, sampai cerita hanya dari bagian Julia saja. Saya seperti Julia, mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, bagaimana nasip Sarah selanjutnya, terus membuka halaman, terus dan terus. Miris, sedih, ngilu, berkaca-kaca, itu yang saya dapat.

Buku ini amazing! Seperti yang tertera di belakang sampul buku, Tatiana de Rosnay menawarkan kisah yang memikat, masa lalu yang tragis, masa kini yang tercabik-cabik, dan masa depan yang diubah tanpa dapat ditarik kembali. Dengan berbagai kepiluan yang terjadi di masa lalu, terbukti sampai sekarang kesedihannya masih membekas, bagi yang pernah dekat dengan kematian dan kebrutalan, bagi yang menyentuh kisah mereka.

Suka sekali dengan buku ini. Saya ingin cepat-cepat menyelesaikannya saking penasarannya dengan nasib Sarah, terlebih bagaimana nasib Michel. Saya suka penulis membuat sudut pandang dari Sarah dan Julia, kisah mereka terasa lebih dekat dan kita bisa memahami perasaannya. Walau kisah Sarah berhenti di tenggah-tenggah, itu malah membuat penasaran saya berlipat ganda. Saya juga suka sekali dengan endingnya. Tidak ada masalah dengan terjemahannya, saya membaca mengalir lancar, tidak peduli dengan typo, saya sangat menikmati membaca buku ini. Covernya tidak jelek.

Buku i
ni sudah difilmkan pada tahun 2010, di sutradarai oleh Gilles Paquet-Brenner, peran Julia dimainkan oleh Kristin Scott Thomas dan si kecil Sarah dimainkan oleh Melusine Mayance. Wajib ditonton!

Sarahs_key_movie

 

4.5 sayap untuk si kecil Michel.

Iklan

Chronicle (Ther Melian #2)

Chronicle

Penulis: Shienny M.S

Cover art: Shienny M.S

Comic art: Shienny M.S

Penerbit: PT Elex Media Komputindo

ISBN: 978-602-00-0227-9

Cetakan pertama, 2011

461 halaman

 

ALLERT: tidak disarankan membaca review ini bagi yang belum membaca buku pertama dikarenakan mengandung spoiler buku pertama, jadi WASPADALAH!

 

Ini adalah sesuatu yang harus kulakukan! Apa kamu memiliki sesuatu yang seperti ini? Sesuatu yang harus kamu dapatkan, apa pun akibatnya?

Ending buku pertama sangat sangat menggantung sehingga menjadikan saya langsung melahap seri keduanya (untung udah ada :p). Di buku pertama diceritakan Valadin sudah mendapatkan bros bertahta permata berwarna indigo, permata itu memancarkan percikan cahaya perak bagaikan kilat. Di dalamnya, terukir Rune yang melambangkan halilintar, yab, Aether pertama yang mereka dapatkan adalah Voltres, Sang Aether Kilat. Untuk mendapatkan Aether kedua yang berada di gunung Ash, Valadin harus mempunyai amulet agar bisa bertahan di tempat yang sangat panas tersebut, sayangnya amulet itu sudah dicuri orang, dan di gua tersebut Valadin harus melawan orang yang pernah berarti di hidupnya demi mendapatkan amulet tersebut, dia harus melawan Vrey.

Valadin mendapatkan Aether kedua dengan ganjaran dia harus kehilangan Vrey, Eizen membuat Vrey, Aelwen dan Rion terjatuh di dasar jurang karena sihirnya. Sial bagi nasip Vrey dkk, tapi walaupun sangat merasa kehilangan Vrey, Valadin berhasil mendapatkan sebuah cicin, cincin emas bertahtakan sebutir batu Rubi yang menyala bagaikan api, Aether kedua adalah Vulcanus, Sang Aether Api. Tapi, Aether pertama yang sudah mereka dapatkan ternyata hilang!

 

Berkat sihir pelindung Aelwen, mereka bertiga selamat dari maut, dan mereka harus melarikan diri dari kejaran para Elvar. Rion merasa curiga dengan kekuatan Aelwen dan idenditas dia sebenarnya, tanpa sepengetahuan Aelwen, Rion menyelidikinya. Vrey sangat marah ketika tahu siapa sebenarnya Aelwen, yang sebenarnya adalah Pangeran Leighton Tanddeus Granville, pewaris tahkta kerajaan Granville yang menghilang tiga tahun yang lalu. Vrey sangat terluka dengan kebenaran ini, dia merasa dikhianati oleh temannya sendiri. Tapi, mau tidak mau Vrey harus menerima kehadiran Leighton, karena hanya dialah yang bisa membantu. Mereka sadar kalau para Elvar akan mengejar mereka, Vrey setuju dengan rencana Rion yang akan mengawal mereka sampai ke Istana Laguna Biru, menjelaskan segalanya kepada Raja Granville atas apa yang akan dilakukan para Elvar supaya ayah Leighton berembuk dengan Para Tetua Elvar atas hukuman apa yang pantas bagi mereka.

Untuk kembali ke Granville, mereka membutuhkan transportasi yang tidak membutuhkan waktu yang lama, mereka mencarinya di Kerajaan Lavannya. Untungnya Leighton mengenal baik salah satu putri Ratu Lavanya, Putri Ashca Shela Lavanya yang sangat dilindungi oleh pengawalnya, seorang Bangsa Draeg, Desna. Sayangnya, sebelum mereka berhasil menumpangi kapal udara, mereka di serang oleh Karth dan Lauren! Leighton harus berpisah dengan Vrey dan Rion, dia harus membantu Desna melawan para Elvar tersebut.

LeightonAshcaDesna

Kelompok Valadin terpecah, Karth, Eizen dan Lauren pergi ke Kota Lavanya demi melanjutkan misi mereka. Sedangkan Valadin dan Ellanese pergi ke Granville untuk mengembalikan amulet dan mencegat Vrey dkk sebelum mengadu ke Lord Haldara.

Eizen memporakporandakan Kota Lavanya, bukan itu saja, dia juga menculik Putri Ascha, karena dia adalah satu dari sedikit orang yang tahu jalan rahasia bawah tanah untuk menuju Naian Mujdpir, Istana Kerajaan Lavanya, tempat di mana Templia Undina berada. Tidak mudah untuk mendapatkan Relik Elemental yang berupa sebuah anting yang bertahtakan permata berbentuk tetesan air berwarna biru jernih, Sang Aether Air, mereka harus melawan Sang Ular Biru atau Blue Serpent, Sang penjaga Templia Undina.

Monster-blue-serpent

Lalu bagaimana nasip Vrey? ternyata dia dan Rion dipenjara di Menara Albina, sebuah benteng dan dijaga ketat oleh ratusan penjaga. Raja Granville tidak percaya begitu saja dengan cerita mereka walaupun sudah membawa surat dari Leighton, perbuatannya mencuri amulet dan membakar Rylith Lamire tidak bisa dimaafkan. Kali ini, Leighton membutuhkan Valadin untuk membebaskan Vrey. Loh, loh, kok Leighton tiba-tiba muncul? Leighton kembali ke Granville dengan bantuan kapal udara, Kamala, milik Putri Ascha. Putri Ascha dan Desna ikut ke Granveille, dia tidak bisa diam melihat kerajaannya dihancurkan oleh bangsa Elvar, dia ingin ikut menjelaskan kebenaran pada pimpinan tertinggi bangsa Elvar agar Valadin dkk dihukum seberat-beratnya.

Karena tidak ingin kehilangan Vrey sekali lagi, dia pun menyanggupi permintaan Leighton dengan syarat dia harus menyerahkan Relik Safir yang dicuri Vrey. Valadin sangat geram sekali ketika mengetahui Vrey disiksa dipenjara tersebut. Vrey harus menghindar dari gigitan Amphyvena. Dan Vrey sangat terkejut ketika Valadin datang menolongnya.

Monster-amphyvena

Apakah menolong Vrey ini merupakan jebakan dari Leighton? Petualangan mereka tidak berhenti sampai disitu saja, karena ada satu lagi Aether yang dicari Valadin di buku ini yaitu Aether Hamadryad. Kali ini tantangannya lebih sulit, untuk mendapatkan sebuah mahkota yang dililit oleh tangkai hijau yang lentur, sekelilingnya ditumbuhi bunga-bunga anggrek berwarna ungu dan putih, tepat ditengah-tengah mahkotanya terdapat sebuah permata bercahaya hijau cemerlang seperti batu emerald, mereka harus mampu meredakan kemarahan hutan, ya, kali ini tidak ada penjaga Templia Hamydryad.

Kalau Vrey mendapatkan sekutu Putri Ascha dan Desna, kali ini Valadin mendapatkan s
ekutu juga, seorang Gardian, Izahra. Valadin juga mendapatkan pengganti pedang Schalantir, yaitu pedang Zward Eldrich dimana pedang tersebut akan meningkatkan kekuatan pamaikanya, bahkan membuatnya mampu menggunakan sihir, walaupun dia bukan seorang Mangus. Pedang tersebut juga mempunyai aura gelap, menjadikan pemakainya tidak berperasaan. Kita akan menemui sosok Valadin yang berbeda di sini.

Izahra

 

Tidak banyak komentar yang akan saya berikan di sini, karena tidak jauh beda dengan komentar saya di buku pertama, kali ini saya akan memberikan jempol Gajah! Di buku kedua ini kita akan mendapatkan jawaban dari teka teki di buku pertama, hubungan antara Vrey dan Valadin, masa lalu mereka. Selain itu, banyak sekali kejutan yang mewarnai buku ini, dimulai dari identitas asli Aelwen, rahasia Lauren, bahkan tokoh baru yang bermunculan. Konfliknya juga semakin seru, bagian pencarian Aether tetap tidak bisa dilewatkan.

Bagian favorit saya adalah ketika Vrey dan Valadin menikmati matahari senja, saya akan berikan cuplikannya 🙂

“Aku tahu satu hal yang membuat matahari terbenam ini terlihat lebih indah,” kata Valadin.

Vrey menganggat sebelah alisnya. “Apa itu?”

“kalau kamu duduk di sebelahku dan menikmatinya bersamaku,” jawab Valadin.

Gombal banget :))

Oh ya, Valadin juga mendapatkan saingan nih soal hati Vrey, si Leighton.

Satu kekurangan buku ini, sama seperti kekurangan buku pertama, ENDINGnya ngantung banget, huhuhu, kali ini saya tidak bisa langsung melahap seri ketiga karena tidak punya lanjutannya *pecah celengan*.

Bagi pecinta fantasy pokoknya rugi kalau tidak mencoba membaca seri Ther Melian.

4 sayap untuk Hutan Kabut. 

Revelation (Ther Melian #1)

Revelation

Penulis: Shienny M.S

Cover art: Shienny M.S

Comic art: Shienny M.S

Penerbit: PT Elex Media Komputindo

ISBN: 978-979-27-9866-1

Cetakan pertama, 2011

391 halaman

 

Untuk mendapatkan sesuatu yang kamu dambakan, kamu harus kehilangan sesuatu yang berharga bagimu. Itulah aturan main dunia ini.

Vrey, seorang Vier-Elv (setengah manusia setengan Elvar), seorang pencuri dan pemburu andal, bersama dengan Rufius, Blaire, Clyde dan Evan, mereka tergabung dalam komplotan Kucing Liar. Mereka sering sekali berburu binatang langka yang nantinya dijual ke para kolektor. Tempat perburuan mereka adalah Hutan Telssier, tempat suci bangsa asli penghuni benua Ther Melian, Bangsa Elvar. Tak jarang, Vrey menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keinginannya, salah satunya adalah memburu harta legendaris yang diimpikan setiap pencuri, Jubah Nymph.

Nymph adalah roh-roh tanaman yang ada di Hutan Telssier, sangat pemalu dan tak pernah memperlihatkan diri, dan Vrey tahu caranya agar mereka bisa terlihat. Vrey berburu Nymph untuk mengambil sayap mereka kemudian akan dijadikannya sebuah pakaian pelindung yang seringan bulu tapi sekuat baja.

Monster-nymph

Masalahnya, Vrey tidak tahu cara membuatnya. Vrey mencoba membuatnya seperti membuat pakaian biasa tapi hancur. Vrey menjadi putus asa dan uring-uringan. Melihat Vrey seperti itu, Gill, pimpinan komplotan Kucing Liar mengusir Vrey dari rumah dan dia boleh kembali setelah menyelesaikan masalahnya. Dengan berat hati Vrey meninggalkan rumah dengan ditemani oleh Aelwen, teman sekamar Vrey dan juga beberapa waktu sebelumnya menemani Vrey berburu sayap Nymph. Aelwen adalah seorang Acolyte, yang bisa melakukan sihir penyembuh, dia juga sangat cerdas. 

Setelah melalui petualangan yang cukup menegangkan, akhirnya Vrey dan Aelwen menemukan cara membuat Jubah Nymph. Sayap-sayap Nymph yang sudah dikumpulkan Vrey harus dijahit dengan benang api yang dibuat dari bulu Burung Api. Burung yang bulunya tidak akan berhenti bersinar walaupun sudah dicabut. Untuk mencarinya, mereka harus berpetualang lagi ke gua yang ada di pusat Gunung Ash di Pegunungan Angharad, dalam perjalanan ke sana mereka dibantu oleh Rion, si mata duitan. Dan untuk masuk ke tempat yang super panas tersebut, mereka membutuhkan amulet yang bisa membuat mereka kebal terhadap api dan panas. Amulet tersebut di simpan di Rilyth Lamire.

VreyAelwenRion

Valadin, komandan pasukan Legiun Falthemnar, seorang Eldynn atau ksatria suci yang tujuan hidupnya adalah melindungi dan membela kaumnya, bangsa Elvar. Valadin mengumpulkan orang-orang yang dipercayanya: Ellenese, Karth, Lauren, Eizen dan menceritakan tentang rahasia para Tetua yang disembunyikan selama ribuan tahun. Para Aether (Dewa Dewi) yang mereka puja sebenarnya nyata dan bukan sekedar kepercayaan semata. Para Tetua menganggap para Aether adalah makhluk suci yang keberadaannya harus dirahasiakan, mereka tersembunyi ditempat yang dinamakan Templia. Valladin dan Ellenese adalah Templia Gardian, tugas mereka adalah melindungi Templia dan menjaga rahasia keberadaan Aether di benua yang semakin padat oleh manusia.

ValadinEizenElleneseKarthLauren

Alasan Valadin mengumpulkan mereka semua adalah untuk membantu mendapatkan kekuatan para Aether. Para Aether pernah berjanji barang siapa yang berhasil melalui ujian, maka mereka akan memberikan kuasa penuh akan kekuatan elemen tersebut. Impian Valadin adalah dengan menggunakan ketujuh kekuatan elemental itu, dia ingin mendapatkan kembali tanah Ther Melian, dia ingin mengembalikan kejayaan bagsanya di mana sekarang ini bangsa Manusia lebih dominan. Manusia hanya membawa kehancuran, Valadin tidak ingin mereka meraja lela.

The_seven_aether

Tujuh Aether di dunia:

Vulcanus: Aether A
pi

Gnomus: Aether Tanah

Sylvestris: Aether Api

Undina: Aether Air

Hamadryad: Aether Pepohonan

Voltress: Aether Kilat

Aethaeus: Aether Logam

Aether pertama yang diincar Valadin dkk ada di Templia Voltress, Sang Aether Kilat atau Halilintar. Gardian penjaga Templia tersebut adalah Valadin dan Ellanese sendiri, jadi tidak ada pertempuran dengan sesama Gardian. Untuk mendapatkannya, mereka harus melawan Sang Naga Indigo.

Sasaran berikutnya adalah Templia Vulcanus, Sang Aether Api. Tidak hanya berhadapan dengan sesama Gardian dan Kelelawar Merah, untuk menempuh lokasi Templia tersebut yang terletak di Pegunungan Angharad, puncak tertinggi di Ther Melian, yang sangat panas, mereka membutuhkan amulet khusus Rubi Vulcanus, yang disimpan di Ibukota Granville, Rilyth Lamine.

Monster penjaga Templia Voltress dan Vulcanus, Indigo Dragon dan Red Bad:

Monster-indigo-dragonMonster-red-bat

Dengan petualangan yang terpisah, apakah Vrey dan Valadin akan bertemu? Dan kalau bertemu apakah mereka akan menjadi lawan atau kawan? Untuk mengetahuinya, kalian harus terjun langsung ke dunia Ther Melian dan rasakanlah sendiri! 😀

 

Buku fantasi Indonesia yang lumayan tebal dan saya sangat bersyukur akan ketebalannya, karena sangat sangat seru! Alurnya cepat dan tidak membosankan. Salah satu bacaan yang akan habis dibaca dalam satu dua hari (kalau nggak sok sibuk :p). Saya akan bahas cover dan ilustrasinya terlebih dahulu, kasih jempol Komodo! Covernya keren! kalau kayak gitu namanya hologram ya? hehehe agak kuper soalnya. Nggak cuman itu saja, ilustrasi yang ada di dalamnya benar-benar ciamik, hebatnya lagi si penulis sendiri yang membuat. Dengan adanya ilustrasi tersebut fantasi saya cukup terbantu, semua tokoh penting dan monster ada di tiap bab yang nantinya akan memunculkan mereka. Di tambah adanya peta di halaman awal, memudahkan saya melacak kemana petualangan Vrey dan Valadin selanjutnya.

Typo, hmm kayaknya ini yang paling sering dikomentarin pedas sama pembaca Ther Melian seri pertama ini, hehehe. Memang sih ada tapi saya tidak terlalu menghiraukannya, saya terlalu terhanyut dengan Vrey dan Valadin :)).

Tokoh dan Karakter, dengan banyaknya tokoh membuat buku ini lebih berwarna. Nggak usah takut kalau bingung, karakter mereka tergambar jelas. Seperti Vrey yang cerdik, banyak akal, dan tidak pernah menyerah, Valadin yang lumayan kalem, baik hati, tapi kalau demi meraih impiannya dia bisa berubah jahat. Eizen, terlihat sekali kalau dia culas, arogan, semau sendiri, ambisius, Aelwen yang penuh rahasia, semua karakter terbentuk dengan baik. Bahkan, penulis membuat tokoh tidak penting di awal tapi mempunyai peranan penting di dalam buku ini, si Geraint. Untuk tokoh favorit saya, tentu saja si Valadin :*

Monster-komodo

Transportasi dan Monster. Selain dunia Ther Melian sendiri yang menjadi ciri khas buku ini (Dunia di mana hidup bangsa Elval, Draeg, dan Manusia), yang menjadi ciri lain adalah adanya transportasi ‘aneh’ seperti Komodo, kapal udara, dsb. Penulis mencampur adukkan fakta, memplesetkan nama-nama dengan fantasinya sendiri sehingga dari yang awalnya aneh itu terlihat mengagumkan. Untuk para Monsternya sendiri juga terlihat tidak melenceng dari elemen yang mereka jaga. Contohnya adalah Red Bad. Kelelawar biasa hidup di gua, dan karena dalam cerita ini mereka bermukim di gunung yang aktif, mereka terlihat seperti monster api, cocok sekali, begitu pula dengan monster-monster yang lain.

Action. Pertarungan mendapatkan kekuatan Aether sama sekali tidak bisa dilewatkan. Yang menarik dari buku ini adalah justru perjuangan mendapatkan kekuatan para Aether ini.

Keaslian. Well, mau tidak mau pencarian Aether ini menginggatkan saya akan pencarian Hocrux yang dilakukan oleh Harry Potter dkk, selain itu bangsa Elvar ini menginggatkan saya akan bangsa Elf yang ada di The Lord of The Ring, dengan telinganya yang lincip. Saya rasa hanya itu saja kemiripan dengan cerita lain, lainnya saya temukan dari imaginasi penulis.

Efek kejut. Banyak rahasia dan adegan yang tidak saya duga sebelumnya. Membuat saya selalu bertanya-tanya dan segera menyelesaikannya.

Romance. Nggak afdol kalau saya tidak menceritakan bagian kisah cinta di buku ini, bagian yang saya cari-cari XDD. Sebenarnya tidak terlalu banyak, di buku pertama ini lebih banyak menceritakan pengenalan tokoh dan pencarian Aether. yang membuat penasaran itu apakah Vrey dan Valadin sebelumnya mempunyai hubungan? Jawabannya nanti ada di buku kedua :D.

Kekurangan buku ini adalah endingnya yang sangat-sangat naggung, kalau nggak punya seri selanjutnya siap-siap aja penasaran setengah mati.

Bagian yang paling saya suka adalah ketika Vrey dan Valadin bertemu *ups.

Sebaiknya saya sudahi saja review ini sebelum nanti malah spoiler. Buku ini cocok dibaca oleh pecinta fantasi, oleh siapa saja yang ingin mencoba membaca fantasi Indonesia, dan yang suka romance.

4 sayap untuk ketujuh Aether.

 

 

Sumber gambar:

Monster

Character

Aether

Lihat juga book trailernya: