Manxmouse

10908273Manxmouse
by Paul Gallico
Penerjemah: Maria Lubis
Cover: Ella Elviana
Penerbit: Media Klasik Fantasy (a division of Mahda Books)
ISBN: 978-602-97067-3-4
Cetakan pertama, April 2011
227 halaman
Buntelan dari @MahdaBooks

Perkenalkan, namanya Manxmouse, dia adalah mahakarya gagal seorang perajin keramik asal Buntingdowndale, London. Dia kira dia telah membuat tikus paling indah dan paling halus yang pernah diciptakan, ketika dia membuka tungku, dia melihat bahwa yang diciptakan bukanlah makhluk super, tetapi suatu bencana, yang tidak pernah ada sepanjang sejarah pembuatan keramik.

Tikus itu warnanya bukan kelabu tetapi biru terang. Makhluk itu memiliki tubuh mungil yang gemuk seperti seekor opossum -hewan kecil berkantung yang bisa tinggal di pepohonan. Kaki belakangnya mirip kaki kanguru, cakar depan mirip monyet, lalu, telinganya mirip telinga kelinci. Namun, yang paling buruk dari semuanya adalah makhluk itu tidak memiliki ekor, hanya sebuah tonjolan kecil yang mungkin merupakan pangkal sebuah ekor. Perajin keramik merasa gagal total.

Awalnya dia ingin menghancurkannya karena tidak ingin suatu hari dipermalukan, tetapi ketika dia mengamati tikus tersebut dia tidak tega. Setelah menginggat-ingat, terlebih mengamati tonjolan yang seharusnya tempat ekor dia sadar kalau yang dibuatnya adalah Tikus Manx. Makhluk itu mirip kucing-kucing dari Pulau Man, yang seperti diketahui semua orang, tidak memiliki ekor juga dan dikenal sebagai Kucing-Kucing Manx. Lalu dia membuat keputusan akan menyimpannya saja, keesokan harinya, Tikus Manx sudah menghilang. Petualangan baru saja dimulai.

Buku ini berisi 12 bab, bab pertama adalah asal mula terciptanya Manxmouse, setelah itu adalah petualangan Manxmouse dalam pencarian jati diri atau pelarian dalam menghindari ketakutan terbesarnya. Dia tidak tahu siapa dirinya, setiap bertemu makhluk lain, mereka selalu bilang “Berhati-hatilah terhadap Kucing Manx.” Ada Ramalan Hari Akhir yang ditulis penyihir dan berkata kalau nasib Tikus Manx akan berakhir sebagai santapan Kucing Manx.

Saya kira buku ini biasa saja, tidak ada pesan khusus seperti yang saya harapkan. Saya selalu percaya kalau buku anak-anak pasti memiliki moral story, di mana biasanya dipakai para orangtua untuk mengajarkan sesuatu yang baik dan buruk. Saya masih awam dalam mengenal children literature, bukan genre kesukaan saya, Enid Blyton yang punya pengemar banyak gagal mengambil hati saya, saya merasa tulisannya terlalu kasar, banyak adegan kekerasan di dalamnya (Saya baru baca seri Malory Tower dan hanya mampu menyelesaikan seri pertama St. Claire). Kalau membaca buku anak, saya ingin mendapatkan sesuatu yang polos, sesuatu yang khas dimiliki anak-anak. Ternyata pendapat saya salah tentang buku ini.

Bisa dibilang kalau buku ini setengah fabel, di mana tokoh utama dan sebagaian besar adalah hewan. Tapi lebih menarik daripada The Wind in The Willow yang pure fabel, ada yang bilang kalau cerita fabel adalah cerminan kehidupan manusia, mungkin banyaknya tokoh yang menarik dan di setiap pertemuan selalu ada yang bisa diambil hikmahnya membuat buku ini lebih bisa saya terima. Tema utama buku ini adalah tentang bagaimana kita melawan ketakutan terbesar di dalam diri kita. Setelah merenung dan mencerna baik-baik setiap bab, inilah moral story yang saya dapat.

1. Kisah tentang Tiddly si pembuat tikus: mengajarkan kalau sebuah kegagalan tidak selalu berdampak buruk, pasti ada sisi lain yang suatu saat menjadi happy ending.

“Kadang-kadang, saat seseorang memiliki suatu ambisi selama hidupnya, bekerja keras dan terus berusaha tanpa lelah, dia bisa mendapatkan suatu saat penuh keajaiban. Dan tiba-tiba segalanya tampak mungkin.”

2. Kisah tentang Manxmouse dan Cutterbumph: Manxmouse pertama kali diperkenalkan oleh apa itu ketakutan dengan bertemu Hantu Cutterbumph. Ketakutan tidak akan tercipta kalau kita tidak memikirkannya, sesuatu yang tidak akan ada hingga seseorang membayangkannya.

“Dan sebenarnya, tidak ada orang yang pernah terlahir dengan ketakutan atau kekhawatiran terhadap sesuatu.”

3. Kisah tentang peristiwa-peristiwa di Nasty: tentang bagaimana kita seharusnya mendengarkan perintah orangtua yang biasanya benar, jangan seperti masuk ke telinga kanan dan keluar ketelingan kiri. Seperti yang dilakukan Induk Kucing Rumah kepada anak-anaknya yang melarang memakan Manxmouse walau si tikus justru malah menawarkan diri sendiri. Jangan mudah percaya kepada orang asing.

4. Kisah tentang Manxmouse dan kapten Pilot Hawk: jangan menilai orang dari luarnya saja, bisa jadi tampang sangar tapi murah hati. Manxmouse tidak mengira kalau pertemuannya dengan si burung pemangsa akan sangat menakjubkan. Dia kira nasibnya akan berakhir di tangan burung elang yang bernama Kapten Hawk, Pilot Senior, justru Manxmouse diajak terbang!

5. Kisah tentang perburuan besar Tikus Humbleton: tidak ada salahnya kita menolong teman yang sedang dalam bahaya.

6. Kisah tentang Nelly si gugup: Nellyphant, seekor gajah yang takut kepada seekor tikus, dan Manxmouse membuatnya berani mengatasi ketakutannya.

7. Kisah tentang Wendy H. Troy: perjalanan selanjutnya membawa Manxmouse bertemu gadis kecil yang kesepian  dan dianggap aneh oleh teman-temannya. Mereka menjadi teman baik. Hewan bisa menjadi sahabat manusia, mereka juga punya hak untuk hidup, bukannya dipakai untuk bahan percobaan di laboratorium.

8. Kisah tentang si harimau yang ketakutan: kabur bukanlah keputusan yang tepat untuk mengatasi masalah, seharusnya adalah menghadapinya.

9. Kisah tentang si pemilik toko hewan yang tamak: ketamakan adalah salah satu sifat keji manusia, ketamakan bisa membuat dirimu lupa semuanya, ingin lebih, lebih dan lebih, tidak akan pernah membuatmu puas.

10. Kisah tentang pelelangan Tikus Manx yang menakjubkan: dibagian ini adalah dampak dari sebuah ketamakan, yaitu merugikan diri sendiri.

“Tapi ini menggelikan! Seseorang akan menghabiskan uang sebanyak itu untukku? Aku tidak akan pernah mengizinkan itu terjadi. Aku tidak seberharga itu. Aku tidak akan pernah bisa menikmati tidur nyenyak lagi pada malam hari jika kupikir aku membiarkan seseorang membayar uang sebanyak itu,” di sini, wajahnya menjadi lebih murung. “Aku sama sekali bukan milik Mr. Smeater. Aku dimiliki oleh Kucing Manx… semua orang berkata begitu.”

11. Kisah tentang Manxmouse bertemu Manxmouse: di dalam diri Maxmouse ada dua sifat yang bersebrangan. Yang satu memiliki penampilan luar tenang dan terhormat, ramah dan selalu siap menolong, tidak pernah gelisah, tenang dan terkendali, seorang teman yang dibutuhkan siapa pun. Dan yang lain berisi ketakutan, tidak aman, dan diam-diam merasa takut di dalam hatinya, dia cenderung selalu ingin kabur, bukannya menghadapi apa pun yang harus dihadapi. Selain itu, dia percaya kata-kata orang lain bisa membuatnya takut. Yang mana kamu?

12. Kisah tentang Manxmouse bertemu dengan Kucing Manx: ingat, ketakutan tidak akan muncul kalau kita tidak menciptakannya. dan ketika ketakutan itu menyerang kita, kita harus berani melawan, entah hasilnya nanti bagaimana, yang penting kita berani mencoba. Titik puncak Manxmouse menghadapi ketakutan terbesarnya dan mencoba tidak melarikan diri.

Wow, ternyata banyak banget pesan moral yang bisa kita ambil dari cerita yang awalnya saya kira biasa-biasa saja. Memang harus pelan bacanya agar bisa memaknainya, khususnya bagi saya yang emang agak lemot ini. Terjemahannya menurut saya sangat bagus, mungkin agak susah menerjemahkan buku anak di mana masih bisa mempertahankan moral story di dalamnya. Masih ada sedikit typo, terlebih tidak konsisten dalam penulisan judul di tiap bab, contohnya ‘si’ di bab 9, kalau besar ya besar semua, kalau kecil ya kecil semua. Covernya oke, memudahkan kita membayangkan gimana sih sosok Manxmouse secara nyata? terlebih di dalamnya juga ada ilustrasi jadi tidak terasa sangat membosankan dan imajinasi kita terbantu.

Sudah banyak cerita anak atau film keluarga yang melibatkan tikus, sebut saja tikus yang pandai masak di Ratatouille (Pixar, 2007), tikus yang bisa menjadi sahabat manusia bahkan menjadi keluarga di Stuart Little (terbit pertama kali pada tahun 1945, ditulis oleh E.B White), dan tikus yang selalu bermusuhan dengan kucing dan anehnya selalu selamat berkat kecerdikannya, Tom & Jerry (diproduksi oleh MGM Cartoon Studio pada tahun 1940-1957, diciptakan oleh duo William Hanna dan Joseph Barbera atau Hanna-Barbera) :D. Manxmouse menjadikan tambahan cerita yang mungkin juga sangat menghibur buatmu, terlebih tema yang diusung sangat erat sekali dengan diri kita sendiri. Dari ketiga film tentang tikus yang sudah saya tonton dan tentang Manxmouse ini bisa saya tarik kesimpulan kalau tikus selalu digambarkan makhluk yang cerdik :p. Buku ini bisa dibaca oleh anak berusia mulai…. mungkin sepuluh tahun, melihat saya aja awalnya agak kesusahan mencernanya.

Kisah Manxmouse yang tidak kenal rasa takut ini terbit pertama kali pada tahun 1968 ditulis oleh Paul William Gallico, lelaki berkebangsaan Amerika yang lahir pada 26 Juli 1897, awalnya bekerja sebagai penulis dan editor berita olahraga. Selain Manxmouse, buku yang terkenal lainnya adalah Matilda, The Poseidon Adventure, seri Mrs. ‘Arris, dan  The Snow Goose yang melambungkan namanya. Buku yang katanya menjadi favoritnya J.K Rowling ini pernah juga diadaptasi oleh stasiun televisi Jepang, Nippon Animation pada tahun 1979 dengan judul Tondemo Nezumi Daikatsuyaku: Manxmouse (Manxmouse’s Great Activity). Dan pada tahun 1990an, Nickelodeon menyiarkan dengan judul The Legend of Manxmouse.

Buat yang suka cerita anak dengan tokoh utamanya hewan unyu, buku ini bisa menjadi pilihan.

3 sayap saya sematkan untuk melawan ketakutan.

Iklan

Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken

1494179

Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken

Penulis: Jostein Gaarder dan Klaus Hagerup

Penerjemah: Ridwana Saleh

Penerbit: Penerbit Mizan

ISBN: 979-433-415-4

Cetakan I, Mei 2006

294 halaman

Sinopsis:

Dua saudara sepupu, Berit dan Nils, tinggal di kota yang berbeda. Untuk berhubungan, kedua remaja ini membuat sebuah buku-surat yang mereka tulisi dan saling kirimkan di antara mereka. Anehnya, ada seorang wanita misterius, Bibbi Bokken, yang mengincar buku-surat itu. Bersama komplotannya, tampaknya Bibbi menjalankan sebuah rencana rahasia atas diri Berit dan Nils. Rencana itu berhubungan dengan sebuah perpustakaan ajaib dan konspirasi dalam dunia perbukuan. Berit dan Nils tidak gentar, bahkan bertekad mengungkap misteri ini dan menemukan Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken. Melalui cerita yang bernuansa detektif ini, Jostein Gaarder, pengarang Sophies World, dan Klaus Hagerup, mengajak kita berpetualang dalam dunia buku dan perpustakaan. Tanpa sadar, Anda akan diperkenalkan dengan Klasifikasi Desimal Dewey, Winnie the Pooh, Anne Frank, teori sastra, teori fiksi, teori menulis, sejarah buku dan perpustakaan, dan masih banyak lagi. Dengan demikian, buku ini adalah pengantar kepada dunia buku yang dapat dinikmati pembaca kanak-kanak, remaja, maupun dewasa. Buku terbaik mengenai buku dan budaya-baca yang ada saat ini.” Oldenburgische Volkszeitung. Sebuah surat cinta kepada buku dan dunia penulisan.” Ruhr Nachricht

My Review

Buku ini sebenarnya saya baca setahun atau dua tahun yang lalu, mandeg karena merasa tidak jodoh dengan buku ini. Entahlah, beberapa kali membaca buku yang cara penulisannya seperti surat saya malah kurang tertarik, padahal sendirinya suka nulis yang dibuat seperti surat #ruwet. Dibagi menjadi dua bagian, bagian pertama bercerita tentang dua orang sepupu yang tinggal berjauhan, mereka saling berkirim surat yang berbentuk buku, bolak balik mengirimkannya dari Oslo dan Fjaerland (Norwegia). Kedua sepupu itu bernama Nils Boyum (12 tahun) dan Berit Boyum (10).

Bermula ketika Nills bertemu dengan wanita tua yang membawa buku, Bibbi Bokken, diketahui dari surat yang terjatuh dari buku yang dibawanya menggambarkan kalau Bibbi Bokken adalah seorang bibliografer dan wanita itu menyimban buku yang langka, buku yang akan terbit tahun depan dan disinyalir bakalan menakjubkan. Dari asumsi itulah Nills menuliskan surat yang berbentuk buku kepada sepupunya di Fjaerland, mendiskusikan dan menyelidiki siapa sebenarnya Bibbi Bokken dan buku apakah itu, buku yang hanya diketauhi berjudul ‘Perpustakaan Ajaib’, sebaliknya Bibbi Bokken malah penasaran dengan surat-buku yang ditulis kedua sepupu tersebut dan berusaha merebutnya, mereka saling mengejar dan menyelidiki. Di bagian kedua yang bersetting di perpustakaan kita akan menemukan semua jawaban teka teki bagian pertama.

Sebenarnya cukup menarik, di bab pertama sudut pandangnya adalah orang pertama, kedua sepupu dan di buku kedua lebih banyak dialog. Mungkin karena alurnya yang cukup lambat di awal membuat saya kehilangan selera membacanya. Tapi yangs aya suka adalah di buku ini banyak pengetahuan tentang buku seperti bibliografer yang berarti seseorang yang melakukan kegiatan bibliografi, hal-hal mengenai buku. Incunabula; buku-buku yang dicetak pada masa-masa awal percetakan bku dahulu, yaitu sekitar tahun 1500. Gutenberg; seni percetakan buku, dimana Gutenberg ini menggunakan huruf bongkar-pasang dari timah hitam. Dan informasi kalau setiap buku di perpustakaan setidaknya memiliki tiga kartu kartotek yang berbeda, ada tiga jenis kartu kartotek. Satu kartu memuat urutan berdasarkan pengarang secara alfabetis, kartu kedua menurut judul buku dan ketiga pengurutan berdasarkan registrasi kata kuncinya. Membaca bagian ini membuat saya ingin mengatur buku di lemari secara alfabetis :D. Selain itu ada biografi sedikit tentang Anne Frank, jadi pengen baca Buku Harian Anne Frank, buku ini beneran informatif sayangnya saya tidak berjodoh dengan buku ini.

Cover-Buku-Perpustakaan-Ajaib-Bibbi-BokkenSaya suka cover yang gold edition, nggak terlalu buruk sebenarnya cuman lebih eksklusif aja dan tampilannya lebih menggoda. Terjemahanya nggak ada masalah, saya enjoy aja bacanya dan minim typo juga, cuman yang edisi pertama bukunya agak kecil gitu, nggak tahu dengan versi terbarunya.

Buku ini ditulis oleh dua penulis asal Norwegia, Jostein Garder yang terkenal dengan buku filsafat Dunia Sophie yang menjadi buku terlaris tahun 1995 dan Klaus Hagerup yang seorang penulis, penerjemah, penulis skenario, aktor dan sutradara yang terkenal dengan buku anak dan remaja.

Ada beberapa quote yang saya suka dibuku ini, diantaranya adalah:

Buku adalah teman terbaik.

Siapa yang bisa menemukan buku yang tepat, akan berada di tengah-tengah teman terbaik. Di sana kita akan berbaur dengan karakter yang paling pintar, paling intelek, dan paling luhur, di sana kebanggaan serta keluhuran manusia bersemayam.

Sebuah buku adalah dunia ajaib penuh simbol yang menghidupkan yang kekal kepada yang masih hidup. Sungguh tak dapat dibayangkan, fantastis, dan ‘ajaib’ bahwa kedua puluh enam huruf dalam alfabet kita bisa dipadukan sedemikian rupa sehingga bisa memenuhi rak raksasa dengan buku-buku dan membawa kita ke seluruh dunia yang tak pernah berujung. Dunia yang selalu bertumbuh dan bertumbuh, selama masih ada manusia di muka bumi ini.

Buku ini saya rekomendasikan bagi kamu yang sedang mencari buku tentang buku

3 sayap untuk kedua sepupu yang kurang kerjaan.

NB: posting bareng BBI buku tentang buku

Momo

2189720

Momo

Penulis: Michael Ende

Alih bahasa: Hendarto Setiadi

Desain sampul: Eduard Iwan Mangopang

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

ISBN: 979-22-0943-3

Cetakan pertama, Juli 2004

320 halaman

Harga: pinjem @pippopu

Anak perempuan kecil itu bernama Momo, penampilannya aneh dan selalu kotor, ia pendek dan kurus sehingga tidak ada yang tahu dia berusia delapan atau sudah dua belas tahun. Dia tinggal di reruntuhan amfiteater. Dia tidak tahu siapa orangtuanya, tidak tahu tentang asal usulnya tapi dia bersahabat dengan banyak orang, orang-orang dari lingkungan sekitar yang tidak jauh dari  tempat tinggalnya. Momo mempunyai bakat, sebuah bakat yang amat dibutuhkan. Kalau mereka tidak bisa menemui Momo maka dengan baik hati Momo akan datang membantu memecahkan masalah mereka, “Coba cari Momo!”. Bukan sebuah bakat yang luar biasa, sebuah bakat yang sebenarnya dimiliki setiap orang, kalau mereka sadar. Bakat yang dimiliki Momo kecil adalah: mendengarkan. Di mana hanya sedikit orang yang sanggup mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Dan kemampuan Momo mendengarkan tidak ada tandingannya.

Begitu pandainya Momo mendengarkan, sehingga orang bodoh pun mendadak bisa mendapatkan ide gemilang. Bukan karena Momo mengatakan atau menanyakan sesuatu yang bisa mengarahkan pikiran orang lain, bukan, ia hanya duduk mendengarkan orang itu dengan segenap perhatian dan dengan sepenuh hati. Ia akan menatap orang tersebut dengan matanya yang besar dan berwarna gelap, dan orang yang bersangkutan akan merasa bagaimana berbagai ide yang tak pernah disangka-sangka muncul dalam kepalanya.

Begitu pandainya Momo mendengarkan, sehingga orang yang semula bingung atau ragu-ragu mendadak tahu persis apa yang ia inginkan, orang yang pemalu menjadi bebas dan berani, dan orang yang tidak bahagia dan tertekan pun berbesar hati dan merasa gembira. Jika ada orang yang merasa hidupnya sia-sia dan tak berani dan bahwa ia hanya satu di antara sekian juta orang, bahwa ia tidak penting dan dapat diagantikan semudah mengganti panci yang rusak, dan ia mencari Momo kecil untuk mencurahkan isi hatinya, maka sambil berbicara ia akan sadar sendiri bahwa ia keliru, bahwa ia, sebagaimana adanya, tak ada duanya, dan bahwa karena itu ia pun penting bagi dunia.

Begitu pandainya Momo mendengarkan!

Momo mempunyai banyak teman, baik itu orang dewasa atau anak-anak. Momo juga menjadi sumber inspirasi dalam menciptakan permainan baru, bukan, bukan dia yang memberikan usul, dia hanya datang dan ikut bermain, justru itulah yang menjadikan anak-anak menjadi kreatif. Walau mempunyai banyak teman, Momo mempunyai dua sahabat karib yang setiap hari berkunjung dan berbagi segala hal. Yang satu masih muda dan yang satunya lagi sudah tua, Momo sangat menyanyangi keduanya. Sahabatnya yang tua bernama Beppo Tukangsapujalanan, dia dipanggil seperti itu karena pekerjaannya adalah tukang sapu jalanan, ia sangat pendek, agak bungkuk, kepalanya besar agak miring, dipenuhi uban dan memakai kacamata, dia tinggal di sebuah gubuk yang tidak jauh dari amfiteater. Dia dianggap kurang waras karena dia tidak pernah menjawab jika ditanya dan hanya tersenyum, hanya Momo yang sabar dan mengerti, Beppo hanya membutuhkan waktu agar tidak mengatakan sesuatu yang tidak benar. Menurut Beppo, seluruh kemalangan di dunia disebabkan oleh banyaknya kebohongan, baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja, yang timbul semata-mata karena orang terburu-buru atau kurang teliti. Sahabat yang satu lagi masih muda dan sangat berlawanan dengan Beppo Tukangsapujalanan, ia tampan tapi tidak bisa diam, dia suka sekali tertawa dan bercerita. Ia tidak mempunyai pekerjaan tetap. Namanya Girolamo, tetapi semua orang memanggilnya Gigi Pemanduwisata, sama seperti Beppo, bedanya namanya diambil dari salah satu pekerjaan tidak tetapnya. Dari ocehannya, Gigi bermimpi menjadi terkenal dan kaya raya.

Ada suatu rahasia besar yang sangat misterius, namun sekaligus sangat dikenal. Semua orang terlibat, semua orang mengetahuinya, tetapi jarang sekali ada yang pernah memikirkannya. Sebagian besar orang menerimanya begitu saja, tanpa merasa heran sedikit pun. Rahasia itu adalah waktu.

Kita mempunyai penanggalan dan jam untuk mengukur waktu, namun itu tidak berarti banyak, sebab kita semua tahu bahwa satu jam bisa terasa seakan-akan tanpa akhir, tetapi bisa juga terasa bagaikan sekejap mata -tergantung apa yang kita alami selama satu jam itu. Sebab waktu adalah kehidupan. Dan kehidupan berpusat di dalam hati.

Tua kelabu sangat paham nilai satu jam, satu menit, bahkan satu detik kehidupan, mereka seperti lintah darat. Mereka sudah mempunyai rencana untuk waktu yang dimiliki semua orang, tak seorang pun tahu tentang keberadaan tuan kelabu, mereka sering berkeliaran tanpa menarik perhatian sehingga tujuan mereka tidak diketahui siapa pun. Mereka akan mendekati orang-orang yang boros waktu; orang yang suka mengobrol, tidur selama delapan jam, berbelanja, kegiatan yang selalu kita lakukan setiap hari dengan berlama-lama dianggap terlalu banyak membuang waktu dengan cara yang tidak bertanggung jawab. Tuan kelabu menghitung jumlah waktu yang terbuang yang sebenarnya bisa ditabung, begitulah cara mengelabuinya. Tuan kelabu adalah Bank Waktu, mereka menyimpan waktu dan membayar bunga, mereka membuat orang-orang berhemat dengan waktu yang mereka miliki, melakukan hal yang seperlunya saja tanpa berlama-lama mengerjakannya, membuat orang menghindari semua hal yang tidak perlu. Orang-orang kini menjadi anggota masyarakat penabung waktu, orang-orang kini tidak mengenal ungkapan, “Coba cari Momo!”.

Sepertinya tak seorang pun sadar bahwa upaya menghemat waktu sekaligus menyebabkan penghematan dalam hal lain. Tak seorang pun mau mengakui bahwa hidupnya semakin miskin, semakin seragam, dan semakin dingin. Yang paling merasakan hal itu adalah anak-anak, sebab untuk mereka pun tak ada waktu lagi.

Tetapi waktu adalah kehidupan. Dan kehidupan berpusat di dalam hati.

Dan semakin getol orang-orang menghemat, semakin sedikit yang dapat mereka nikmati.

Lama-kelamaan orang-orang dewasa jarang menemui Momo, sebaliknya anak-anak jadi sering membawa mainan dan mengajak Momo dan kedua sahabatnya untuk bermain dan bercerita. Mereka bercerita kalau sekarang ayah mereka jarang mendongeng, ibu mereka pergi sepanjang hari, setibanya di rumah mereka kecapekan dan tidak ada waktu bagi anak-anak. Mereka juga berpesan kalau tidak boleh menemui Momo dan kedua sahabatnya lagi dikarenakan mereka mencuri waktu dari Tuhan, mereka selalu punya banyak waktu sedangkan orang lain semakin kehabisan waktu. Momo ingin membuktikan sendiri, dia pergi menemui beberapa teman yang dulu sering mengunjungi dan meminta pertolongannya. Mereka semua berubah, mereka seperti dikejar setan, tapi kedatangan Momo sedikit menyadarkan mereka dan berjanji akan menemui Momo lagi. Tanpa disadarinya, Momo menghalangi rencana tuan kelabu. Tuan kelabu tidak tinggal diam, dia langsung menemui Momo dan memberikan banyak boneka, memberikan barang-barang mewah, tapi mereka tidak bisa disayangi, tidak seperti teman-temannya. Momo tidak bisa dibohomgi dan dipengaruhi oleh tuan kelabu.

Kemudian Momo menceritakan kejadian itu kepada kedua sahabatnya, dan mereka mempunyai rencana memberitahu semua orang tentang keberadaan tuan kelabu yang kehadirannya tidak diketahui sehingga mereka bisa bekerja secara diam-diam. Mereka melakukan demonstrasi anak-anak secara besar-besaran, membuat poster dan spanduk untuk menarik perhatian warga kota dan menjelaskan duduk perkaranya. Tapi tidak ada yang datang, orang-orang dewasa yang sebenarnya paling berkepentingan tidak mendatangi undangan dan mengacuhkan pawai anak-anak.

“Anak-anak,” sang hakim menjelaskan, “adalah musuh alami untuk kita. Andai kata tidak ada anak-anak, seluruh umat manusia sudah lama bisa kita kuasai. Anak-anak jauh lebih sulit diajak menghemat waktu daripada orang lain. Karena itu, salah satu peraturan kita yang paling penting berbunyi: Anak-anak selalu mendapat giliran terakhir….”

Suatu hari Momo kedatang tamu tak diundang, dia adalah seekor kura-kura bernama Kassiopeia di mana di atas cangkangnya akan muncul sebuah tulisan, perantara untuk berbicara dengan Momo. Kura-kura itu menyuruh Momo untuk mengikutinya, melalui jalan yang aneh dan berliku hingga akhirnya mereka sampai disebuah papan bertuliskan Gang Antah-Berantah yang bisa dilalui hanya dengan berjalan mundur. Setelah itu sampailah mereka di depan rumah yang melintang di ujung gang, rumah itu bernama Wisma Antah-Berantah, yang dipenuhi lilin dan berbagai macam jam. Momo tiba di sumber waktu dan orang yang tinggal di dalamnya bernama Empu Secundus Minutius Hora, Empu Hora, sang pengelola waktu, yang bertugas mengatur agar setiap orang memperoleh waktu yang menjadi haknya. Empu Hora menyuruh Kassiopeia menjemput Momo karena dia sedang dalam bahaya. Tuan kelabu ingin menangkap Momo karena dia melakukan hal terburuk, Momo ingin membeberkan keberadaan mereka ke semua orang. Tapi untungnya Kassiopeia memiliki kemampuan dapat melihat setengah jam ke masa depan, sehingga tuan kelabu tidak bisa menemukan Momo walaupun Momo sebenarnya ada di sekitar mereka. Momo tinggal sehari di Wisma Antah-Berantah yang berarti setahun di dunia nyata. Momo tidak tahu kalau segalanya telah berubah, kedua sahabatnya menghilang dan tidak ada lagi anak-anak yang bermain dengannya, amfiteater kiri sepi dan kosong dan dengan sia-sia momo menunggu kedatanganmereka semua. Kemudian Momo menyelidiki semua perubahan itu bersama dengan Kassiopeia, ada rumah yang bernama “Depot Anak-Anak” si seluruh bagian kota, yaitu rumah-rumah besar tempat anak-anak yang tidak sempat diurus bisa dititipkan, untuk kemudian dijemput lagi begitu ada kesempatan, sehingga tidak ada waktu bagi mereka untuk bermain di luar. Momo tidak pantang menyerah untuk menemukan sahabatnya yang sudah terpengaruh oleh tuan kelabu, tapi tidak akan mudah karena kali ini tuan kelabu berjanji tidak akan gagal lagi menangkap Momo.

“Kalau begitu, para tuan kelabu bukan manusia?”

“Bukan, mereka hanya tampil sebagai manusia.”

“Tapi apa mereka sebenarnya?”

“Sebenarnya mereka bukan apa-apa.”

“Dan darimana mereka datang?”

“Mereka muncul karena diberi kesempatan oleh orang-orang. Itu saja sudah cukup. Sekarang mereka bahkan diberi kesempatan untuk menguasai orang-orang. Itu juga sudah cukup untuk membuanya benar-benar terjadi.”

Pertama tahu buku ini adalah ketika saya mebaca review mbak @annisa_anggiana di mana dia sampai rela jam dua pagi ingin mengulang membaca buku ini. Ada apa? apa specialnya buku ini? Saya pun menjadi sangat penasaran. Terimakasih sekali kepada mbak @pippopu yang sudah dengan baik hatinya meminjamkan buku ini, maaf kalau lama balikinnya :p

Mungkin bagi beberapa orang ketika membaca sinopsisnya sedikit absurd, “Kisah Momo berlangsung di negeri khayalan yang tidak terikat waktu dan tempat, di masa kini yang abadi. Namun ceritanya bukan mengenai pangeran, penyihir, dan peri. Kisah Momo diangkat dari kehidupan kita sehari-hari. Duanianya adalah sebuah kota besar modern di selatan Eropa.” Itulah pertama kali yang saya rasakan, ini buku bercerita tentang apa sih? Membaca kata penutup pengarangnya semakin bingung, dia berkata, “saya ceritakan seakan-akan telah terjadi. Sebenarnya, saya juga bisa menceritakannya seolah-olah baru akan terjadi di masa depan. Bagi saya tidak banyak bedanya.” Untuk menjawab semua penasaran saya, saya pun tidak bertanya lagi dan menemukan jawabannya sendiri, dan benar, ketika selesai membaca buku ini, kapan pun cerita ini muncul tidak akan ada bedanya.

Kapan kita benar-benar mendengarkan seseorang? kapan kita benar-benar punya waktu untuk orang terdekat kita? Keluarga, sahabat, teman? Itulah inti dari buku ini. Penulis mewakilinya dengan seorang sosok anak kecil yang sering sekali dirugikan dengan orang dewasa yang semakin hari semakin sibuk dengan urusannya sendiri. Penulis menciptakan tokoh anak kecil yang benar-benar mau mendegarkan dengan tulus segala persoalan mereka. Anak kecil yang polos, bahkan itu kekuatan yang dimiliki seorang anak kecil, kepolosannya, ketulusannya yang tanpa pamrih. Bahkan, tuan kelabu sebenarnya ada di diri kita masing-masing, kita menciptakan tuan kelabu versi kita sendiri sehingga kadang kita tidak punya waktu untuk saling mendengarkan, betegur sapa, bercerita selayaknya seorang anak kecil yang tanpa kesulitan mencurahkannya kesesama temannya.

Alurnya maju dan diceritakan oleh orang ketiga, saya cukup membutuhkan waktu untuk membaca buku ini, untuk mencerna apa pesan yang ingin penulis sampaikan, yang sebenarnya memang tidak jauh dari kehidupan sehari-hari kita. Ketika membacanya, saya berharap sosok Momo beneran nyata, sosok yang sekarang sulit ditemukan. Dan ketika membaca buku ini saya agak sedikit bersukur dengan waktu yang saya buang, termasuk malas boros kalau bisa dibilang :p. Saya bisa tidur lebih dari delapan jam, bisa ngobrol sampai lupa waktu, suka berlama-lama di kamar mandi, lupa waktu kalau sudah membaca, dsb, kalau tuan kelabu melihat waktu yang saya buang, saya yakin mereka akan langsung menunjukkan kalau saya miskin tabungan waktu di bank, haha. Yang penting adalah saya menikmati setiap waktu yang saya buang, saya merasa tidak rugi.

Kekurangan buku ini apa ya? Buku ini bisa dikategorikan ke dalam fantasy dan Children Literature, nah, untuk children literatur tampaknya akan sulit dipahami tanpa didampingi orang yang lebih besar, mungkin itu saja, sejauhnya buku ini memiliki pesan moral yang dasyat :D.

endeMichael Ende lahir pada tahun 1929 di Jerman Selatan. Dia putra pelukis surealis Edgar Ende. Dari tahun 1948-1950 dia bersekolah di Otto Falckenberg High School of Dramatic Art di Munich. Sejak tahun 1943 Michael Ende sudah menulis puisi dan cerita pendek. Suksesnya sebagai penulis bermula pada tahun 1961, ketika buku anak-anak keryanya Jim Button and Luke the Engine Driver, mendapatkan penghargaan Deutsche Jugendliteraturpreis (German Youth Literature Prize). Buku tersebut diterbitkan pada tahun 1960 oleh Thienemann’s Publishing House, setelah ditolak lebih dari 12 penerbit.

Sejak tahun 1970, Michael Endetinggal di Italia. Di sanalah dia menyelesaikan penulisan novel Momo pada tahun 1972. Momo juga mendapatkan penghargaan Deutsche Jugendliteraturpreis pada tahun 1974. Pada tahun 1979, buku The Never Ending Story diterbitkan. Melalui buku inilah Michael Ende mendapatkan penggemar di seluruh dunia. Buku ini diterjemahkan ke dalam 35 bahasa dan memantapkan reputasi Michael Ende sebagai salah satu penulis paling penting dan sukse. Selain menulis buku anak-anak, Michael Ende juga menulis buku-buku dewasa yang diterbitkan oleh Weitbrecht Verlag –The Mirror in the Mirror dan Prison of Freedom– serta naskah-naskah drama untuk teater, puisis, balada, dan lagu-lagu.

Pada tahun 1989 Michael Ende menerbitkan buku terakhirnya, The Wish Punch (The Night of Wishes) yang telah diterjemahkan ke dalam 25 bahasa dan dibuat serial kartun TV-nya. Michael Ende meninggal pada tahun 1995 di dekat Stuttgart. Pada tahun 1998, Michael Ende Museum dibuka di International Youth Library di Munich (Sumber: Gramedia).

Ada bagian yang paling saya suka, yaitu bagian Empu Hora memberi pertanyaan kepada Momo, menginggatkan saya akan buku The Hobbit yang juga ada tebak-tebakannya, saya kasih pertannyaannya ya 😀

“Di suatu rumah tinggal tiga bersaudara, namun tapang mereka tiada serupa, ketika mau membedakan mereka bertiga, maka yang satu menjadi mirip yang dua. Si Sulung sedang tidak ada, dia baru mau pulang ke rumah. Si Tengah sedang tidak ada, rupanya dia pergi sudah. Di rumahnya hanya Si Bungsu yang ada, sebab tak kan ada yang dua tanpa dia. Tetapi si Bungsu yang dimaksud oleh kita, ada hanya karena si Sulung jadi nomor dua. Dan setiap kali kita memandangnya, yang tampak selalu salah satu kakak. Sekarang katakanlah: Apakah yang tiga hanya satu? Atau hanya dua? Atau malah sama sekali tidak ada? Jika kau sanggup menyebut nama mereka, kau akan mengenali tiga raja yang sangat berkuasa. Kerajaan besar mereka perintah bersama -yang sekaligus merupakan jati diri mereka.”

Ada yang bisa jawab? Ada lima jawaban akan pertannyaan di atas. Ayo coba tebak, jawaban yang paling benar akan mendapatkan hadiah dari saya (khusus bagi yang belum pernah baca bukunya dan tidak punya bukunya, di mohon kejujurannya ya :D), giveaway terselubung ini berlangsung sampai ada yang menjawab dengan tepat. Dan hadiahnya apa? buku pilihamu sendiri dengan IDR 50k dan satu buku dari timbunan saya, The Fetch by Chris Humphreys hanya satu orang warga negara Indonesia yang bisa mendapatkannya 😀

Selamat menebak teka-tekinya, oh ya lupa,

4 sayap untuk tuan kelabu yang abu-abu 😀

Dunia Adin

2208208

Penulis: Sundea
Ilustrator: Triyadi Guntur W.
Penerbit: Read! Publishing House
ISBN: 978-979-3828-56-5
Cetakan pertama, September 2007
268 halaman
Harga: pinjam mbak @sinta_nisfuanna

Saya mulai suka membaca, benar-benar tertarik pada dunia baca ketika saya SMP, itu pun lebih ke komik. Sebelumnya saya tidak tertarik dengan children literatur karena merasa sudah sok dewasa, bacaan yang pernah saya enyam waktu kecil pun novel romance, novel dewasa, hahaha, dewasa sebelum waktunya. Baca Bobo aja nggak tertarik. Kemudian tahun lalu saya mencoba merambah children literatur dalam proses perluasan genre bacaan saya, di mulai dengan meminjam buku anak dari penulis yang terkenal, Enid Blyton. Nggak tanggung-tanggung, mbak (berasa aneh penambahannya :p) Dewi meminjami saya dua boxset buku dari Enyd Blyton, seri Malory Towers dan St. Clare. Saya membaca terlebih dahulu seri Malory Towers karena banyak yang bilang bagus, keren, memorable, memicu orang untuk sekolah di asrama, tapi kesan yang saya dapat adalah cerita tentang anak-anak iri dengki, proses pendewasaan dengan berbagai drama, kata-kata/perbuatan kasar dan saya tidak nyaman membacanya. Saya bisa bertahan membaca keenam seri tersebut namun gagal dalam seri St. Clare, hanya membaca seri pertama dan itu pun ceritanya nggak jauh beda dari Malory Towers. Kemudian saya membaca fabel pertama di dunia, The Wind In The Willow yang juga gagal menarik hati saya. Yang menurut saya terlalu sulit dipahami untuk bacaan anak kecil. Bukan cerita kasar atau sulit dicerna yang ingin saya dapatkan dari buku bertema children literatur, saya membayangkan buku anak itu bercerita tentang kepolosan anak-anak, bagaimana dengan kepolosannya itu bisa merubah banyak hal. Saya temukan di buku dalam negeri, yap, nggak perlu jauh-jauh ke Inggris atau ke masa lalu untuk mendapatklan cerita anak sesuai dengan selera saya, saya menemukan buku anak yang benar-benar cetar membahana badai -meminjam istilah Syahrini- yang ditulis oleh penulis dalam negeri, tentang kepolosan anak kecil, cerita yang tidak kasar, mudah dipahami, mengandung pesan moril yang mungkin sering kita temui dikehidupan sehari-hari, cerita yang bisa diterima semua kalangan, Dunia Adin.

Seperti judulnya, Dunia Adin bercerita tentang kehidupan Adinda Alissa atau yang biasa disapa Adin atau gembul, gadis kecil berusia enam tahun yang polos dan disayangi semua orang. Di cerita awal kita akan dikenalkan kepada keluarga Adin, Papip dan Mamim-nya, tidak ketinggalan dengan keluarga besar yang tinggal di seberang rumah Adin, yang sangat menyukai Adin, keluarga Panggabean. Berbeda dengan keluarga Adin yang hanya berisi dirinya dan kedua orangtuanya, keluarga Panggabean sangat ‘ramai’. Ada Lambok Hasudungan atau biasa dipanggil Coki, teman klop Adin, mereka berusia sama. Abang tertua bernama Darwin, berumur enam belas tahun. Kemudian diikuti bang Ruli (yang suka memeriksa pe-er Adin dan Coki), bang Edu (suka bermain basket), bang Barry yang sangat usil. Yang terakhir ada Dodo yang ingin menjadi jagoan sehingga dia ikut les karate. Mereka muncul di kisah-kisah Adin.

Selain dua bab tentang pengenalan tokoh yang ada di buku ini, ada 20 cerita yang bisa berdiri sendiri, cerita yang akan membuatmu tertawa akan kepolosan seorang anak kecil, dan kita akan belajar dari tingkah polahnya.

Pak Angin yang Menyeberangkan Anak Balon: Adin khawatir dengan balon yang melintas di depan mobil yang sedang dikendarai oleh ibu dan dirinya. Adin takut balon itu di tabrak mobil. Dia ingat perkataan Mamim kalau anak kecil haruslah menyeberang dengan orang besar. Begitu juga dengan balon tersebut yang harus menyeberang dengan balon yang sudah besar atau benda apa pun yang lebih besar darinya.

Sebuah Cerita tentang Seekor Ikan Bernama Maub-Maub: Coki memperkanalkan teman barunya yang bernama Maub-Maub kepada Adin, seekor ikan mas. Karena takut abangnya, Barry yang mengancam akan memakannya, ikan itu dititipkan di rumah Adin. Setelah mendapatkan rumah yang cocok untuk Maub-Maub, mereka kebingungan memberi makan, dicoba dikasih roti dan nasi Mau-Maub nggak mau memakannya, Papip pun mengajak mereka ke toko ikan dan menemukan pelet, makanan yang pas untuk Maub-Maub. Sayangnya, keesokan harinya Maub-Maub nggak bangun dari tidurnya, dia tergeletak tak sadarkan diri di luar baskomnya. Adin langsung menangis. Untuk menghiburnya Mamim bercerita kalau Tuhan kasian melihat Maub-Maub kesepian, kemudian Dia menawarkan surga agar tidak kesepian lagi. maub-Maub langsung mau dan berkenalan dengan ikan-ikan yang lain di kolam surga, Maub-Maub sudah bahagia disana.

Domba-Domba Pak Dumdum: Adin tidak bisa tidur dan Mamim mengusulkan agar Adin menghitung domba-domba Pak Dumdum yang gendut-gendut dan lucu-lucu. Adin pun langsung mencoba saran Mamimnya dan dia langsung bertemu dengan Pak Dumdum.

Penyihir yang Menyihir Bang Ruli: Sekarang bang Ruli tidak punya waktu lagi untuk memeriksa pe-er Adin dan Coki, keluhan tidak hanya datang dari mereka berdua saja tapi semua adik-adiknya. Dodo terlambat latihan gara-gara bang ruli mengantar ceweknya, Kak Angla. Bang Edu kesel karena motornya selalu dibawa Bang Ruli. Pokoknya Bang Ruli benar-benar berubah, dia telah terkena sihir Kak Angla. Dodo dan Barry pun berniat mengerjai Kak Angla, tapi melihat kebaikan Kak Angla kepada Adin dan Ciko pendapat mereka jadi ragu, apakah benar Kak Angla seorang penyihir?

Penyakit Batuk Selamanya: Akhir-akhir ini Edu sering membawa teman perempuannya yang serba bisa, jago maen game, basket dan karate, dia periang dan cepat akrab dengan orang lain. Tapi suara Dhamma saat berbicara terdengar aneh, serak. Adin heran dengan suara kak Dhamma, dia selalu ingin berdeham untuk menormalkan suara kak Dhamma. Adin berpendapat kak Dhamma batuk nggak sembuh-sembuh. Barry langsung nyletuk kalau kak Dhamma mengidap penyakit BS, singkatan dari Batuk Selamanya, menakut-nakuti Adin dan Coki kalau keseringan maen sama kak Dhamma mereka bisa ketularan. Mereka percaya saja dengan bualan Barry, mereka menghindari Dhamma dan perempuan itu mengira kalau mereka marah padanya. Suatu hati ketika bangun tidur Adin demam dan suaranya menjadi serak, dia ketakutan karena merasa sudah tertular penyakit kak Dhamma.

Bambang Suharjiwan, Papip, dan Mamim: Adin kedatangan teman baru dikelasnya, namanya Bambang Suharjiwan. Adin merasa aneh dengan nama Bambang, seperti bapak-bapak. Bambang juga heran kenapa Adin memanggil papa dan mamanya dengan sebutan Papip dan Mamim. Kata-kata Bambang membuat Adin berpikir kenapa dia bisa menyebutnya begitu? Karena berasa aneh, Adin menganti sebuatan kedua orang tuanya menjadi papi dan Mami, dia juga mengganti nama bambang menjadi Dodi agar terdengar keren. Sebuah kejadian menyadarkan Adin, panggilan Mamim begitu lekat di hatinya.

Celana Pendek Seperti Milik Bambang dan Dimas: Waktu istirahat, Bambang, Dimas dan Adin bermain polisi-maling. Bambang dan Dimas berperan sebagai maling sedangkan Adin menjadi polisinya. Adin hampir menangkap kedua maling tersebut ketika berhasil memojokkan mereka antara dinding SD dan SMP. Bambang dan Dimas langsung memanjat tembok tersebut yang kemudian diikuti Adin. Naasnya, rok Adin sobek ketika memanjat. Adin curhat sama Papip kalau dia ingin memakai celana saja kayak Bambang dan Dimas biar kalau mau manjat lebih gampang. Keesokan harinya Papip mengajak Adin ke rumah eyang untuk panen jambu air. Papip bertugas mengambil jambu dan Adin menangkapnya. Sayangnya trik ini membuat tangkapan Adin meleset. Kemudian tante Alya datang dan mengusulkan memakai cara pemadam kebakaran. Papip melempar ‘orang-orang jambu’ ke arah Adin, mengganggap kalau jambu tersebut adalah korban kebakaran di gedu
ng. Jambu-jambu tersebut ditangkap dengan memakai rok Adin, selayaknya trampolin pemadam kebakaran. Kalau Adin pakai celana mana bisa dia bermain pemadam kebaran yang sangat mengasikan?

Teman Tante Alya yang Bertampang Berantakan: Waktu tante Alya berkunjung ke rumah Adin dia bercerita kalau punya teman yang bertampang berantakan. Adin bingung, kira-kira tampang berantakan itu seperti apa? Dia pun mulai mencoba membuat gambar teman tante Alya yang bertampang berantakan tersebut.

Lampu Kerja Papip: Papip sebal karena lampu kerja yang ingin diagunakan tidak mau menyala. Adin mendengar keluh kesah Papipnya dan dia mencoba membantu mengatasi masalah Papip. Dengan lembut dan manis Adin berkata sama si lampu, membujuknya agar menyala.

“Kadang orang dewasa tidak mengerti kalau benda-benda pun mempunyai perasaan. Mereka bisa menjadi sahabat kita, bisa juga marah kepada kita. Sama seperti manusia, mereka cuma perlu diperlakukan dengan baik dan penuh kasih sayang.”

Tidak Semua Dinding Boleh Digambari: Karena ada temannya yang tidak bisa membaca tulisan di papan dengan jelas, Adin bertukar tempat duduk dengan temannya sehingga kini dia duduk di pojok belakang. Adin duduk sendirian dan dia lama-lama bosan, kemudian dia melihat dinding di sebelah abngkunya yang berwarna putih bersih, mirip dinding di kamarnya. Bedanya dinding Adin ada gambarnya, dia lalu menyimpulkan sendiri kalau dinding kamar Adin mirip dengan dinding kelas, berarti dinding kelas juga boleh digambari. Sejak itu Adin mempunyai kegiatan baru dan tidak terlalu kesepian lagi. Dia juga mengajak dua teman yang duduk di depannya untuk berpartisipasi dalam membuat komik di dinding, yang tidak lama kemudian kena marah sama gurunya.

Saya kasih percakapan mereka yang menurut saya beginilah seharusnya para orang tua menjelaskan dan membenarkan kesalahan anaknya.

“Mim,misalnya nih ya, misalnya Adin gambar-gambar di dinding pas nggak lagi belajar boleh nggak? Terus, kenapa sih, Mim, dinding kamar Adin boleh digambar-gambar, tapi dinding sekolah nggak?” tanya Adin di dalam angkot.
“Misalnya nih, misalnya ya Din. Adin punya mainan yang Adin sayaaang … banget. Terus Dimas merebut mainan dan merusak mainan itu karena menurut Dimas, mainan itu mirip dengan miliknya, Adin marah, nggak?” Mamim malah balik bertanya.
“Ya marah! Mainan itu, kan, punya Adin!” jawab Adin segera.
“Nah, soal dinding juga begitu. Dinding sekolah bukan punya Adin. Jadi aturannya, biarpun dinding itu mirip dengan dinding kamar Adin, kamu nggak boleh seenaknya mencoret-coret. Kenapa di jalan ada rambu lalu lintas? Kenapa kita harus bilang terima kasih setelah ditolong? Kenapa kita tidak boelh merusak barang milik orang lain? Karena ada aturan dan sopan santun, Din. Sesuatu yang harus dilakukan supaya hubungan kita dengan orang lain di sekitar kita tetap baik.” terap Mimim panjang lebar.
“Ooo …,” tanggap Adin sambil menggangguk-angguk paham.
“Tapi, Din, aturan di setiap tempat berbeda-beda, lho. Misalnya begini, Adin boleh mencoret-coret dinding kamar Adin sendiri, tapi Dimas dan Azmi belum tentu. Anak yang baik adalah anak yang tahu menempatkan diri. Waktu Adin datang ke rumah Dimas atau Azmi, Adin harus mengikuti aturan di rumah mereka. Kalau di sana dinding kamarnya tidak boleh docoret-coret, Adin tidak boleh mencoret-coretnya. Kalau di sana tidak boleh pake sepatu di dalam rumah, Adin jangan pakai sepatu di dalam rumah. Dengan begitu, Adin akan disayang oleh semua orang, di mana pun Adin berada.” tambah Mamim sambil tersenyum.

Demikian beberapa cerita yang sangat berkesan, penggennya menceritakan semua sayangnya durasi waktunya nggak cukup #loh.

Saya yakin, menulis cerita anak tidaklah mudah, penulis harus benar-benar bisa menyelami pikiran anak kecil, berperan sebagai sosok anak kecil yang polos, mempunyai rasa tahu sangat tinggi dan tanpa sadar kecerobohan atau kesalahan yang dilakukannya bisa membuat orang tersenyum. Sundea berhasil menjelma sebagai anak kecil tersebut, dia menciptakan karakter Adin yang loveable, di sukai banyak orang dan pemikirannya benar-benar…. pengen nyubit pipinya :D. Begitulah seharusnya anak kecil, polos apa adanya, yang awalnya nggak tahu apa-apa (Adin yang menggambar daun dengan spidol agar warnanya tetap awet), belajar dari kesalahannya (Adin yang mencoret-coret tembok), menyayangi tanpa pamrih dan orang yang lebih besar pun memberikan penjelasan yang sekirannya mudah dicerna oleh si anak tersebut. Cerita seperti inilah yang ingin saya temukan pada children literatur. Di balik kisah si anak polos tersimpan pesan moril yang fun.

2012-11-09_232012-11-09_232012-11-09_232012-11-09_232012-11-09_232012-11-09_232012-11-09_23

Selain cerita-cerita yang seru, ada ilustrasi kece di tiap bab yang mewarnai buku ini, memudahkan membayangkan isi cerita. Setelah membaca buku ini saya jadi ketagihan ingin membaca tulisan Sundea lainnya, terutama yang tentang children literatur :D.

Buku ini recomended banget bagi setiap orang tua yang ingin mendongeng kepada anaknya, banyak ilmu yang bisa dipetik yang tidak jauh-jauh dari keseharian kita, yang m
ungkin pernah juga kita alami.

Oh ya, saya juga merekan beberapa cerita di buku ini yang awalnya saya buat untuk ini, cekidot buat yang ingin dengar http://soundcloud.com/peri_hutan, maaf saja kalau masih kagok, baru pertama ini bercerita, sekalian minta ijinnya ya mbak Sundea 😀

 

4 sayap untuk Adin yang unyu 😀

A Tale Dark & Grimm

11974615

Penulis: Adam Gidwitz

Penerjemah: Khairil Rumantati

Penerbit: Atria

ISBN: 978-979-024-477-1

Cetakan I: Juni 2011

226 halaman

 

Sinopsis:

Sebelum kau membaca buku ini, kuperingatkan: cerita ini bukan untuk anak-anak. Penyihir dengan mantra keji, pemburu berdarah dingin, serta tukang roti yang memanggang anak-anak, mengintip di halaman-halamannya.

Namun, jika kau berani, ikuti petualangan Hansel dan Gretel memasuki dunia penuh sihir, teror, dan sepercik kelakar yang berkilau seperti kerikil putih di sepanjang jalannya.

Masuklah. Mungkin menakutkan dan jelas-jelas penuh darah. Tetapi, tak seperti dongeng-dongeng yang kau ketahui, yang ini sungguhan.

Dan kau tahu, dahulu kala, dongeng itu keren.

 

My Review:

 

Ceritanya tentang dua bocah -anak perempuan bernama Gretel dan anak laki-laki bernama Hansel- yang berkelana di dunia magis dan mengerikan. Cerita tentang dua bocah yang berjuang, dan gagal, lalu berhasil. cerita tentang dua bocah mencari makna berbagai hal.

 

Sebelumnya saya belum pernah membaca dongeng karya Grimm bersaudara, mereka saja saya tidak tahu terlebih karya-karyanya, oh mungkin tahu tapi tidak tahu kalau mereka berdualah pembuatnya. Karena penasaran saya mencari info mereka berdua di tante wiki: Grimm bersaudara merupakan kakak beradik Jakob dan Wilhelm Carl Grimm ialah dua orang akademik berkebangasaan Jerman yang terkenal karena menerbitkan kumpulan cerita rakyat dan dongeng. Mereka kemungkinan sekali merupakan pengarang novella paling masyhur dari Eropa, memungkinkan meluasnya pengetahuan kisah-kisah seperti Puteri Salju, Rapunzel, Cinderella, Hansel dan Gretel.

Lalu apa hubungannya dengan buku ini? klik klik sedikit, buku karya Adam Gidwitz ini kayak fanficnya dongeng-dongeng Grim Bersaudara, hanya saja dibuat lebih dark, atau kalo dilihat dari font yang berbeda, Gidwitz seperti sedang membacakan cerita kepada pembaca, bahasa kerennya narator. Jadi nggak salah kalau judulnya A Tale Dark & Grimm, membaca sinopsisnya saja kita sudah tahu kalau dongeng ini nggak biasa dan darah akan berceceran. Kalau dibilang buku anak-anak memang cocok tapi bagian berdarah-darahnya memang perlu pengawasan dari orang tua, tapi ada baiknya juga kalau anak-anak diperkenalkan dengan cerita yang tidak melulu ‘halus’ dan bahagia. Ada sembilan bab, entah ini merupakan novel atau kumpulan cerpen, yang jelas masing-masing bab bisa berdiri sendiri. Mari kita intip masing-masing bab-nya.

Johannes yang Setia

Dahulu kala, ada seorang raja yang berpesan kepada pelayannya yang setia, Johannes, sebelum dia meninggal yaitu: menyuruhnya setia kepada anaknya atau Raja Muda sebagaimana dia setia kepadanya dan menunjukkan seluruh warisan kerajaan, seluruh negeri kecuali satu ruangan. Ruangan berisi lukisan wajah puteri emas. Setelah bosan dengan berbagai kekayaan yang telah dinikmatinya, Raja Muda penasaran dengan satu ruangan yang tidak boleh disentuhnya, dia  mengamuk dan Johannes yang Setia pun tidak tega melihatnya lalu menunjukkan ruangan itu. Ruangan itu berisi lukisan seorang perempuan yang sangat cantik tapi terlihat sedih. Dia dikutuk, setiap kali menikah suaminya mati, anak-anaknya ditakdirkan untuk memiliki nasib yang lebih buruk dari kematian.

Raja langsung jatuh cinta padanya, dia pun mengumpulkan emas, sesuatu yang paling disuka Puteri, mereka menikah dan mempunyai dua anak, Hansel dan Gretel. Bagaimana dengan kutukannya? Johannes yang Setia mendengar percakapan gagak yang meramalkan kejadian-kejadian yang akan menimpa Raja-nya. Sayangnya, usaha yang dilakukannya demi menyelamatkan Rajanya dianggap penghianatan dan dia mendapat hukuman mati. Sebelum ajalnya tiba, dia menceritakan percakapan para gagak itu kepada sang Raja, hasilnya? tubuhnya menjelma menjadi batu mulai dari jantung sampai puncak kepalanya. Ada satu cara untuk membebaskan Johannes yang setia dari kutukan batu tersebut, sang Raja harus memenggal kepala anak kembarnya dan melumuri patung Johannes dengan darah mereka.

Hansel dan Gretel

Mereka kecewa dengan kedua orang tuanya lalu memutuskan kabur dari istana dan memasuki dunia luas nan liar. Keduanya memutuskan menghukum orang tuanya dengan pergi dan mencari sebuah keluarga yang baik, sebagaimana sebuah keluarga seharusnya. Mereka berjalan tak tentu arah dan kelaparan. Ketika mereka melihat rumah di tengah rawa di mana dindingnya sewarna kue coklat dan atapnya seperti lapisan gula, mereka tidak tahan memakannya. Si pemilik rumah alias si pembuat kue kasihan kepada mereka lalu meyuruh mereka tinggal dan menyediakan makanan yang enak, tidak memberi mereka tugas, membuat mereka gemuk, lalu memakannya!

Tujuh Burung Layang-Layang

Ada seorang pria yang tinggal bersama istri dan tujuh anak laki-lakinya. Sang ayah merasa kebahagiannya tidak lengkap karena dia mengingginkan seorang anak perempuan. Lalu suatu malam pintu rumah mereka diketuk dan mendapati seorang anak laki-laki dan perempuan yang bertanya apakah mereka boleh tinggal dengan mereka. Pria itu senang sekali, tidak peduli kalau sebelumnya mereka bercerita baru saja melarikan diri dari orang tua yang ingin memenggal kepala mereka dan perempuan sinting yang mencoba menyantap mereka, pria itu mengganggap Hansel dan Gretel seperti anaknya yang lain, bahkan lebih.

Ayah baru mereka sangat bahagia, tapi tidak dengan sang ibu, karena merasa sangat menyayanginya, Gretel mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, karena tidak bisa mematuhi perintah ayahnya ketika menyambut kedatangan Hansel dan Gretel pertama kali, tujuh anak laki-laki itu dikutuk menjadi burung. Karena merasa sangat bersalah, Gretel bersama saudaranya mencari ke tujuh burung layang-layang itu demi mengembalikan kebahagiaan si ibu, yang menyebabkan Gretel kehilangan jari tengahnya.

Kakak-Beradik

Mereka kecewa dengan orang tua, ayah mereka sendiri tega memenggal kepala mereka, perempuan pembuat kue mencoba menyantap mereka, dan ayah baru mereka bwerharap anak-anaknya menjelma menjadi burung. Mereka memutuskan hidup berdua saja, mereka tidak butuh orang tua. Mereka mengelana lagi hingga sampai di Hutan Labenwald, Hutan Kehidupan, rumah baru mereka. Sang pohon yang menyambut mereka berpesan agar mereka tidak mengambil tak lebih dari yang mereka butuhkan, menjaga keseimbangan hutan. Mereka membangun rumah dan mengumpulkan makanan dari hasil hutan, mereka merasa bahagia. Sayangnya Hasel melupakan pesan si pohon, dia ketagihan berburu, banyak hewan yang mati dia menjadi gelap mata dan meniggalkan Gretel sendirian.

Senyuman Semerah Darah

Gretel mengelana sendirian, saudaranya telah mati dibunuh pemburu. Dia berhenti di sebuah desa yang terlindungi hutan lebat lainnya, hutan yang gelap, mengancam dan mati, Hutan Schwarzwald -Hutan Kegelapan. gretel tidak pergi ke hutan itu tapi ke desa yang ramai, tapi perasaannya tidak seperti suasana desa, dia sedih, kelaparan, dan menangis. lalu ada penolong, seorang perempuan yang mengundangnya masuk kerumahnya. Beberapa minggu Gretel serumah dengan wanita itu, menjalani kehidupan seperti yang lainnya, dan jatuh cinta. Dia jatuh cinta kepada pemuda yang sangat tampan, baik hati, ceria dan sangat misterius. Gretel penasaran kemana pemuda itu pergi, keluar dari desa seorang diri. Ketika hubungan mereka sudah sangat dekat, pemuda itu mengajak Gretel melihat rumahnya di hutan, hutan kegelapan. Gretel ragu, pemuda tampan itu tidak mengacuhkannya ketika berkunjung ke desa, sampai Gretel setuju pergi darinya. Gretel tidak tahu kalau dia berteman dengan kematiannya.

Tiga Helai Rambut Emas

Seorang Duke sangat senang dengan hasil buruannya, bin
atang langka, seperti setengah serigala dan setengah manusia, setengah beruang dan setengah bocah laki-laki. Dan apa yang terjadi ketika binatang itu selesai dikuliti? seorang bocah laki-laki yang telanjang dan berlumuran darah, masih bernapas. Hansel menjadi anak seorang lord dan lady, memiliki orang tua dan hidup nyaman, sayangnya dia tidak bahagia karena tidak ada Gretel, dia akan menemukan Gretel dia berjanji akan menjadi anak yang baik. Ternyata ada sesuatu yang tidak diketahui Hansel tentang ayahnya, ternyata dia gemar berjudi dan sering kalah, orang asing yang menjadi lawannya itu berkata sang lord akan mendapat kembali uangnya jika dia mau mempertaruhkan apa pun yang berdiri di depan perapian perpustakaannya, dan yang berdiri pada saat itu adalah Hansel.

Hansel telah digadaikan pada iblis, dia menyuruh Hansel untuk pergi ke neraka tiga hari lagi kalau tidak sang iblis akan membanjiri seluruh desa dengan api dan semua orang akan mati. Hansel terpaksa mematuhinya. lalu ada seorang laki-laki tua yang berkata Hansel bisa keluar dari neraka kalau dia memiliki tiga helai rambut emas Iblis.

Hansel, Gretel, dan Kerajaan yang Hancur

Hansel, Gretel, dan Sang Naga

Hansel, Grretel, dan Orang Tua Mereka

Mana cuplikan ketiga bab terakhirnya??? hehehe sebenarnya saya sudah sedikit capek menceritakannya panjang kali lebar kali tinggi review ini, selain itu ketiga cerita terakhir itu adalah pamungkas dari buku ini jadi sebaiknya dibaca sendiri. Oke, saya kasih bocoran sedikit, Johannes berhasil menemukan Hansel dan meminta mereka kembali kepada orang tuanya, dia juga mengatakan kalau kerajaan mereka kacau, ibu mereka diculik naga. Hansel pun mencari Gretel dan berusaha menyelamatkan kerajaan dan juga orang tuanya.

Tamat.

Kau, tahu, untuk menemukan hikmah tebijak seseorang harus melalui masa-masa tergelap. Dan untuk melalui masa-masa tergelap itu tak disertai pemandu. Ya, tak ada pemandu, kecuali keberanian.

Suka sekali, aroma dark-nya terasa, kebetulan saya lagi menggandrungi cerita berbau dark jadi kalau disajikan cerita berdarah-darah seperti ini antusias sekali. Covernya dark, mendukung isi cerita, sedikit berbeda dari cover aslinya, walaupun sama-sama sangat bagus. Cara Gidwitz menjadi narator pun sangat unik, membuat serita sedikit panjang dan tidak tamat-tamat tapi malah membuat penasaran dan lebih bayak darah di endingnya. Dari segi ceritanya sendiri walaupun kelam sebenarnya mengandung makna bahwa orang tua itu sangat diharapkan oleh anaknya, terlebih kasih sayang. Selain itu ikatan darah memang kuat, lihat bagaimana Hansel dan Gretel melalui petualangan mereka bersama-sama, mencari orang tua yang mereka harapkan dan menyayangi mereka, saling menjaga, percaya, dan mencintai. Ahhhh, saya jadi penasaran dengan cerita Hansel dan Gretel yang ditulis oleh Grimm bersaudara, berharap akan banyak darah lagi :).

A_tale_dark_and_grimmHansel_dan_gretel

Kesetiaan itu penting. Memahami itu penting. Tapi, tak ada yang lebih berharga selain anak. Tak ada.

 

4 sayap untuk Hansel dan Gretel.

The Invention of Hugo Cabret

Hugo

Penulis: Brian Selznick

Penerjemah: Marcalais Fransisca

Cover: Brian Selznick

Ilustrasi isi: Brian Selznick

Penerbit: Mizan Fantasy

ISBN: 978-979-433-681-6

Cetakan I, Januari 2012

535 halaman

 

Sinopsis:

Kehadirannya bagaikan hantu. Hugo menyelinap dari satu bilik ke bilik lain, menyusuri lorong tak terlihat, dan mengendap-ngendap di bawah temaram lampu stasiun kota. tak seorang pun tahu, Hugo menyembunyikan sebuah rahasia besar warisan mendiang ayahnya, satu-satunya pengikat dirinya dengan masa lalu sekaligus masa depan. Namun, semua berubah ketika dia berjumpa seorang pria tua berwajah muram yang selalu berusaha menguak rahasia besar Hugo. Apa hubungannya antara pria tua itu dengan rahasia Hugo?

The Invention of Hugo Cabret, sebuah sajian unik yang bukan hanya memukau pembaca lewat jalinan kisah mengagumkan, tetapi juga menghibur lewat goresan ilustrasi yang matang dan kaya makna. Bertutur tentang rahasia yang hilang dan kekuatan mimpi, karya spektakuler ini layak disimak.

 

Penghargaan:

Quill Award

Finalis National Book Award

Finalis 2007 Borders Original Voices

Los Angels Times Favorite Children’s Book of 2007

Publishers Weekly Best Book of 2007

Caldecott Medal 2008

New York Times Best Illustrated Book of 2011

An American Library Association Notable Children’s Book

An American Library Association Best Book for Young Adults

 

My Review:

Buku ini Amazing!!! Baru pertama kali ini saya membaca buku dengan dua intepretasi sekaligus, ilustrasi gambar hitam putih dan tulisan. Buku ini tebal tapi dijamin sehari saja sudah selesai membacanya karena itu tadi, ilustrasinya lebih dominan dan tulisannya singkat, walau ada beberapa yang panjang. Kalu bisa, sebenarnya pengen juga membuat review ini dengan tulisan dan gambar, tapi saya payah sekali soal menggambar, biarlah dengan kata-kata saja 🙂

Bersetting tahun 1931 di kota Paris, Hugo Cabret seorang anak yatim piatu yang pandai memperbaiki jam tinggal di sebuah lorong stasiun, di balik jam-jam. Buku catatannya, buku yang sangat penting darinya diambil oleh kakek pemilik kios mainan yang mengira Hugo seorang pencuri dan mencuri buku itu dari seseorang. Hugo selalu membuntuti agar buku catatan tersebut kembali ke tangannya. Dia meminta seorang gadis yang pernah ditemuinya di stasiun, cucu dari kakek yang dia sebut Papa George itu tapi dia menolaknya bahkan malah menuduh Hugo lah yang seorang pencuri. Buku catatan itu adalah peninggalan almarhum ayahnya yang meninggal akibat kebakaran di museum, buku catatan itu berisi gambar-gambar tentang automaton.

Automaton adalah patung putar, seperti kotak musik atau mainan, hanya saja lebih rumit. Automaton itu bisa menulis karena dia berwujud manusia yang sedang memegang pena dan duduk di meja, benda itu bekerja bila ada kunci yang memutarnya, letakkan selembar kertas di meja, dan diyakini ada pesan yng ingin ditunjukkan oleh automaton itu. Benda itu rusak sehingga ayah Hugo membawa pulang dan mencoba memperbaikinya karena dia pembuat jam (horologis) dan pasti mesin automaton tidak jauh berbeda dengan mesin jam, sayangnya sebelum selesai ayahnya meninggal karena kebakaran. Hugo menemukan automaton tersebut dan berusaha melanjutkan usaha ayahnya dengan membaca gambar yang dibuat di buku catatannya, berharap ada pesan dari ayahnya, dia mewarisi keahlian ayahnya sebagai pembuat dan memperbaiki jam, dia berusaha menguak apa yang akan ditulis mesin itu. Bersama Isabelle, anak angkat Papa George, mereka berdua berusaha mencari tahu apa yang dirahasiakan oleh mesin automaton itu.

Kamu tahu, tidak pernah ada bagian yangberlebih dalam sebuah mesin. Jumlah dan jenis setiap bagiannya tepat seperti yang mereka butuhkan. Jadi kupikir, jika seluruh dunia ini adalah sebuah mesin yang besar, aku pasti berada di sini untuk tujuan tertentu. Dan itu berarti, kamu di sini juga untuk tujuan tertentu.

Hugo1Hugo2Hugo3Hugo4Hugo5Hugo6

Waktu tidak akan berhenti. Bahkan tidak meskipun kita sangat menginginkannya.

Bagian menguak automaton itu seru sekali, saya membayangkan visualnya pasti keren sekali. Filmnya tentu saja sudah ada, diadaptasi oleh sutradara Martin Scorsese dan diberi judul Hugo, bahkan sukses meraih 11 nominasi Oscar 2012, paling banyak dan berhasil memboyong 5 kategori untuk Best Sound Mixing, Best Sound Editing, Best Art Directions, Best Visual Effects, dan Best Cinematography. Karakter tokoh-tokohnya pun tidak berlebihan, Hugo tidak besar kepala karena menjadi pemeran utama kalau dia harus mempunyai sifat sempurna, tidak. Dia dibesarkan hanya dengan seorang ayah kemudian setelah ayahnya meninggal dia terpaksa hidup dengan pamannya yang pecandu alkohol yang tinggal di stasiun dan bertugas merawat jam-jam. Selain itu, paman Claude juga mengajarinya mencuri, dan setelah pamannya menghilang, keahlian barunya itu digunakan untuk bertahan hidup, mencari makan. Isabelle juga hanya anak angkat, membuat mereka sama-sama kuat dalam menjalani hidup dan melakukan petualangan. Dengan banyaknya ilustrasi membuat alur buku ini cepat, konfliknya tidak banyak, tapi buku ini penuh misteri, penuh sulap dan penuh tentang film. Buku ini bisa dibilang mempunyai dua genre, children book dan biografi Georges Melies.

Hugo_posterHugomovieHugomovie2

Telah lama aku ingin menulis kisah tentang Georges Melies, tetapi cerita ini baru terbentuk setelah aku membaca buku berjudul Edisin’s Eve: A Magical History of The Quest for Machanical Life (Kisah Hawa Edison: Sejarah Menakjubkan tentang Pencarian Kehidupan Mekanis) karya Gaby Wood. Buku tersebut membahas koleksi automata karya Melies, yang disumbangkan kepada sebuah museum, yang di sana koleksi itu ditelantarkan di loteng yang lembab dan akhirnya dibuang. Aku membayangkan bahwa seorang bocah menemukan mesin-mesin itu di tempat sampah, dan pada saat itu, Hugo dan kisah ini lahir.

Georges Melies (1861-1938), salah satu sineas perfilman pertama di dunia,sewaktu ayahnya masih hidup, dia sering sekali mengajak Hugo nonton film, salah satunya film kesukaan ayahnya adalah A Trip To The Moon (1902), film saint-fiksi pertama di dunia dengan gambar roket yang menabrak bulan yang berwajah sehingga hanya mempunyai satu mata. Diawali dengan petualangan dan diakhiri dengan sejarah awal mula film ada.

Pembuat film George Melies memulai kariernya sebagai pesulap dan ia memiliki teater di Paris. Pekerjaannya sebagai pesulap membantunya memahami kemampuan media baru ini. Ia adalah salah satu orang pertama yang menunjukkan bahwa film tidak harus mencerminkan kehidupan nyata. Ia segera menyadari bahwa film memiliki kekuatan untuk mewujudkan mimpi. Melies mendapat banyak pengakuan karena menyempurnakan tipuan pengganti, atau efek khusus, yang memungkinkan benda-benada muncul dan menghilang di layar secara tiba-tiba, seolah-olah disulap. Hal ii mengubah tampilan film untuk seterusnya.

Triptothemoon

Perjalanan ke Bulan, film Melies yang paling terkenal, mengisahkan sekawanan petualangan yang pergi ke bulan, berperang melawan penghuni bulan, dan kembali membawa tawanan, lalu mendapat banyak pujian. Jika suatu hari kelak manusia benar-benar dapat terbang ke bulan, kita harus berterima kasih kepada Georges Melies dan film-filmnya karena membantu kita memahami bahwa jika kita memimpikan hal-hal besar, segalanya dapat tercapai. Sayangnya Georges Melies meninggal tidak lama setelah Perang Besar, dan banyak, kalau tidak semua, film buatannya hilang.

Cukup membingungkan kenapa ada dua unsur penting di dalam satu buku yaitu tentang petualangan bocah berusia 12 tahun dan sejarah film? Tidak perlu takut karena semua yang dilakukan Hugo bersama Isabelle di awal ada benang merahnya di akhir cerita. Mungkin buku ini dibuat Brian Selznick akan kerinduannya tentang awal dunia film terbentuk dan dengan bakatnya sebagai ilustrator dan desainer dia ingin menggabungkan keduanya.

 

4 sayap untul ilustrasinya yang keren banget.

 

NB: kunjungi 

<a href="http://www.theinventionofhugocabret.com/index.htm,&nbsp;

http://www.theinventionofhugocabret.com/index.htm, </p>

http://www.theinventionofhugocabret.com/slideshow_flash.htm

http://www.theinventionofhugocabret.com/brian_speech_video.htm

dan temukan kejutannya.

Si Kembar di Sekolah yang Baru

Si_kembar

by Enid Blyton

Alih bahasa: Agus Setiadi

Cover: maryna_desaign@yahoo.com

Penerbit: Gramedia

ISBN: 978-979-22-5298-9

Cetakan kedelapan: Juli 2010

262 halaman

 

Sinopsis:

Pat dan Isabel sebal sekali ketika harus bersekolah di St. Clare -sekolah putri berasrama. Mereka yakin mereka tak akan senang di sana. tapi setelah mereka benar-benar masuk St. Clare dan berkenalan dengan Hillary, Janet, Kathleen, Sheila, dan lain-lainnya, yang terjadi justru sebaliknya.

Tanpa mereka sadari, mereka jatuh cinta pada St. Clare. Ini bisa dimaklumi. St. Clare memang sekolah yang penuh kegiatan dan keriangan. Dan juga keramaian, kerena gadis-gadis tanggung murid-murid sekolah itu berhobi sama: berbuat iseng. Yang jadi korban tentu saja para guru. tapi sebetulnya mereka gadis-gadis yang baik dan berbakat. Lihat saja prestasi mereka pada akhir semester.

 

Review:

Bisa dibilang buku ini kebalikannya Malory Towers, maksudnya tokoh utamanya pada mulanya dibenci sama temen-temennya, yah anggap aja kayak Gwendolin. Pat dan Isabel membenci sekolah barunya, tidak keren. Satu kamar di huni oleh banyak murid, tidak ada olahraga tenis, ditambah mereka harus melayani dan patuh akan perintah kakak kelas, Pat yang emosian tentu tidak sudi, sedangkan Isabel yang kalem dan penurut mau saja diperintah semena-mena. Karena membangkang dan mereka terkesan sombong, banyak anak yang tidak suka sama mereka. Selain itu mereka terlalu meremehkan pelajaran, di sekolah mereka yang dulu mereka bisa dibilang anak yang gemilang dan bebas, dengan aturan St, Clare yang ketat dan pelajaran yang sulit mereka benar-benar keteteran, tidak jarang dihukum sama guru. Lama-lama St. Clare merubah sifat mereka.

Buku ini alur mirip banget sama Malory Towers, karakter tokohnya pun tidak jauh berbeda, hanya beda nama. Keusilan-keusilan yang dilakukan kepada guru, pesta tengah malam, karakter murid-muridnya mirip. Karena habis membaca seri Malory Towers saya jadi membanding-bandingkan dan bosan membacanya, bisa ditebak. Seru sih, tapi saya jenuh. Mungkin kalau bacanya pas saya masih kecil jatuhnya beda. Pesan moral di sini adalah kekompakan, kerja sama, ketika salah satu berbuat salah maka kesalahan itu akan ditanggung bersama-sama karena semua juga ikut menikmatinya. Jadi buat adek-adek yang suka sama buku anak dan bercita-cita masuk sekolah asrama, saya sarankan membaca buku ini :). Saya suka covernya!

 

2.5 sayap untuk St. Clare