Pulang

16174176

Pulang

Penulis: Leila S. Chudori

Gambar Sampul dan Isi: Daniel “Timbul” Cahya Krisna

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia

ISBN: 978-979-91-0515-8

Cetakan pertama, Desember 2012

464 halaman

Harga: hadiah dari @bacaituseru

Sebelumnya tidak ada niat membaca buku ini, saya belum pernah membaca buku karya Leila S. Chudori sehingga saya tidak ingin mengambil keputusan yang salah, takut kecewa setelah membacanya. Tapi, membaca beberapa review di Goodreads, banyak yang berpendapat kalau buku ini adalah buku yang paling ‘ngena’ tentang tragedi 30 September 1965, saya pun langsung penasaran dan pengen baca. Terimakasih sekali kepada Goodreads Indonesia yang memberi saya kesempatan membaca salah satu Historical Fiction dalam negeri ini, yang akhirnya memperkenalkan saya akan tulisan Leila S. Chudori yang setelah selesai membaca buku ini saya langsung kepengen membabat semua karyanya. Tidak mudah bagi saya untuk tertarik membaca genre diluar romance dan fantasy, saya bisa langsung jatuh cinta sama To Kill A Mockingbird, The Boy in The Striped Pyjamas, Sarah’s Key karena bisa membuat saya kembang kempis ketika membacanya, ikut terhanyut akan apa yang dialami tokohnya, saya berharap ada buku hisfic dalam negeri yang bisa membuat saya seperti itu, Gadis Kretek hampir, tapi tidak sampai berhari-hari saya memikirkan tokoh utamanya. Buku ini sukses membuat saya tidak bisa move on dari Segara Alam #abaikan :D.

“Rumah adalah tempat di mana aku merasa bisa pulang,” jawab Dimas. Dingin. Datar.

Ada tiga bab utama dalam novel ini, Dimas Suryo, Lintang Utara dan Segara Alam. Di awali dengan prolog tertangkapnya Hananto Prawiro, seorang redaktur Luar Negeri dari Kantor Berita Nusantara di Jalan Sabang, Jakarta pada 6 April 1968. Hananto adalah mata rantai terakhir yang akhirnya diringkus. Kantor Berita nusantara digeledah dan diobrak-abrik karena dianggap sangat kiri, Hananto berhasil melarikan diri dan masuk daftar orang-orang paling diburu, sebagai gantinya tentara membawa Surti Anandari, istrinya beserta ketiga anaknya untuk diinterogasi selama berbulan-bulan bahkan sampai tiga tahun karena tentara tak kunjung menemukan Hananto. Pada masa itu ada istilah Bersih Diri (kebijakan di tahun 1980-an yang dikenakan kepada seseorang yang terlibat dalam Gerakan 30 September, anggota PKI atau anggota organisasi sejenisnya) dan Bersih Lingkungan (dikenakan kepada anggota keluarga seseorang yang telah dicap komunis). Sampai akhirnya tentara menemukan persembunyian Hananto di Jalan Sabang, Hananto merasa sudah waktunya berhenti, dia mendengar kabar kalau istri dan anaknya dipindahkan dari Guntur dan Budi Kemulian (tempat interogasi), dia ingin keluarganya bisa hidup aman.

Dimas Suryo, dia merasa berhutang nyawa pada Hananto Prawiro, kalau saja Hananto tidak meminta mengantikannya untuk datang ke koferensi jurnalis di Santiago, tentu Dimas lah yang ditangkap. Saat itu Hananto sedang mengalami masalah pribadi, istrinya, Surti Anandari mengajak anak-anaknya untuk kembali ke rumah orangtuanya dikarenakan perilaku Hananto yang seorang penjahat kelamain, sering gonta-ganti ranjang. Hananto ingin menyelamatkan rumah tangganya sehingga dia tidak bisa pergi jauh. Dimas tidak bisa menolak, dia berharap Surti bahagia. Sebelum menikah dengan Hananto, Dimas dan Surti adalah sepasang kekasih. Bahkan, nama anak-anak Surti sekarang; Kencana, Bunga dan Alam adalah nama pemberian Dimas, yang sebelumnya dia rencanakan untuk anak mereka nantinya. Tapi, ketika Surti ingin mengenalkan Dimas kepada keluarganya, Dimas menghindar, dia belum siap berhadapan dengan keluarga Surti yang terdiri dari dokter-dokter.

Drupadi.

Seluruh kakak beradik Pandawa adalah suaminya. Tetapi adalah Bima yang selalu ingin melindunginya dari Kicaka maupun Dursasana. Yang tragis bagi Bima, Drupadi jauh lebih mencintai Arjuna. Aku betul-betul tak tahu dan tak pernah mencari tahu apakah Surti jauh lebih mencintai Mas Hananto daripada aku. Tetapi aku tahu, dia membuat pilihan.

Aku lebih tak tahu lagi mengapa sampai detik ini, setelah bertemu dengan Vivienne yang jelita dan menikahinya, hatiku masih bergetar setiap kali mengenang Surti. Barangkali aku sudah terlanjur memberikan hatiku padanya. Untuk selama-lamanya.

Pada saat konferensi International Organization of Journalist di Santiago, Cile berlangsung. Dimas dan Nugroho mendengar meletusnya prahara 30 September 1965, peristiwa yang menewaskan beberapa perwira tinggi militer Indonesia dalam percobaan kudeta yang dituduhkan kepada PKI. Bersih Lingkungan dan Bersih Diri digalakkan, mereka tidak bisa kembali ke Indonesia, mereka hanya bisa berharap keluarga mereka tetap aman. Setelah itu, Dimas dan Nug memutuskan untuk bertemu dengan Risjaf di Havana, Kuba. Kemudian mereka menetap selama tiga tahun di Peking, Cina, tempat dimana banyak orang yang senasip dengan mereka. Merasa tidak nyaman, Dimas mengusulkan untuk pindah ke Eropa, dan kebetulan teman mereka, Tjai ingin bertemu. Dipilihlah Paris sebagai rumah baru mereka, rumah persinggahan mereka. Di sana Dimas bertemu dengan Vivienne Deveraux di kampus Universitas Sorbone ketika terjadi revolusi Mei 1968. Le coup de foudre. Cinta pada pandangan pertama, itulah yang dirasakan Vivienne ketika bertemu dengan Dimas. Tak lama setelah pertemuan itu mereka menjadi pasangan kekasih, memutuskan menikah dan lima tahun kemudian mempunyai anak semata wayang yang diberi nama Lintang Utara. Bersama ketiga temannya -Nugroho, Risjaf, dan Tjai- mereka mendirikan Restoran Tanah Air. Satu-satunya bentuk perlawanan karena mereka tidak bisa pulang, satu-satunya cara mengobati rindu akan ibu pertiwi. Empat Pilar Tanah Air.

Katakan, apakah sebatang pohon yang sudah tegak dan batang rantingnya menggapai langit kini harus merunduk, mencari-cari akarnya untuk sebuah nama? Untuk sebuah identitas?

Ayah tahu, dia ditolak oleh pemerintah Indonesia, tetapi dia tidak ditolak oleh negerinya. Dia tidak ditolak oleh tanah airnya. Itulah sebabnya dia meletakkan sekilo cengkih ke dalam stoples besar pertama dan beberapa genggam bubuk kunyit di stoples kedua di ruang tamu hanya untuk merasakan aroma Indonesia.

Lintang Utara mendapatkan tugas akhir untuk membuat film dokumenter tentang Indonesia, sebuah negara yang tak pernah dia sentuh, sebuah negara yang hanya dia dengar dari ayah beserta tiga sahabatnya yang pengetahuannya terhenti setelah tahun 1965 dan dari perpustakaan ayahnya, sebuah negara yang tidak akan bisa dia datangi bersama ayahnya. Dia ingin membuat satu jam dokumentasi tentang sejarah Indonesia. September 1965. Akibat yang terjadi pada keluarga korban, keluarga dari tahanan politik atau keluarganya; mereka yang sama sekali tidak paham atau tidak ada urusan dengan tragedi September tetapi ikut menderita hingga sekarang. Lintang ingin memahami Indonesia dan ayahnya, tidak hanya tentang sejarah yang penuh darah dan nasib eksil politik yang harus berkelana mencari negara yang bersedia menerima mereka. Ada sesuatu tentang ayah Lintang yang selalu peka terhadap penolakan. Tentang seseorang yang sampai sekarang ada di hati ayahnya, seseorang yang menyebabkan retaknya rumah tangga kedua orangtuanya.

“apa yang bisa kita petik dari I.N.D.O.N.E.S.I.A? Itu yang ingin kulakukan.”

Lima bulan Lintang puasa bicara dan bertemu ayahnya karena dia bersikap kasar sewaktu memperkenalkan Narayana Lafebvre sebagai pacarnya. Nara sama seperti Lintang, anak dari percampuran darah Prancis dan Indonesia, bedanya dia bukan anak eksil. Tapi ketika dia mendengar kalau ayahnya jatuh sakit dia tidak tega dan ingin sekali bertemu dengan ayahnya sekaligus membicarakan rencananya ke Indonesia. Ayahnya mengatakan kalau mencari informasi tentang 1965 tidaklah mudah,tidaklah mudah membuka luka lama, apalagi dia adalah anak dari Dimas Suryo, seseorang yang dianggap dari ‘perzinahan politik’ dimana kesalahannya akan memanjang sampai ke anak cucu, sehingga Dimas membantu memberikan daftar nama yang bisa diwawancarainya nanti. Untuk visa ke Indonesia yang tidak pernah Dimas bisa dapatkan, yang tentu saja Lintang juga akan susah mendapatkannya, beruntung Nara mempunyai teman dari KBRI yang berpandangan terbuka, yang berpendapat sudah saatnya zaman berubah.

Di Indonesia, Lintang tinggal bersama Aji Suryo, adik Dimas yang selama ini menjadi informan tentang segala hal di Indonesia, baik tentang keluarganya maupun keluarga Hananto Prawiro. Lintang berencana melakukan riset selama sebulan, yang langsung ditanggapi sinis oleh Segara Alam. Orang-orang dalam daftar Lintang adalah orang-orang yang paling disorot pemerintah, siatuasi masih sangat berbahaya. Saat itu kondisi politik di Indonesia sedang ‘panas-panasnya’, sering terjadi demonstrasi karena kenaikan BBM dan issue KKN yang dilakukan Soeharto beserta kroni-kroninya, “sungguh sangat salah waktu dan salah tempat main turis-turisan di saat seperti ini” begitu kata Bimo, anak dari Nugraho, sahabat Alam sejak kecil yang juga rekan kerjanya di LSM Satu Bangsa.

Di dalam bahasa Prancis, secara harafiah tentu istilah un coup de foudre saja berarti halilintar atau petir. Tetapi jika dua pasang mata besirobak hingga membuat detak jantung berhenti, maka le coup de foundre berurusan dengan emosi (yang bisa membahayakan keseimbangan jagad): jatuh cinta pada pandangan pertama.

Lintang sudah mempunyai Nara sebagai payung besar yang melindunginya dari hujan dan badai. Tetapi. ketika dia bertemu pertama kali dengan Segara Alam, dia mendapatkan serangan halilintar, le coup de foundre. Bersama-sama, mereka meliput para korban malpraktek sejarah yang terjadi di masa lampau dan hiruk-pikuk kerusuhan Mei 1998, masa-masa runtuhnya kejayaan Soeharto.

578586_10200724389215973_484347245_n

dapet lirikan mb Leila S. Chudori ^^

Sebelum menggungkapkan apa yang saya dapat ketika membaca buku ini, saya akan bercerita sedikit tentang apa yang saya dapat ketika menghadiri reriungan bersaa Leila S. Chudori pada 2 Maret di Balai Soedjadmoko yang lalu. Mbak Leila bercerita kalau novel pertamanya ini mulai ditulis pada tahun 2006 dan selesai pada tahun 2012. Penulis yang mulai menulis pada usia 12 tahun ini sempat vakum selama dua puluh tahun dalam menerbitkan buku, setelah buku pertamanya; Malam Terakhir (diterbitkan pertama kali oleh Pustaka Utama Grafiti, 1989 dan diterbitkan ulang oleh Kepustakaan Populer Gramedia, 2009) beliau sibuk menjadi ibu dan wartawan Tempo, pada tahun 2009 barulah menerbitkan kumpulan cerpen lagi; 9 dari Nadira yang menjadi nominasi Khatulistiwa Literary Award pada tahun 2010, yang katanya akan ada lanjutannya. Semua novelnya bercerita tentang keluarga, topik yang paling disukainya. Bahkan tragedi 30 September dan Mei 1998 hanya melatar belakangi, melingkupinya, sama seperti unsur makanan, sastrawan dunia, lagu, film, buku yang akan sering kita temukan ketika membaca novel ini, beliau menyisipkan hal-hal yang disukainya ke dalam tulisannya. Intinya adalah tentang keluarga. Baliau membuat tokoh laki-laki yang tidak sempurna, yang tidak selesai dengan dirinya sendiri. Hananto Prawiro yang suka berpindah ranjang, Dimas Suryo yang galau akan kisah cintanya, Bimo yang lebih memilih berdiam diri ketika dirinya dihina dan di bully teman-temannya karena dia anak eksil, Alam yang sifatnya tidak beda jauh dari ayahnya, hanya saja dia susah berkomitmen, Rama yang lebih memilih membuang identitasnya. Hanya ada satu tokoh laki-laki yang selesai dengan dirinya sendiri, Aji Suryo, dia tahu apa yang akan ingin dia lakukan. Kebalikannya, tokoh perempuan di buku ini adalah sosok perempuan-perempuan yang kuat. Surti yang tetap berdiri tegak ketika suaminya menghilang dan diinterogasi habis-habisan akan keberadaannya, Vivienne yang mencoba menyelami hati Dimas dan memberikan penawar luka akan kerinduannya terhadap Indonesia, bahkan Andini yang tidak peduli kalau dia anak eksil, dia percaya kalau setiap orang diberi kemampuan untuk menyelesaikan dan mengatasi masalahnya. Ada sesi religius yang juga disisipkan, yaitu ketika Dimas menemui Amir, salah satu rekannya di Kantor Berita Nusantara yang mengalami penurunan jabatan karena dia dianggap disebelah kanan. Bang Amir membuat Dimas berpikir tentang spiritualisme, sesuatu yang lebih dalam dan mulia di dalam inti kemanusiaan. Berbincang tanpa embel-embel warna, cap, partai, aliran, atau kelompok. Dan ketika dia mendapat kabar kalau ibunya meninggal, dia sangat bersedih karena tidak bisa pulang, dia butuh berbicara, dia menulis surat kepada Bang Amir akan kekosongan hatinya. Beliau juga bercerita dalam proses pembuatan novel Pulang dia mewawancarai banyak tokoh, salah satunya adalah Pramoedya Antara Toer.  Empat Pilar Tanah Air juga terinspirasi dari kisah nyata; Bapak Umar Said (alm), Bapak Sobron Aidit (alm), Kusni Sulang, para eksil politik di Paris yang mendirikan Restoran Indonesia di Rue de Vaugirard, mereka mendirikan Restoran Indonesia adalah bentuk perlawanan, diskriminasi selama masa orde baru. Kisah mereka lebih rumit dan rute perjalanannya mereka tidak hanya Cile, Kuba, dan Cina. Bedanya adalah mereka membuat Restoran Indonesia dengan mendatangkan koki dari Indonesia sedangkan mbak Leila membuat karakter eksil politik yang bisa memasak, mencurahkan kerinduannya dengan memasak makanan Indonesia. Oh ya, ada lima adegan ‘hot’ di novel ini, bagian yang tidak sulit ditulis mbak Leila karena setiap hari dia dikerumuni teman-temannya yang mayoritas cowok, yang isi kepalanya tidak jauh dari seks. Kurang ah kalau hanya lima :p.

Itu adalah sebagian besar obrolan dalam reriungan kemaren, ada pertanyaan yang diajukan salah satu hadirin yang juga saya pertanyakan ketika membacanya, yaitu pada tahun 1998 apakah di Indonesia sudah ada handphone? Mbak Leila menjawab kalau sudah, karena beliau menggunakan handphone sejak tahun 1997. Lalu ada satu lagi pertanyaan ketika saya membaca novel ini, saya lupa ada di halaman berapa tapi saya mendapati Lintang mengucapkan kata ‘bacot’ padahal dia belum pernah ke Indonesia. Saya tahu dia sering mendengar tentang Indonesia dari orang-orang di sekitarnya tapi sewaktu dia di Indonesia, dia sering sekali mencatat kata-kata yang tidak ada di kamus Indonesia, seperti; nyokap, bokap, bokep, dll.

Untuk karakter tokohnya, tanggapan saya tidak jauh beda dengan yang di atas, hanya saja tokoh Dimas Suryo benar-benar menjadi magnet di buku ini. Tentu saja, cerita tidak akan terjadi bila dia tidak ada, dia adalah tokoh sentral, perwakilan ‘orang-orang yang tidak bisa pulang’, orang yang sebenarnya tidak memihak kiri atau kanan, orang yang senetral negara Swiss tapi pada saat itu apa pun pilihannya, orang-orang hanya memandang kedalam dua kubu tersebut. Yang paling membuat saya bersimpati padanya adalah ketika membaca bab Ekalaya, dalemmmmmm banget, saya ikutan nyesek waktu membacanya. Bahkan, saya sampai pengen baca kisah Mahabharata yang tebelnya bisa buat bantal itu. Betapa rindunya Dimas akan tanah air, rumah sesungguhnya dan pada cintanya yang tak sampai.

Semula aku mengira Ayah kagum karena Bima adalah perwakilan kelelakian. Tinggi, besar, dan protektif. Ternyata Ayah tertarik pada Bima karena kesetiannya pada Drupadi, satu-satunya perempuan yang menjadi isteri kakak beradik Pandawa. Pengabdian Bima pada Drupadi, bahkan melebihi cinta Yudhistira pada isterinya. Adalah Bima yang membela harkat Drupadi yang dihina Kurawa saat kalah permainan judi. “Hanya Bima yang menjaga Drupadi ketika dia diganggu oleh banyak lelaki saat Pandawa dibuang ke hutan selama 12 tahun.” kata Ayah menafsirkan dengan semangat.

Baru belakangan aku bisa memahami ada sesuatu dalam diri Ekalaya yang membuat Ayah mencoba bertahan. Ekalaya ditolak berguru oleh Dorna dan dia tetap mencoba ‘berguru’ dengan caranya sendiri. Hingga Dorna menghianati Ekalaya, sang ksatria tetap menyembah dan menyerahkan potongan jarinya. Ekalaya tahu, meski ditolak sebagai murid Dorna, dia tidak ditolak oleh dunia panahan. Sesungguhnya dialah pemanah terbaik sejagat raya, meski dalam Mahabharata Dorna tetap menggangkat Arjuna ke panggung sejarah hanya karena dia pilih kasih.

Bima adalah Dimas Suryo, Drupadi adalah Surti Anandari. Ekalaya adalah Dimas Suryo, dunia panahan adalah Indonesia.

Karakter favorit saya adalah Segara Alam, hehehe. Sama seperti Lintang, le coup de foundre, sejak pertama muncul saya sudah sangat jatuh cinta akan karakternya, yah walau dia mewarisi sifat penjahat kelamin ayahnya dan mudah marah, dia sangat menyayangi keluarganya, dia akan menyerah dari perbuatannya kalau sudah menyangkut menyusahkan orangtua. Dia sosok yang tegar, dia akan melawan bila dilawan. Berharap banget mbak Leila membuat novel romance yang tokohnya kayak Segara Alam :p. Ada bagian yang menurut saya romantis banget, yang membuat hati berdebar-debar 😀

“Aku tak ingin berakhir seperti mereka, saling mencintai. Lantas kehilangan dan kini mereka hanya mengenang dan merenung dari jauh.”

“Mereka… siapa?”

“Mereka: ayahmu dan ibuku.”

“Aku yakin ibuku mencintai Bapak, seperti halnya ayahmu mencintai ibumu. tetapi Dimas dan Surti? Itu adalah dua nama yang mewakili kisah cinta yang hilang. Yang terputus.”

Kini Alam betul-betul dekat dengan wajahku. tetapi dia sengaja berhenti tepat di depan hidungku dan sama sekali tidak menyentuhku. Aku haya bisa merasakan nafasnya yang berbau mentol yang membuat darahku melonjak-lonjak, “Aku tak ingin seperti mereka. Aku tahu yang kuinginkan. Dan itu kutemukan setelah berusia 33 tahun.”

525335_10200724384455854_196356541_n

koleksi buku bertanda tanganku bertambah ^^

Alurnya flashback, bahkan sering meloncat-loncat dari masa sekarang kembali ke masa lalu, begitu sebaliknya. Tapi tidak usah binggung karena ada bulan dan tahun yang membedakan. Saya jadi teringat perkataan mbak Sanie B. Kuncoro ketika dia berbicara tentang karya mbak Leila. Beliau bilang mbak Leila sangat detail, terlebih dalam menciptakan karakter tokohnya. Tidak ada tokoh yang tidak penting di bukunya, semua tokoh yang dibuat merekatkan puzzle satu dengan yang lainnya. Lalu saya pun memikirkannya, dan benar, semua tokoh yang dibuat mbak Leila penting, semua punya porsi masing-masing. Saya ingat adegan dalam prolog ketika Hananto ingin melihat pukul berapa dia ditanggap lalu teringat arloji yang sering dipakainya sudah diberikan kepada Dimas, bertahun-tahun kemudian, ketika Lintang akan ke Indonesia, dia menyerahkan arloji tersebut ke Lintang untuk diserahkan kembali kepada Alam. Seperti itu, kayaknya sepele tapi belakangan sangat bermakna.

Sudut pandangnya pun campur aduk, kebanyakan orang pertama dan ada juga orang ketiga. Ini juga sangat menarik. Pada bagian Dimas Suryo kita akan mendapatkan sebuah cerita yang belum tuntas, kemudian pada bagian Lintang Utara atau Segara Alam kita akan mendapatkan jawabannya. Contohnya ketika Dimas Suryo selalu meletakkan setoples cengkih dan kunyit di rumahnya, tidak hanya mengobati kangennya akan Indonesia. Kunyit juga simbol sebuah cinta yang hilang, yang intens dan tak pernah terwujud, menginggatkannya akan Surti, bagian itu ada di bab Segara Alam.

Untuk cover dan ilustrasinya, jangan ditanya, keren banget. Salut sama Daniel “Timbul” Cahya Krisna, walau saya tidak mengerti semua ilustrasi di dalam buku ini (yang sangat mudah ditebak adalah ilustrasi di bab Empat Pilar Tanah Air, ada empat bendera merah putih dan ada menara Eiffel) saya yakin semuanya mewakili isi dari buku ini. Tulisannya saya rasa pas, tidak terlalu kekecilan atau kebesaran, sayangnya masih ada beberapa typo.

Saya baru pertama kali ini membaca hisfic yang menganggkat tema Gerakan 30 September, sebelumnya ada Amba karya Laksmi Pamutjak yang bertemakan sama tapi buku tersebut lebih bercerita tentang Pulau Buru sedangkan novel ini bercerita tentang orang yang tidak bisa pulang. Saya sangat menyukai gaya berceritanya Leila S. Chudori, tidak terasa berat walau tema yang diangkat cukup berat. Tidak ada kata-kata atau kalimat yang butuh dicerna lebih dalam, puitis tapi tidak hiperbolis. Sederhana tapi bermakna.

Pulang adalah sebuah drama keluarga, persahabatan, cinta dan pengkhianatan berlatar belakang tiga peristiwa bersejarah: Indonesia 30 September 1965, Prancis Mei 1968, dan Indonesia Mei 1998.

Mengutip tagline yang ada di belakang sampul buku, yang sangat menggambarkan isi buku ini. Kita akan ikut merasakan bagaimana rasanya ingin pulang ke rumah yang sebenarnya, yang walaupun sudah memiliki keluarga baru, rumah baru itu tidaklah cukup, hatinya tetap berada di tanah kelahirannya. Persahabatan empat pilar tanah air yang terusir dari rumahnya sendiri dan harus memulai kehidupan baru di negara yang asing, cinta yang terpendam, cinta yang bertepuk sebelah tangan. Dan peristiwa yang sangat bersejarah di Indonesia, jujur saja, saya sudah lupa tentang pelajaran yang membahas Gerakan 30 September, bahkan pada peristiwa Mei 1998 ingatan saya kabur, kalau tidak salah waktu itu saya masih kelas tiga atau empat SD, yang tidak terlalu memikirkan masalah orang dewasa, yang saya ingat hanya tembok yang penuh dengan coretan. Membaca buku ini tidak hanya mendapatkan sebuah cerita romantis nan tragis tapi menginggatkan kita kembali akan sejarah berdarah yang pernah terjadi di Indonesia.

Buku ini saya rekomendasikan bagi siapa saja yang ingin lebih mengenal sejarah Indonesia, mengenal perjuangan orang-orang yang terusir dari tanah kelahirannya.

5 sayap untuk Empat Pilar Tanah Air

*posting bareng BBI kategori klasik kontemporer*

Iklan

Redfang

17089571

Redfang

Penulis: Fachrul R.U.N

Penyunting: Louis Javano

Ilustrator: Happy Mayorita

Ilustrasi sampul: V. Weyland

Pencipta hikayat: Amy Raditya

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

ISBN: 978-979-22-9092-9

Cetakan pertama, Desember 2012

452 halaman

hadiah dari @VandariaSaga

Sinopsis:

Delapan tahun silam, Cassius Redfang menghabisi adiknya demi menyandang gelar warisan sang ayah. Sekarang, dipandu mimpi ganjil istrinya, Cassius menemukan fakta mengejutkan, sang adik telah kembali mewujud di dunia. Dilanda kebingungan, Cassius mulai mencoba menyingkap teka-teki di balik kebangkitan adiknya. Mukjizat para Vanadis-kah? Tipuan? Ataukah…. orang itu justru berhubungan dengan hawa gelap yang menyeruak perlahan di negeri Blackmoon? Segalanya serba gelap…

***

Ini adalah kali kedua saya membaca novel dari Fachrul R.U.N, sebelumnya ada Hailstorm (review coming sooooooooooon) yang tidak memberi saya nafas akan pertarungannya. Setelah membaca buku ini saya mulai bisa mengikuti irama tulisan penulis. Sadis. Jangan harap ada cerita romantis yang manis-manis, yang ada adalah darah betebaran di mana-mana. Buku ini tidak kalah sadis dengan buku pertama hanya saja lebih kental aura misteriusnya sedangkan di buku pertama kental sekali aura peperangannya. Bisa saya bilang buku-buku karya Fachrul R.U.N ini cowok banget.

Sedikit sinopsis dari saya. Duke Cladius Redfang mewariskan takhta penguasa Canivius kepada putra keduanya, Velius Redfang. Sebagai putra pertama Cassius tidak terima, dialah yang seharusnya menguasai Cassius, begitu kata tradisi. Cassius adalah orang yang licik, dia selalu menggunakan cara kotor untuk meluluskan tujuannya berbeda dengan sang adik yang populer di masyarakat, dia cerdik, kuat dan suka memberontak. Cassius pun menantang duel adiknya, bagi yang menang nanti dialah yang menduduki singgasana Canivius. Sesuai dnegan sifatnya, dia berbuat curang dan berhasil membunuh adiknya sendiri. Pendapatnya salah ketika delapan tahun kemudian Velius datang kembali dan mulai meneror kehidupannya, ingin merebut apa yang seharusnya dia punya, Canivius.

Dia sudah mendapatkan apa yang dia inginkan bahkan seorang istri yang sangat dicintainya, mantan tunangan adiknya dulu, Avenia Mordino. Istrinya yang dianggap gila bermimpi bertemu dengan Velius dan dia merengek untuk dibawa ke tempat di mana dia melihat Velius, hutan di dekat Antipia, tempat Cassius membunuhnya. Dan ketika dia tak berdaya menolak permintaan istrinya, di tempat itulah Cassius bertemu lagi dengan Velius setelah delapan tahun yang lalu dia membunuhnya. Sejak saat itu, hidup Cassius tidak pernah tenang lagi. Cassius kembali mengerahkan orang kepercayaannya, Ninh, pengawalnya untuk menyelidiki keganjilan itu.

Konfliknya tidak berhenti sampai di situ, ada orang yang ingin memporak-porandakan Valta (wilayah paling timur di Kerajaan Blackmoon), mengadu domba tiga klan yang paling berkuasa di kerajaan tersebut; Hailstorm, Redfang dan Mordino sehingga perang besar tak terelakkan lagi.

Penuh misteri, sejak pertama baca saya sudah dibuat penasaran dengan siapa sesungguhnya Velius Redfang? Rasa penasaran inilah yang memacu saya membuka halaman demi halaman untuk mengetahui siapa sebenarnya orang yang sudah dikatakan meninggal bertahun-tahun yang lalu itu. Dan setelah saya mengetahuinya, saya kecewa. Sulit mengatakan alasannya karena nanti dianggap spoiler. Sedikit aja deh, saya lebih berharap kalau Velius Redfang lebih baik Deimos sungguhan aja, karena kenyataannya absurd banget, nggak habis dipikir dan menurut saya terlalu dipaksakan.

Itu aja yang membuat saya kurang puas, masih ada sedikit typo dan huruf yang lebih besar dari yang lain, selain itu tidak masalah. Covernya keren! Gambar Cassius Redfang dan dibawahnya Velius Redfang. Menggambarkan kalau kehidupan Cassius selalu dibayang-bayangi adiknya. Ilustrasinya juga oke banget, tidak malu-malu menggambarkan adegan sadis, apalagi bagaimana rupa Velius dengan kejinya dibunuh Cassius, sadisssssssss. Pengenalan tokoh di awal membuat kita mudah memahami karakter utama yang ada di buku ini. Ada juga peta kerajaan Valta yang membuat buku ini semakin komplit.

Perlu diketahui, di buku ini tidak ada tokoh protagonisnya, semua antagonis dan poin inilah yang membuat saya memberikan penilaian lebih, yang mengobati rasa kekecewaan saya.

Bener kata bang Dion, mungkin lebih lengkap kalau penulis membuat cerita tentang keluarga Mordino :p

Buku ini saya rekomendasikan bagi yang mencari buku fantasy yang cowok banget.

3 sayap untuk keluarga Redfang.

NB: Posting bareng BBI kategori Fantasy

The Calligrapher’s Daughter

15789948

The Calligrapher’s Daughter

Penulis: Eugenia Kim

Penerjemah: Gema Mawardi

Cover: Jeffri Fernando

Penerbit: Gagasmedia

ISBN: 979-780-549-2

Cetakan pertama, 2012

602 halaman

pinjem mbak @sinta_nisfuanna

Sinopsis:

Pada abad kedua puluh di Korea, Najin Han, putri seorang kaligrafer, merindukan hak untuk menentukan pilihan atas nasib sendiri. Sadar putrinya seorang yang cerdas dan keras kepala, sang ibu membebaskan dirinya untuk mencari jati diri, namun sang ayah sangat keras dan teguh memegang tradisi. Terlebih, ada ancaman dari Jepang yang sedang berusaha mengontrol pemerintahan Negeri Gingseng tersebut.

Namun, ketika ayah Najin Han berusaha menikahkan putrinya dengan laki-laki dari keluarga bangsawan, ibunya malah menentang dan menyuruh Najin Han melayani di istana raja sebagai pendamping bagi seorang putri muda.

Sayangnya, tak lama kemudian kaisar Korea mati terbunuh. Budaya monarki yang berabad-abad dipelihara pun akhirnya menemui ajal bersama pimpinan tertinggi negeri itu. Dalam situasi yang serba tidak pasti, Najin Han memulai perjalanan hidupnya sendiri. Dia memutuskan untuk melanjutkan pendidikan -dan menemukan cinta du tengah perjalanan yang panjang itu…

***

Ini adalah pertama kalinya saya membaca Historical Fiction Korea, yang cukup jarang dilirik penerbit kecuali komedi romantis atau drama adaptasi televisi yang tahun lalu bahkan sampai sekarang masih marak di toko buku. Jujur saja saya lama-lama bosan dengan buku-buku yang berbau Korea tersebut, seperti tidak ada hal yang baru lagi karena sebagian besar tema ceritanya mirip bahkan karakter tokohnya satu buku dengan buku yang lain sama juga. Saya tertarik dengan buku ini karena tema ceritanya lain dari yang pernah ada dan juga menginggatkan saya akan drama kolosal Korea yang saya suka banget nget nget, Jewel In The Palace. Walau saya tahu ceritanya berbeda, kalau Jewel In The Palace tokoh utamanya adalah seorang wanita yang awalnya seorang koki istana akhirnya menjadi tabib perempuan pertama di Korea sedangkan di buku ini perjuangan seorang anak perempuan demi maraih pendidikan, kesamaannya adalah mereka sama-sama perempuan yang kuat, perempuan yang berjuang keras demi meraih impiannya.

Bersetting pada abad kedua puluh, tahun 1915-1945, masa ketika Korea dijajah Jepang sampai mendapatkan kemerdekaan. Kisah ini diceritakan dari sudut pandang orang pertama, Najin Han, putri seorang seniman sarjana sastra, sang Kaligrafer Han yang sangat dihormati. Sarjana Han sangat ingin mempunyai seorang putra, seorang yang nantinya bisa mewarisi kekayaan dan mengikuti tradisi yang ada, sayangnya beberapa kali ibu Najin, Haejung keguguran, hanya Najin yang bertahan. Waktu kecil Haejung mempunyai impian memperoleh pendidikan seperti saudara laki-lakinya, yang tentu saja tradisi jaman dulu pendidikan hanya untuk laki-laki. Haejung senang ketika mendengar akan dibuka sekolah perempuan, sekolah Jepang. tidak mudah membujuk suaminya agar Najin Han dapat menempuh ilmu terlebih sekolah itu dibuat oleh orang Jepang, baginya tugas perempuan adalah di rumah bukan sekolah. Tapi Haejung memiliki tekat yang kuat, dia berusaha agar anak satu-satunya memperoleh pendidikan, dan berhasil.

Ayah mengatur beberapa perjodohan, anak laki-laki tertua berdoa agar diselamatkan dari dosa terbesar, yaitu tak memiliki keturunan laki–laki. Para istri berdoa agar memiliki putra untuk membuktikan dan menunjukkan kelayakan mereka. Lalu, anak perempuan, sepertiku, belajar tiga hukum penting dalam hidup seorang perempuan: patuhi ayahmu, patuhi suamimu dan patuhi anak lelakimu.

Najin akhirnya memiliki seorang adik laki-laki, Ilsun namanya. Tentu saja hal itu sangat membuat semua keluarganya bahagia, terlebih ayahnya. Ilsun langsung menjadi anak kesayangan ayahnya, dia terlalu dimanja, bahkan Najin juga suka memanjakannya. Kedekatan Najin dan Ilsun tidak terlalu disukai ayahnya, dia merasa Najin berpengaruh buruk pada adik laki-lakinya, ayahnya merasa Najin sulit diatur, tingkah lakunya kasar sehingga lebih baik menikahkannya saja. Perihal perjodohan ini tidak dirundingkan dulu dengan istrinya sehingga membuat Haejung marah besar, bahkan pertama kalinya dia manentang suaminya, dia pun tanpa meminta persetujuan sarjana Han mengirim surat kepada sepupunya di Seoul agar menerima Najin di kerajaan, melayani Yang Mulia Tuan Putri.

Kedekatan Najin dengan Putri Deokhye tidak lama karena Jepang dengan mudah menguasai Korea. Najin kembali ke kampung halaman. Najin juga berkesempatan melanjutkan pendidikannya di Ewha, mengumpulkan uang dari hasil mengajarnya yang sebagian besar dia gunakan untuk membantu sekolah Ilsun dan menutupi perbuatan bodohnya. Karena selalu di manja, Ilsun menjadi pemuda seenaknya sendiri, tanpa sepengetahuan orang tuanya dia sering melakukan taruhan dan kalah. Karena rasa sayangnya Najin pun terpaksa menutupinya. Najin juga berkenalan dengan seorang laki-laki yang dikenalkan oleh tetangganya, Hansu. Laki-lai itu adalah putra seorang pendeta, Calvin Cho yang juga mengikuti profesi ayahnya. Berbeda dengan perjodohan pertamanya, kali ini Najin sadar kalau sudah waktunya dia berkeluarga sehingga dia tidak menolak ketika dijodohkan lagi.

Kisah Najin Han tidak berhenti sampai di situ, bahkan setelah menikah pun dia tidak pernah berhenti berjuang. Berjuang melawan rindu katika tidak lama setelah menikah dia harus ditinggal suaminya belajar keluar negeri yang lama kelamaan tanpa kabar, menghadapi mertuanya, menghadapi ayahnya ditangkap bahkan nantinya dia juga merasakan hal tersebut, menghadapi adiknya yang semakin dewasa semakin mengecewakan ayahnya. Najin Han dengan tegar menhadapi semua permasalahan tersebut, dia sejak kecil ditempa oleh ibunya agar menjadi wanita yang kuat.

Buku ini bagus, mengambarkan kehidupan wanita yang pada masanya tidak memiliki hak untuk berpendidikan, tugasnya adalah patuh pada suami dan mengurus rumah. Sayangnya saya kurang merasakan bagaimana Najin Han menuntut ilmu, lebih ke sejarah hidupnya yang diwarnai dengan bangsa Jepang yang mulai mengontrol politik negeri gingseng tersebut, masa-masa ketika Jepang mengalami depresi sehingga rakyat Korea sulit mendapatkan pekerjaan karena semua dikontrol oleh Jepang, bahkan tanah dan semua harta keluarga Han ikut di sita yang menyebabkan Najin berusaha keras menghidupi keluarganya, dia tidak bisa mengandalkan adiknya karena dia mengurus diri sendiri saja susah. Bagian dia menuntut ilmu yang saya rasa tema utamanya malah tidak menonjol. Kisah cintanya tidak banyak dijelaskan justru sejarahnya sangat kental sekali, mungkin itu juga yang membuat saya sedikit bosan ketika membacanya :p

Tokoh favorit saya dibuku ini adalah Haejung, ibu Najin Han. Dia benar-benar sosok wanita yang kuat. Dia tidak ingin apa yang pernah dialaminya juga bakal dirasakan anaknya, tidak punya kesempatan mendapatkan pendidikan. Sehingga ketika ada peluang sedikit dia tidak menyia-nyiakannya bahkan dia rela menghiananti suaminya demi membuat anaknya merasakan bangku sekolah, dia juga mengajari semua hal tentang bagaimana menjadi seorang perempuan. Haejung sangat berpikiran maju, dia berpendapat bukan jamannya lagi perempuan bodoh, perempuan juga berhak mendapatkan pendidikan seperti laki-laki dan usahanya agar Najin bisa bersekolah sungguh pantas diacungin jempol. Dia melanggar prinsipnya untuk selalu patuh dan menghormati suaminya demi menyekolahkan anak perempuannya. Kehebatannya juga terlihat ketika melahirkan Ilsun.

Quote favorit saya:

Menyimpan rahasia itu salah dan tak perlu merasa khawatir tentang hal-hal yang tak kau pahami atau yang terkesan aneh. Terkadang, bertanya adalah cara terbaik untuk belajar.

“Laki-laki membutuhkan air untuk hidup, tetapi mereka tak bisa bergerak seperti air. Perempuan seperti air yang mengalir, menghidupi dan menjelajah dan berada di bawah kedua kaki laki-laki yang menancap dengan mantap di tanah. Kita cair. Dan, dari kitalah mereka muncul, minum dan tumbuh. Dan jadi,” kata Ibu sambil mengusap rambutku yang mencuat liar dari kepangan dan sirkam perunggu. “Ketika ayahmu terlihat kasar, aku ingin kau menginggat hal ini. Perempuan dianugerahi secara istimewa dengan cara yang tak pernah dipahami laki-laki. Jagalah kasih Tuhan di dalam hatimu dan ingatlah hal ini selalu.”

6400109Terjemahannya bagus, tidak ada kalimat yang sulit dimengerti dan minim typo. Jangan khawatir dengan genrenya yang sedikit berat, buat yang sering migrain baca sejarah apalagi yang dibalut kisah perjalanan hidup seorang wanita Korea seperti buku ini, tenanggg, di belakangnya ada catatan sejarah yang akan mempermudah kita memahami isi cerita, selain itu juga ada daftar istilah, bahasa Korea yang sedikit banyak berseliweran di buku ini jadi bisa sekalian belajar bahasa asing juga, bahasa Korea yang sering digunakan di kehidupan sehari-hari, seperti panggilan ayah, ibu, kakak perempuan, dsb. Untuk covernya saya lebih suka versi terjemahannya, lebih mengambarkan seni yang dikuasai keluarga Han, kaligrafer.

The Calligrapher’s Daughter adalah novel pertama dari Eugina Kim, putri dari imigran Korea yang datang ke Amerika tidak lama setelah perang pasifik. Walau baru pertama menulis novel buku ini langsung menyabet penghargaan Borders Original Voices Award for Fiction (2009), A Best Book of 2009, The Washington Post, Shortlisted for the 2010 Dayton Literary Peace Prize in Fiction.

Untuk lebih lengkapnya silahkan kunjungi http://www.thecalligraphersdaughter.com

NB: Posting bareng BBI kategori penulis Asia

We Talk About Books

The_yellow_world

Source: facebook.com

Seharusnya postingan ini di post tanggal 27 Oktober, pas hari Blogger Nasional, gpp deh ya, lebih baik telat daripada tidak sama sekali.

Selamat Hari Blogger :D.

Tahun kemaren kita, para BBI-ers juga membuat postingan pada hari Blogger, temanya adalah sejarah kita ngeblog yang kemudian kita ikutkan dalam ajang #BerkatNgeblog. Tulisan saya bisa di intip di Curhat Isi Buku. Kalau tahun kemaren kita bercerita tentang awal mula kita ngeblog, tema kali ini adalah Sejarah Bergabungnya Kita dengan BBI.

Saya menginggat-ngingat kembali kapan tepatnya dan lagi-lagi gagal, emang parah ini memori. Yang pasti pertama kali yang mengajak saya gabung bareng BBI adalah si @anadudunk. Dia nawarin saya buat gabung grup BBI di fb, yang awalnya angotanya baru beberapa, belum terencana dengan jelas dan anggotanya pun hanya di data di salah satu thret di Goodreads, hanya sekedar baru dibicarakan, grupnya belum di publish, hanya dibahas lewat dm dan chat di Gmail *jadi inget sesahnya mau ikut obrolan @anadudunk, @miapras dan @aleetha dulu karena jarang chat*. Kemudian makin banyak, makin banyak book blogger yang bergabung hingga sekarang mencapai 189 book blogger. WOW.

Walau nggak semua bergabung di grup BBI di fb *karena banyak yang lebih menuliskan daripada muncul langsung, ayo pada muncul, hehe* dalam kurun waktu kurang dari dua tahun ini sebuah kemajuan yang sangat pesat. Harapannya sih selain aktif menulis kita juga bisa membicarakannya, walau nggak secara tatap muka karena posisi para blongger tersebar di wilayah Indonesia raya, setidaknya kita nggak cuman pasif aja. Komunitas berkembang, banyak media yang bisa dipake, mulai dari Goodreads, obrolan di twitter, grup fb, sekarang pun kita bisa ngobrol melalui whatsapp (yang kekurangannya tidak bisa memuat anggota lebih dari 30) kita setiap hari membicarakan buku dengan berbagai bumbu cerita, semua disatukan oleh satu kata, kesukaan, kecintaan, passion, Buku.

Bahkan, banyak rencana yang ingin dikembangkan oleh BBI karena dalam berjalannya waktu banyak anggota dan kita tidak puas hanya membaca bersama dan posting bersama, saatnya menata diri, dengan tujuan komunitas ini berkembang lebih baik dan teratur. Struktur organisasi atau penanggung jawab untuk berbagai event sedang digodong, mulai dari aksesoris (kaos, pin, pembatas buku), event (IRF, bookfair, gathering, giveaway, posting bareng), keuangan (di mana di akhir tahun BBI berencana mengadakan BBI Berbagi, humas yang tugasnya mencari sponsor, bagian yang mengurusi socmed, web, dan masih banyak lagi. Kita bersama-sama membangun komunitas ini menjadi lebih baik dan diminati banyak orang.

Kesan saya selama menjadi member BBI adalah (mungkin sudah sering saya katakan) saya bertemu dengan orang-orang yang juga mencintai buku, wawasan saya bertambah, banyak blongger yang jenis bacaannya berbeda dengan ‘makanan sehari-hari’ saya, membuat saya sedikit tertarik ketika dia bercerita buku tersebut amazing. Ada pula beberapa anggota BBI yang membuat blog khusus genre favoritnya, sebut saja mbak @fanda_a dengan Fanda Classiclit, @angela_noviana dengan Resensi Harlequin, mbak Maria atau yang lebih dikenal dengan @Hobby_buku bahkan membuat tiga blog untuk genre classic, fantasy dan thriller. Masih banyak lagi blogger yang membuat blog khusus bacaan favorid mereka, kadang bisa kebaca juga dengan berbagai macam postingan kalau mereka lebih dominan baca apa. Kalau saya, terinspirasi dari mbak fanda, saya membuat blog khusus Romance, salah satu genre buku yang sering saya baca di Kubikel Romance dan untuk blog ini sendiri lebih saya khususkan ke omnigenre. Untuk mengetahui semua member BBI, bisa dilihat data blognya di Goodreads. Sedangkan untuk mengatahui update postingannya bisa dilihat di Blogger Buku Indonesia atau bisa kita ikuti kicauannya di @BBI_2011.

Salah satu moment yang ditunggu adalah Kodar (Kopi Darat) atau gathering. Rasanya nggak puas kalau hanya bertatap di layar komputer atau gadget saja. Bila ada kesempatan ke kota atau daerah salah satu anggota BBI bermukim, ayo kita ketemuan! Sejauh ini yang paling sering ketemu adalah dengan BBI Solo karena tiga bulan sekali kita rutin kopdar untuk Goodreads Solo yang mana anggotanya sebagian besar para BBI-ers juga (ada mbak Ratih, Dani, Alvina, Bzee). Kemudian nggak jauh dari kota Solo, para BBI-ers Jogja bertandang dan ngajak ketemuan, ada Oky dan Bang Dion, terhitung udah dua kali (iya deh, kapan-kapan kita yang gantian maen ke Jogja :p). Beberapa waktu yang lalu sang peri buku kita, mbak Truly waktu ada tugas ke Solo pun  kita sempatkan untuk bertemu di rumahnya salah satu penulis yang bermukim di Solo, mbak Sanie B Kuncoro yang dihadiri juga oleh mas Yudhi Herwibowo, penulis yang terkenal dengan genre hisficnya. Sayangnya BBI Jogja yang bisa hadir hanya Bang Dion saja, Oky terpaksa absen karena ada kepentingan. Oh ya, sekarang mbak Desty juga bermukim sementara di Jogja, semoga kita kapan-kapan bisa ketemu ya mbak :D.

Berikut kumpulan fotonya 😀

Bbi7BbiBbi1Bbi2Bbi3Bbi4Bbi5Bbi6

Saya berharap suatu waktu bisa ketemu dengan para BBI-ers yang laen, pengen sekali datang ke IRF di mana kita juga berencana membuat stand khusus BBI dan tentu saja akan banyak anggota BBI yang datang.

We talk about books, moreeee about books.

Keep writing, keep reviewing and keep reading.

 

Xoxo

@peri_hutan

To Kill a Mockingbird

To_kill_a_mockingbird

penulis: Harper Lee

penerjemah: Femmy Syahrani

penerbit: Qanita

cetakan I: Oktober 2010 (Edisi Gold)

ISBN: 978-602-8579-34-6

536 halaman

 

Sinopsis

Kehidupan Scout dan Jem Finch berubah total saat ayah mereka menjadi pembela seorang kulit hitam. Ketika Atticus membela seorang yang dianggap sampah masyarakat, kecaman pun datang dari seluruh penjuru kota. Di tengah terpaan masalah yang menimpa keluarganya, si kecil Scout belajar bahwa kehidupan tidak melulu hitam dan putih.

Dikisahkan dari sudut pandang gadis delapan tahun dari Maycomb, Alabama, novel ini menunjukkan betapa prasangka sering kali membutakan manusia. Dan sebuah keadilan hanya dapat dilahirkan dari rasa cinta yang tak membedakan apa pun latar belakang seseorang. Harper Lee telah berhasil menyuguhkan sebuah novel menawan yang amat berkesan dan tak lekang oleh zaman.

 

My Review

Saya sangat penasaran sekali dengan buku ini karena banyak sekali yang bilang bagus dan wajib baca. Setelah selesai saya tahu alasannya. Awalnya agak binggung, buku ini kan bercerita tentang ketidakadilan, rasis, tapi kenapa hanya ada tingkah beberapa anak kecil yang selalu menganggu para tetangganya?

Scout dan Jem, dua bersaudara yang sangat usil, bersama teman musim panasnya, Dill, mereka sangat penasaran dengan salah satu tetangganya, Boo Radley, yang tidak pernah keluar rumah seumur hidupnya. Mereka beramsumsi tentang Boo dengan pikiran anak-anak yang akhirnya membuahkan beberapa tantangan untuk memancing dia keluar. Di bab awal cerita ini, si kecil Scout banyak menceritakan tentang tetangga, perilaku, kebiasaannya, dsb.

Konflik buku ini adalah tentang rasis, perjuangan seorang ayah, seorang pengacara dalam membela orang yang tidak bersalah. Tom Robinson, orang kulit hitam yang dituduh melakukan pelecehan pada orang kulit putih. Atticus mencurahkan segala waktu, pikiran, tenaga untuk membelanya, menuntuk keadilan, menghadirkan saksi dan menggunakan kejeniusannya untuk membebaskan Tom. Tapi semua orang tahu, itu adalah perbuatan yang sia-sia, di mata semua orang, orang kulit hitam tak akan bisa berada di atas kulit putih. Percuma saja, Atticusa malah mendapat cemooh dai warga Maycomb.

…Ada sesuatu di dunia kita yang membuat orang kehilangan akal — mereka tak bisa adil meskipun sudah berusaha. Dalam pengadilan kita, ketika kesaksian orang kulit putih di pertentangkan dengan kesaksian orang kulit hitam, orang kulit putih selalu menang. Ini buruk, tetapi inilah fakta kehidupan.

Mungkin bagian yang paling menengangkan dari buku ini adalah ketika Tom mulai diadili, saya sangat bersabar sekali untuk sampai pada bagian itu karena kasus tersebut berada pada bagian dua, hampir dari setengah halaman lebih baru muncul. Tapi setelah menemukan apa yang saya cari-cari, biasa saja. Saya tidak mendapatkan perasaan seperti ketika membaca After saya tidak ikut deg-degan ketika Atticus mendatangkan para saksi. Saya lebih menyukai tentang keluarga Finch, karakter Scout, Jem, dan Atticus. Mereka adalah magnet yang membuat saya betah membaca buku ini.

Scout, gadis kecil dengan rasa tahu sangat tinggi, polos, rela berperilaku seperti laki-laki agar bisa bermain dengan kakaknya. Walaupun polos, kadang pemikirannya lebih dewasa daripada dengan orang yang merasa telah dewasa, dia sangat mencontoh kakaknya.

Jem, dia keras kepala, selalu mencoba untuk dewasa, dia ingin seperti ayahnya. Dia selalu berusaha untuk melindungi adik dan ayahnya, terlebih ketika ayahnya menghadapi kasus yang sulit, dia ingin tahu apa saja yang dilakukannya, dia tidak ingin ada orang yang menyakiti ayahnya.

Atticus, harus bilang apa lagi? Dia adalah sosok ayah yang sangat bijaksana, dia tidak pernah melihat orang dari luarnya saja, dia adalah orang yang sangat adil dan bertanggung jawab. Kalau kata ikal, “ayah juara satu seluruh dunia.”

Ada bagian dimana aku terkagum-kagum akan sosok Atticus, contohnya adalah ketika Scout dihukum oleh pamannya, Jack. Dia bilang kalau Jack tidak adil, pamannya tidak memberi kesempatan pada Scout untuk membela diri ketika bertengkar dengan sepupunya, bercerita dari sisinya. Kata Scout, ketika dia dan Jem bertengkar maka Atticus tak pernah hanya mendengar cerita Jem, tapi mendengarkan ceritanya juga. Saya sangat suka sekali cara Atticus mendidik anaknya yang bandel, dia selalu berusaha untuk jujur dan terbuka. Contohnya, ketika Scout bertanya dengan polosnya apa itu wanita jalang, memerkosa,

Kalau seseorang anak bertanya sesuatu, jawablah, demi Tuhan. Jangan berlebihan. Anak-anak adalah anak-anak, tetapi mereka tahu kalau kau menghindar, mereka tahu lebih cepat daripada orang dewasa, dan menghindar hanya akan membingungkan mereka.

Walaupun single parent, Atticus sangat sukses membesarkan kedua anaknya, dia tidak pernah memberi aturan-aturan, dia membebaskan anak-anaknya dengan kebebasan, kebebasan berpikir, bertindak, kebebasan untuk menjadi dewasa sesuai apa yang diinginkan mereka. Tapi, ketika mereka melakukan kesalahan, sesuatu yang tidak baik dan merugikan orang lain maka Atticus akan tegas menghukum. Bukan sesuatu yang buruk, contohnya ketika Jem geram ketika setiam melewati rumah Mrs. Dubose dia mendengar teriakan-teriakan yang tidak mengenakkan kuping, bilang kalau Jem dan Scout adalah anak yang bengil, dan tidak akan menjadi siapa-siapa ketika besar nanti. Atticus menghibur dan bilang, “Tenanglah, nak. Dia sudah tua dan sakit-sakitan. Angkatlah kepalamu dan jadilah lelaki terhormat. Apa pun yang dikatakannya kepadamu, tetangmu adalah tidak membiarkan dia membuatmu marah.” Tapi kesabarannya habis ketika wanita yang selalu membawa senapa itu menghina Atticus tak lebih baik daripada nigger dan sampah yang dibelanya. Jem dengan marhnya membabat habis tanaman Mrs. Dubose, Apa yang dilakukan Atticus akan pembelaan anaknya? Dia tetap menghukum karena bagaimanapun perbuatan itu salah. Cara dia menghukum? Meminta Jem kembali ke rumah wanita tua itu dan meminta maaf, menyanggupi apa saja permintaanya, membersihkan perbuatannya dan menyanggupi ketika Mrs. Dubose untuk mengurus halaman sampai tumbuh kuncup lagi dan membaca keras-keras selama dua jam.

Banyak sekali point yang bisa diambil dari cara Atticus mendidik anak-anaknya. Selain itu saya sangat sangat sangat menyukai hubungan mereka, bagaimana saling menyayangi dan saling melindungi satu sama lain. Kita juga akan mempelajari apa itu arti keadilan, perbedaan-perbedaan yang dibuat manusia dan mengintip pemikiran-pemikiran mereka. Ada kalimat yang sangat menohok sekali yang diucapkan Scout,

Tidak, Jem, kukira hanya ada satu jenis manusia. Manusia.”

Buku ini wajib dibaca oleh semua orang tua, semua pengacara, semua kulit hitam, semua kulit putih, semua anak-anak, semua orang.

Kau tak akan pernah mengenal seseorang sampai kau berada dalam posisinya dan mencoba menjalani hidupnya – Atticus.

4,5 sayap untuk burung Mockingbird

 

NB: Tentang Pengarang

1825

Harper Lee lahir di Monroeville, Alabama, pada 28 April 1926. Dia adalah putri bungsu dari empat bersaudara. Ayahnya seorang pengacara dan editor surat kabar setempat. Semasa kecil dia sangat akrab dengan teman
sekolah yang juga tetangganya, Truman Capote. Pernah sekolah di Huntington College of Montgomery, dia kemudian meneruskan kuliah hukum di University of Alabama. Di kampus itulah, dia mengasah bakat menulisnya dengan bergabung menjadi editor di majalah humor kampus, Ramma-Jamma.

Harper Lee adalah salah satu penulis yang paling membuat penasaran dalam sejarah kepenulisan pada abad ke-20. To Kill a Mockingbird adalah satu-satunya novel yang ditulisnya. Berkat kisah indah tersebut yang memenangi Pulitzer Award 1961, Harper Lee dianugerahi Presidential Medal of Freedom 2007, The Hingest Civilian Honor USA. Sekarang dia tinggal di New York, dia cenderung menutup diri dan tidak mau menulis novel lagi.