Anak yang Tak Dianggap

liburan di rumah nenek

mungkin bagi kebanyakan cucu itu sangat menyenangkan, tapi menurutku itu menjemukan.bukannya aku tak sayang dia, tapi sayang yang tak terbalas.ayah adalah anak yang dibencinya, itu merambat keseluruh keluarga ayah, tentu saja termasuk aku. pernah suatu waktu aku bertanya sama ibu,

“kenapa nenek tidak suka ayah bu?”

“kamu tau dari mana?”

“kata bibi sonya” jawabku tak mau bohong, bibi sonya adalah adik dari ibuku, dia agak sebal sama orang tua ayah yang selalu menelantarkan kami.

“bukannya benci, mungkin agak jengkel karna ayahmu susah diatur” kemudian dari situ aku tahu jawabannya, orang tua ayah mulai tidak suka sama ayah sejak masuk kuliah, ayah mengambil jurusan pertanian bukannya teknik sipil yang disarankan orangtuanya,

katanya “ mau makan apa kamu dengan pertanian, mau macul aja pake sekolah segala” bukannya begitu, kata ibu ayah sudah mencintai dunia pertanian dari kecil, beliau menyukai padi, “tiap hari kita makan nasi, kalau tidak tau prosesnya sama aja kita buang muka sama hal – hal yang penting disekitar kita”

tidak berhenti sampai disitu, lama kelamaan perbedaan pendapat selalui mengiringgi keduanya, mulai selesai kuliah, bekerja sampai mencari calon istri semua harus sesuai dengan kehendak orangtua ayah. dan semua itu ditentang ayah

“eyangmu tidak terlalu menyukai ibu karena ibu dari keluarga yang pas – pasan, tidak kaya seperti keluarga ayahmu” ibu mulai menceritakan kisahnya bersama ayah, pertama kali mereka bertemu ketika mereka sama – sama mengikuti pualam, perkumpulan pecinta alam, waktu itu mereka sedang mencoba menaklukan gunung mahameru. dari situlah hubungan mereka berlanjut, dan dunia sempit, ibu adalah mahasiswi psikologi di kampus yang sama dengan ayah, itu mempermudah hubungan mereka.

“ayah sudah punya calon untukmu, mengapa kau malah mengenalkan perempuan lain?” waktu itu eyang kalab ketika ayah mencoba mengenalkan ibu, dia tidak setuju, tidak sepadan katanya,

“ini hidupku, aku yang membuat pilihan, jadi terserah ayah mau mengenalkanku sama siapa saja, tapi aku tetap akan menikah dengan nana”

“itulah yang membuat ibu mencintai ayahmu, dia berjalan sesuai langkahnya, pilihannya, kalo menurutnya benar, ya diikuti, kalo salah bye bye” aku tertawa ketilka ibu menceritakan pengalamannya bersama ayah, satu pelajaran penting yang aku dapatkan mengenai obrolan ini, aku tidak pernah menyesal dan sangat bangga mempunyai orantua seperti mereka.

***

sekarang kita sudah sampai. di rumah nenek dulu sih sama kakek, tapi karena serangan jantung satu tahun silam, sekarang nenek tinggal beserta para pembantunya. rumah masih tampak sepi bertanda kami yang datang pertama, nenek sudah pikun dan sakit – sakitan, entah dia kenal sama kau atau tidak.

kami memasuki kamarnya, dia tidur di ranjangnya yang empuk tapi dia terlihat lemah dan tua. kami menghampirinya, satu persatu menyalami nenek dan menyebutkan nama dengan lantang, ya pendengaran nenek menurun. setelah ayah, ibu, dan kakak sekarang giliranku, aku menjabat tangannya dan dengan lantang menyebutkan nama sampai dia mengulang namanku.

“ini Aska, Nek” jelasku lantang, dia terbata – bata menyebut namaku, aku tidak melepas genggaman tangannya sampai ada instrukis dari kakakku, sebuah senggolan. setelah itu kami berkumpul di ruang keluarga, menunggu satu persatu keluarga besar. Ayah anak nomer dua dari lima sodara, ayahku adalah yang paling miskin, kenapa? karena semua sodara – sodaranya mempunyai pekerjaan atau kedudukan yang tinggi. Pamanku mempunyai perusahaan tekstil terbesar diseluruh Indonesia, yang ketiga adalah pengusaha kontraktor yang sukses, yang keempat salah satu orang terpandang di kota ini sekaligus mempunyai beberapa PT yang tersebar di seluruh negeri, dan yang terakhir seorang pengacara yang akhir – akhir ini laris karena banyak artis yang bercerai. sedangkan ayahku? selain mengelola beberapa pertanian kecil, ayahku adalah seorang dosen yang gajinya tidak seberapa dengan sodara – sodaranya.

mereka mulai berdatangan satu persatu, tentu saja dengan berbagai merk mobil mewah yang tidak tau kapan bisa dibeli ayah, setelah sungkem sama nenek, kami semua saling bersalam – salaman. sepupuku cukup bnayak, tapi aku tidak pernah peduli sama mereka, entah kenapa ada rasa tidak suka sama keluarga besar ayah. mereka mengobrol akan liburan kemana setelah ini. ada yang bilang ke aussie lah, amrik lah, aku tidak peduli, aku hanya selintar mendengarkannya, tapi mereka menuntut perhatiaanku ketika bertanya,“ lo mau kemana setelah ini As?” tanya salah satu sepupuku yang kalu tidak salah namanya Annga.

“di rumah aja, paling bantuin ayah bercocok tanam”

“ikut kami aja As, kita bayarin semuanya kok, kalo ke Paris gimana? kali ini yang menawarkan dengan bangga adalah Rei, anak adik ayahku yang nomer empat.

“terima kasih, tapi gw udah janji kok untuk bantuin ayah selama liburan” selama ini memang aku selalu menolak apa pun pemberian mereka, bukannya tidak mau tapi aku merasa mereka meremehkan ayahku, yang pergi keluar negeri aja kalu ada undangan penting dari kampusnya.

lama – kelamaan aku tidak jenak dan merenggek kepada ibu supaya cepat pulang, lagian kita yang datang duluankan jadi sah – sah aja kan kalo pulang duluan. tapi, ketika kami mau berpamitan pulang, semuanya juga mau ikutan pulang, aku sebel, aku diongkol ini berarti jatah ngejagain nenek otomatis dilimpahkan ke kami karena yang menjaga nenek sedang libur lebaran. sama seperti tahun – tahun sebelumnya, anak yang paling kamu benci nek, sekarang yang paling sering ngejagain, coba tanya ke anak kesayanganmu, mana baktinya? mana? kesabaranku sudah habis, seharusnya waktu ini dihabiskan oleh kami di rumah, nonton tivi bersama sambil mengobrol ringan, bukannya malah jadi baby sister.

“jangan kitu sayang, bagaimanapun dia ibu ayahmu” hibur ibu kepadaku ketika aku protes.

“tapi liat dong bu perlakuaanya kepada kita dulu” aku sebal sangat – sangat sebal, pernah dulu bibi Sonya bercerita waktu ibu nglahirin aku dan kekurangan dana, ayah mencoba pinjam uang ke nenek tapi hasilnya, nihil, alasannya lagi ga punya duit, alasan yang ga mungkin banget secara kakek waktu itu masih memegang pimpinan perusahaan keluarga.

“mungkin ini cara satu – satunya ayah membalas semua kebaikan nenek Aska, bagaimanapun dia yang tetap melahirkan Ayahmu”

Bah, anak yang tak pernah dianggap sekarang menjadi satu – satunya yang menjaganya.

Iklan

Democrasy is…

Saya baru lihat video ini tadi siang di salah satu stasiun televisi swasta, waktu nonton cuplikan video ini saya ngkakak, bener banget apa yang diutarakan oleh Adyatmika dalam kompetisi video di youtube yang dibuatnya ini. Mengutip dari newoesdotcom, video yang berdurasi 2 menit 9 detik ini menyingkirkan 700 peserta dari belahan dunia lain. Menurut salah seorang pendukung film ‘Masih Belajar’, Pandu Ganesha, kompetisi video tahunan ini diselenggarakan oleh Democracy Video Challenge, AS.

berikut yang diutarakannya:

“Video ini menceritakan mengenai apa itu demokrasi, namun belum ada yang mengetahuinya karena masih belajar. Di dalam sekolah tersebut Mereka terdiri dari beberapa golongan rakyat, seperti petani, aktivis, pengusaha, polisi, insinyur, dokter, anggota dewan. Situasi dalam ruang kelas tersebut, ada seorang anggota dewan yang akan berbicara panjang lebar mengenai apa itu demokrasi, namun teman duduknya (berprofesi sebagai pengusaha kaya) langsung menutup mulutnya dengan lembaran uang seratus ribuan. Nah yang terakhir ada seorang petani yang juga akan berbicara mengenai apa itu Demokrasi, namun teman duduknya (seorang polisi) juga langsung membekuknya ke atas meja. Ha ha ha, terkesan unik, lucu dan menyinggung mengenai demokrasi suatu negara dan berkat dukungan voting dari para netter indonesia khususnya video ini menjadi pemenang bersama 5 finalis pemenang dari negara lainnya.”

saya setuju sekali dengan video ini, terlebih yang bagian angota dewan yang mulutnya disumpal uang oleh pengusaha kaya, mencerminkan sekali kalo negara kita ini masih banyak yang korupsi, dikit – dikit harus ada uang.

sebenarnya apa sih Demokrasi itu? jujur, saya sendiri juga sudah lupa, kalo di SMA dulu demokrasi ini masuk di mata pelajaran Kewarganegaraan, itu yang saya ingat. Kemudian saya googling dan menemukan banyak sekali apa itu demokrasi, secara singkatnya demokrasi berasal dari kata Demos dan Kratos. Demos, artinya rakyat, sedangkan Kratos adalah kekuatan (morfologi ke dalam bahasa belanda menjadi “kracht” walaupun dalam konteksnya saat ini lebih pas kalau diartikan dengan “macht”). Mudah untuk menebak kelanjutan ceritanya, bahwa dalam demos kratos di yunani ini, yang berangkat dari pemikiran filsuf-filsufnya, diangkat dan dipraktekkan dalam kehidupan bernegara dengan sistem one man one vote. Sehingga arah kebijakan negara benar-benar mengikuti keinginan mayoritas penduduk suatu negara. Contohnya seperti negara kita ini, seperti pilpres, kita sendiri yang menentukan, rakyat yang menentukan.

bagi saya demokrasi adalah suatu kebebasan, kebebasan bernapas, berpendapat, memilih, hidup.

Ketakutan

Tema writingsession malam ini adalah horror, dan saya binggung mau menulis apa karna saya tidak suka sama hal yang berbau “medeni”. Baik buku ataupun film saya jarang menonton ataupun membacanya, bukannya takut, hanya saja tidak tertarik, kadang malah ngakak sendiri kalo nonton film horror, paling kaget.

Tapi ada makhluk ciptaan Tuhan yang tidak ingin saya temui, dia adalah pocong. Entah itu gosip atau beneran ada, saya benar – benar ngeri kalo melihatnya, coba saja liat film – film Susana jaman dulu, sukses besar ahli make-upnya.

Saya pernah bertemu dengan pocong, dimimpi, sayangnya saya lupa kronologis mimpi saya itu, yang jelas bangun tidur saya takut sekali, sialnya saya kebelet pipis :(. Dengan berpedoman “takut itu hanya sama Allah” berangkatlah saya ke medan perang dengan selalu menyebut namaNya. Mulai lebay deh :p.

Ada yang bilang kalo mimpi ketemu pocong itu nanti dapat untung, percaya ga percaya sih, kalo iya ya syukur kalo enggak, ya sudahlah (bondan mode on) :p.

Ketakutan tidak hanya soal macam – macam setan kan, ketakutan kedua saya adalah hewan. entah phobia atau apa kalo tidak saya sendiri yang menyentuh si hewan saya akan menjerit, lari, bahkan menangis. sekali lagi bukannya takut, entah apa namanya yang jelas ada perasaan tidak-ingin menyentuh mereka. pernah suatu kali adik saya iseng tiba – tiba memberi kucing kepada saya, saya menjerit dan menangis padahal itu kucing persia kalo dilihat dari bentuknya dan bulunya cantik sekali, mahal pula.

Sebenernya pernah kepikiran sih punya hewan kesayangan, tapi binggung menentukan apa. Setidaknya saya suka nonton film animasi yang tokohnya para hewan, Ice Age.

Her

dia

aku hanya bisa memandang wajahnya, takut jika berdekatan, malu lebih tepatnya. aku tidak bisa berpikir kalo ada disampingnya, dia begitu rupawan, dia menjadi idaman. tapi aku ingin lebih dekat dengannya, ingin lebih mengenalnya.

ah, dia

teringat waktu pertama kali kita bertemu, waktu itu aku terlambat ikut MOS SMA, aku menyusub di barisan paling belakang, mengacuhkan para murid yang masih berbau SMP, sama sepertiku sih. ketika sedang mengatur napasku yang ngos – ngosan karena menghindar dari pantauan panitia MOS, tiba – tiba saja ada yang mencolek bahuku, “terlambat lagi ya? ini udah yang kedua kalinya loh” aku hanya bisa meringis memandangnya.

itu awal pertemanan kita, kita menjadi teman sebangku, teman main, teman nongkrong, teman suka dan duka, lama kelamaan perasaanku berubah padanya, dia tidak hanya teman setia sepanjang waktu tapi hariku sepi bila tidak selalu bersamanya, tidak tau kabarnya, mencari -cari dan gelisah. aku mencari apakah perasaanya ini. aku memendamnya, aku menguburnya, aku menyangkalnya, aku berdoa kalo semua ini salah, tapi hati tidak bisa dipaksa, dia seperti candu.

pernah suatu kali ketika kita makan siang di suatu restoran, ramai sekali suasanyanya sampai – sampai kita hanya mendapatkan tempat yang berjejer berdua, waktu itu tanpa sengaja jari kelingkingku bersentuhan dengan jarinya, mungkin buat dia itu sudah biasa, tapi seluruh tubuhku rasanya seperti kesetrum, ini beda.

aku menyadari kalo aku benar – benar mencintainya.

dia

dia yang mempunyai ukuran beha yang sama denganku

Unrequited Love

cinta yang tak berbalas

itu yang sekarang aku rasakan, sakit pasti. rasanya seperti ketika kamu sedang berpuasa dan melihat makanan favoritmu yang lezat, kamu ingin sekali memakannya tapi ada larangan, haram kalo kamu memakannya, yah gampangannya seperti itulah. bisa melihat tapi tak bisa memiliki.

aku mengenalnya dari kecil tepatnya temanku sampai kelas 4 SD, walaupun dia lupa ketika kita bertemu kembali setelah dewasa. aku tidak akan pernah melupakannya, kalo menginggat waktu kecil dulu aku sangat sangat pemalu, aku selalu bersembunyi dibelakangnya, dia sangat pemberani, semua anak cowok takut padannya. pernah suatu kali temanku Gembul nama aslinya sih Doni karna dia gendut dan jelek kami memanggilnya seperti itu, dia menyembunyikan tas sekolahku aku sangat takut dan tidak berani memintanya yang hanya aku bisa adalah menangis sejadi – jadinya. kemudian datanglah dia, dengan beraninya dia menjambak rambutnya si gembul dan mencubit keras tangannya supaya mengembalikan tasku, setelah itu aku menyadari kalu aku mencintainya. mungkin lucu juga atau mungkin menganggap bodoh, itu kan hanya cinta monyet saja, cinta anak kelas 4 SD, tapi aku benar – benar tidak bisa melupakannya.

hingga waktu itu datang, waktu yang menghancurkan hatiku, waktu ketika aku menangis dan tidak ada yang menenangkanku lagi, waktu yang tidak ada lagi orang yang akan membelaku lagi. dia pindah. orangtuanya bercerai dan dia harus ikut ibunya ke suatu tempat yang aku tidak tahu namanya.

dan sekarang, ketika umur kami 20 tahun, aku melihatnya lagi. tanpa sengaja aku melihatnya di kantin anak psikologi. God kenapa baru mempertemukan kami sekarang? setelah beberapa tahun lamanya, aku mencari – carinya lewat sodara, teman dekatnya dan semua nihil, ternyata kita di kampus yang sama. tak perlu buang – buang waktu, aku langsung menghampirinya.

“Si, Sisi kan? ya Tuhan gw kangen banget sama lo”

tetapi dia malah memandangiku seperti orang aneh, ga aku ga mungkin salah walaupun udah lama tidak ketemu aku sangat hapal wajahnya, aku selalu menyimpan photo perpisahan satu – satunya milikku bersamanya.

“lo lupa ya? ini gue Rei, temen kecil SD lo dulu, ingat?”

“gue ga ingat”

kemudian dia pergi dan tidak menengok lagi. apa aku salah? aku yakin benar – benar dia. aku ga mau nyerah, aku sudah pernah kehilangan dia sekali lagi, dan aku tidak ingin kehilangan lagi. aku kejar dia, aku tarik tangannya agar dia tidak lari lagi dariku.

“gw yakin lo ingat, gw Rei, si anak culun yang dulu selalu lo bela dari si gembul, ingat dia juga kan?”

“udah dibilang juga gw ga kenal lo, salah orang kali”

“ga, gw yakin lo SISI!”

“nama gw emang Sisi, tapi gw ga kenal lo”

dia mencoba melepas cengkraman tanganku, o o tidak akan kubiarkan kau lari, aku menekankan lagi genggamanku.

“lo Sisi yang waktu kelas 4 SD pindah gara – gara ortu lo cerai kan?” aku mulai sedikit kejam dengan mengungkit masa kelamnya, biarlah apapun akan ku lakukan agar supaya dia sedikit ingat padaku.

“ga usah ngebahas masa lalu gw”

begitulah awal pertemuan kita kembali.

dia sekarang berbeda, jauh berbeda. dia cenderung keras kepala, dingin, cuek dan tidak peduli sama orang lain. aku tau dia tidak mempedulikanku walaupun sekarang aku selalu berada di sampingnya, mencoba menjadi temannya, menjadi sahabatnya. dia tidak mempunyai teman, dia selalu sendiri, ketika aku bertannya kenapa tidak ada orang dekat atau teman di sekitarmu dia selalu menjawab “ itu urusan gw, ga perlu ikut campur, kalo ga suka jangan deket – deket gw”.

hubungan kita statis seperti itu selama setahun, kita dekat tapi aku merasa jauh darinya. dia dekat dengan ibuku setidaknya aku merasa begitu, dia selalu aku ajak ke rumah, aku tau mungkin keadaan keluarganya yang membuat dia menjadi wanita yang dingin, wanita yang tak tersentuh. sering aku menunjukkan perasaan lebihku kepadanya, dengan selalu mengirim beratus sms setiap hari, menelepon berjam – jam, jalan bareng bahkan sampai aku rela bergonta – ganti pacar agar aku melihat dia cemburu. tapi hasilnya? dia diam saja, dia tetap tidak peduli akan perasaanku.

sakit, sakit sekali

banyak wanita yang mau sama aku, tapi wanita yang aku inginkan malah menganggap perasaanku tak pernah ada.

28 September

28 September adalah hari ke-271 (hari ke-272 dalam tahun kabisat) dalam kalender Gregorian.

28 September 1945, Djawatan Kereta Api Republik Indonesia (DKARI) didirikan setelah pengambilalihan kekuasaan perkeretaapian di Indonesia dari pihak militer Jepang. Pada tanggal ini diperingati Hari Kereta Api

28 September 1950 Indonesia diterima di PBB, ditanggal yang sama pada tahun 1966 Indonesia diterima kembali di PBB setelah keluar karena terjadi konfrontasi dengan Malaysia pada 20 Januari 1965.

28 September 1972 lahirlah aktris cantik pasangan dari vocalis coldplay Gwyneth Paltrow kemudian disusul tahun 1987 aktris muda berbakat dengan suara yang indah Hillary Duff.

28 September 1978 meninggalnya Paus Yohanes Paulus I dan di tahun 1989 meninggalnya presiden Filipina Ferdinand Marcos.

Dan di tanggal 28 September 2010 ini, aku menerima cintamu.

kau memberikan hatimu

seutuhnya, milikku

Diculik

“Kenapa kau menculikku?”

“Karna aku mencintaimu”

*

Kampus, siang hari yang terik, seminggu sebelumnya

Ok, make up gue gue udah tebel, males kalo nanti bakal ditanya – tanya. Arghhhh ingin sekali membolos hari ini andai saja seminggu kemaren gue ga membolos berturut – turut akan mata kuliah ini. Gue masuk ke kelas yang nampaknya sudah dipenuhi para mahasiswa yang ingin mendapat nilai hari ini, dan sialnya tempat duduk bagian depan udah penuh ini bertanda gue ga bisa mengelak dari Dina. Tidak, tidak gue harus bisa menghindarri dia.

“Prit, sini”. tampaknya tidak berhasil, rupanya dia sudah menyediakan tempat duduk, disampingnya. Gue menyusuri area kelas dan nihil, tidak ada tempat bagiku lagi kecuali disebelah Gembrong, yang baunya menyaingi bangkai tikus, gue memilih duduk disamping orang yang menungguku dengan tidak sabar tadi.

“Gue tau lo bakalan masuk, karna gue tau lo ga bakal mau ngulang tahun depan dimana tidak ada orang yang menjadi donor contekan lo”

“Gue bisa cari temen baru”

“Oh ya? gue sangsi akan hal itu”

Ini yang tidak gue suka darinya, yang paling gue benci dari  namanya sahabat adalah dia tahu benar wangi busuknya diri kita. Benar, gue termasuk tipe orang yang introvet, cenderung tertutup, tidak mudah percaya sama orang lain. Dina adalah teman satu – satunya yang paling deket sama gue. Gue juga ramah kok sama orang lain, kalo mereka duluan yang menyapa, kalo tidak biasanya meraka gue anggap ga ada. Makanya gue butuh orang senekat Dina yang mau repot – repotnya deket orang freak semacam guen, dan tentu saja Dia.

Dengan berat hati gue duduk disebelahnya, dan apa yang semula ingin gue sembunyikan dari Dia nampaknya akan sia – sia belaka.

“Muka lo kenapa?” pertanyaan yang langsung ketujuan.

“Kenapa gimana?”

“Ga usah ngelak deh, gue apal banget muka lo, pake make up setebel itu ga akan bisa membodohi gue”

Gue hanya angkat bahu, menandakan kalo gue males untuk memahas masalah ini, untuk sekarang ini.

“Gue tunggu cerita lengkapnya di rumah, nanti”

Arghhhh kenapa tidak ada bedak ajaib yang bisa menutupi atau mengelabui wajah agar supaya bekas tamparan yang ada di muka ini tidak ketara.

**

Di rumah Dina, sore hari yang mendung

“Bima lagi kan yang nglakuin semua ini?”

Khas Dina banget kalo lagi butuh penjelasan, tanpa ada embel – embel pembuka seperti yang ada di certa dongeng yang terkenal, seperti One Upon A Time. Gue hanya mengangguk sekenanya, kalimat yang seharusnya penyataan bukannya pertanyaan. Siapa lagi kalo bukan dia?

“Bagian mana lagi selain muka, heh?”

“Whoa, whoa, ga perlu mengeledah seluruh tubuh lagi, key. Kali ini hanya muka, titik” gila aja, terakhir dia memeriksa lebam yang ada diseluruh tubuh, terakhir gue dipukuli bukanya malah membantu Dia malah membuat lebam yang gue derita tambah nyut – nyutan.

“Kenapa sih lo ngeyel banget, udah dibilang juga putusin aja. Lo itu cantik Prita, bisa dapet cowok mana aja, di jalanan banyak cowok yang beterbaran yang mau sama lo”

“Emang lo kira gue lonthe apa”

“Jayus lo, bukan itu maksut gue”

5 detik, 10 detik cukup lama juga gue berdiam diri, binggung mau memulai dari mana.

“Gue lagi deket sama cowok dan kayaknya gue suka beneran sama dia, bukan Bima”.

“Siapa?”

“Sakti, temen les lukis gue, yang pernah gue kenalin dulu itu”

“Bima tau kalo lo suka sama dia?”

Dengan mata berkaca – kaca dan selayaknya sahabat yang baik, cerita mengalir sederas air terun niagara (yeah, sebut ini hiperbol). Awalnya gue ga nyadar kalo Sakti itu suka sama gue, lebih tepatnya ada. Gue tipe cewek yang cuek dan setia. Gue cinta sama Bima dan itu ga akan pernah berubah, tapi itu dulu. Bima tipe cowok yang posesif dan cemburuan, kadang malah seperti orang psiko. Jarang gue jalan sama cowok lain, belum pernah dan selalu sama Bima. Pendekatan Sakti cukup halus, dalam artian ga pernah dia maksa untuk temenan yang waktu itu gue lagi males untuk punya temen baru, terlebih teman yang sangat dekat. Kita kenal sebulan yang lalu, hanya dalam kurun waktu sebulan dia bisa membuat es yang membeku perlahan – lahan mulai mencair. Dia tidak pernah memaksa, gue selalu menolak ketika dia selalu mengajak pulang bareng, makan atau sekedar ngobrol. Sakti itu hangat dan Bima itu terbakar. Sakti itu lembut seperti kain sutra sedangkan Bima itu kasar seperti kain goni. Gue seharusnya tidak membuat perbedaan diantara mereka, tapi dua orang yang sifatnya bertolak belakang membuat gue memikirkan semuanya. Yang jelas Sakti tidak pernah main tangan, kecuali yang gue sukai :p.

“Jadi, lo selingkuhin Bima?”

“Mana gue berani, tidak, gue udah jelasin ke Sakti akan status gue yang in-relationship

“Terus, alesan apa lagi yang membuat Bima memukul lo untuk yang kesekian kalinya ini, heh?”

Sebetulnya Bima tidak hoby memukul. kebiasaan barunya ini muncul ketika gue memergoki dia selingkuh, yub dia punya pacar baru dan masih mempertahankan gue. awalnya gue mencoba untuk positive thinking, Bima punya panyak temen, apalagi cewek. Jadi gue diemin aja ketika dia sering telepon, sms sama cewek lain, pergi sama mereka, dan hal paling yang gue benci, bihing. Kesabaran gue habis ketika tanpa sengaja gue mengangkat telepon dari seorang cewek. Lidya, nama cewek yang tertera di layar dan yang gue tahu anak komunikasi.

“Say, nanti malem make-out lagi ya, lebih bolh juga kok , hahaha”

Gue langsung matiin tuh telepon, untung dia yang bicara duluan kalo tidak gue ga akan pernah tau boroknya Bima. Tanpa basa basi gue langsung minta putus sama Bima, alhasil bibir gue robek dan berdarah, muka, tubuh penuh dengan lebam, yang membuat gue harus tepar selama seminggu di kamar. Sejak saat itu, Bima lebih sering main tangan, gue tetep pacar Bima (dengan terpaksa), dan dia jauh lebih posesif. Kalo gue tidak membalas atau mengangkat telepon dari dia, dia akan langsung datang ke kos gue, memukul, menampar dan menyerat ke tempat yang ingin dia tuju. Tidak memperdulikan baju, kondisi, terlebih muka gue yang seperti kepiting rebus yang merengek untuk dikembalikan ke laut saja. Gue mencoba sabar, menuruti apa yang dia mau untuk meminimalkan kondisi yang akan gue dapet kalo gue menentang dia. Gue salah, seharusnya gue dengarin kata – kata Dina kalo Bima itu bejat, cowok yang ga bener, dan sering main kasar. Kebiasaan barunya itu muncul lagi dan walaupun tidak separah pertama kali gue mendapat pukulan dari dia, tetap saja menyakitkan. Kali ini tidak melalui sms atau telepon, tetapi ucapan langsung dari yang punya mulut yang bernama Lidya, ketika tanpa sengaja kita bertemu di kampus kemarin.

“Bilang ya sama Bima, tadi malem dasyat”

Gue langsung kabur pulang dan nangis sejadinya. Bima? tentu saja dia langsung menyusul ketika dia tidak bisa menghubungi gue. Dia mengelak dari tuduhan yang gue tujukan dan bilang kalo semua yang diomongin cewek sialan itu bohong, gue ga percaya dan ga mau percaya, yang gue inginkan saat itu adalah putus dari Bima. Sedetik kemudian gue merasakan lagi sakit seminggu sebelumnya, yah walaupun hanya di muka. Seperti petir menyambar tubuhmu sampai gosong.

“Sekarang apa yang akan lo lakuin ke Bima?”

“Putus, tekat gue udah bulat, gue ga mau tersiksa lagi, kalo dia macem – macem bakal gue laporin ke polisi”

“Dia terima gitu aja? ga nyangah atao memberondong diri lo dengan telepon?”

“Gue ga sudi bicara sama dia lagi Din, gue bener – bner pengen lepas dari dia, sejak kemaren gue udah menghindar dari dia”

“ Sakti tau semuanya?”

“Bukan tau lagi, dia juga dapet bogem dari Bima setelah tau kondisi gue yang ancur dulu, dia mencoba buat perhitungan sama Bima tapi sayangnya Bima maen keroyokan”

“Lo yakin bisa lari dari jeratan Bima? lo tau kan Bima itu orang macam apa? nekat, bisa nglakuin apa aja demi tujuannya agar terpenuhi. yang gue tau dengan jelas dia beneran cinta mati sama lo. Lo taukan gue kanal dia sejak SMp dan gue juga tau banget gimana dia kalo udah suka sama sesuatu, dia belum pernah seperti ini untuk memdapatkan keinginannya”

“Kok lo jadi nakutin gue sih”

“Bukannya gue nakutin Prita sayang, gue cuman mau bilang pikir baik – baik cara yang akan lo lakuin untuk menghindar dari Bima dan putus dengannya, lo ga mau kan kejadian 2 minggu yang lalu terulang kembali?”

“Bima itu seperti Voldemort, dan gue butuh sihir Harry Potter”

*

just gonna stand there and watch me burn

but that’s alright because i like the way it hurts

just gonna stand there and hear me cry

but that’s alright because i love the way you lie

“Matiin aja ya hp kamu, ganggu banget. Sama seperti yang kamu lakuin sama aku seminggu ini, ngilang”.

“Kenapa kau menculikku?”

“Karna aku mencintaimu”

“Gini ya caranya”

“Kalo aku ga bisa dapetin kamu, dia juga ga akan bisa”.