Unrequited Love

cinta yang tak berbalas

itu yang sekarang aku rasakan, sakit pasti. rasanya seperti ketika kamu sedang berpuasa dan melihat makanan favoritmu yang lezat, kamu ingin sekali memakannya tapi ada larangan, haram kalo kamu memakannya, yah gampangannya seperti itulah. bisa melihat tapi tak bisa memiliki.

aku mengenalnya dari kecil tepatnya temanku sampai kelas 4 SD, walaupun dia lupa ketika kita bertemu kembali setelah dewasa. aku tidak akan pernah melupakannya, kalo menginggat waktu kecil dulu aku sangat sangat pemalu, aku selalu bersembunyi dibelakangnya, dia sangat pemberani, semua anak cowok takut padannya. pernah suatu kali temanku Gembul nama aslinya sih Doni karna dia gendut dan jelek kami memanggilnya seperti itu, dia menyembunyikan tas sekolahku aku sangat takut dan tidak berani memintanya yang hanya aku bisa adalah menangis sejadi – jadinya. kemudian datanglah dia, dengan beraninya dia menjambak rambutnya si gembul dan mencubit keras tangannya supaya mengembalikan tasku, setelah itu aku menyadari kalu aku mencintainya. mungkin lucu juga atau mungkin menganggap bodoh, itu kan hanya cinta monyet saja, cinta anak kelas 4 SD, tapi aku benar – benar tidak bisa melupakannya.

hingga waktu itu datang, waktu yang menghancurkan hatiku, waktu ketika aku menangis dan tidak ada yang menenangkanku lagi, waktu yang tidak ada lagi orang yang akan membelaku lagi. dia pindah. orangtuanya bercerai dan dia harus ikut ibunya ke suatu tempat yang aku tidak tahu namanya.

dan sekarang, ketika umur kami 20 tahun, aku melihatnya lagi. tanpa sengaja aku melihatnya di kantin anak psikologi. God kenapa baru mempertemukan kami sekarang? setelah beberapa tahun lamanya, aku mencari – carinya lewat sodara, teman dekatnya dan semua nihil, ternyata kita di kampus yang sama. tak perlu buang – buang waktu, aku langsung menghampirinya.

“Si, Sisi kan? ya Tuhan gw kangen banget sama lo”

tetapi dia malah memandangiku seperti orang aneh, ga aku ga mungkin salah walaupun udah lama tidak ketemu aku sangat hapal wajahnya, aku selalu menyimpan photo perpisahan satu – satunya milikku bersamanya.

“lo lupa ya? ini gue Rei, temen kecil SD lo dulu, ingat?”

“gue ga ingat”

kemudian dia pergi dan tidak menengok lagi. apa aku salah? aku yakin benar – benar dia. aku ga mau nyerah, aku sudah pernah kehilangan dia sekali lagi, dan aku tidak ingin kehilangan lagi. aku kejar dia, aku tarik tangannya agar dia tidak lari lagi dariku.

“gw yakin lo ingat, gw Rei, si anak culun yang dulu selalu lo bela dari si gembul, ingat dia juga kan?”

“udah dibilang juga gw ga kenal lo, salah orang kali”

“ga, gw yakin lo SISI!”

“nama gw emang Sisi, tapi gw ga kenal lo”

dia mencoba melepas cengkraman tanganku, o o tidak akan kubiarkan kau lari, aku menekankan lagi genggamanku.

“lo Sisi yang waktu kelas 4 SD pindah gara – gara ortu lo cerai kan?” aku mulai sedikit kejam dengan mengungkit masa kelamnya, biarlah apapun akan ku lakukan agar supaya dia sedikit ingat padaku.

“ga usah ngebahas masa lalu gw”

begitulah awal pertemuan kita kembali.

dia sekarang berbeda, jauh berbeda. dia cenderung keras kepala, dingin, cuek dan tidak peduli sama orang lain. aku tau dia tidak mempedulikanku walaupun sekarang aku selalu berada di sampingnya, mencoba menjadi temannya, menjadi sahabatnya. dia tidak mempunyai teman, dia selalu sendiri, ketika aku bertannya kenapa tidak ada orang dekat atau teman di sekitarmu dia selalu menjawab “ itu urusan gw, ga perlu ikut campur, kalo ga suka jangan deket – deket gw”.

hubungan kita statis seperti itu selama setahun, kita dekat tapi aku merasa jauh darinya. dia dekat dengan ibuku setidaknya aku merasa begitu, dia selalu aku ajak ke rumah, aku tau mungkin keadaan keluarganya yang membuat dia menjadi wanita yang dingin, wanita yang tak tersentuh. sering aku menunjukkan perasaan lebihku kepadanya, dengan selalu mengirim beratus sms setiap hari, menelepon berjam – jam, jalan bareng bahkan sampai aku rela bergonta – ganti pacar agar aku melihat dia cemburu. tapi hasilnya? dia diam saja, dia tetap tidak peduli akan perasaanku.

sakit, sakit sekali

banyak wanita yang mau sama aku, tapi wanita yang aku inginkan malah menganggap perasaanku tak pernah ada.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s