Tawa

Perempuan itu selalu disana, dekat halte bis yang selalu aku kunjungi kalau mau berangkat ke kantor. Kadang aku iri sama dia, tidak punya beban, masak bodoh dengan sekitar dan yang terpenting adalah dia selalu tertawa. Yah, kegiatan yang sangat jarang bisa aku lakukan.

Bagaimana aku bisa tertawa kalau aku melihat suamiku berselingkuh, mertua yang membenciku, pekerjaan yang menuntut waktuku, aku tidak punya celah untuk merasakan apa itu tawa. Aku menghembuskan napas, beginilah hidup, kadang kita bisa memilih tapi pilihan kita belum tentu benar.

Bis yang aku tunggu sudah datang, aku beranjak yang diikuti oleh beberapa orang yang mempunyai tujuan yang sama denganku. Aku melirik yang terakhir kali kepada perempuan itu, dia masih tertawa. Dengan rambut gimbal yang entah kapan terakhir kali dicuci, baju compang-camping, badan yang tidak pernah tersentuh air dan sabun, dia masih tetap tertawa seakan menantang dunia. Kadang aku iri dengannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s