Sad or Happy???

Bagian Satu::

Gw g pernah suka yang namanya sad ending

Ga pernah, sama sekali

Haha, tapi lucu sekali, roda selalu berputar.

Dulu yang keluarga gw harmonis, teladan semua orang, sekarang menjadi kecaman tiap orang.

Dulu bokap gw yang menjadi ayah-juara-satu-seluruh-tatasurya, sekarang menjadi pecundang yang tega mengukir luka di hati nyokap gw. tanpa pemberihuan sama sekali, tanpa peringatan, tanpa aba – aba.

Dia selingkuh, dengan wanita-yang-tidak-boleh-disebut-namanya.

Harapan gw untuk seorang ayah yang selalu diimpikan tiap orang anak hancur sudah, ditambah lagi dengan sakitnya nyokap yang lama – kelamaan makin parah. Yang tadinya hanya dipendam sendiri, akhirnya kelihatan juga dengan sebuah diagnosis dari dokter Jantung.

Gw, dan kakak tersayang Rio berusaha membangun keluarga yang sudah porak poranda menjadi setidaknya setengah utuh kembali, tapi apa daya nyokap tetap tidak kuat dan dia menyerah pada penyakitnya.

Kesediahan terbesar kedua yang gw alami.

Kiamat kedua dalam hidup gw.

“masih ada kakak disini, jadi kita harus kuat ya?” hibur Rio sambil memelukku.

“tapi Sisi sudah rapuh kak, orang yang sangat kita cintai pergi untuk selamanya” ucapku sambil menangis.

“kakak tau, kita berjuang sama – sama ya? kakak akan coba kuat, jadi Sisi juga harus kuat”.

Kata – kata yang membuat gw harus melepaskan kesedihan itu, yang membutuhkan waktu setidaknya setahun lebih agar gw kuat lagi, tapi sayang, selama gw dalam masa kesedihan, justru pacar gw sendiri menambahkan jeruk nipis di luka yang gw derita.

haha, kenapa tidak menambahkan cuka sekalian? biar menjadi nanah dan membusuk.

“An*jing lo! jadi gini perbuatan lo ke gw?”

“Si, dengerin dulu penjelasan gw”

“Ga perlu, gw udah denger cerita dari orang lain dan buktiin sendiri kelakuan lo sama Nira, sahabat gw itu Yog, sahabat gw”

“Dia yang ngrayu aku duluan Sisi, disaat kamu sedih berkepanjangan dan tidak pernah perhatian ke aku lagi, dia ngasih perhatian lebih ke aku!”

“Tapi enggak gini caranya, sama aja lo nambah luka, luka ketiga yang enggak akan hilang!”

“Si, please, aku masih sayang banget sama kamu, aku cinta banget sama kamu, jangan tinggalin aku, please”

“Tega lo Yog, tega”

Dan gw ga pernah menenggok ke belakang lagi.

Sudah cukup, penghianatan – penghianatan orang yang selama ini penting dalam hidup gw.

Gw ga perlu tumpukan sampah lagi.

Gw pindah sekolah, pindah tempat tinggal bareng kakak gw. Kita harus mulai hidup hemat karena kondisi setelah ditinggal bokap-yang-tidak-bertanggung-jawab kondisi keuangan kita juga mengalami perubahan. Sebenernya gw kasihan sama kakak gw yang kerja banting tulang sendirian untuk membiayai hidup kita dan sekolah gw, sempet gw memutuskan untuk berhenti sekolah dan kerja membantu kakak, tapi selalu mendapat kaka – kata menyakitkan telinga,

“Udah kamu sekolah aja, biat duit kakak yang ngurusin”

Dia yang menjadi Rajanya sekarang, sebagai rakyat gw terpaksa ngikut perintahnya juga.

Waktu itu sebenarnya kakak masih kuliah, Desain Grafis dan kerja serabutan, apa aja dia kerjain demi menuhin kebutuhan kita, terlebih gw.

Satu – satunya yang membuat gw bahagia waktu itu adalah gw sayang banget sama kakak gw dan dia jauuuuhhh lebih menyanyanggi gw.

Saking sayangnya, dia ninggalin gw untuk pergi jauh,

“Ini hanya untuk sementara waktu Sisi, kakak janji akan cepat pulang, kamu harus kuliah, ingat pesan mama”

“Tapi kan ga harus ninggalin Sisi sendirian disini”

“Sisi ga akan sendirian, Sisi akan tinggal sama Papa”

“GA MAU!, Sisi ga sudi tinggal sama dia!”

“Ga ada pilihan Si, ini satu – satunya jalan, tunggu kakak 2 tahun, oke”

Dan gw ngambek sama kakak gw lebih dari sebulan, tapi itu tidak juga meluluhkan hatinya. Keputusan sudah dibuat, gw tinggal sama bokap gw selama dua tahun dan kakak gw kerja ke Amrik di salah satu perusahaan iklan terbesar demi kelangsungan kehidupan kita, demi gw.

Gw ga pengen ngecewain dia, gw menyerah, gw akan tinggal sama musuh nomer satu, bokap gw.

Demi kakak gw, demi kelangsungan hidup kita yang akan sejahtera.

Bagian Dua::

Di Stasiun, menuju rumah Bokap

Masih sepi, ya iyalah sapa suruh ngambil keberangkatan jam 5 pagi. Gara – gara kak Rio yang ngeyel supaya berangkat pagi biar nanti ga panas, alasan yang aneh.

Tapi tunggu, kayaknya gw ga sendirian, ada cowok duduk di bangku paling pinggir, jarak kurang lebih 5 meter dari sini, kalo dilihat – liat dia sepantaran sama gw, tapi posturnya lebih tinggi dari kebanyakan teman – teman gw, mukanya ga keliatan jelas karna tertutup topi dan di telingganya terpasang earphone, dia kelihatan tipe orang yang cuek, ah sudahlah kenapa gw jadi perhatiin tuh orang.

God, masih berapa lama lagi ini, jadwal di tiket jam 5 dan ini sudah lebih dari 10 menit gw duduk kaya orang bego disini, dasar kebiasaan, telat.

gw tenggok kanan kiri masih sepi juga, walaupun sudah ada beberapa orang yang menunggu dan beberapa penjual makanan yang mulai menawarkan jualan mereka. Gw tenggok ke cowok tadi, DAN DIA SEDANG NGLIATIN GW!!! Klo gw bisa menggambarkan rupanya karna topinya udah dicopot, dia putih, wajahnya bersih, rambutnya cepak dan…. ahh biar lebih jelasnya dia mirip aktor Jonathan Rhys Meyers yang di film August Rush tapi dia lebih tinggi sedikit dan mukanya kasar ato bisa dibilang kejam.

Tiba – tiba dia berdiri, dan gw baru nyadar klo kereta sudah datang.

Hmmmm, menarik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s