PERANG!

dia seumuran dengan ku. dia pendiam dan aneh, begitulah teman – temanku memandangnya. pandanganku? dia hebat.

awalnya kita tidak terlalu dekat, tidak kenal malah. kita beda kelas, dia di kelas khusus orang pintar sedangkan aku dikelas orang – orang yang bermasalah. dia jenius, tentu saja. tidak bisa dipungkiri lagi dengan piala dan piagam berjejer yang menghiasi kantor kepala sekolah. matematika bidangnya, fisika keahliannya. jangan tanya apa bidangku, lihat saja julukan kelas dimana aku setiap hari bermuara.

tidak pernah ada kesempatan aku bisa dekat dengannya, sampai suatu ketika kita satu sekolah lagi sewaktu SMA, sekelas dan sebangku.

ok, awalnya aku sependapat dengan teman – teman yang menilainya aneh. dia berkacamata (kalo ini tidak aneh) sama denganku yang membedakannya adalah dia minus 4 karna terlalu sering membaca buku pelajaran yang mengalami overdosis tingkat gawat sedangkan aku membaca komik yang mengalami busung lapar akut. untungnya aku orangnya ceria (bersyukur aku punya mulut), aku mengawali untuk berkenalan dengannya.

“hei, kenalin aku Kanaya kamu Widhi kan? kita satu sekolah waktu SMP” aku menyodorkan tangan kananku kearahnya dengan pedenya, yang awalnya dia hanya melirik sekilas dan akhirnya menyambut uluran tanganku, entah terpaksa atau apa.

“jadi aku ga perlu ngenalin namaku lagi dong”

“hehehe, gapapa sih asal kamu ga keberatan duduk semeja sama aku, biar ketularan pinter” candaku untuk melumerkan suasana yang beku ini, tapi tanggapannya? dia hanya menggangkat bahu.

hari demi hari banyak waktu yang aku gunakan untuk mengamati dirinya, rasa ingin tahu ku yang besar adalah kenapa dia bisa sangat pintar? bawaan dari lahir mungkin salah satu mukjizatnya, rajin? oke dia lebih rajin dari ku tapi aku sering melihat dia belum mengerjakan tugas tapi kalo disuruh maju untuk mengerjakan di papan tulis dia langsung bisa. sedangkan aku? datang pagi – pagi untuk mencontek teman yang sudah menyelesaikan. jadi kesimpulanku adalah dia jenius, titik.

satu hal lagi yang menjadi pusat sorot mataku, dia jarang jajan dikantin. waktu aku tanya dan mengajak dia ke kantin dia bilang “aku ga punya uang saku”.

dia memang selalu mendapat beasiswa untuk sekolahnya, untuk buku dan mungkin biaya hidup, aku tidak heran karna dia pintar dan bisa mendapat semua itu. jadi tentu saja uang sakunya melimpahkan?

keadaan yang sebenarnya baru aku ketahui waktu aku berkunjung ke rumahnya. rumahnya sederhana, sangat sangat sangat sederhana, aku baru tau kalau hidupnya seperti ini.

“tangan takjub gitu dong, emang aku belum cerita ya?” aku langsung menutup mataku, sejauh yang aku tau dia emang tidak kaya, tapi dia tidak kelihatan miskin juga, aku tau dia tidak punya ayah ataupun adik, dia anak tunggal dan punya satu ibu, dan yah hanya itu.

“setauku sih kamu belum cerita kalo hidupmu semengenaskan ini, rumahmu mirip kandang ayam” dengan melihat tembok yang berwarna merah bata yang hampir bobrok dan beralaskan tanah liat itulah kenapa aku menjulukinya seperti itu.

“whoah, kasar sekali ucapanmu itu, kalo begitu masuk aja belum pernah masuk ke kandang ayam kan?” aku berwisata ke dalam rumahnya dan bertemu Ibunya, ah senang sekali bisa melihat orang yang melahirkan orang sejenius teman sebangkuku ini.

“siang Ibu, maaf ni ngrepotin, ga usah repot – repot ngasih makan, saya nanti tak ambil sendiri, hehehe”

“yee, sapa juga yang mau ngasih kamu makan, jangan Bu, persediaan kita sebulan bisa habis dimakan dia nanti”

“tamu itu adalah raja, jadi harus dilayani dengan baik dong”

“maunya”

“udah – udah gapapa, Widhi ini sama teman yang baru pertama kali datang kok ga sopan, ayo kalian makan siang dulu” aku mengikuti beliau masuk ke dalam, ga jauh amat sih dari ruang tamu kami bertemu tadi, hanya sebelahnya saja. kami makan makanan yang biasa, empat sehat lima tidak sempurnalah, sama satu yang aku rasain adalah senang, senang akan kebersamaan, keceriaan yang ungkin aku jarang dapatkan di rumahku sendiri. selesai kami makan, Widhi mengajakku ngobrol di kamarnya, awalnya hanya membahas soal pelajaran sekolah, semenjak menjadi kawan tetap dia, aku juga bertambah rajin hehehe, aku sering bertanya padanya, dia itu guru private gratis yang pernah aku punya. aku mengalihkan pembahasan kita dan bertanya secara pribadi, “kenapa ga ada teman sebelumnya yang datang kesini?”. aku menilit sorot matanya, apakah dia marah? kurasa tidak.

“buat apa? toh tidak ada urusannya juga”

“tapi itu kan bisa mengganggu kehidupan sosialmu”

“hahaha lucu, aku ga perlu kehidupan sosial yang rame, toh ujung – ujungnya bakal nyakitin juga kan?”

“pernah ngalamin hal buruk ya? curhat gih sapa tau kamu bisa dapet konsul gratis”

“konsul sama orang gila?”

“hehehe, aku kan calon psikolog” kurasa dia mulai mau membuka diri, dia mengamatiku dan dia mempercayaiku.

“kamu tau kan kondisi keluargaku? aku ga mau dikasihani orang lain, aku ga mau perang yang selama ini aku ciptakan hancur dengan sia – sia”

“perang sama apa? teman – teman kita baik kok”

“perang melawan kemiskinan dan pendidikan!” sekarang aku tau dengan jelas apa masalahnya, dia ga mau dikasihani karena miskin, itu kenapa dia ga pernah jajan dan setiap pulang sekolah harus membantu ibunya menjadi buruh cuci di tetangganya. kenapa dia selalu berjuang keras untuk memperjuangkan nilainya agar selalu mendapatkan beasiswa. info ini aku dapatkan waktu tadi aku punya kesempatan untuk mengobrol secara pribadi dengan ibunya.

“dia itu memang tertutup, mungkin karena kondisi keluarga dan ekonomi yang membuatnya menjadi orang yang keras, tapi sebenarnya dia mau membuka diri sama orang yang tentunya bisa dipercaya, contohnya kamu”.

“dia bersikeras membantu Ibu sepulang sekolah agar Ibu tidak lelah dan jatuh sakit, makanya dia suka begadang bahkan kadang lupa belajar karena kelelahan.”

aku memeluknya, menyembunyikan mataku yang berkaca – kaca,“di pintar kok Bu, dia murid paling hebat dan pintar yang pernah saya kenal, saya bangga punya teman seperti dia”

“Ibu juga tidak pernah menyesal melahirkan dia”

aku memandangnya, dia marah, marah sama keadaan, tapi dia tidak menyerah. terlihat jelas di sorot matanya yang mencerminkan kegigihan, keyakinan dan semangat yang tinggi untuk melawan perang yang telah dikibarkannya.

dia hebat bukan?

aku bangga punya teman seperti dia

dan aku juga ingin mengibarkan bendera perangku sendiri

demi meraih mimpiku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s