Mie

“makan kemana kita malam ini?”

“hujan, males keluar nih”

“jadi?”

“makan mie aja deh”

“ga takut perutnya buncit? kemarin kan udah makan mie”

“gapapalah, setiap hari aja bisa makan nasi, masak seminggu dua kali ga bisa”

aku menyiapkan mie yang akan kita makan bersama, dua rasa yang berbeda agar kami bisa merasakan milik masing – masing. aku suka mie goreng sedangkan dia yang berkuah.“ dingin – dingin enaknya ada kuahnya, biar tubuh ikut anget”. aneh, tapi begitulah dia.

aku menghidupkan kompor, meletakkan panci yang sudah berisi air mentah sampai setengahnya diatasnya, menuangkan kedua mie kami, ya, aku menjadikannya satu untuk dibagi berdua. aku memasak air tersendiri,tidak mau air dari campuran mie,katanya pada mie terkandung lilin yang bisa merusak usus kita, aku tidak ingin dia sakit.

setelah matang aku membagi mie kami berdua, sedikit untuk porsiku, dan banyak untuknya. “hei, ga adil tau, harus rata dong baginya”. aku tersenyum jahil dan membiarkannya mengomel. “aku kan cewek, jadi makannya harus dikit biar ga gendut”.

aku meracik bumbu untuk kami, menambahkan sedikit penyedap kedalam mienya, kesukaanya.

aku mulai memakan mie ku, dia memandangku

mieku sudah habis setengah, dia masih memandangiku

ketika mieku habis, dia masih terpaku menatap mataku

aku ke dapur dan mencuci bekas piringku, dia masih duduk memandang kursi yang baru kutinggalkan

aku kembali duduk dihadapannya, memandang dia yang mencoba menyentuh sendok dan garpu

berulang kali mencoba, tapi tangannya selalu menembus kedua benda tersebut

selalu begitu, sejak dua tahun yang lalu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s