Letter to Mom

Mindahin postingan dari tumblr yang rencananya mau di block 😦

 

Terinspirasi dari seorang kakek lumpuh yang menuliskan kisah hidupnya kepada cucunya yang menderita autis agar tegar menghadapi kehidupan yang kadang tidak adil, aku akan menulis untuk orang yang sudah cukup lama tidak kutemui.

Dear, Mom

Hai ibu, sudah berapa lama kita tidak bertemu? Coba aku hitung mundur, sekarang aku sudah lulus kuliah dan sedang berjuang mencari pekerjaan yang susahnya minta ampun. Ketika kau pergi aku masih duduk di kelas tiga SMA dan sekarang aku tepat berusia 23 tahun! hmmm, hampir lima tahun lah, rasa kangen sudah tidak dapat ditampung lagi, sudah meleber kemana-mana.

Banyak sekali yang kau lewatkan selama kau pergi, salah satu contoh yang sangat mencolok adalah kau melewatkan masa pertumbuhan anak-anakmu. Kau tidak melihat kakak lulus kuliah, bekerja yang gajinya bikin iri. Kau tidak melihat aku lulus SMA dimana sepanjang aku sekolah, masa itulah aku benar-benar serius sekolah, belajar mati-matian, les di beberapa tempat sekaligus, selalu pulang sore, tidak ada waktu bermain, itu semua demi membuatmu bangga, aku tidak ingin mengecewakanmu. Kau juga tidak melihat aku kuliah sampai lulus. Dan yang terpenting, kau melewatkan pertumbuhan anak kesayanganmu, adik lelakiku yang selalu kau cari-cari ketika hampir magrib dia tidak pulang-pulang. Dia tetap bandel, masih suka maen sampai sore bahkan tidak jarang sampai malam, dia hampir mau lulus STM. Aku jadi kangen dengan kecerewetanmu dalam menyuruh dia di rumah. Dengan “jam dolannya” yang lumayan padat, aku bersyukur dia tidak lepas kendali, ibu.

Aku sadar aku bukan anak yang baik, suka membantah perkataanmu, selalu menunda-nunda bila kau suruh mengerjakan sesuatu, aku bukan masuk anak teladan, anak impian setiap orang tua. Aku benci ketika kau membanding-bandingan aku dengan anak tetangga kita yang kau sebut sebagai panutan. Aku tidak suka bila disama-samakan dengan orang lain, semakin kau menuntut, aku akan semakin melawan. Yah, mungkin itu bagian dari proses pendewasaan karena waktu itu aku masih remaja, masih mencari jati diri, atau lebih tepatnya aku ingin menjadi diriku sendiri. Aku tahu kau ingin aku menjadi anak yang rajin, pandai, baik, anak emas di mata keluarga atau pun orang lain. Percayalah, aku tidak perlu mendapatkan semua predikat itu dari mencontoh orang lain, aku mendapatkan semua itu justru darimu, ibu.

Aku ingat, ketika aku masih kecil dan sedang kau boncengkan dengan sepeda mini, kakiku terkena ruji sepeda. Kau langsung meminta obat merah di rumah terdekat lalu mengikat kakiku di sedel agar tidak terkena lagi. Aku tahu, kau akan selalu melindungiku.

Aku ingat, sejak kecil, dari SD kau selalu menyuruh kami, anak-anakmu yang tidak tahu diri ini mengerjakan pekerjaan pribadi seperti menyisir rambut, mencuci, menyetrika baju sendiri, dll. Aku tahu, dari itu kau mnegajari kami untuk mandiri.

Aku ingat, sejak kecil kau selalu memberi kami uang saku yang sangat pas-pasan, aku tidak bisa membedakan apakah kau ibu yang pelit atau terlalu berhemat. Katamu kami harus belajar hidup susah biar kalau suatu waktu kami jatuh miskin, kami tidak kaget. Uang saku teman-temanku hampir 2-3 kali lipat dari uang yang kau berikan untuk jajan, dan kau menerapkan peraturan ini sampai SMA. Aku tahu, dari kebiasaan itulah kau mengajariku untuk bisa menyisihkan uang, berhemat dan belajar menabung. Setelah lulus SD aku sudah mempunyai tabungan di Bank sendiri.

Aku ingat, kau selalu memaksaku untuk membantumu memasak di dapur, dan aku selalu mengeluh. Kau selalu bilang seorang wanita itu wajib bisa memasak, selain untuk kehidupan berkeluarga nanti, aku tidak perlu bergantung pada warung makan. Kau juga tidak menyukai adanya pembantu di rumah. Kau seperti berkata, “ Kalau kita bisa mengerjakan sendiri pekerjaan yang sepele, kenapa harus merepotkan orang lain?” Oh ya, jujur saja ya ibu, kadang aku tidak terlalu suka masakanmu, kau tidak sehebat Farah Quinn (padahal aku juga belum nyoba masakannya) dan itu menurun padaku sampe sekarang yang kurang ahli dalam masalah dapur. Tapi, sampe sekarang kering jengkolmu yang super pedas itu belum ada yang menandingi!

Aku ingat, sewaktu aku lulus SD, aku memutuskan untuk mengikuti kepercayaanmu. Kejadian itu membuat ayah sangat murka, yah dia memang kolot sekali waktu itu, semua anaknya harus mengikuti kepercayaannya. Mungkin aku lebih dekat denganmu sehingga aku selalu mencontoh apa yang kau lakukan. Seperti seorang laiki-laki yang terperangkap pada tubuh wanita, keyakinan itu sudah melekat pada diri sendiri, kita tidak bisa mengingkarinya, maka jadilah aku seorang mualaf. Lalu ayah mengancam tidak akan memperdulikanku lagi dan tidak akan membiayai hidupku lagi. Sikap kerasnya pun menurun padaku, aku tetap memilih jalan sepertimu, ibu. Dan aku sangat ingat apa yang kau katakan padaku, “Masih ada aku yang bisa membiayaimu.” Hampir tiga tahun hubunganku dengan ayah putus, masih dalam satu rumah, syukur waktu aku SMA dia bisa menerima perbedaan yang aku pilih. Aku tahu, kau akan selalu ada di sampingku, mendukungku, kau adalah benteng yang akan selalu melindungiku.

Aku ingat, sejak kecil aku mempunyai masalah dengan kendaraan umum, mabok kendaraan parah. Tapi kau mematahkannya dengan menyuruhku untuk membiasakannya. Mulai SMP aku sekolah di mana letaknya harus ditempuh dengan kendaraan umum, kau mengantarkanku ke tempat pemberhentian bis, menunjukkan bis yang benar, dan menyuruhku membawa plastik kalau sewaktu-waktu penyakitku itu kambuh. Awalnya agak parno juga karena mabok kendaraan itu benar-benar nggak enak tapi karena setiap hari aku mulai ritual naik kendaraan umum, mau nggak mau harus menjalaninya dan ajaibnya penyakitku itu tidak pernah kambuh selama sekolah (yah, kadang kambuh sih kalau kendaraanya bau dan ada orang mabuk juga disampingku). Aku tahu, kau mengajariku untuk mengatasi masalah apa pun, seberat apa pun itu.

Aku ingat, waktu pelajaran agama di kelas satu SMA, ada ujian membaca Al-Qur’an, tentu saja aku tidak bisa karena aku tidak pernah mengikuti TPA. Sepulangnya dari sekolah aku menagis dan mengadu padamu. Kau langsung meminta bantuan tetangga kita yang seorang guru agama untuk mengajariku mengaji. Setelah itu, setiap habis magrib aku belajar mengaji gratis padanya. Aku tahu, kau akan selalu ada untuk menolongku, kau akan melakukan apa pun untuk anak-anakmu.

Sejak kau pergi, keluarga ini keteteran. Tidak ada yang memasak untuk kami, tidak ada suara ceewetmu, tidak ada perintah-perintah yang selalu aku abaikan, tidak ada kulucuanmu, kekonyolanmu kalau menonton tivi, tidak ada dirimu disampingku.

Besar sekali efek yang kau tinggalkan ketika kau pergi. Ada kejadian yang kami alami dan terlihat sekali kalau kami sangat butuh kehadiranmu. Waktu itu kakak terserang Demam Berdarah, sangat sangat perlu diawasi keadaanya. Aku sudah memasuki bangku kuliah, adik tentu tidak mengerti apa-apa, hanya ada ayah yang tentu juga sibuk akan pekerjaanya. Ayah terlihat bingung dan kerepotan mengurus semuanya. Untungnya aku sedang praktek di rumah sakit yang sama sehingga bisa membantu mengurus kakak. Saking capeknya mengurus kakak yang sering minta di antar ke kamar mandi yang tak kenal waktu (dia disuruh minum yang banyak agar tidak dehidrasi dan dia tidak mau di pasang selang pipis), tentu itu menjadi tugasku karna kami sama-sama perempuan. Aku capek lahir batin, habis praktek langsung mengurus kakak, hampir tidak ada waktu istirahat, aku marah padanya, bilang kenapa harus sakit segala dan sangat itu sangat merepotkan. Dia langsung menagis, aku melihat ayah memalingkan muka dan diam saja. Tapi aku tahu, dia menahan tangis, dia tidak ingin terlihat lemah di mata anak-anaknya, dia harus kuat agar anak-anaknya juga kuat. Dan alhamdulillah Tuhan memang Maha Melihat, ada sepupu yang membantu kami.

Selain itu, efek yang kau tinggalkan pada diriku adalah aku gampang menagis, cengeng. Tiap lihat keharmonisan keluarga, kasih sayang ibu ke anaknya, acara-cara di tivi yang menjual air mata, sangat menyentil perasaanku. Bahkan dulu aku sempat berandai-andai kalau bisa melihat hantu, aku ingin sekali bertemu denganmu. Aku selalu heran kenapa ada panti jompo, kalau untuk yang tidak mempunyai keluarga lagi aku sangat setuju tempat itu ada, lah kalau anak-anaknya masih utuh aku benar-benar mengutuknya! Apa susahnya sih mengurus mereka, toh mereka tidak merepotkan seperti kita masih bayi. Mereka tidak butuh apa-apa selain dekat dengan anak-anaknya. Jadi, sungguh disayangkan kalau mereka malah ingin jauh-jauh dari orang tua karena sudah mempunyai keluarga sendiri. Mungkin mereka harus mengalami, merasakan sendiri seperti aku, menyadari betapa sakitnya kehilangan orang tua. Sebelum terlambat, sering-seringlah menengok ibu, menelepon dia, menanyakan kabarnya setiap hari, peluk dia dan cium dia.

Walaupun sangat menyakitkan, ibu, kehilanganmu membuat aku menjadi lebih dewasa. Belajar menerima sesuatu yang buruk, mengurus rumah, lebih menyayangi ayah, kakak dan adik. Ayah sangat setia padamu, tapi aku juga tidak tahan melihat dia sendiri, seorang duda beda dengan janda, mereka tidak bisa mengurus diri sendiri, itu juga terlihat di diri ayah. Selain itu, aku juga jarang di rumah. Aku setuju ketika ayah ingin menikah lagi, sudah hampir setahun ini aku mempunyai ibu tiri dan syukur dia tidak sejahat ibu tiri-nya Cinderella atau yang terlihat di sinetron-sinetron. Dia tidak akan bisa menggantikanmu, tidak akan pernah. Tapi dia akan selalu ada ketika ayah membutuhkannya baik sehat atau sakit.

Apa lagi yang aku ingat lagi tentang dirimu? Senyum, marah, bawel, lucu, malu-maluin, menggurui, otoriter, rambutmu yang mulai memutih, kerutanmu, semua tentang dirimu akan selalu aku ingat, ibu.

Aku bisa mendapatkan ilmu dari pelajaran di sekolah, tapi aku mendapatkan pelajaran hidup darimu, ibu, ibu, ibu.

Dari anakmu yang sudah tumbuh dewasa 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s