Her

dia

aku hanya bisa memandang wajahnya, takut jika berdekatan, malu lebih tepatnya. aku tidak bisa berpikir kalo ada disampingnya, dia begitu rupawan, dia menjadi idaman. tapi aku ingin lebih dekat dengannya, ingin lebih mengenalnya.

ah, dia

teringat waktu pertama kali kita bertemu, waktu itu aku terlambat ikut MOS SMA, aku menyusub di barisan paling belakang, mengacuhkan para murid yang masih berbau SMP, sama sepertiku sih. ketika sedang mengatur napasku yang ngos – ngosan karena menghindar dari pantauan panitia MOS, tiba – tiba saja ada yang mencolek bahuku, “terlambat lagi ya? ini udah yang kedua kalinya loh” aku hanya bisa meringis memandangnya.

itu awal pertemanan kita, kita menjadi teman sebangku, teman main, teman nongkrong, teman suka dan duka, lama kelamaan perasaanku berubah padanya, dia tidak hanya teman setia sepanjang waktu tapi hariku sepi bila tidak selalu bersamanya, tidak tau kabarnya, mencari -cari dan gelisah. aku mencari apakah perasaanya ini. aku memendamnya, aku menguburnya, aku menyangkalnya, aku berdoa kalo semua ini salah, tapi hati tidak bisa dipaksa, dia seperti candu.

pernah suatu kali ketika kita makan siang di suatu restoran, ramai sekali suasanyanya sampai – sampai kita hanya mendapatkan tempat yang berjejer berdua, waktu itu tanpa sengaja jari kelingkingku bersentuhan dengan jarinya, mungkin buat dia itu sudah biasa, tapi seluruh tubuhku rasanya seperti kesetrum, ini beda.

aku menyadari kalo aku benar – benar mencintainya.

dia

dia yang mempunyai ukuran beha yang sama denganku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s