Diculik

“Kenapa kau menculikku?”

“Karna aku mencintaimu”

*

Kampus, siang hari yang terik, seminggu sebelumnya

Ok, make up gue gue udah tebel, males kalo nanti bakal ditanya – tanya. Arghhhh ingin sekali membolos hari ini andai saja seminggu kemaren gue ga membolos berturut – turut akan mata kuliah ini. Gue masuk ke kelas yang nampaknya sudah dipenuhi para mahasiswa yang ingin mendapat nilai hari ini, dan sialnya tempat duduk bagian depan udah penuh ini bertanda gue ga bisa mengelak dari Dina. Tidak, tidak gue harus bisa menghindarri dia.

“Prit, sini”. tampaknya tidak berhasil, rupanya dia sudah menyediakan tempat duduk, disampingnya. Gue menyusuri area kelas dan nihil, tidak ada tempat bagiku lagi kecuali disebelah Gembrong, yang baunya menyaingi bangkai tikus, gue memilih duduk disamping orang yang menungguku dengan tidak sabar tadi.

“Gue tau lo bakalan masuk, karna gue tau lo ga bakal mau ngulang tahun depan dimana tidak ada orang yang menjadi donor contekan lo”

“Gue bisa cari temen baru”

“Oh ya? gue sangsi akan hal itu”

Ini yang tidak gue suka darinya, yang paling gue benci dari  namanya sahabat adalah dia tahu benar wangi busuknya diri kita. Benar, gue termasuk tipe orang yang introvet, cenderung tertutup, tidak mudah percaya sama orang lain. Dina adalah teman satu – satunya yang paling deket sama gue. Gue juga ramah kok sama orang lain, kalo mereka duluan yang menyapa, kalo tidak biasanya meraka gue anggap ga ada. Makanya gue butuh orang senekat Dina yang mau repot – repotnya deket orang freak semacam guen, dan tentu saja Dia.

Dengan berat hati gue duduk disebelahnya, dan apa yang semula ingin gue sembunyikan dari Dia nampaknya akan sia – sia belaka.

“Muka lo kenapa?” pertanyaan yang langsung ketujuan.

“Kenapa gimana?”

“Ga usah ngelak deh, gue apal banget muka lo, pake make up setebel itu ga akan bisa membodohi gue”

Gue hanya angkat bahu, menandakan kalo gue males untuk memahas masalah ini, untuk sekarang ini.

“Gue tunggu cerita lengkapnya di rumah, nanti”

Arghhhh kenapa tidak ada bedak ajaib yang bisa menutupi atau mengelabui wajah agar supaya bekas tamparan yang ada di muka ini tidak ketara.

**

Di rumah Dina, sore hari yang mendung

“Bima lagi kan yang nglakuin semua ini?”

Khas Dina banget kalo lagi butuh penjelasan, tanpa ada embel – embel pembuka seperti yang ada di certa dongeng yang terkenal, seperti One Upon A Time. Gue hanya mengangguk sekenanya, kalimat yang seharusnya penyataan bukannya pertanyaan. Siapa lagi kalo bukan dia?

“Bagian mana lagi selain muka, heh?”

“Whoa, whoa, ga perlu mengeledah seluruh tubuh lagi, key. Kali ini hanya muka, titik” gila aja, terakhir dia memeriksa lebam yang ada diseluruh tubuh, terakhir gue dipukuli bukanya malah membantu Dia malah membuat lebam yang gue derita tambah nyut – nyutan.

“Kenapa sih lo ngeyel banget, udah dibilang juga putusin aja. Lo itu cantik Prita, bisa dapet cowok mana aja, di jalanan banyak cowok yang beterbaran yang mau sama lo”

“Emang lo kira gue lonthe apa”

“Jayus lo, bukan itu maksut gue”

5 detik, 10 detik cukup lama juga gue berdiam diri, binggung mau memulai dari mana.

“Gue lagi deket sama cowok dan kayaknya gue suka beneran sama dia, bukan Bima”.

“Siapa?”

“Sakti, temen les lukis gue, yang pernah gue kenalin dulu itu”

“Bima tau kalo lo suka sama dia?”

Dengan mata berkaca – kaca dan selayaknya sahabat yang baik, cerita mengalir sederas air terun niagara (yeah, sebut ini hiperbol). Awalnya gue ga nyadar kalo Sakti itu suka sama gue, lebih tepatnya ada. Gue tipe cewek yang cuek dan setia. Gue cinta sama Bima dan itu ga akan pernah berubah, tapi itu dulu. Bima tipe cowok yang posesif dan cemburuan, kadang malah seperti orang psiko. Jarang gue jalan sama cowok lain, belum pernah dan selalu sama Bima. Pendekatan Sakti cukup halus, dalam artian ga pernah dia maksa untuk temenan yang waktu itu gue lagi males untuk punya temen baru, terlebih teman yang sangat dekat. Kita kenal sebulan yang lalu, hanya dalam kurun waktu sebulan dia bisa membuat es yang membeku perlahan – lahan mulai mencair. Dia tidak pernah memaksa, gue selalu menolak ketika dia selalu mengajak pulang bareng, makan atau sekedar ngobrol. Sakti itu hangat dan Bima itu terbakar. Sakti itu lembut seperti kain sutra sedangkan Bima itu kasar seperti kain goni. Gue seharusnya tidak membuat perbedaan diantara mereka, tapi dua orang yang sifatnya bertolak belakang membuat gue memikirkan semuanya. Yang jelas Sakti tidak pernah main tangan, kecuali yang gue sukai :p.

“Jadi, lo selingkuhin Bima?”

“Mana gue berani, tidak, gue udah jelasin ke Sakti akan status gue yang in-relationship

“Terus, alesan apa lagi yang membuat Bima memukul lo untuk yang kesekian kalinya ini, heh?”

Sebetulnya Bima tidak hoby memukul. kebiasaan barunya ini muncul ketika gue memergoki dia selingkuh, yub dia punya pacar baru dan masih mempertahankan gue. awalnya gue mencoba untuk positive thinking, Bima punya panyak temen, apalagi cewek. Jadi gue diemin aja ketika dia sering telepon, sms sama cewek lain, pergi sama mereka, dan hal paling yang gue benci, bihing. Kesabaran gue habis ketika tanpa sengaja gue mengangkat telepon dari seorang cewek. Lidya, nama cewek yang tertera di layar dan yang gue tahu anak komunikasi.

“Say, nanti malem make-out lagi ya, lebih bolh juga kok , hahaha”

Gue langsung matiin tuh telepon, untung dia yang bicara duluan kalo tidak gue ga akan pernah tau boroknya Bima. Tanpa basa basi gue langsung minta putus sama Bima, alhasil bibir gue robek dan berdarah, muka, tubuh penuh dengan lebam, yang membuat gue harus tepar selama seminggu di kamar. Sejak saat itu, Bima lebih sering main tangan, gue tetep pacar Bima (dengan terpaksa), dan dia jauh lebih posesif. Kalo gue tidak membalas atau mengangkat telepon dari dia, dia akan langsung datang ke kos gue, memukul, menampar dan menyerat ke tempat yang ingin dia tuju. Tidak memperdulikan baju, kondisi, terlebih muka gue yang seperti kepiting rebus yang merengek untuk dikembalikan ke laut saja. Gue mencoba sabar, menuruti apa yang dia mau untuk meminimalkan kondisi yang akan gue dapet kalo gue menentang dia. Gue salah, seharusnya gue dengarin kata – kata Dina kalo Bima itu bejat, cowok yang ga bener, dan sering main kasar. Kebiasaan barunya itu muncul lagi dan walaupun tidak separah pertama kali gue mendapat pukulan dari dia, tetap saja menyakitkan. Kali ini tidak melalui sms atau telepon, tetapi ucapan langsung dari yang punya mulut yang bernama Lidya, ketika tanpa sengaja kita bertemu di kampus kemarin.

“Bilang ya sama Bima, tadi malem dasyat”

Gue langsung kabur pulang dan nangis sejadinya. Bima? tentu saja dia langsung menyusul ketika dia tidak bisa menghubungi gue. Dia mengelak dari tuduhan yang gue tujukan dan bilang kalo semua yang diomongin cewek sialan itu bohong, gue ga percaya dan ga mau percaya, yang gue inginkan saat itu adalah putus dari Bima. Sedetik kemudian gue merasakan lagi sakit seminggu sebelumnya, yah walaupun hanya di muka. Seperti petir menyambar tubuhmu sampai gosong.

“Sekarang apa yang akan lo lakuin ke Bima?”

“Putus, tekat gue udah bulat, gue ga mau tersiksa lagi, kalo dia macem – macem bakal gue laporin ke polisi”

“Dia terima gitu aja? ga nyangah atao memberondong diri lo dengan telepon?”

“Gue ga sudi bicara sama dia lagi Din, gue bener – bner pengen lepas dari dia, sejak kemaren gue udah menghindar dari dia”

“ Sakti tau semuanya?”

“Bukan tau lagi, dia juga dapet bogem dari Bima setelah tau kondisi gue yang ancur dulu, dia mencoba buat perhitungan sama Bima tapi sayangnya Bima maen keroyokan”

“Lo yakin bisa lari dari jeratan Bima? lo tau kan Bima itu orang macam apa? nekat, bisa nglakuin apa aja demi tujuannya agar terpenuhi. yang gue tau dengan jelas dia beneran cinta mati sama lo. Lo taukan gue kanal dia sejak SMp dan gue juga tau banget gimana dia kalo udah suka sama sesuatu, dia belum pernah seperti ini untuk memdapatkan keinginannya”

“Kok lo jadi nakutin gue sih”

“Bukannya gue nakutin Prita sayang, gue cuman mau bilang pikir baik – baik cara yang akan lo lakuin untuk menghindar dari Bima dan putus dengannya, lo ga mau kan kejadian 2 minggu yang lalu terulang kembali?”

“Bima itu seperti Voldemort, dan gue butuh sihir Harry Potter”

*

just gonna stand there and watch me burn

but that’s alright because i like the way it hurts

just gonna stand there and hear me cry

but that’s alright because i love the way you lie

“Matiin aja ya hp kamu, ganggu banget. Sama seperti yang kamu lakuin sama aku seminggu ini, ngilang”.

“Kenapa kau menculikku?”

“Karna aku mencintaimu”

“Gini ya caranya”

“Kalo aku ga bisa dapetin kamu, dia juga ga akan bisa”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s