Anak yang Tak Dianggap

liburan di rumah nenek

mungkin bagi kebanyakan cucu itu sangat menyenangkan, tapi menurutku itu menjemukan.bukannya aku tak sayang dia, tapi sayang yang tak terbalas.ayah adalah anak yang dibencinya, itu merambat keseluruh keluarga ayah, tentu saja termasuk aku. pernah suatu waktu aku bertanya sama ibu,

“kenapa nenek tidak suka ayah bu?”

“kamu tau dari mana?”

“kata bibi sonya” jawabku tak mau bohong, bibi sonya adalah adik dari ibuku, dia agak sebal sama orang tua ayah yang selalu menelantarkan kami.

“bukannya benci, mungkin agak jengkel karna ayahmu susah diatur” kemudian dari situ aku tahu jawabannya, orang tua ayah mulai tidak suka sama ayah sejak masuk kuliah, ayah mengambil jurusan pertanian bukannya teknik sipil yang disarankan orangtuanya,

katanya “ mau makan apa kamu dengan pertanian, mau macul aja pake sekolah segala” bukannya begitu, kata ibu ayah sudah mencintai dunia pertanian dari kecil, beliau menyukai padi, “tiap hari kita makan nasi, kalau tidak tau prosesnya sama aja kita buang muka sama hal – hal yang penting disekitar kita”

tidak berhenti sampai disitu, lama kelamaan perbedaan pendapat selalui mengiringgi keduanya, mulai selesai kuliah, bekerja sampai mencari calon istri semua harus sesuai dengan kehendak orangtua ayah. dan semua itu ditentang ayah

“eyangmu tidak terlalu menyukai ibu karena ibu dari keluarga yang pas – pasan, tidak kaya seperti keluarga ayahmu” ibu mulai menceritakan kisahnya bersama ayah, pertama kali mereka bertemu ketika mereka sama – sama mengikuti pualam, perkumpulan pecinta alam, waktu itu mereka sedang mencoba menaklukan gunung mahameru. dari situlah hubungan mereka berlanjut, dan dunia sempit, ibu adalah mahasiswi psikologi di kampus yang sama dengan ayah, itu mempermudah hubungan mereka.

“ayah sudah punya calon untukmu, mengapa kau malah mengenalkan perempuan lain?” waktu itu eyang kalab ketika ayah mencoba mengenalkan ibu, dia tidak setuju, tidak sepadan katanya,

“ini hidupku, aku yang membuat pilihan, jadi terserah ayah mau mengenalkanku sama siapa saja, tapi aku tetap akan menikah dengan nana”

“itulah yang membuat ibu mencintai ayahmu, dia berjalan sesuai langkahnya, pilihannya, kalo menurutnya benar, ya diikuti, kalo salah bye bye” aku tertawa ketilka ibu menceritakan pengalamannya bersama ayah, satu pelajaran penting yang aku dapatkan mengenai obrolan ini, aku tidak pernah menyesal dan sangat bangga mempunyai orantua seperti mereka.

***

sekarang kita sudah sampai. di rumah nenek dulu sih sama kakek, tapi karena serangan jantung satu tahun silam, sekarang nenek tinggal beserta para pembantunya. rumah masih tampak sepi bertanda kami yang datang pertama, nenek sudah pikun dan sakit – sakitan, entah dia kenal sama kau atau tidak.

kami memasuki kamarnya, dia tidur di ranjangnya yang empuk tapi dia terlihat lemah dan tua. kami menghampirinya, satu persatu menyalami nenek dan menyebutkan nama dengan lantang, ya pendengaran nenek menurun. setelah ayah, ibu, dan kakak sekarang giliranku, aku menjabat tangannya dan dengan lantang menyebutkan nama sampai dia mengulang namanku.

“ini Aska, Nek” jelasku lantang, dia terbata – bata menyebut namaku, aku tidak melepas genggaman tangannya sampai ada instrukis dari kakakku, sebuah senggolan. setelah itu kami berkumpul di ruang keluarga, menunggu satu persatu keluarga besar. Ayah anak nomer dua dari lima sodara, ayahku adalah yang paling miskin, kenapa? karena semua sodara – sodaranya mempunyai pekerjaan atau kedudukan yang tinggi. Pamanku mempunyai perusahaan tekstil terbesar diseluruh Indonesia, yang ketiga adalah pengusaha kontraktor yang sukses, yang keempat salah satu orang terpandang di kota ini sekaligus mempunyai beberapa PT yang tersebar di seluruh negeri, dan yang terakhir seorang pengacara yang akhir – akhir ini laris karena banyak artis yang bercerai. sedangkan ayahku? selain mengelola beberapa pertanian kecil, ayahku adalah seorang dosen yang gajinya tidak seberapa dengan sodara – sodaranya.

mereka mulai berdatangan satu persatu, tentu saja dengan berbagai merk mobil mewah yang tidak tau kapan bisa dibeli ayah, setelah sungkem sama nenek, kami semua saling bersalam – salaman. sepupuku cukup bnayak, tapi aku tidak pernah peduli sama mereka, entah kenapa ada rasa tidak suka sama keluarga besar ayah. mereka mengobrol akan liburan kemana setelah ini. ada yang bilang ke aussie lah, amrik lah, aku tidak peduli, aku hanya selintar mendengarkannya, tapi mereka menuntut perhatiaanku ketika bertanya,“ lo mau kemana setelah ini As?” tanya salah satu sepupuku yang kalu tidak salah namanya Annga.

“di rumah aja, paling bantuin ayah bercocok tanam”

“ikut kami aja As, kita bayarin semuanya kok, kalo ke Paris gimana? kali ini yang menawarkan dengan bangga adalah Rei, anak adik ayahku yang nomer empat.

“terima kasih, tapi gw udah janji kok untuk bantuin ayah selama liburan” selama ini memang aku selalu menolak apa pun pemberian mereka, bukannya tidak mau tapi aku merasa mereka meremehkan ayahku, yang pergi keluar negeri aja kalu ada undangan penting dari kampusnya.

lama – kelamaan aku tidak jenak dan merenggek kepada ibu supaya cepat pulang, lagian kita yang datang duluankan jadi sah – sah aja kan kalo pulang duluan. tapi, ketika kami mau berpamitan pulang, semuanya juga mau ikutan pulang, aku sebel, aku diongkol ini berarti jatah ngejagain nenek otomatis dilimpahkan ke kami karena yang menjaga nenek sedang libur lebaran. sama seperti tahun – tahun sebelumnya, anak yang paling kamu benci nek, sekarang yang paling sering ngejagain, coba tanya ke anak kesayanganmu, mana baktinya? mana? kesabaranku sudah habis, seharusnya waktu ini dihabiskan oleh kami di rumah, nonton tivi bersama sambil mengobrol ringan, bukannya malah jadi baby sister.

“jangan kitu sayang, bagaimanapun dia ibu ayahmu” hibur ibu kepadaku ketika aku protes.

“tapi liat dong bu perlakuaanya kepada kita dulu” aku sebal sangat – sangat sebal, pernah dulu bibi Sonya bercerita waktu ibu nglahirin aku dan kekurangan dana, ayah mencoba pinjam uang ke nenek tapi hasilnya, nihil, alasannya lagi ga punya duit, alasan yang ga mungkin banget secara kakek waktu itu masih memegang pimpinan perusahaan keluarga.

“mungkin ini cara satu – satunya ayah membalas semua kebaikan nenek Aska, bagaimanapun dia yang tetap melahirkan Ayahmu”

Bah, anak yang tak pernah dianggap sekarang menjadi satu – satunya yang menjaganya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s