:)

Dia tetanggaku.

Aku anak baru di komplek perumahan ini, pindah karena ayah ditugaskan di kota ini. Waktu aku turun dari mobil aku melihatnya, dia sedang asik dengan kubiknya. Aku terus memandangnya, mencoba mencari perhatiannya sampai ibuku menyuruh aku masuk ke dalam rumah dan bilang kalau ingin berkenalan nanti saja, sekalian memperkenalkan diri sekeluarga. Sampai tibalah waktunya, kami sekeluarga, aku, ayah, dan ibu memperkenalkan diri pada tetangga kami dengan membawa kue brownis buatan ibu tadi sore. Dan aku melihatnya lagi, masih asik dengan kubiknya, aku sudah gatel ingin berkenalah tapi ibu masih juga cerewet agar aku menjaga sikap, “sabaran sedikit Jani, kita berkenalan sama orangtuanya dulu.” Aku mencoba diam tapi tanpa berhenti meliriknya. Sampai orang tuanya menyadari lirikan mataku yang tak beranjak dari anaknya, dia memperkenalkan kami. Tante Dinda, ibunya, mengulurkan tangan anaknya tapi matanya tak beranjak dari kubik yang entah sudah berapa kali dibolak-baliknya, namanya Dimas, aku mengulurkan tanganku dan mengenggam tangannya, memperkenalkan diri, “Hallo, namaku Anjani tapi boleh dipanggil Jani kok, salamkenal ya,” dia masih diam membisu, aku tetap tersenyum. Tante bilang Dimas memang anak yang pendiam dan pemalu. Aku memakluminya, biasanya kalu pertama kali berkenalan dengan teman baru selalu aku yang mengawali pembicaraan, sampai-sampai ibu bilang kalu aku ini terlalu cerewer dan hiperaktif.

Waktu itu aku berumur 8 tahun, dan sekarang aku beranjak 17 tahun, dia masih tetap sama, pendiam dan pemalu. Sejak perkenalan canggung itu aku selalu bermain ke rumahnya, sepulang sekolah aku pasti langsung meluncur kesana, bahkan aku kadang makan siang di rumahnya. Aku mengajaknya bermain, menggambar, bernyanyi tapi hanya aku yang ikut serta, dia tetap sibuk dengan kubiknya, bahkan kadang-kadang kalau dia merasa terganggu atau kenapa-kanapa dia berteriak seperti orang gila, kadang aku jadi takut padanya, makannya juga tidak boleh sembarangan, Tante Dinda sangat berhati-hati dalam masalah ini. Waktu aku tanya ke ibu kenapa Dimas selalu seperti itu, tidak pernah bicara dan matanya selalu tertuju ke kubik ibu bilang dia sakit, sudah seperti itu dari kecil. Lalu aku pikir kalau sakit kan harusnya beristirahat di tempat tidur, minum obat dan kalau parah dibawa ke rumah sakit tapi kata ibu bukan semacam penyakit seperti itu tapi sakit gangguan perkembangan, komunikasi, dia tidak bisa berinteraksi sama seperti anak lainnya, dia punya dunia sendiri. Ah aku binggung, di usiaku dulu aku tidak mengerti apa yang dijelaskan oleh ibuku, tapi sekarang aku sudah mulai mengerti, dia pengidap Autis. Hanya aku teman satu-satunya. Aku terus dan terus menemuiannya setiap hari, aku mengganggap dia adalah sahabat terbaikku, aku sering bercerita tentang kehidupanku di sekolah, teman-temanku yang selalu pamer akan sepatunya, tasnya kadang aku pusing mereka mau sekolah atau mau ngadain ajang pameran? Aku juga sering curhat padanya, waktu MOS pertamaku, waktu aku dihukum membuat kokat 5 buah gara-gara aku salah membuatnya, sampai aku ditaksir kakak kelasku. Dia juga sekolah, kata tante Dinda dia bersekolah khusus penyandang autis, katanya disana diajarkan banyak hal, mulai cara berkomunikasi, menulis maupun menggambar. Itu memberikanku ide untuk berkomunikasi padanya, aku hobi mengambar, kadang aku menggambar pegununggan, makanan, boneka lalu kutunjukkan padanya, dan tak sia-sia, dia meliriknya. Walaupun hanya sekedar melirik aku tak pantang menyerah, aku sudah menemukan cara berkomunikasi dengannya. Kadang dia juga berteriak-teriak dengan kata “Ni, Ni” dan aku anggap dia memanggil namaku, membutuhkanku. Dia memang mengalami gangguan perkembangan berbicara, berinteraksi tapi dia tidak mengalami gangguan pertumbuhan yang artianya dia tinggi, walau tidak tinggi sekali tapi dia lebih tinggi dari aku, dan dia juga tampan, dengan caranya sendiri. Dan satu lagi yang lagi aku usahakan, melihat dia tersenyum. Dia pernah tersenyum, tapi luput dari pandanganku. waktu itu aku sedang menggambar kami berdua, berjalan ditaman di komplek kami sambil bergandengan tangan, aku bilang padanya, “kita akan seperti ini terus kan? aku berharap kau akan selalu mengandeng tanganku.” Dia tersenyum tapi kemudian menundukkan wajahnya, aku mengambil kesimpulan kalau dia setuju, lalu gambarku ditempelkan di kamarnya.

Aku benci jika ada orang yang menghina Dimas. Pernah suatu ketika aku mengajak teman sebangkuku kelas 5 SD, Nina. Awalnya aku ingin menambah teman untuk Dimas, kata Tante Dinda itu bukan ide yang buruk, siapa tahu komunikasi Dimas mengalami kemajuan. Tapi Nina malah mengejek Dimas, dia bilang Dimas cowok penakut, ga asik diajak ngobrol, dia gila karena selalu bermain dengan kubiknya, lalu Dimas menjerit-jerit, aku pertandakan kalau dia marah. Sejak saat itu aku memutuskan pertemanan dengan Nina dan aku agak trauma kalau mengajak temanku berkenalan dengan Dimas, hanya keluargaku dan keluarganya lah menjadi orang terdekatnya.

“Jan, lo ikut gak?”

“Hah, kemana?” lamunanku terusik, aku selalu lupa waktu jika memikirkan Dimas.

“Ke GM, kita kan mau cari hadiah buat ultahnya Aldo.”

“Nggak deh, gw buru-buru pulang ini, ada urusan mendesak.” Aku ada janji sama Tante Dinda membuat kue brownies, favoritnya Dimas.

“Halah, paling ngecengin tetangga lo yang autis itu kan, lama-lama ikut ketularan loh, sekarang aja lo udah banyak melamun gini, kurangi waktu buat dia dan coba lo bales sms dari Aldo, dia ngarep banget tuh.” Aku hanya menggankat bahu, segera pergi. Aku muak jika mereka menghina Dimas, mereka tidak tahu bagaimana rasanya mendapatkan perhadian Dimas barang sedikit pun, bertahun-tahun aku mencoba dan sekarang sudah membuahkan hasil, aku tidak akan menyia-yiakannya. Mereka berkata seperti itu karena mereka tidak tahu bagaimana susahnya dan sabarnya menghadapi Dimas. Aku jadi tidak sabar bertemu Dimas. Jika dia mempunyai dunia sendiri, aku ingin ikut bersamanya, berdua, masa bodoh dengan dunia ini. Aku berlari, bukan rumah orang tuaku yang ku tuju tapi tepat disebelahnya, yah aku jatuh cinta pada Dimas, ketika aku melihatnya dan dia tersenyum melirikku, aku beranggapan dia mempunyai perasaan yang sama.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s