Pulang

16174176

Pulang

Penulis: Leila S. Chudori

Gambar Sampul dan Isi: Daniel “Timbul” Cahya Krisna

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia

ISBN: 978-979-91-0515-8

Cetakan pertama, Desember 2012

464 halaman

Harga: hadiah dari @bacaituseru

Sebelumnya tidak ada niat membaca buku ini, saya belum pernah membaca buku karya Leila S. Chudori sehingga saya tidak ingin mengambil keputusan yang salah, takut kecewa setelah membacanya. Tapi, membaca beberapa review di Goodreads, banyak yang berpendapat kalau buku ini adalah buku yang paling ‘ngena’ tentang tragedi 30 September 1965, saya pun langsung penasaran dan pengen baca. Terimakasih sekali kepada Goodreads Indonesia yang memberi saya kesempatan membaca salah satu Historical Fiction dalam negeri ini, yang akhirnya memperkenalkan saya akan tulisan Leila S. Chudori yang setelah selesai membaca buku ini saya langsung kepengen membabat semua karyanya. Tidak mudah bagi saya untuk tertarik membaca genre diluar romance dan fantasy, saya bisa langsung jatuh cinta sama To Kill A Mockingbird, The Boy in The Striped Pyjamas, Sarah’s Key karena bisa membuat saya kembang kempis ketika membacanya, ikut terhanyut akan apa yang dialami tokohnya, saya berharap ada buku hisfic dalam negeri yang bisa membuat saya seperti itu, Gadis Kretek hampir, tapi tidak sampai berhari-hari saya memikirkan tokoh utamanya. Buku ini sukses membuat saya tidak bisa move on dari Segara Alam #abaikan😀.

“Rumah adalah tempat di mana aku merasa bisa pulang,” jawab Dimas. Dingin. Datar.

Ada tiga bab utama dalam novel ini, Dimas Suryo, Lintang Utara dan Segara Alam. Di awali dengan prolog tertangkapnya Hananto Prawiro, seorang redaktur Luar Negeri dari Kantor Berita Nusantara di Jalan Sabang, Jakarta pada 6 April 1968. Hananto adalah mata rantai terakhir yang akhirnya diringkus. Kantor Berita nusantara digeledah dan diobrak-abrik karena dianggap sangat kiri, Hananto berhasil melarikan diri dan masuk daftar orang-orang paling diburu, sebagai gantinya tentara membawa Surti Anandari, istrinya beserta ketiga anaknya untuk diinterogasi selama berbulan-bulan bahkan sampai tiga tahun karena tentara tak kunjung menemukan Hananto. Pada masa itu ada istilah Bersih Diri (kebijakan di tahun 1980-an yang dikenakan kepada seseorang yang terlibat dalam Gerakan 30 September, anggota PKI atau anggota organisasi sejenisnya) dan Bersih Lingkungan (dikenakan kepada anggota keluarga seseorang yang telah dicap komunis). Sampai akhirnya tentara menemukan persembunyian Hananto di Jalan Sabang, Hananto merasa sudah waktunya berhenti, dia mendengar kabar kalau istri dan anaknya dipindahkan dari Guntur dan Budi Kemulian (tempat interogasi), dia ingin keluarganya bisa hidup aman.

Dimas Suryo, dia merasa berhutang nyawa pada Hananto Prawiro, kalau saja Hananto tidak meminta mengantikannya untuk datang ke koferensi jurnalis di Santiago, tentu Dimas lah yang ditangkap. Saat itu Hananto sedang mengalami masalah pribadi, istrinya, Surti Anandari mengajak anak-anaknya untuk kembali ke rumah orangtuanya dikarenakan perilaku Hananto yang seorang penjahat kelamain, sering gonta-ganti ranjang. Hananto ingin menyelamatkan rumah tangganya sehingga dia tidak bisa pergi jauh. Dimas tidak bisa menolak, dia berharap Surti bahagia. Sebelum menikah dengan Hananto, Dimas dan Surti adalah sepasang kekasih. Bahkan, nama anak-anak Surti sekarang; Kencana, Bunga dan Alam adalah nama pemberian Dimas, yang sebelumnya dia rencanakan untuk anak mereka nantinya. Tapi, ketika Surti ingin mengenalkan Dimas kepada keluarganya, Dimas menghindar, dia belum siap berhadapan dengan keluarga Surti yang terdiri dari dokter-dokter.

Drupadi.

Seluruh kakak beradik Pandawa adalah suaminya. Tetapi adalah Bima yang selalu ingin melindunginya dari Kicaka maupun Dursasana. Yang tragis bagi Bima, Drupadi jauh lebih mencintai Arjuna. Aku betul-betul tak tahu dan tak pernah mencari tahu apakah Surti jauh lebih mencintai Mas Hananto daripada aku. Tetapi aku tahu, dia membuat pilihan.

Aku lebih tak tahu lagi mengapa sampai detik ini, setelah bertemu dengan Vivienne yang jelita dan menikahinya, hatiku masih bergetar setiap kali mengenang Surti. Barangkali aku sudah terlanjur memberikan hatiku padanya. Untuk selama-lamanya.

Pada saat konferensi International Organization of Journalist di Santiago, Cile berlangsung. Dimas dan Nugroho mendengar meletusnya prahara 30 September 1965, peristiwa yang menewaskan beberapa perwira tinggi militer Indonesia dalam percobaan kudeta yang dituduhkan kepada PKI. Bersih Lingkungan dan Bersih Diri digalakkan, mereka tidak bisa kembali ke Indonesia, mereka hanya bisa berharap keluarga mereka tetap aman. Setelah itu, Dimas dan Nug memutuskan untuk bertemu dengan Risjaf di Havana, Kuba. Kemudian mereka menetap selama tiga tahun di Peking, Cina, tempat dimana banyak orang yang senasip dengan mereka. Merasa tidak nyaman, Dimas mengusulkan untuk pindah ke Eropa, dan kebetulan teman mereka, Tjai ingin bertemu. Dipilihlah Paris sebagai rumah baru mereka, rumah persinggahan mereka. Di sana Dimas bertemu dengan Vivienne Deveraux di kampus Universitas Sorbone ketika terjadi revolusi Mei 1968. Le coup de foudre. Cinta pada pandangan pertama, itulah yang dirasakan Vivienne ketika bertemu dengan Dimas. Tak lama setelah pertemuan itu mereka menjadi pasangan kekasih, memutuskan menikah dan lima tahun kemudian mempunyai anak semata wayang yang diberi nama Lintang Utara. Bersama ketiga temannya -Nugroho, Risjaf, dan Tjai- mereka mendirikan Restoran Tanah Air. Satu-satunya bentuk perlawanan karena mereka tidak bisa pulang, satu-satunya cara mengobati rindu akan ibu pertiwi. Empat Pilar Tanah Air.

Katakan, apakah sebatang pohon yang sudah tegak dan batang rantingnya menggapai langit kini harus merunduk, mencari-cari akarnya untuk sebuah nama? Untuk sebuah identitas?

Ayah tahu, dia ditolak oleh pemerintah Indonesia, tetapi dia tidak ditolak oleh negerinya. Dia tidak ditolak oleh tanah airnya. Itulah sebabnya dia meletakkan sekilo cengkih ke dalam stoples besar pertama dan beberapa genggam bubuk kunyit di stoples kedua di ruang tamu hanya untuk merasakan aroma Indonesia.

Lintang Utara mendapatkan tugas akhir untuk membuat film dokumenter tentang Indonesia, sebuah negara yang tak pernah dia sentuh, sebuah negara yang hanya dia dengar dari ayah beserta tiga sahabatnya yang pengetahuannya terhenti setelah tahun 1965 dan dari perpustakaan ayahnya, sebuah negara yang tidak akan bisa dia datangi bersama ayahnya. Dia ingin membuat satu jam dokumentasi tentang sejarah Indonesia. September 1965. Akibat yang terjadi pada keluarga korban, keluarga dari tahanan politik atau keluarganya; mereka yang sama sekali tidak paham atau tidak ada urusan dengan tragedi September tetapi ikut menderita hingga sekarang. Lintang ingin memahami Indonesia dan ayahnya, tidak hanya tentang sejarah yang penuh darah dan nasib eksil politik yang harus berkelana mencari negara yang bersedia menerima mereka. Ada sesuatu tentang ayah Lintang yang selalu peka terhadap penolakan. Tentang seseorang yang sampai sekarang ada di hati ayahnya, seseorang yang menyebabkan retaknya rumah tangga kedua orangtuanya.

“apa yang bisa kita petik dari I.N.D.O.N.E.S.I.A? Itu yang ingin kulakukan.”

Lima bulan Lintang puasa bicara dan bertemu ayahnya karena dia bersikap kasar sewaktu memperkenalkan Narayana Lafebvre sebagai pacarnya. Nara sama seperti Lintang, anak dari percampuran darah Prancis dan Indonesia, bedanya dia bukan anak eksil. Tapi ketika dia mendengar kalau ayahnya jatuh sakit dia tidak tega dan ingin sekali bertemu dengan ayahnya sekaligus membicarakan rencananya ke Indonesia. Ayahnya mengatakan kalau mencari informasi tentang 1965 tidaklah mudah,tidaklah mudah membuka luka lama, apalagi dia adalah anak dari Dimas Suryo, seseorang yang dianggap dari ‘perzinahan politik’ dimana kesalahannya akan memanjang sampai ke anak cucu, sehingga Dimas membantu memberikan daftar nama yang bisa diwawancarainya nanti. Untuk visa ke Indonesia yang tidak pernah Dimas bisa dapatkan, yang tentu saja Lintang juga akan susah mendapatkannya, beruntung Nara mempunyai teman dari KBRI yang berpandangan terbuka, yang berpendapat sudah saatnya zaman berubah.

Di Indonesia, Lintang tinggal bersama Aji Suryo, adik Dimas yang selama ini menjadi informan tentang segala hal di Indonesia, baik tentang keluarganya maupun keluarga Hananto Prawiro. Lintang berencana melakukan riset selama sebulan, yang langsung ditanggapi sinis oleh Segara Alam. Orang-orang dalam daftar Lintang adalah orang-orang yang paling disorot pemerintah, siatuasi masih sangat berbahaya. Saat itu kondisi politik di Indonesia sedang ‘panas-panasnya’, sering terjadi demonstrasi karena kenaikan BBM dan issue KKN yang dilakukan Soeharto beserta kroni-kroninya, “sungguh sangat salah waktu dan salah tempat main turis-turisan di saat seperti ini” begitu kata Bimo, anak dari Nugraho, sahabat Alam sejak kecil yang juga rekan kerjanya di LSM Satu Bangsa.

Di dalam bahasa Prancis, secara harafiah tentu istilah un coup de foudre saja berarti halilintar atau petir. Tetapi jika dua pasang mata besirobak hingga membuat detak jantung berhenti, maka le coup de foundre berurusan dengan emosi (yang bisa membahayakan keseimbangan jagad): jatuh cinta pada pandangan pertama.

Lintang sudah mempunyai Nara sebagai payung besar yang melindunginya dari hujan dan badai. Tetapi. ketika dia bertemu pertama kali dengan Segara Alam, dia mendapatkan serangan halilintar, le coup de foundre. Bersama-sama, mereka meliput para korban malpraktek sejarah yang terjadi di masa lampau dan hiruk-pikuk kerusuhan Mei 1998, masa-masa runtuhnya kejayaan Soeharto.

578586_10200724389215973_484347245_n

dapet lirikan mb Leila S. Chudori ^^

Sebelum menggungkapkan apa yang saya dapat ketika membaca buku ini, saya akan bercerita sedikit tentang apa yang saya dapat ketika menghadiri reriungan bersaa Leila S. Chudori pada 2 Maret di Balai Soedjadmoko yang lalu. Mbak Leila bercerita kalau novel pertamanya ini mulai ditulis pada tahun 2006 dan selesai pada tahun 2012. Penulis yang mulai menulis pada usia 12 tahun ini sempat vakum selama dua puluh tahun dalam menerbitkan buku, setelah buku pertamanya; Malam Terakhir (diterbitkan pertama kali oleh Pustaka Utama Grafiti, 1989 dan diterbitkan ulang oleh Kepustakaan Populer Gramedia, 2009) beliau sibuk menjadi ibu dan wartawan Tempo, pada tahun 2009 barulah menerbitkan kumpulan cerpen lagi; 9 dari Nadira yang menjadi nominasi Khatulistiwa Literary Award pada tahun 2010, yang katanya akan ada lanjutannya. Semua novelnya bercerita tentang keluarga, topik yang paling disukainya. Bahkan tragedi 30 September dan Mei 1998 hanya melatar belakangi, melingkupinya, sama seperti unsur makanan, sastrawan dunia, lagu, film, buku yang akan sering kita temukan ketika membaca novel ini, beliau menyisipkan hal-hal yang disukainya ke dalam tulisannya. Intinya adalah tentang keluarga. Baliau membuat tokoh laki-laki yang tidak sempurna, yang tidak selesai dengan dirinya sendiri. Hananto Prawiro yang suka berpindah ranjang, Dimas Suryo yang galau akan kisah cintanya, Bimo yang lebih memilih berdiam diri ketika dirinya dihina dan di bully teman-temannya karena dia anak eksil, Alam yang sifatnya tidak beda jauh dari ayahnya, hanya saja dia susah berkomitmen, Rama yang lebih memilih membuang identitasnya. Hanya ada satu tokoh laki-laki yang selesai dengan dirinya sendiri, Aji Suryo, dia tahu apa yang akan ingin dia lakukan. Kebalikannya, tokoh perempuan di buku ini adalah sosok perempuan-perempuan yang kuat. Surti yang tetap berdiri tegak ketika suaminya menghilang dan diinterogasi habis-habisan akan keberadaannya, Vivienne yang mencoba menyelami hati Dimas dan memberikan penawar luka akan kerinduannya terhadap Indonesia, bahkan Andini yang tidak peduli kalau dia anak eksil, dia percaya kalau setiap orang diberi kemampuan untuk menyelesaikan dan mengatasi masalahnya. Ada sesi religius yang juga disisipkan, yaitu ketika Dimas menemui Amir, salah satu rekannya di Kantor Berita Nusantara yang mengalami penurunan jabatan karena dia dianggap disebelah kanan. Bang Amir membuat Dimas berpikir tentang spiritualisme, sesuatu yang lebih dalam dan mulia di dalam inti kemanusiaan. Berbincang tanpa embel-embel warna, cap, partai, aliran, atau kelompok. Dan ketika dia mendapat kabar kalau ibunya meninggal, dia sangat bersedih karena tidak bisa pulang, dia butuh berbicara, dia menulis surat kepada Bang Amir akan kekosongan hatinya. Beliau juga bercerita dalam proses pembuatan novel Pulang dia mewawancarai banyak tokoh, salah satunya adalah Pramoedya Antara Toer.  Empat Pilar Tanah Air juga terinspirasi dari kisah nyata; Bapak Umar Said (alm), Bapak Sobron Aidit (alm), Kusni Sulang, para eksil politik di Paris yang mendirikan Restoran Indonesia di Rue de Vaugirard, mereka mendirikan Restoran Indonesia adalah bentuk perlawanan, diskriminasi selama masa orde baru. Kisah mereka lebih rumit dan rute perjalanannya mereka tidak hanya Cile, Kuba, dan Cina. Bedanya adalah mereka membuat Restoran Indonesia dengan mendatangkan koki dari Indonesia sedangkan mbak Leila membuat karakter eksil politik yang bisa memasak, mencurahkan kerinduannya dengan memasak makanan Indonesia. Oh ya, ada lima adegan ‘hot’ di novel ini, bagian yang tidak sulit ditulis mbak Leila karena setiap hari dia dikerumuni teman-temannya yang mayoritas cowok, yang isi kepalanya tidak jauh dari seks. Kurang ah kalau hanya lima :p.

Itu adalah sebagian besar obrolan dalam reriungan kemaren, ada pertanyaan yang diajukan salah satu hadirin yang juga saya pertanyakan ketika membacanya, yaitu pada tahun 1998 apakah di Indonesia sudah ada handphone? Mbak Leila menjawab kalau sudah, karena beliau menggunakan handphone sejak tahun 1997. Lalu ada satu lagi pertanyaan ketika saya membaca novel ini, saya lupa ada di halaman berapa tapi saya mendapati Lintang mengucapkan kata ‘bacot’ padahal dia belum pernah ke Indonesia. Saya tahu dia sering mendengar tentang Indonesia dari orang-orang di sekitarnya tapi sewaktu dia di Indonesia, dia sering sekali mencatat kata-kata yang tidak ada di kamus Indonesia, seperti; nyokap, bokap, bokep, dll.

Untuk karakter tokohnya, tanggapan saya tidak jauh beda dengan yang di atas, hanya saja tokoh Dimas Suryo benar-benar menjadi magnet di buku ini. Tentu saja, cerita tidak akan terjadi bila dia tidak ada, dia adalah tokoh sentral, perwakilan ‘orang-orang yang tidak bisa pulang’, orang yang sebenarnya tidak memihak kiri atau kanan, orang yang senetral negara Swiss tapi pada saat itu apa pun pilihannya, orang-orang hanya memandang kedalam dua kubu tersebut. Yang paling membuat saya bersimpati padanya adalah ketika membaca bab Ekalaya, dalemmmmmm banget, saya ikutan nyesek waktu membacanya. Bahkan, saya sampai pengen baca kisah Mahabharata yang tebelnya bisa buat bantal itu. Betapa rindunya Dimas akan tanah air, rumah sesungguhnya dan pada cintanya yang tak sampai.

Semula aku mengira Ayah kagum karena Bima adalah perwakilan kelelakian. Tinggi, besar, dan protektif. Ternyata Ayah tertarik pada Bima karena kesetiannya pada Drupadi, satu-satunya perempuan yang menjadi isteri kakak beradik Pandawa. Pengabdian Bima pada Drupadi, bahkan melebihi cinta Yudhistira pada isterinya. Adalah Bima yang membela harkat Drupadi yang dihina Kurawa saat kalah permainan judi. “Hanya Bima yang menjaga Drupadi ketika dia diganggu oleh banyak lelaki saat Pandawa dibuang ke hutan selama 12 tahun.” kata Ayah menafsirkan dengan semangat.

Baru belakangan aku bisa memahami ada sesuatu dalam diri Ekalaya yang membuat Ayah mencoba bertahan. Ekalaya ditolak berguru oleh Dorna dan dia tetap mencoba ‘berguru’ dengan caranya sendiri. Hingga Dorna menghianati Ekalaya, sang ksatria tetap menyembah dan menyerahkan potongan jarinya. Ekalaya tahu, meski ditolak sebagai murid Dorna, dia tidak ditolak oleh dunia panahan. Sesungguhnya dialah pemanah terbaik sejagat raya, meski dalam Mahabharata Dorna tetap menggangkat Arjuna ke panggung sejarah hanya karena dia pilih kasih.

Bima adalah Dimas Suryo, Drupadi adalah Surti Anandari. Ekalaya adalah Dimas Suryo, dunia panahan adalah Indonesia.

Karakter favorit saya adalah Segara Alam, hehehe. Sama seperti Lintang, le coup de foundre, sejak pertama muncul saya sudah sangat jatuh cinta akan karakternya, yah walau dia mewarisi sifat penjahat kelamin ayahnya dan mudah marah, dia sangat menyayangi keluarganya, dia akan menyerah dari perbuatannya kalau sudah menyangkut menyusahkan orangtua. Dia sosok yang tegar, dia akan melawan bila dilawan. Berharap banget mbak Leila membuat novel romance yang tokohnya kayak Segara Alam :p. Ada bagian yang menurut saya romantis banget, yang membuat hati berdebar-debar😀

“Aku tak ingin berakhir seperti mereka, saling mencintai. Lantas kehilangan dan kini mereka hanya mengenang dan merenung dari jauh.”

“Mereka… siapa?”

“Mereka: ayahmu dan ibuku.”

“Aku yakin ibuku mencintai Bapak, seperti halnya ayahmu mencintai ibumu. tetapi Dimas dan Surti? Itu adalah dua nama yang mewakili kisah cinta yang hilang. Yang terputus.”

Kini Alam betul-betul dekat dengan wajahku. tetapi dia sengaja berhenti tepat di depan hidungku dan sama sekali tidak menyentuhku. Aku haya bisa merasakan nafasnya yang berbau mentol yang membuat darahku melonjak-lonjak, “Aku tak ingin seperti mereka. Aku tahu yang kuinginkan. Dan itu kutemukan setelah berusia 33 tahun.”

525335_10200724384455854_196356541_n

koleksi buku bertanda tanganku bertambah ^^

Alurnya flashback, bahkan sering meloncat-loncat dari masa sekarang kembali ke masa lalu, begitu sebaliknya. Tapi tidak usah binggung karena ada bulan dan tahun yang membedakan. Saya jadi teringat perkataan mbak Sanie B. Kuncoro ketika dia berbicara tentang karya mbak Leila. Beliau bilang mbak Leila sangat detail, terlebih dalam menciptakan karakter tokohnya. Tidak ada tokoh yang tidak penting di bukunya, semua tokoh yang dibuat merekatkan puzzle satu dengan yang lainnya. Lalu saya pun memikirkannya, dan benar, semua tokoh yang dibuat mbak Leila penting, semua punya porsi masing-masing. Saya ingat adegan dalam prolog ketika Hananto ingin melihat pukul berapa dia ditanggap lalu teringat arloji yang sering dipakainya sudah diberikan kepada Dimas, bertahun-tahun kemudian, ketika Lintang akan ke Indonesia, dia menyerahkan arloji tersebut ke Lintang untuk diserahkan kembali kepada Alam. Seperti itu, kayaknya sepele tapi belakangan sangat bermakna.

Sudut pandangnya pun campur aduk, kebanyakan orang pertama dan ada juga orang ketiga. Ini juga sangat menarik. Pada bagian Dimas Suryo kita akan mendapatkan sebuah cerita yang belum tuntas, kemudian pada bagian Lintang Utara atau Segara Alam kita akan mendapatkan jawabannya. Contohnya ketika Dimas Suryo selalu meletakkan setoples cengkih dan kunyit di rumahnya, tidak hanya mengobati kangennya akan Indonesia. Kunyit juga simbol sebuah cinta yang hilang, yang intens dan tak pernah terwujud, menginggatkannya akan Surti, bagian itu ada di bab Segara Alam.

Untuk cover dan ilustrasinya, jangan ditanya, keren banget. Salut sama Daniel “Timbul” Cahya Krisna, walau saya tidak mengerti semua ilustrasi di dalam buku ini (yang sangat mudah ditebak adalah ilustrasi di bab Empat Pilar Tanah Air, ada empat bendera merah putih dan ada menara Eiffel) saya yakin semuanya mewakili isi dari buku ini. Tulisannya saya rasa pas, tidak terlalu kekecilan atau kebesaran, sayangnya masih ada beberapa typo.

Saya baru pertama kali ini membaca hisfic yang menganggkat tema Gerakan 30 September, sebelumnya ada Amba karya Laksmi Pamutjak yang bertemakan sama tapi buku tersebut lebih bercerita tentang Pulau Buru sedangkan novel ini bercerita tentang orang yang tidak bisa pulang. Saya sangat menyukai gaya berceritanya Leila S. Chudori, tidak terasa berat walau tema yang diangkat cukup berat. Tidak ada kata-kata atau kalimat yang butuh dicerna lebih dalam, puitis tapi tidak hiperbolis. Sederhana tapi bermakna.

Pulang adalah sebuah drama keluarga, persahabatan, cinta dan pengkhianatan berlatar belakang tiga peristiwa bersejarah: Indonesia 30 September 1965, Prancis Mei 1968, dan Indonesia Mei 1998.

Mengutip tagline yang ada di belakang sampul buku, yang sangat menggambarkan isi buku ini. Kita akan ikut merasakan bagaimana rasanya ingin pulang ke rumah yang sebenarnya, yang walaupun sudah memiliki keluarga baru, rumah baru itu tidaklah cukup, hatinya tetap berada di tanah kelahirannya. Persahabatan empat pilar tanah air yang terusir dari rumahnya sendiri dan harus memulai kehidupan baru di negara yang asing, cinta yang terpendam, cinta yang bertepuk sebelah tangan. Dan peristiwa yang sangat bersejarah di Indonesia, jujur saja, saya sudah lupa tentang pelajaran yang membahas Gerakan 30 September, bahkan pada peristiwa Mei 1998 ingatan saya kabur, kalau tidak salah waktu itu saya masih kelas tiga atau empat SD, yang tidak terlalu memikirkan masalah orang dewasa, yang saya ingat hanya tembok yang penuh dengan coretan. Membaca buku ini tidak hanya mendapatkan sebuah cerita romantis nan tragis tapi menginggatkan kita kembali akan sejarah berdarah yang pernah terjadi di Indonesia.

Buku ini saya rekomendasikan bagi siapa saja yang ingin lebih mengenal sejarah Indonesia, mengenal perjuangan orang-orang yang terusir dari tanah kelahirannya.

5 sayap untuk Empat Pilar Tanah Air

*posting bareng BBI kategori klasik kontemporer*

13 thoughts on “Pulang

  1. Ping-balik: Wishful Wednesday [19] | Kutu Bokek

  2. Ping-balik: Bacaan Bulan Maret 2013 | Kutu Bokek

  3. Ping-balik: Malam Terakhir | Kutu Bokek

  4. Ping-balik: 9 dari Nadira | Kutu Bokek

  5. Ah Sulis.. Jadi pengen baca. Itu ada bahas Mahabarata pula. Kagak ngerti sapa tuh Drupadi, Arjua, Ekalaya, dsb. Heehehehe..

    Romance-nya kuat gak, Lis?

  6. aku udah coba baca buku ini, tapi baru sampe di babnya dimas doang, tpi kayaknya drama romancenya lumayan banyak juga ya…hihihihi…tp itu ttd mba leila bener2 bikin iri deh sulis🙂

  7. huaaaa fotonya keren deeeeh🙂 buku ini masih ada di timbunan hehehe…aku baca reviewmu skip2 soalnya pengen baca bukunya dulu…jadi penasaraaannnn

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s