Malam Terakhir

7252844

Malam Terakhir

Penulis: Leila S. Chudori

Perancang sampul: Wendie Artswenda

Ilustrator sampul: Maryanto

Penerbit: Kepustakaan Populer Graedia (KPG)

ISBN: 978-979-91-0215-7

Cetakan pertama, November 2009

117 halaman

Harga: 20k (titip Bang @tezarnet di Gramedia Semarang)

Sejak membaca Pulang, saya sudah mentasbihkan kalau Leila S. Chudori adalah salah satu penulis favorit saya tahun ini. Saya sangat terpesona dengan cerita yang dia buat. Pulang mudah saya terima walau memiliki tema yang berat, berbeda dengan buku yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1989 ini, tepat sebelum Leila menjadi wartawan Tempo, ada beberapa cerpen yang perlu saya baca berulang-ulang agar mengerti maksudnya. Berikut kesembilan cerpen yang ada di buku Malam Terakhir:

1. Paris, Juni 1988

Cerpen ini salah satu yang tidak saya mengerti, kalau membaca bagian akhir kira-kira intinya adalah tentang kebebasan. Seorang laki-laki yang terjebak oleh khayalan yang dibuatnya.

Janou tak bisa menguasai Jean-Gilles; dia tak bisa menguasai gairahku; isi hatiku yang paling dalam. janou menyadari, jika dia bercinta denganku, dia hanya bercinta dengan tubuhku…,kamu tahu…” Marc tiba-tiba memegang dada sang gadis, “Ada sesuatu dalam hati, satu sekat ruang yang tak bisa dimiliki siapa-siapa barang seusapanpun?”

2. Adila

Adila adalah seorang anak yang tak dibatasi oleh konvensi. Ia bisa melakukan apa saja menembus garis-garis ruang dan waktu. Ia hidup tanpa pagar.

Memiliki ibu yang otoriter, selalu menginginkan kesempurnaan tapi sayangnya dia tidak memberikan perhatian yang lebih kepada anaknya membuat si anak merasa terpenjara, merasa apa yang selalu dilakukannya selalu salah. Lalu si anak menciptakan teman khayalannya sendiri, Ursula -salah satu tokoh dalam novel The Rainbow karya D.H Lawrence, Bapak Neill -pendiri sekolah Summerhill, dan Stephen Dedalus, mengajarkan Dila apa arti kebebasan.

3. Air Suci Sita

“Sayang, engkau ternyata seorang perempuan yang teguh dan kukuh. Sedangkan aku hanyalah lelaki biasa,” tunangannya mengusap pipi perempuan itu dengan mata yang berkaca-kaca. “Engkau begitu tegap, mandiri, dan mempertahankan kesucianmu seperti yang diwajibkan oleh masyarakat; sedangkan aku adalah lelaki lemah, payah, manja, tak bisa menahan diri. Kami. para lelaki, dimanjakan dengan apa yang dianggap kodrat, kami diberi permisi seluas-luasnya. Kalau kau yang berkhianat, pastilah kau dianggap nista. Tetapi jika aku yang berkhianat, maka itu dianggap biasa…”

Jadi, kalau lelaki boleh selingkuh perempuan nggak boleh? Enak bener.

4. Sehelai Kain Hitam

“Salikha, setiap kali aku tampil di tempat umum, aku harus mengenakan baju berwarna putih. Mereka menginginkan aku berwarna putih. Seputih tulisan-tulisanku. Mereka menolak melihat bahwa di antara warna putih, ada noda, ada titik-titik kotor… Mereka tak ingin melihat aku sebagai manusia biasa.”

Cerpen kedua yang cukup sulit saya pahami. Kira-kira artinya adalah seseorang yang berpura-pura sempurna di mata orang lain. Cerita ini juga berbau religius.

“Tidak… Kau banar. Aku lemah. Pengecut. Aku telah terbentuk, secara tidak kusadari, oleh masyarakat. Aku didekte oleh masyarakat untuk berbicara dan menulis apa yang ingin mereka baca dan dengar. Mereka terlanjur melihatku sebagai sebuah sosok, tokoh, idola, atau sebutan apapun yang memberikan beban luar biasa. Mereka menyangka aku yang memiliki kekuasaan untuk mengangkat taganku dan mengerakkan mereka untuk melakukan sesuatu. Tapi, sebetulnya, merekalah yang telah begitu berkuasa memerintahkan alu untuk mengenakan pakaian putih, tanpa boleh meletakkan benang-benang hitam, tanpa boleh ada noda… Tidak. Aku tak menyalahkan siapa-siapa. Dengan sadar, kupilih jalan ini.”

5. Untuk Bapak

“Srikandi dan Arjuna mengepung Bhisma, dan dengan tenang dia berdiri karena dia sudah memilih hari akhirnya. Panah-panah Srikandi kemudian menusuk tubuhnya beruntun, Tap! Tap! Tap! Bhisma runtuh tetapi badannya tidak menyentuh tanah, karena rangkaian panah itu menyangga tubuhnya, Hingga perang Bharatayudha berakhir, Pak, ia tetap hidup sambil menatap langit…”

Cerita favoritku! Salah satu yang saya sukai dari tulisan mbak Leila adalah dia selalu menyisipkan cerita Mahabharata. Kali ini bercerita tentang cinta seorang anak kepada Bapaknya, yang mengganggap Bapaknya seperti Bhisma, laki-laki yang selama hidupnya dikenal sangat setia pada sumpahnya.

“Anakku, panah-panah Bhisma itu sudah menjadi urat nadi Bapak. Tapi kamu tetap menjadi jantungku,” demikian kau menulis pada ulangtahunku yang ke-15.

Hiks.

6. Keats

Cerita ketiga yang saya baca berulang-ulang, maaf saja saya tidak punya otak prima, adanya otah bulat jadi yah perlu tenaga ektra untruk memahami bahasa yang penuh metafora :p. Intinya adalah sebuah keluarga yang tidak menyetujui pilihan hidupseseorang lalu mereka menjodohkan dengan orang yang terlihat sempurna, padahal belum tentu dalamnya sebaik tampilan luar. Tami mencurahkan semua perasaannya itu pada John Keats, penyair Inggris awal abad ke-19 yang terkenal dengan sajak “Tentang Mati”. Btw, John Keats ini merupakan salah satu penyair favorit mbak Leila, semua bukunya selalu ada cuplikan sajak tentang kematian ini.

7. Ilona

Tentang pernikahan. Gagalnya pernikahan orangtuanya, membuat Ona dia tidak percaya pada pernikahan.

“Rasa sepi itu selalu menyerang setiap orang yang menikah maupun yang tidak menikah. Barangkali rasa sepi akan terasa lebih perih bagi mereka yang mengalami kegagalan dalam perkawinan. Mereka terbiasa berbagi, lalu mereka terpaksa menjadi sendiri.”

8.Sepasang Mata Menatap Rain

Seorang anak kecil dengan rasa ingin tahu yang besar, Rain namanya, dia melihat bukti nyata dari kelaparan dan peperangan di Burundi ketika tak sengaja ikut menonton majalah yang dibaca ibunya. Tak lama setelah itu, dia melihat bukti nyata di depan matanya, bukti nyata seorang pengamen yang nasibnya tidak jauh berbeda dari korban perang dan kelaparan. Kritik sosial sangat kental di cerpen ini, terlebih teguran untuk para orangtua agar memberi penjelasan apa pun dan jujur dalam segala hal kepada anaknya, bahwa di luar sana banyak orang yang masih menderita. FYI, anak mbak Leila S. Chudori juga bernama Rain, entah terispirasi oleh anaknya atau bukan, cerpen ini sungguh bagus, terasa nyata.

9. Malam Terakhir

Tentang ketidakadilan dan kekuasaan, dan seorang gadis melihat ketidakadilan tersebut dilakukan oleh ayahnya sendiri yang penuh kuasa di pemerintahan.

“Ulat-ulat kecil…,” isak si Kurus tiba-tiba, “akan hancur diinjak sepatu bergerigi itu. Tapi, ulat kecil itu akrab berdekapan dengan tanah. Dan mereka akan menyuburkan bumi ini dengan udara kebenaran.”

8417548

cover tahun 1989, gambarnya mewakili cerpen 1989

Ada banyak tema yang bisa diambil dari kesembilan cerpen di atas, tentang feminisme, kebebasan, tentang komitmen, pernikahan, issue sosial dan politik, ketidakadilan, kasih sayang kepada orang tua, tentang kehilangan, kepura-puraan, bahkan ada yang berbau religius. Untuk gaya bahasanya, di buku ini banyak mengunakan metafora, seperti di cerpen Adila dimana dia mempunyai fantasy berteman dengan orang-orang yang terkenal akan kebebasannya, cerpen Keats yang terasa aura suramnya karena adanyanya burung gagak dan John Keats yang berdialog dengan Tami, di cerpen Malam Terakhir ada seorang tahanan wanita yang alat vitalnya digerogoti oleh tikus, seperti itu. Buat saya yang pemula dalam membaca buku sastra, saya harus mencernanya pelan-pelan bahkan membacanya berulang-ulang untuk mengerti maksud sebenarnya. Memang sedikit berbeda dengan Pulang yang gaya bahasanya lebih ‘apa adanya’, tidak banyak bahasa metafora sehingga lebih mudah saya terima.

Untuk tokoh favorit saya sebenarnya suka Marc, dia menginggatkan saya akan Segara Alam (salah satu tokoh di Pulang), persetan dengan kegilaannya dia terlihat keren dengan goresan yang dihasilkannya. Sedangkan untuk tokoh perempuan, saya suka Ilona, dia wanita yang kuat, tahu apa yang dia mau meskipun bertentangan dengan moral dan agama, yang penting dia bahagia menurut versinya.

17729972

cover tahun 2012, gambarnya mewakili cerpen Adila

Covernya suka, hanya saja saya tidak tahu gambar di cover tahun 2009 mewakili cerpen apa, berbeda dengan dua cover pertama dan terbaru sangat jelas terlihat. Minim typo dan fontnya juga sedang, tidak mengganggu ketika kita membacanya. Buku ini tidak ada ilustrasi seperti di novel Pulang atau kumcer 9 dari Nadira, cukup disayangkan, walaupun kadang susah dimengerti, ilustrasi yang ada di tiap bab mewakili isi ceritanya, membuat kemasannya semakin menarik. Buku ini juga mengalami seleksi dari edisi lama, dipilih beberapa cerita pendek yang mewakili penulis dan zamannya, gaya sederhana yang memiliki kompleksitas cerita. Sayangnya tida disebutkan berapa jumlah cerpen di edisi pertama yang diterbitkan oleh Pustaka Utama Graffiti. Setelah membaca ketiga bukunya saya tidak menemukan perubahan besar dalam gaya tulisan mbak Leila, setelah dua puluh tahun vakum menerbitkan buku, di buku terbarunya saya masih mendapati sajak kematiannya John Keats, salah satu penyair favoritnya, tokoh-tokoh dalam Mahabharata, ruang-ruang pribadi bagi tokoh perempuannya, tema keluarga yang selalu diangkat ke dalam ceritanya, mungkin di buku terbarunya, Pulang, saya merasa lebih cocok karena bahasanya yang lebih ringan tanpa mengindahkan tema berat di dalamnya.

Buku ini saya rekomentasikan buat pecinta sastra indonesia, khususnya bagi pemula seperti saya😀

3 sayap untuk yang ditabrak malam.

6 thoughts on “Malam Terakhir

  1. Susah cari buku ini, sejak baca 9 dari nadira udah pengen punya/baca buku Malam Terakhir. Tapi pas baca reviewmu, kayaknya gaya bahasanya lebih “berat” dari 9 dari nadira

  2. Ping-balik: 9 dari Nadira | Kutu Bokek

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s