The Calligrapher’s Daughter

15789948

The Calligrapher’s Daughter

Penulis: Eugenia Kim

Penerjemah: Gema Mawardi

Cover: Jeffri Fernando

Penerbit: Gagasmedia

ISBN: 979-780-549-2

Cetakan pertama, 2012

602 halaman

pinjem mbak @sinta_nisfuanna

Sinopsis:

Pada abad kedua puluh di Korea, Najin Han, putri seorang kaligrafer, merindukan hak untuk menentukan pilihan atas nasib sendiri. Sadar putrinya seorang yang cerdas dan keras kepala, sang ibu membebaskan dirinya untuk mencari jati diri, namun sang ayah sangat keras dan teguh memegang tradisi. Terlebih, ada ancaman dari Jepang yang sedang berusaha mengontrol pemerintahan Negeri Gingseng tersebut.

Namun, ketika ayah Najin Han berusaha menikahkan putrinya dengan laki-laki dari keluarga bangsawan, ibunya malah menentang dan menyuruh Najin Han melayani di istana raja sebagai pendamping bagi seorang putri muda.

Sayangnya, tak lama kemudian kaisar Korea mati terbunuh. Budaya monarki yang berabad-abad dipelihara pun akhirnya menemui ajal bersama pimpinan tertinggi negeri itu. Dalam situasi yang serba tidak pasti, Najin Han memulai perjalanan hidupnya sendiri. Dia memutuskan untuk melanjutkan pendidikan -dan menemukan cinta du tengah perjalanan yang panjang itu…

***

Ini adalah pertama kalinya saya membaca Historical Fiction Korea, yang cukup jarang dilirik penerbit kecuali komedi romantis atau drama adaptasi televisi yang tahun lalu bahkan sampai sekarang masih marak di toko buku. Jujur saja saya lama-lama bosan dengan buku-buku yang berbau Korea tersebut, seperti tidak ada hal yang baru lagi karena sebagian besar tema ceritanya mirip bahkan karakter tokohnya satu buku dengan buku yang lain sama juga. Saya tertarik dengan buku ini karena tema ceritanya lain dari yang pernah ada dan juga menginggatkan saya akan drama kolosal Korea yang saya suka banget nget nget, Jewel In The Palace. Walau saya tahu ceritanya berbeda, kalau Jewel In The Palace tokoh utamanya adalah seorang wanita yang awalnya seorang koki istana akhirnya menjadi tabib perempuan pertama di Korea sedangkan di buku ini perjuangan seorang anak perempuan demi maraih pendidikan, kesamaannya adalah mereka sama-sama perempuan yang kuat, perempuan yang berjuang keras demi meraih impiannya.

Bersetting pada abad kedua puluh, tahun 1915-1945, masa ketika Korea dijajah Jepang sampai mendapatkan kemerdekaan. Kisah ini diceritakan dari sudut pandang orang pertama, Najin Han, putri seorang seniman sarjana sastra, sang Kaligrafer Han yang sangat dihormati. Sarjana Han sangat ingin mempunyai seorang putra, seorang yang nantinya bisa mewarisi kekayaan dan mengikuti tradisi yang ada, sayangnya beberapa kali ibu Najin, Haejung keguguran, hanya Najin yang bertahan. Waktu kecil Haejung mempunyai impian memperoleh pendidikan seperti saudara laki-lakinya, yang tentu saja tradisi jaman dulu pendidikan hanya untuk laki-laki. Haejung senang ketika mendengar akan dibuka sekolah perempuan, sekolah Jepang. tidak mudah membujuk suaminya agar Najin Han dapat menempuh ilmu terlebih sekolah itu dibuat oleh orang Jepang, baginya tugas perempuan adalah di rumah bukan sekolah. Tapi Haejung memiliki tekat yang kuat, dia berusaha agar anak satu-satunya memperoleh pendidikan, dan berhasil.

Ayah mengatur beberapa perjodohan, anak laki-laki tertua berdoa agar diselamatkan dari dosa terbesar, yaitu tak memiliki keturunan laki–laki. Para istri berdoa agar memiliki putra untuk membuktikan dan menunjukkan kelayakan mereka. Lalu, anak perempuan, sepertiku, belajar tiga hukum penting dalam hidup seorang perempuan: patuhi ayahmu, patuhi suamimu dan patuhi anak lelakimu.

Najin akhirnya memiliki seorang adik laki-laki, Ilsun namanya. Tentu saja hal itu sangat membuat semua keluarganya bahagia, terlebih ayahnya. Ilsun langsung menjadi anak kesayangan ayahnya, dia terlalu dimanja, bahkan Najin juga suka memanjakannya. Kedekatan Najin dan Ilsun tidak terlalu disukai ayahnya, dia merasa Najin berpengaruh buruk pada adik laki-lakinya, ayahnya merasa Najin sulit diatur, tingkah lakunya kasar sehingga lebih baik menikahkannya saja. Perihal perjodohan ini tidak dirundingkan dulu dengan istrinya sehingga membuat Haejung marah besar, bahkan pertama kalinya dia manentang suaminya, dia pun tanpa meminta persetujuan sarjana Han mengirim surat kepada sepupunya di Seoul agar menerima Najin di kerajaan, melayani Yang Mulia Tuan Putri.

Kedekatan Najin dengan Putri Deokhye tidak lama karena Jepang dengan mudah menguasai Korea. Najin kembali ke kampung halaman. Najin juga berkesempatan melanjutkan pendidikannya di Ewha, mengumpulkan uang dari hasil mengajarnya yang sebagian besar dia gunakan untuk membantu sekolah Ilsun dan menutupi perbuatan bodohnya. Karena selalu di manja, Ilsun menjadi pemuda seenaknya sendiri, tanpa sepengetahuan orang tuanya dia sering melakukan taruhan dan kalah. Karena rasa sayangnya Najin pun terpaksa menutupinya. Najin juga berkenalan dengan seorang laki-laki yang dikenalkan oleh tetangganya, Hansu. Laki-lai itu adalah putra seorang pendeta, Calvin Cho yang juga mengikuti profesi ayahnya. Berbeda dengan perjodohan pertamanya, kali ini Najin sadar kalau sudah waktunya dia berkeluarga sehingga dia tidak menolak ketika dijodohkan lagi.

Kisah Najin Han tidak berhenti sampai di situ, bahkan setelah menikah pun dia tidak pernah berhenti berjuang. Berjuang melawan rindu katika tidak lama setelah menikah dia harus ditinggal suaminya belajar keluar negeri yang lama kelamaan tanpa kabar, menghadapi mertuanya, menghadapi ayahnya ditangkap bahkan nantinya dia juga merasakan hal tersebut, menghadapi adiknya yang semakin dewasa semakin mengecewakan ayahnya. Najin Han dengan tegar menhadapi semua permasalahan tersebut, dia sejak kecil ditempa oleh ibunya agar menjadi wanita yang kuat.

Buku ini bagus, mengambarkan kehidupan wanita yang pada masanya tidak memiliki hak untuk berpendidikan, tugasnya adalah patuh pada suami dan mengurus rumah. Sayangnya saya kurang merasakan bagaimana Najin Han menuntut ilmu, lebih ke sejarah hidupnya yang diwarnai dengan bangsa Jepang yang mulai mengontrol politik negeri gingseng tersebut, masa-masa ketika Jepang mengalami depresi sehingga rakyat Korea sulit mendapatkan pekerjaan karena semua dikontrol oleh Jepang, bahkan tanah dan semua harta keluarga Han ikut di sita yang menyebabkan Najin berusaha keras menghidupi keluarganya, dia tidak bisa mengandalkan adiknya karena dia mengurus diri sendiri saja susah. Bagian dia menuntut ilmu yang saya rasa tema utamanya malah tidak menonjol. Kisah cintanya tidak banyak dijelaskan justru sejarahnya sangat kental sekali, mungkin itu juga yang membuat saya sedikit bosan ketika membacanya :p

Tokoh favorit saya dibuku ini adalah Haejung, ibu Najin Han. Dia benar-benar sosok wanita yang kuat. Dia tidak ingin apa yang pernah dialaminya juga bakal dirasakan anaknya, tidak punya kesempatan mendapatkan pendidikan. Sehingga ketika ada peluang sedikit dia tidak menyia-nyiakannya bahkan dia rela menghiananti suaminya demi membuat anaknya merasakan bangku sekolah, dia juga mengajari semua hal tentang bagaimana menjadi seorang perempuan. Haejung sangat berpikiran maju, dia berpendapat bukan jamannya lagi perempuan bodoh, perempuan juga berhak mendapatkan pendidikan seperti laki-laki dan usahanya agar Najin bisa bersekolah sungguh pantas diacungin jempol. Dia melanggar prinsipnya untuk selalu patuh dan menghormati suaminya demi menyekolahkan anak perempuannya. Kehebatannya juga terlihat ketika melahirkan Ilsun.

Quote favorit saya:

Menyimpan rahasia itu salah dan tak perlu merasa khawatir tentang hal-hal yang tak kau pahami atau yang terkesan aneh. Terkadang, bertanya adalah cara terbaik untuk belajar.

“Laki-laki membutuhkan air untuk hidup, tetapi mereka tak bisa bergerak seperti air. Perempuan seperti air yang mengalir, menghidupi dan menjelajah dan berada di bawah kedua kaki laki-laki yang menancap dengan mantap di tanah. Kita cair. Dan, dari kitalah mereka muncul, minum dan tumbuh. Dan jadi,” kata Ibu sambil mengusap rambutku yang mencuat liar dari kepangan dan sirkam perunggu. “Ketika ayahmu terlihat kasar, aku ingin kau menginggat hal ini. Perempuan dianugerahi secara istimewa dengan cara yang tak pernah dipahami laki-laki. Jagalah kasih Tuhan di dalam hatimu dan ingatlah hal ini selalu.”

6400109Terjemahannya bagus, tidak ada kalimat yang sulit dimengerti dan minim typo. Jangan khawatir dengan genrenya yang sedikit berat, buat yang sering migrain baca sejarah apalagi yang dibalut kisah perjalanan hidup seorang wanita Korea seperti buku ini, tenanggg, di belakangnya ada catatan sejarah yang akan mempermudah kita memahami isi cerita, selain itu juga ada daftar istilah, bahasa Korea yang sedikit banyak berseliweran di buku ini jadi bisa sekalian belajar bahasa asing juga, bahasa Korea yang sering digunakan di kehidupan sehari-hari, seperti panggilan ayah, ibu, kakak perempuan, dsb. Untuk covernya saya lebih suka versi terjemahannya, lebih mengambarkan seni yang dikuasai keluarga Han, kaligrafer.

The Calligrapher’s Daughter adalah novel pertama dari Eugina Kim, putri dari imigran Korea yang datang ke Amerika tidak lama setelah perang pasifik. Walau baru pertama menulis novel buku ini langsung menyabet penghargaan Borders Original Voices Award for Fiction (2009), A Best Book of 2009, The Washington Post, Shortlisted for the 2010 Dayton Literary Peace Prize in Fiction.

Untuk lebih lengkapnya silahkan kunjungi http://www.thecalligraphersdaughter.com

NB: Posting bareng BBI kategori penulis Asia

18 thoughts on “The Calligrapher’s Daughter

  1. rata2 sastra asia memang menitikberatkan pada perjuangan perempuan supaya bisa sederajat dengan laki2 ya…kayaknya bagus ceritanya lis. dan iya, aku lebih suka cover terjemahannya juga🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s