Morning Brew

Seandainya kita bisa tahu dia memang ditakdirkan untuk kita. Seandainya ada jaminan cinta yang kita punya tidak akan membuat kita pecah berkeping-keping, Seandainya soal jodoh ada di tangan kita. Sayangnya, dalam hidup tak ada yang pasti.
Soal cinta apalagi.
Karenanya ketika Boy, pacar tujuh tahunnya Reney, tiba-tiba bilang putus, Reney seperti dibuang ke lubang tanpa dasar dan tidak yakin bisa keluar lagi dari kegelapan di dalamnya.
Tapi apa iya?
Yuk, mampir ke dunia Morning Brew. Reney, Danny, dan Ivana dengan senang hati siap menemani dengan cerita dan segelas kopi hangat plus semangkuk soup of the day yang akan bikin kamu ketagihan!
***
“Matahari dan bulan memang ada di alam yang beda. Tapi, keduanya punya tempat di langit yang sama.”
Buku ini adalah buku move on, bagi yang susah melupakan mantan kalian sama dengan Reney.
Reney senang ketika Boy mendapatkan beasiswa ke Inggris, dia berharap Boy akan melamar dan mengajaknya juga, tapi Boy malah memutuskannya, pacar hampir delapan tahunnya itu tega meninggalkannya. Susah bagi Reney untuk move on, mereka tidak lama pacaran dan semua begitu membekas. Danny dan Ivana, sahabatnya sekaligus teman kerjanya di Morning Brew selalu mendukung dan menghiburnya, menyuruh Reney untuk mencari pacar baru, di mulai dari pelanggan Morning Brew. Tapi yang namanya mantan tetap saja susah dilupakan. tapi Reney ingin bangkit, dia pun membuka pintu asmaranya kepada Roni, pelanggan setia Morning Brew sekaligus sahabat Boy. Sebenarnya pilihan yang salah karena Roni malah menginggatkannya kepada Boy, di tambah penampilan Roni dan tempat-tempat yang mereka kunjungi selalu sama dengan ketika masih berpacaran dengan Boy. Reney ingin melupakan Boy, bukan malah mendapatkan duplikatnya.
Kemudian ada Indi, teknisi sebuah kafe kecil bernama Bubble House, bukan makanan dan minuman yang menjadi menu utama tetapi koneksi nirkabel yang gratis dan cepat yang menjadi magnet tempat itu. Petemuan pertama berlangsung ketika Danny dan Ivana mengajak ke tempat itu, menyuruh Reney membuat facebook sekaligus mencari jodoh. Ketemu, tapi bukan lewat facebook, lewat ke-eror-an salah satu komputer di Buble House sehingga Reney bertemu dengan indi. Indi orangnya asik, riang, membawa suasana ceria kepada Reney, sayangnya Reney tidak nyaman dengan teman-teman Indi yang komputer freak, kadang tidak nyambung dengan obrolan mereka, Indi juga sering banget bersama mereka, dan itu membuat Reney semakin tidak nyaman. Mereka lebih baik cocok temenan.
Lalu ada Ari yang ganteng, sayangnya dia sedikit posesif, manja, dan kadang kalau keinginannya nggak dipenuhin dia bakalan ngambek, yak, childis banget. Parahnya, cowok yang kelihatan alim banget itu ternyata punya selingkuhan.
Begitulah kehidupan Reney setelah ditinggal Boy, ada yang datang ada yang pergi, Boy tetap ada di kenangan Reney. Waktu sedikit demi sedikit menyembuhkan luka, dari hubungan yang dibinanya dengan orang setelah Boy juga membuat Reney semakin dewasa, semakin sadar, semakin memperhatikan sahabat-sahabatnya, karirnya.
Lalu bagaimana ketika Boy datang kembali?
Buku ini nyantai banget, ceritanya mengalir lancar, kadang penulis menyisipkan intermezo yang berkaitan dengan Morning Brew, contohnya resep makanan. Kita dibawa ke perubahan hati Reney sedikit demi sedikit, bagaimana cara dia untuk melupakan Boy, prosesnya. Ceritanya tidak klise, bahkan mungkin pernah ada yang mengalami hal serupa dengan Reney, berusaha bangkit dari kenangan mantan pacar. Minim typo, nggak terlalu suka sama covernya tapi ceritanya ringan dan terasa familier, jadi akan nikmat ketika membacanya dengan secangkir kopi hangat.
“Ibarat tulisan, Ren, semua kalimat yang lo tulis harus ada titiknya untuk bisa lo lanjutkan ke kalimat berikutnya. Buat gue patah hati juga seperti itu. Selesaikan dengan titik. Ucapkan selamat tinggal dari hati. Lalu berikan maaf pada dia dan pada diri lo sendiri. Pada akhirnya, rasa ikhlas itu akan datang dengan sendirinya seiring waktu.”
“Tubuh kita pohon dan hati adalah buahnya. Manakala buah itu jatuh, rusak, tersayat, tergores, pecah berkeping-keping, hancur, dan debunya hangus menjadi asap, dia akan tumbuh lagi. Lebih indah dan lebih kuat. Asalkan kita merawatnya, senantiasa memberi pupuk dan perhatian dengan penuh kasih sayang.” 
3 sayap untuk mantan.
Morning Brew
Penulis: Nina Addison
Editor: Hariska
Cover: Eduard Iwan Mangopang
Penerbit: Gramedia
ISBN: 978-979-22-7567-4
Cetakan pertama, September 2011
223 halaman. 
Iklan

4 thoughts on “Morning Brew

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s