Rumah Coklat

Rumah_coklat

Resensi buku ini dibuat dalam rangka ikut berpartisipasi dalam Lomba Resensi Buku ReadingWalk.com

 

Akhirnya, terbit juga buku baru dari mbak Arie, walau sampai sekarang saya masih menunggu kelanjutan seri Hanafiah, tak apalah itung-itung melepas kangen, karena ciri khas mbak Arie adalah semua tokoh yang ada dalam bukunya mempunyai benang merah.Saya adalah penggemar berat tulisan mbak Arie, hampir semua bukunya saya punya, kecuali yang satu cerpen nyungsep di buku kompilasi seperti Dari Datuk Sampai Sakura Emas dan terbitan nulis buku, nyesel dulu ga beli sekarang nyarinya susah 😦

Kali ini, penulis hadir dengan genre terbaru MomLit, novel yang menyajikankisah-kisah yang dialami oleh para ibu sebagai sosok ibu, istri, wanita karier, ibu rumah tangga, atau kesemuanya. Selain sebagai tempat berbagi pengelaman dalam pengasuhan anakdan menjalani kehidupan berumah tangga, kisah-kisah dalam MomLit akan membuat anda tertawa, terharu, dan terinspirasi secara bersamaa, begitulah yang tertulis dalam buku ini tentang pengertian MomLit :D.

Mungkin buku ini juga menjadi ajang curhat penulis kali ya, hehehe, menginggat setelah berkeluarga dan mempunyai dua orang anak kesibukan penulis untuk menulis sangat terbatas, bagaimanapun anak adalah prioritas, jadi maklumlah kalau lama banget buku barunya terbit.

Sinopsis Back Cover

JADI IBU MUDA DI JAKARTA TIDAK MUDAH!

Hannah Andhito adalah tipikal perempuan masa kini di kota besar; bekerja di perusahaan multinasional, mengikuti tren fashion dan gaya hidup terkini sambil berusaha menabung untuk keluarga kecilnya, sangat menyukai melukis dengan cat air (yang ternyata baru ia sadari ini adalah passion-nya!), memiliki suami yang tampan dan family-oriented, sahabat SMA yang masih in touch, serta si kecil Razsya yang usianya jalan 2 tahun.

Sempurna? Awalnya Hannah merasa begitu sampai Razsya bergumam bahwa ia menyayangi pengasuh yang sehari-hari selalu bersamanya. Perjalanan Hannah menemukan makna menjadi seorang ibu yang sesungguhnya dimulai sejak momen itu.

 

My Review

Saya pernah mengalami hal semacam itu, mungkin lebih tepatnya adalah adik saya. Dulu semasa kecil adik ‘diasuh’ oleh orang lain karena ibu saya bekerja, menjadikannya lebih dekat dengan pengasuh, yang dicari-cari bukan ibu saya, tapi si pengasuh tersebut, yeah agak miris memang tapi mau bagaimana lagi? Kadang anak kecil bisa sangat dekat seseorang karena terbiasa, sering bertemu dan meluangkan waktu untuk bermain bersama. Tapi mau dipungkiri bagaimana pun ikatan anak dan ibu itu tidak bisa diputus, toh dengan berjalannya waktu ibu tetaplah seorang ibu, peran yang sangat penting bagi seorang anak, tinggal kita menemukan ritme kehidupan sebagai ibu rumah tangga. Saya ingat pesan bapak waktu saya memilih jurusan kuliah, beliau membebaskan saya memilih sesuai dengan minat saya, hanya dia berpesan hendaknya ketika saya lulus dan bekerja sesuai dengan jurusan itu dan ketika saya berkeluarga nanti, tidak menganggu urusan rumah tangga, gampangannya profesi saya nantinya tidak membuat saya melupakan kewajiban saya sebagai ibu, tugas yang paling utama adalah mengurus suami dan anak. Bukannya melarang untuk bekerja, malah bapak sangat menyarankan, karena untuk berjaga-jaga suatu waktu hal yang tidak kita inginkan dan harapkan terjadi. Jadi ibu rumah tangga juga termasuk profesi nggak gampang loh, apalagi ketika kita mempunyai anak kecil, itulah yang saya temukan dari diri Hannah.

Bagi Hannah, Upik termasuk berkah, asisten rumah tangga yang mengurus Razsya. Hannah kerja kantoran dari Senin hingga Jumat, tidak jarang pulang malam, waktu untuk Razsya terasa sedikit sekali, Sabtu dan Minggu adalah hari yang sangat berharga untuk bisa menemani Razsya di playground kompleks. Sayangnya, karena tubuh diforsir bekerja, kadang selama wiken dihabiskan untuk istirahat dan melukis. Razsya lebih banyak menghabiskan waktu bersama Upik. Untuk menebus kesalahannya, Hannah sering membelikan mainan, agar Razsya mempunyai ‘teman kecil’ yang dapat mengantikan dirinya. Semuaya berubah ketika Hannah mendengar Razsya mengigau “Razsya sayang Mbak Upik…” rasanya Hannah ingin muntah, dia tidak bisa membiarkan ini.

Aku nggak ingin Razsya mengenal kita hanya sebagai orang yang ngasih makan dan ngebeliin mainan saja, Wigra. Aku ingin Razsya tahu bahwa kita juga ada di situ karena sayang sama dia, karena ingin bermain bersama dia.

Sikap Hannah pada Razsya pun lebih menuntut, ingin memandikannya sendiri, ingin bermain dengannya. Dia ingin Razsya tidak mencari Upik. Tapi sewaktu bersama dengan Razsya, Hannah tidak bisa berkonsentrasi membaca majalah People, gagal membeli barang branded dengan harga murah hanya dengan sekali klik karena Razsya mencoba makan wortel mentah, tidak bisa kongkow dengan sahabatnya Smith seperti dulu, belum lagi Razsya sangat cerewet dan kalau bertannya tidak bisa berhenti, membuat pusing Hannah.

Memang susah, Sayang. Namanya juga jadi orangtua.

Ditambah, Razsya sangat dimanjakan oleh Eyang Yanni -ibu Hannah- yang cara mendidiknya agak tidak bisa diterima Hannah, hannya memanjakan dan tidak mengindahkan pesan-pesan Hannah dan Wigra demi mendidik dan mendisiplinkan Razsya sejak kecil. Contohnya memperbolehkan Razsya makan permen, nonton TV sambil makan cornflake, main drum menggunakan panci dan centong setelah itu tidak dibereskan lagi, memainkan alat-alat elektronik, sampai kalau sedang merengek minta sesuatu pasti langsung dikabulkan Eyang Yanni demi tidak berlama-lama tantrum. Hannah tidak bisa membiarkan itu, tidak ingin menjadi kebiasaan Razsya.

Ibu punya cara Ibu, begitu juga aku. I read many things, Mom. Time’s Changed. Hal-hal yang dulu mungkin tidak apa-apa dilakukan -karena belum ditemukan dampak negatifnya- sekarang sudah tidak bisa lagi.

Cara sayang orang ternyata beda-beda, ya.

Hannah pun berusaha untuk menjauhkan Razsya dari kebiasaan Eyang yang tidak sejalan dengan pemikirannya, dia membawa Razsya ke kantor dan menitipkan ke nursery room, yang sayangnya juga bukan kegiatan sehari-hari yang ‘sehat’.

Pelan-pelan, Razsya ikut mencomot batang kecil cokelat tersebut dan meneliti wajah ibunya. “Ibu kenapa kerja melulu? Razsya kan pengen main sama Ibu.”

Melelehlah hati Hannah, lagi dan lagi, mendengar ungkapan sepolos ini. Ia langsung merangkul putranya erat-erat. Betapa jungkir baliknya perasaan seorang Ibu; dari kesal ke senang ke sedih ke gemas ke protektif, namun semua dapat diwakilkan hanya dengan satu kata, yaitu cinta.

Keputusan besar pun diambil Hannah, ia mengundurkan diri dari kantor dan memutuskan jadi ibu rumah tangga -dan freelance ilustrator. Dan kembali ke misi pertamanya: memenangkan perhatian Razsya atas Upik.

Ada pengalaman berharga yang tak bisa dirasakan pada kejadian apa pun, kecuali dengan berkeluarga dan punya anak.

Bagian yang paling saya sukai adalah ketika Wigra mengajak Razsya bermain ke playground komplek.

“Wow…”

Gumam pelan Razsya menunjukkan rasa kagumnya belum juga sirna.

“Razsya senang, ya?”

“Iya. Tapi kalau sama Ibu, pasti nggak boleh keluar malam-malam
begini. Pasti dimarahin Ibu.”

Wigra tertawa kecil. “Ibu biasanya marah karena khawatir – dan sayang sama Rasya.”

Razsya diam, menelaah kalimat sederhana yang baginya berarti rumit itu.

“Raz…”

“Ya, Ayah.”

“Jagain Ibu ya, nak. Hormati perempuan. kalau nanti Razsya sudah besar dan mau berbuat seenaknya ke perempuan, ingat Ibu. Menyakiti mereka sama dengan menyakiti Ibu.”

Kalimat rumit berikutnya dari sang ayah.

Ada nggak sih laki-laki kayak Wigra? Nikahi akuh! :))

Dan bagian yang bikin trenyuh selain di atas adalah ketika Hannah tanya sama Upik, “Dulu… waktu saya masih ngntor, Razsya nyariin saya, nggak?” Penggen meluk Hannah.

Jaman sekarang esensi keluarga sudah ‘kopong’. In my humble opinion, kalau sudah berkeluarga tapi masih pergi sama temen-temen melulu berarti elo alien di antara keluarga elo sendiri. Atau elonya kesepian. Dan yang paling penting -paling menarik buat gue- adalah kalau elo nggak bisa bermain sama anak elo sendiri lebih dari sejam dan prefer untuk nyuruh nanny menggantikannya, you’re not ready for family.

Yang saya tahu sejak dulu adalah nikah itu nggak gampang, apalagi punya anak, tanggung jawabnya besar. Jadi nggak sembarangan kalau kita mau melangkah ke arah sana. Harus siap secara materi dan hati. Rencana punya anak berapa, biaya melahirkan, biaya DP rumah, transportasi pribadi, bahkan biaya pendidikan perlu direncanakan. Itu juga yang saya temukan di buku ini, membuat saya mengerti bagaimana susahnya menjadi seorang Ibu dengan berbagai masalah yang menimpanya. Hannah ingin membuat keluarga kecilnya bahagia dan tidak kekurangan, terlebih dalam kasih sayang. Hannah orang yang tegas, berkemauan tinggi, dan kadang tidak bisa santai, lihat bagaimana dia mencoba mengambil hati Razsya, hanya saja di awal dia terlalu memaksakan, ingin instan padahal waktu yang diberikan lebih banyak ke urusan kerja daripada ke Razsya, sewaktu bermain dengan Razsya pun dia masih fokus ke gadget dan majalah daripada keanaknya sendiri. Dia tidak ingin Razsya lebih menyukai pengasuhnya daripada dirinya, dia tidak ingin Razsya salah didik. Menemukan ritme kehidupan sebagai peran barunya, itulah langkah yang diambil Hannah. Berbeda dengan Wigra, dia santai menghadapi masalah, tenang dan penuh pemikiran, bertanggung jawab, suami idaman wanita deh pokoknya, hehehe. Suka bagaimana dia mengahadapi Hannah yang lagi stress, suka ketika dia menggendong Razsya, Wigra ini semacam obat penenang bagi sang istri, tugas sebagai kepala keluarga dia jabat dengan amat sangat baik. Selain jatuh cinta dengan Wigra, saya juga jatuh cinta dengan kepolosan Razsya, entah kenapa setiap ada tokoh anak kecil di konflik orang dewasa, membuat dia menjadi magnet buku tersebut, begitu pula dengan kehadiran Razsya dibuku ini.

Tulisannya masih khas Sitta Karina, karakter tokohnya yang tidak bisa dilupakan, yang membuat saya jatuh cinta kepada mereka, masih menyisipkan tentang fashion dan ilustrasi hasil karyanya (kalau di buku ini tidak tahu apakah karya penulis atau bukan, karena tidak ada namanya), saya membayangkan kalau Hannah ini mirip dengan mbak Arie, hehehe. Saya kasih contoh salah satu gambar yang saya ambil dari blognya penulis, ada di buku ini juga.

7

Buku ini bisa dibilang suara hati para Ibu yang sibuk bekerja dan sibuk menjadi Ibu rumah tangga, kita yang belum menikah pun bisa belajar, menjadi seorang Ibu, seorang istri, dan belajar bagaimana kita menyelesaikan masalah yang akan muncul ketika kita berkeluarga nanti.

 

5 sayap untuk Rumah Coklat

 

Rumah Coklat

penulis: Sitta Karina

editor: Siti Nur Andini

cover: Sitta Karina

penerbit Buah Hati

ISBN: 978-602-8663-74-8

cetakan I, Desember 2011

223 halaman

Readingwalk: http://www.readingwalk.com/book/rumah-cokelat

Iklan

One thought on “Rumah Coklat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s