Alice-Miranda at School

11811982

Sinopsis (Goodreads)

“Dadah, Mama. Tolong kuatkan hati Mama.” Ibunya menanggapi dengan isak tangis keras. “Selamat bermain golf, Papa. Kita bertemu di liburan akhir semester.” Ayahnya membuang ingus ke saputangannya. 

Sebelum kedua orangtuanya sempat mengucapkan selamat tinggal, Alice-Miranda sudah berjingkrak-jingkrak menyusuri jalan setapak yang diapit pagar tanaman, menuju rumah barunya. 

Akademi Winchesterfield-Downsfordvale, itulah rumah baru Alice-Miranda. Dan sejak kedatangan Alice-Miranda, tempat itu berubah drastis. Semua terasa lebih hidup dan menyenangkan. Namun, tidak semua orang senang dengan perubahan itu. Termasuk kepala sekolah, Miss Grim, dan kepala prefeknya, Alethea. 

Gadis 7 tahun itu diberi berbagai tantangan seperti tes tulis semua pelajaran, lomba berlayar melawan Alethea dan kawan-kawannya, sampai harus berkemah di hutan sendirian selama beberapa hari. Akankah Alice-Miranda mampu melewati semua tantangan itu? Juga, bisakah dia membuat Miss Grim keluar menemui para muridnya setelah 10 tahun mengurung diri dalam kantor?

 

Review

Awal baca buku ini menginggatkan saya akan Polly Madasa di <a href=’http://kutubokek.posterous.com/scones-and-sensibility‘>Scones and Sensibility</a> gadis kecil yang sok dewasa dan suka mencampuri urusan orang lain. Tapi entah kenapa saya sangat menyukai gadis kecil berumur tujuh seperempat tahun yang mempunyai nama lengkap Alice-Miranda Highton-Smith-Kennington-Jones (gimana kalau ujian Nasional ya, panjang bener namanya :p) ini.

Lucu deh Alice-Miranda ini, padahal orang tuanya belum rela kalau dia sekolah, eh dia malah ingin cepet-cepet sekolah. Tingkah polahnya sih nggak jauh beda sama si Polly, mungkin konflik di buku ini lebih banyak kali ya, dimulai dari juru masak Mrs, Smith yang membuat brownies terenak, sayangnya dia tidak pernah libur dan ingin sekali mengunjungi cucu-cucunya, Alice-Miranda pun langsung menelepon ayahnya agar mengirimkan helikopter untuk menjemput dan menggantikannya dengan juru masak yang ada di rumah Alice-Miranda, Mrs. Oliver. Mr, Charles yang kesal karena tidak dapat menanam bunga karena sang kepala sekolah melarang, Alice-Miranda menelepon ibunya untuk mendatangkan ahli tanaman untuk menanam bunga yang tidak berbau, Alice-Miranda berasumsi kepala sekolah melarang karena dia alergi. Ada juga temennya yang galak, Jacinda Headlington-Bear, pertama kali ketemu Alice-Miranda kagum karena dia seorang pesenam yang amat mahir, sayangnya Jacinda tidak boleh mengikuti kejuaraan karena dia belum mengerjakan tugas tentang Gajah Afrika yang terancam punah, Alice-Miranda langsung menawarkan bantuannya karena dia pernah safari dan pernah melihat gajah dari dekat dan dia mempunyai foto-foto yang bagus. Kemudian Alice-Miranda tidak tega ketika Miss Hinggins -sekertaris kepala sekolah- menangis karena dia mau menikah tapi kepala sekolah bilang jika Miss Hinggins menikah maka dia tidak usah datang lagi ke sekolah, Alice-Miranda pun menemui Miss Grimm -kepala sekolah Winchesterfield-Downsfordvale- yang selama sepuluh tahun ini tidak pernah bertemu dengan orang lain. Masih banyak lagi orang yang dibantu masalahnya oleh Alice-Miranda, semua orang begitu senang dengan kedatangannya, membawa angin segar, dan Alice-Miranda ingin sekali membantu masalah Miss Grimm karena dia merasa kalau Miss Grimm itu kesepian, Alice-Miranda ingin tahu masa lalu-nya.

“Saya memang kecil,” kata Alice Miranda, “tapi saya pendengar yang lumayan baik.”

Begitulah sifat Alice-Miranda, dia tidak tega dengan kesedihan, kesusahan orang lain. Dia akan mendengarkan keluh kesah mereka kemudian dia akan mencari solusi untuk mengatasi masalah tersebut, baik tanpa persetujuan orang yang terkena masalah atau pun dengan persetujuan mereka, dia akan tetap menyelesaikan. Dia adalah peri penolong. Orang-orang yang awalnya kasar, sering marah ketika bertemu dengan Alice-Miranda mereka akan luluh dan jadi lembut, hilang semua sikap kasar tersebut. Sayangnya tidak semua orang suka dengan sikap Alice-Miranda, mereka adalah Alethea Goldsworthy, gadis kecil yang angkuh, setiap keinginannnya harus dipenuhi dan tentu saja sang kepala sekolah, Miss Grimm yang terusik dengan kedatangan Alice-Miranda. Dia sampai memberikan ujian yang sangat banyak dan sulit (tes potensi akademik yang soalnya dibuat sendiri, harus menuntaskan Program Perambahan Alam Liar: berkemah selama lima hari ditenda, memasak sendiri, dan menemukan jalan sendiri, dan terakhir harus menantang juara sekolah dalam cabang pilihannya, dia berhadapan dengan Aletha lomba berlayar) agar Alice-Miranda tidak bersekolah di Winchesterfield-Downsfordvale. Sukanya lagi adalah Alice-Miranda akan menerima dengan tangan terbuka tantangan tersebut dan akan menyelesaikannya dengan baik, dia juga sangat pintar loh :D. Waktu di bully Alethea, Alice-Miranda pun punya cara untuk membalasnya, pokonya dia cerdik deh :D.

Covernya sangat suka! Alice-Miranda imut banget, hehe. Aku juga suka font-nya yang besar, enak deh bacanya. pembatas bukunya juga gede, mantep deh. Ditambah ada ilustrasi gambar para tokoh/kejadian, walaupun tidak banyak tapi menambah poin plus untuk buku ini. Gambar paling favorit hal 113 waktu Alethea berhadapan dengan Alice-Miranda, simple tapi keren :D.

Ceritanya bagus, alurnya cepet dan di tiap bab tidak terlalu banyak. Dari awal langsung disuguhi konflik para tokoh, kemudia penyeleseiannya, cepet deh bacanya. Sayangnya ada yang agak nggak bisa dinalar ya, waktu Alice-Miranda di hutan, emang ada anak kecil berumur kurang dari delapan tahun kemping sendirian di tengah hutan selama lima hari? dan Waktu lomba berlayar itu apa tidak terlalu berbahaya? yah namanya juga cerita sih. Untuk terjemahannya lumayan bagus sih, hanya saja ada beberapa kata yang agak aneh, terasa nggak nyambung kayak “kasar berlebihan” kok saya enaknya “terlalu berlebihan” ya? Ada juga kata Mrs. digan
ti Bu, menurut saya nggak usah diganti saja, ada satu lagi tapi saya lupa di halaman berapa. Typo tidak terlalu banyak.

Buku ini berseri, berikut urutannya:

  1. Alice-Miranda at School
  2. Alice Miranda On Holiday
  3. Alice Miranda Takes The Lead
  4. Alice Miranda at Sea

Pengen ngoleksi ahhh, buat yang suka sama buku anak-anak, buku ini recomended banget deh πŸ™‚

4 sayap untuk si peri penolong πŸ™‚

 

Alice-Miranda at School

penulis: Jacqueline Harvey

penerjemah: Reni Indardini

cover: Hedotz

penerbit: Little K

ISBN: 978-602-9234-02-2

257 halaman

NB: Tentang Pengarang

652313

Jacqueline Harvey menghabiskan sebagian hidupnya dengan bekerja sebagai guru di sekolah berasrama untuk anak-anak perempuan. Dia senang karena bisa mnegatakan bahwa dia belum pernah menjumpai kepala sekolah seperti Miss Grimm, tapi memang pernah bertemu cukup banyak anak perempuan yang menginggatkannya pada Alice-Miranda kecil.

Jacquelin sudah menerbitkan tiga novel untuk pembaca berusia muda. Buku bergambar pertamanya, The Sound of The Sea, dianugerahi penghargaan Honour Book pada ajang CBN Award tahun 2006. Saat ini dia tengah menggarap petualangan Alice-Miranda selanjutnya. Untuk lebih jelasnya tentang pengarang silahkan ke http://www.jacquelineharvey.com.au/ dan twitter @JacquelineHarve.

Iklan

5 thoughts on “Alice-Miranda at School

  1. YAY. Sulis juga suka ma buku ini. Aku ga sabar baca buku kedua. Eh aku lupa nyebut direviewku tentang makanan yang di masa ma Mrs Oliver. Kayaknya yummy banget. Jadi ngiler

  2. @aleetha: hehe iya, tadinya mau ngasih 3.5 sayap tapi karna ada tambahan ilustrasinya nambah deh, lucu aja :))@sinta: ak malah blm punya mb, hehehe, mau nyari ah, covernya bagus2 soalnya :)@ana: iya an :)@mia: lucu kok bukunya mia, walau ada yg gak bisa dinalar juga, hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s