Saraswati

Sejak membaca karyanya yang kedua yaitu Frans dan Sang Balerina dimana cerita bergenre teenlit tapi dikemas dalam kisah klasik mistis, kemudian disusul karya ketiganya berupa kumpulan cerpen dalam judul Amplop Merah Muda Untuk Pak Pos, saya menjadi penikmat tulisannya. Tema yang diangkat sama penulis yang mempunyai darah Solo ini mungkin ada yang udah pasaran tapi diracik dengan bumbu yang berbeda. Saya pun penasaran dengan karya pertamanya, untung punyanya ‘rahib’ avaible for swap :)).
Sangat penasaran dengan sinopsis dibelakang sampul dimana tertulis “Secara tradisi biasanya kisah cinta hanya memiliki dua akhir penyelesaian. Apakah berakhir dengan ‘happy ending’ atau tragedi dan perpisahan. Dalam Saraswati, Kanti keluar dari jalur tradisi ini. Secara tidak terduga Kanti menawarkan klimaks alternatif yang baru.” Bagi penggemar happy ending seperti saya tentu sangat penasaran dong, seperti apa endingnya yang nggak biasa itu.

Bercerita tentang Disam, seorang anak kecil berumur 10 tahun, peranakan Belanda yang muak akan kedua orang tuanya dimana tidak bosan-bosannya bertengkar, Disam pun lari dari rumah dengan membawa sepedanya. Karena kalut dia pun terjatuh dan ditolong oleh seorang gadis remaja berumur 15 tahun, gadis cantik yang jago melukis bernama Saraswati. Semenjak kejadian itu mereka pun menjadi sahabat tapi sayang, ketika orang tuanya bercerai, Rasty (panggilannya) malah meninggalkan Disam tanpa kabar.

Tujuh tahun berlalu, Disam menjadi cowok yang tampan rupawan yang berprofesi sebagai model dengan kehidupan yang cukup liar. Ketika dia pergi ke studio foto untuk mengambil hasil jebretannya, tidak sengaja dia melihat sosok gadis yang telah dicari-carinya selama ini. Karena penasaran, dia pun rutin ke tempat tersebut dan akhirnya tahu pola kedatanggan si gadis tersebut. Dan ternyata benar, dia adalah Saraswati. Rahasia perginya pun terungkap, tidak lama setelah kejadian orang tua Disam yang bertengkar hebat, kedua orang tua Rasty meninggal dalam kecelakaan, tanpa sempat berpamitan dia pun pindah ke Bali bersama Tuniang-nya (sebutan Nenek dalam bahasa Bali) dan baru beberapa bulan ini kembali ke Jakarta. Persahabatan mereka pun kembali terjalin, dan semakin erat. Disam tidak suka bila ada cowok lain yang mendekati Saraswati, dia malah posesif. Saraswati juga bingung akan perasaanya sendiri, Disam sudah seperti adik tapi ada perbedaan yang besar jika mereka menjalin hubungan, mulai dari perbedaan usia sampai agama. Selain itu Tuniang-nya juga sudah menjodohkan Saraswati dengan sesama orang Bali, Bisma. Lalu tindakan apa yang dipilih Saraswati?

Ya, temanya sudah pasaran bukan? sahabat menjadi cinta, tapi penulis menambahkan bumbu tentang perbedaan usia, pernikahan beda agama, terpaku akan adat istiadat yang mengharuskan orang Bali menikah dengan sesama Bali. Seperti yang saya kutip dari penulisoptimis.blogspot.com

“Janganlah mempermasalahkan hal-hal yang sudah melekat semenjak kita dilahirkan ke dunia, seperti suku, keluarga dan usia. Buat apa mempermasalahkan hal-hal yang sudah tidak bisa diubah.”

Ide ceita tersebut sangat saya suka, tapi sayang saya kurang merasakan bumbu itu. Yang saya tangkap dari membaca buku ini adalah di mana Disam dan Saraswati enggan menggungkapkan cinta, berkali-kali Dimsam sudah menunjukkan rasa cintanya dengan cemburu bahkan mogok menggunjungi supaya Saraswati tahu akan perasaanya, kekanakan bukan? Sedangkan Saraswati yang galau akan pilihannya, memang alasan perbedaan-perbedaan tersebut yang melandasinya tapi saya merasa kurang, lebih banyak kebersamaan mereka. Endingnya juga, menurut saya sudah biasa, tidak ada klimak alternatif baru. Tapi saya sangat menikmati interaksi antara Disam dan Saraswati, bagaimana mereka pertama kali bertemu sampai endingnya. Alurnya cepet jadi bisa habis ‘semalam baca’. Masih banyak typo, entah emang disengaja agar tulisannya tidak begitu formal atau emang salah, seperti Mao, Ngga, Sodara, dll. Eniwei, untuk sebuah karya yang pertama kali bagus kok, bahkan dengan buku ini menggantarkan penulis sebagai penulis berbakat khatulistiwa award 2007.

oh ya, bisa juga mendapatkan ebooknya di www.papataka.com ini covernya.

3 sayap untuk si bule Dimsam.

Saraswati
by Kanti W Janis
Penerbit: Akoer
Cetakan I: September 2006
175 halaman

Iklan

2 thoughts on “Saraswati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s