Promises, Promises

Setelah 13 tahun tidak bertemu, Fiona harus berurusan lagi dengan Evan sebagai desain interior rumah barunya, laki-laki yang pernah menjadi masa lalunya, laki-laki yang menorehkan luka sekaligus laki-laki yang menuangkan kebahagiaan, laki-lagi yang telah memberikan Kejora di kehidupannya. Fiona sudah mengubur dalam-dalam tentang Evan tapi dia tak punya pilihan, laki-laki itu menyusup lagi di kehidupan yang susah payah dibangunnya. Fiona kaget ketika mengetahui Evan sudah menikah, lebih tepatnya dalam proses percereian, dia menganggap Evan tidak pernah mencintainya.
 Evan kaget ketika mengetahui orang yang akan merenovasi rumah barunya adalah orang yang amat dicintainya, pacar SMA-nya, perasaannya kembali bangkit, dia mrasa jatuh cinta lagi, tapi sikap Fiona terhadap dirinya begitu ketus, tidak mau memandang matanya bila diajak berbicara, selalu menolak jika diajak makan bersama. Evan tahu kesalahan dimasa lampau amatlah besar, meninggalkan Fiona sendirian ketika dia hamil anaknya dan malah menyuruhnya menggugurkannya. Evan menyesal, dia tidak mendapatkan kebahagian dari perkawinannya dengan Bianca, dia bisa terima kalau Bianca tidak mau memiliki anak padahal Evan sangat menginginkannya, anak perempuan tapi tidak bisa menerima ketika istri yang pernah membuatnya bahagia selingkuh di rumahnya, di tempat tidurnya.
Evan merasa dia masih punya kesempatan ketika tahu kalau Fiona janda dan mempunyai anak perempuan yang sangat pandai, mempunyai hobi yang sama dengannya, membaca. Fiona tidak suka kedekatan Kejora dengan Evan, dia tidak ingin Evan tahu kalo gadis kecil itu anaknya, dia berbohong tentang identitas Kejora, tidak ingin Evan melukai hatinya lagi. Tapi Evan begitu dekat dengannya, Evan begitu menggoda.
Sukaaaaaaa, khasnya Dahlian, romantis abis. Ini karya Solo-nya yang kedua setelah Pilot’s Woman (belum baca, nggak nemu di quantum hiks). Biasanya dia familier berduet dengan Gielda Latifa, melalui Body Proposal karya mereka yang pertama saya sudah jatuh cinta dan selalu menunggu karya selanjutnya. Di novel ini sendiri bercerita tentang kesempatan kedua, dimana Evan ingin Fiona memaafkannya dan ingin mereka bersama lagi, tentu nggak semudah itu, konflik yang ditambahkan adalah adanya Kejora dan Bianca yang ingin membatalkan gugatan carai Evan. Alurnya lumayan cepet, dari bab awal Fiona udah dipertemukan dengan Evan trus tokoh figuran lainnya tidak terlalu banyak dan tidak terlalu menonjol, semua tentang Fiona dan Evan, hehehe. Sedikit nambah pengetahuan tentang desain interior, membaca novel ini jadi membayangkan betapa indahnya rumah Evan. Covernya juga manis banget.
Tokoh favorit tentu Evan dong, dengan kacamata tanpa bingkainya dia berhasil menghipnotisku, wakakakaka. Kebiasaan Fiona yang selalu kuingat dan mungkin favoritnya Evan adalah ‘menyelipkan seuntai rambut ke balik telinganya’ soalnya sering banget menemukan kalimat ini. Dan adegan paling berkesan adalah waktu di Pondok =)). Adegan yang mebuatku mewek ada di halaman 316:

“Rara nggak apa-apa kok Mom nggak punya Blackberry. Rara juga nggak apa-apa, nggak sekolah di international school. Rara Cuma pengen,” Kejora tercekat, “punya papa.”

Btw tentang nama pengarang, setahuku dia juga punya nama pena Fidriwida, nggak tahu yang asli yang mana, mungkin bertujuan untuk membedakan genre tulisannya?
4 sayap untuk ‘mencintaimu sekali lagi’

Penulis: Dahlian
Editor: Kinanti Atmarandy
Desainer sampul: Dhea
Penerbit: Gagasmedia
ISBN: 979-780-486-0
Cetakan pertama, 2011
354 halaman.

Iklan

2 thoughts on “Promises, Promises

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s