The Journeys: Kisah Perjalanan Para Pencerita

11078643

 

Penulis: Adhitya Mulya, Alexander Thian, Farida Susanty, Gama harjono, Ferdiriva Hamzah, Oktarina Prasetyowati (Okke ‘sepetumerah’), Raditya Dika, Trinity, Valian Budy, Ve Handojo, Windy Ariestanty, Winna Efendi

Penerbit: Gagasmedia

Cetakan: I, 2011

ISBN13: 978-979-780-481-7

246 halaman         

goodreads: http://bit.ly/jLxs6S

 

Dari daftar pustakanya saja sudah sangat menarik, dimana ada peta dunia kemudian ada titik-titik dimana para pencerita menuliskan ceritannya, yang pertama kita akan dibawa ke Spanyol oleh Gama Harjono (Mengejar Mimpi, Kereta Pagi, dan Tapas Andalasia) mendapatkan pesan dari temannya kalau dia mempunyai tiket menuju ke tempat impiannya, dimulaialah pada pukul 5 pagi dia udah nongkrong di Stasiun Tiburtina menuju ke kota granada, yang selanjutkan kita akan menikmati kawasan Albaicin zona arab yang dibangun bangsa Moor dari Afrika Utara, disini terdapat ratusan took souvenir, kain sutra, karpet, lampu mozaik, pipa sheesha, dll. Ada juga la Plaza de Toros, arena matador, dan Benteng Alhambra. Setelah Granada kita akan dibawa ke Cordoba, menikmati churros (sejenis cakwe yang dimasukkan ke coklat panas terlebih dahulu), menuju Mezquita dimana terdapat masjid-gereja kebanggaan kota Kordoba. Dan diakhir perjalanannya, dia menyaksikan gebang katedral dibuka dimana ada 6 laki-laki berjas yang memandu Patung Bunda Maria.

Cerita kedua kita akan menikmati Dari Desa Kecil Bernama Air oleh Winna Effendi. Cara beceritannya kayak kita ngirim email ke temen dan menjelaskan apa saja kegiatan waktu liburan ke Shuili, Taiwan. Kita diajak menikmati Sup daging jahe, tradisi munum teh, ke Sitou yang terkenal dengan bambunya, menikmati danau terbesar di Taiwan, Sun Moon Lake. Ada juga Guanshanlo, menara observatory yang dibangun 900 meter dari laut dan kuil tertua dan paling populer, kuil Wenwu.

Selanjutnya kita menuju ke Lucerne (The City of Light), Swiss yang diajak oleh Windy Ariestanty, paginya mendapatkan ciuman jauh dari bule cakep ;p gak salah judulnya A Morning Kiss Bye from Stranger. Yang saya suka dia menuliskan Top 6 Thing to see in Lucerne, jadi gak bingung memilih tempat yang wajib di kujungi kalau kita ke Lucerne. 6 hal tersebut adalah Chapel Bridge dan Wassertum yaitu jembatan kayu tertua di Eropa, Museggs Wall dan Sembilan Menara: bentemg kota terpanjang di Swiss (800 meter), The Dying Lion Monument: ada pahatan singa sekarat sepanjang 10 m di batu alam yang di pahat oleh Bertel Thorvalden asal Denmark. Berikutnya adalah gereja abad 17, Jesuit Church. Gunung Titlis untuk para pecinta ski, yang terakhir adalah Rathausquai dan Mr. pickwick Pub, katanya birnya enak.

Di ceritannya Farida Susanty (Menyingkap Peta Gelap)kita akan belajar sedikit, karena tenpat yang dikunjunginya adalah Institute of Mental Health, di tempat ini gak kayak rumah sakit jiwa, fasilitasnya lengkap, menemukan galeri seni, menyicipi naik MRT, bahasa Singlish yang susah dipahami, kehilangan temannya dimana kalau mau membuat pengumuman orang hilang harus membayar 5 dolar alias 35 ribu perak.

Kemudian kita terbang ke Arab untuk menemukan Parfum Impiannya Valiant Budi. Motret secara sembunyi-sembunyi yang hasilnya jadi kayak menara Piza, ditawari pedagang arab di sekitaran Masjidil Haram yang tidak pernah menyerah dan sering kena tipu. Lebih menceritakan pengalaman lucu dan konyol kalau menurutku dan cerita yang paling favorit itu waktu dia ditanya seorang bapak, “apa sih keyakinan bagimu?” lalu dia menjawab,

“keyakinan bagi saya…seperti wewangian. Kita benar-benar bisa merasakannya; mencium aromanya, tapi susah untuk mendefinisikan terutama kepada orang yang belum pernah, belum bisa atau memang tidak mau mencium aroma wewangian tersebut.”

Menjadi cerita paling favorit😀

Sompral, pernah dengar? Mari kita Tanya kepada Okke’Sepatumerah’ yang mengajak kita ke Nusa Tenggara Timur. Ditemani oleh Oris dan Dody, kita dibawa ke Desa Bena, menikmati indahnya pantai Kolbano yang katanya sering ngambek dan dilarang sompral (kayak larangan” kalau kita mengunjungi tempat magis),dan  menikmati sunset di Pantai Oetune.

Masih kurang puas akan pantainya? yuk kita menuju ke Jepara, tepatnya di Karimunjawa-Surga Indonesia ditemani oleh Alexander Thian, gara-gara putus cinta dia memutuskan untuk move-on ke tempat ini ;p. menginap di Wisma Apung, ketemu ikan hiu, snorkeling.

Perjalanan selanjutnya kita menuju ke Amerika Serikat dengan Ferdiriva Hamzah yang ditemani oleh mertuanya, jadilah Amerika Amertua ;p. lucu juga gaya berceritanya, ngakak waktu dia nahan kentuk di pesawat yang kelepasan eh mertuanya malah bilang kalu kentut orang bule bau banget, padahal….. dia mengajak mertuannya keliling Boston, foto dengan pose megang sepatunya John Harvard (katanya bikin mujur), ke New York  menonton teater Brodway-nya A Musical Tribute to Frank Sinatra, dan menuju ke Staten Island untuk foto sama patung Liberty.

Kalau di The Truth Behind Free Traveling yang disuguhkan oleh Trinity lebih menjelaskan perbedaan wartawan, pengalaman bekerja sama dengan wartawan yang mengupas tentang Travelling, kayak travel blogger, wartawan dari berbagai majalah baik travel maupun non-travel.

Selanjutnya kita Melipir ke Tel Aviv (Israel) ditemani oleh Ve Handojo, dimana dia harus berterima kasih sama Kuntilanak, karena dialah yang membiayai perjalanan mahal yang mencapai lebih dari 20 juta rupiah. Awalnya dia hanya mengunjungi gereja-gereja di tanah suci tersebut, seperti di Betlehem, Kapernaum, Tiberias, Yerusalem, Via Dolorosa, hingga Bukit Golgota. Atas bantuan temannya dan mengelabui sang tour leader yang sangar, dia berhasil melipir ke Tel Aviv, kota yang damai, tenang, tidak peduli masalah politik, agama dan jauh dari konflik. Jalan-jalan ke Old Jaffa melihat menara Jam Jaffa, pasar seni di jalan Nahaiat Bunyamin, di sebelahnya kita bisa ke pasar tradisional Hakarmel Market.

Siapa bilang kalau Afrika itu Benua Hitam? Adhitya Mulya menceritakan bagaimana Afrika Berwarna. Seperti biasanya, kisah lucu mewarnai perjalanannya, ngakak waktu dia godain patung tentara, konyol😄. Perjalanannya ke Senegal guna memperpanjang paspor, trus ke Dakar, pulau Goree. Dia juga menuliskan kayak panduan Negara dan tempat yang layak kunjung di Afrika Putih atau Afrika Utara, semua layak kunjung kecuali Libya dan yang sangat layak kunjung adalah Mesir dan Maroko. Kalau Negara yang layak kunjung di Afrika Barat adalah Senegal dan Conte d’Ivoire.

Dan perjalanan terakhir kita berhenti di Amsterdam dalam Kasih Ibu Sepanjang Belanda, ceritanya Raditya Dika yang mendapat beasiswa selama 2 minggu untuk menghadiri summer course disana. Khasnya dia kalau berceruta, kelebayaian keluarnganya, terutama Ibunya hehehe. Gak banyak tempat yang dikunjungi sih, lebih banyak cerita tentang teman barunya di kampus. Tapi ada kalimat favoritku di paragraph terakhir, bunyinya gini,

“Sesungguhnya, terlalu perhatiannya orangtua kita adalah gangguan terindah yang pernah bisa kita terima.”

Perjalanan selesai.

Yang paling aku suka adalah ceritanya Valian Budi dan Adhitya Mulya. Suka caranya Valian menggambarkan perilaku orang arab, para penjualnya. Kalau Adhitya Mulya selain gaya kocaknya bercerita juga tips atau info Negara yang layak kunjung itu. Karena keroyokan, penulisannya pun juga beda-beda, ada yang lebih menceritakan tempat-tempat wisatanya, kisah perjalanan menuju ke tempat tersebut dan lebih bercerita tentang orang yang ada di sekitar mereka. Cu
kup menghibur dan bisa menjadi acuan kita kalau ingin pergi ke tempat tersebut. Oh ya di bagian ceritanya Windy Ariestanty ada halaman yang dobel-dobel, awalnya sempet binggung pas baca, perasaan ini tadi udah dibaca kok jadi aneh gini lanjutannya, eh waktu di cek halamannya ternyata ngulang yaitu halaman 46-48 dan di halaman 228-229 kayak kehabisan tinta, apa itu memang disengaja ya???

3 sayap untuk kisah perjalanan mereka.

 

Note: kata Adhitya Mulya negara yang cocok untuk bulan madu adalah Maroko ;p

5 thoughts on “The Journeys: Kisah Perjalanan Para Pencerita

  1. sama-sama kak, jadi pengen baca buku kakak yang lainnya nih, ciao italia dan lupakan palermo kan kalo gak salah?🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s